Arka Baskara, dikirim oleh dinas ke Desa Sukamaju. Tugasnya menjadi Pejabat (Pj) Kepala Desa termuda untuk membereskan kekacauan administrasi dan korupsi yang ditinggalkan kades sebelumnya.
Arka datang dengan prinsip kaku dan disiplin tinggi, berharap bisa menyelesaikan tugasnya dengan cepat lalu kembali ke kota.
Namun, rencananya berantakan saat ia berhadapan dengan Zahwa Qonita. Gadis ceria, vokal, dan pemberani, anak dari seorang Kiai pemilik pesantren cukup besar di desa.
Zahwa adalah "juru bicara" warga yang tak segan mendatangi Balai Desa untuk menuntut transparansi. Baginya, Arka hanyalah orang kota yang tidak paham denyut nadi rakyat kecil.
Bagaimanakah kisah Arka dan Zahwa selanjutnya? Hanya di Novel "Ada Cinta di Balai Desa"
Follow Me :
Ig : @author.ayuni
TT: author ayuni
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eksekusi Ditengah Kegembiraan
2 minggu berlalu..
Wisata Kebun Teh Sukamaju akhirnya telah selesai di garap, para warga mendesak Arka untuk segera di resmikan, Arka pun berpikir memang seharusnya jangan menunggu lama lagi, karena bayang-bayang tekanan dari Ayah nya semakin menggila. Ia tidak tahu nasibnya kedepan setelah ini, yang terpenting programnya di Sukamaju bisa terealisasi dengan baik.
Proyek Wisata Kebun Teh yang dibangun dengan cucuran keringat dan air mata itu akhirnya berdiri megah. Track kayu yang artistik, gardu yang menghadap lembah, dan kedai kopi rakyat sudah siap menyambut wisatawan.
Arka berdiri di podium kecil yang dihias sederhana. Wajahnya tampak lelah namun ada gurat kebanggaan. Namun, di bawah panggung, pemandangan kontras terlihat. Beberapa mobil berpelat merah dari Provinsi dan Kabupaten terparkir dengan kawalan ketat.
Saat Arka baru saja selesai memberikan sambutan tentang masa depan ekonomi desa, seorang pejabat dari Badan Kepegawaian Provinsi naik ke atas panggung. Ia tidak membawa piagam penghargaan, melainkan sebuah map berlogo garuda.
"Berdasarkan Surat Keputusan Gubernur nomor 405 tahun 2026, masa jabatan Saudara Arka Baskara sebagai Penjabat Kepala Desa Sukamaju dinyatakan selesai hari ini. Saudara ditarik kembali ke Provinsi untuk penugasan baru sekaligus menjalani proses audit administratif menyeluruh atas kebijakan-kebijakan yang diambil selama menjabat," suara pejabat itu menggema melalui pelantang suara.
Hening seketika. Ribuan warga yang hadir seolah berhenti bernapas.
Arka terpaku. Dugaannya benar, Pak Baskara, berada di balik percepatan skenario ini. Bukan dikembalikan ke Kementerian yang selalu fi sebut-sebut oleh Ayah nya melainkan di ditarik kembali ke Provinsi untuk "diaudit". Ini adalah cara halus Pak Baskara untuk mengunci ruang gerak Arka, seolah-olah Arka sedang diperiksa karena kesalahan, padahal itu hanyalah taktik untuk menjatuhkan mentalnya.
Ledakan emosi warga tak terbendung lagi. Bu Sari histeris di pinggir jalan, menangis tersedu-sedu. Para pemuda karang taruna mulai merangsek maju, memblokade mobil-mobil pejabat provinsi.
"TIDAK BISA!" teriak Pak Sugeng dari barisan depan. Suaranya pecah. "Pak Arka belum selesai! Beliau yang membangun ini semua! Kenapa saat sudah jadi, beliau malah harus pergi dari sini?!"
"Jangan bawa Pak Kades kami! Siapa yang berani mengusik Pak Arka, berhadapan dengan warga Sukamaju!" teriak seorang petani tua sambil mengacungkan cangkulnya ke udara.
Suasana menjadi chaos. Tim audit dari provinsi tampak ketakutan melihat massa yang mulai tak terkendali. Arka, dengan sisa-sisa ketenangannya, mengambil kembali mikrofon.
"Bapak, Ibu... warga Sukamaju yang saya cintai," suara Arka bergetar. "Tolong tenang. Saya datang ke sini untuk mengabdi, dan jika masa tugas saya berakhir, saya harus patuh pada aturan. Wisata ini milik kalian, bukan milik saya. Tolong jaga tempat ini baik-baik."
Arka turun dari panggung di tengah barisan warga yang menangis memegangi tangannya, meminta ia tetap tinggal. Ia masuk ke mobil dinas provinsi dengan kepala tertunduk. Ia tidak membawa apa-apa selain kotak besi pemberian kakeknya dan sebuah rindu yang tertinggal di arah Pesantren Al Hadid.
***
Di era digital seperti sekarang ini, informasi apapun akan mudah dan cepat ditangkap dan disebar luaskan, keadaan di Sukamaju hari ini, menyebar di grup warga Sukamaju.
Dilain tempat, Zahwa terduduk lemas di bangku taman. Gawai di tangannya bergetar hebat, menampilkan video-video yang sedang viral di grup media sosial warga Sukamaju.
Di layar kecil itu, Zahwa melihat kerumunan massa yang luar biasa. Ia melihat wajah Pak Sugeng yang merah padam karena menahan tangis, ia melihat Bu Sari yang berteriak histeris menghalangi mobil pejabat, dan yang paling menyayat hati ia melihat Arka.
Arka berdiri di tengah kepungan warga, wajahnya tampak sangat tenang namun sorot matanya menyimpan duka yang teramat dalam. Arka ditarik paksa. Tanpa perpisahan yang layak, tanpa kesempatan untuk menuntaskan sisa jabatannya.
"Pak Arka..." bisik Zahwa, suaranya tercekat di tenggorokan. Air matanya luruh, jatuh membasahi layar ponselnya. Ia menangis bukan hanya karena nasib tragis jabatan Arka, tapi karena ia menyadari betapa besarnya pengorbanan pria itu untuk desanya, sementara ia di sini hanya bisa menonton dari kejauhan.
Ternyata masa 3 bulan lagi itu. Tidak sampai tiga bulan baru saja dua minggu ia berada di Ibu Kota, kabar di Sukamaju sudah membuat hatinya tidak karuan.
...🌻🌻🌻...
berharap zahwa bijaksana tdk termakan fitnah kejam andini
lanjut kak thor🙏
smoga restu pak baskara segera turun