Blurb :
Seorang dokter muda, tanpa sengaja bertemu dengan gadis SMA.
Gadis tanpa orang tua itu diam-diam mengidap satu gejala penyakit yang berbahaya jika terlambat ditanganinya.
Mereka kembali dipertemukan sebagai pemilik dan penyewa rumah yang akhirnya terpaksa harus tinggal bersama.
Bukan hanya cerita tentang Dokter dan pasien-nya, melainkan ada kisah cinta di antara dua manusia yang berbeda usia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mbu'na Banafsha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Hipotiroidisme
"Jujur aku gak tau apa-apa tentang penyakitku ini dan aku gak tau akan sebahaya apa jadinya."
Luthfie mendekatkan badannya dan membuka syal yang melilit di leher Shasha sedari tadi.
"Maaf...." Luthfie mengangkat kedua telapak tangannya sambil mengucap kata maaf sebelum ia meletakan kedua telapak tangannya itu di leher Shasha.
"Di sini kiranya. Ini namanya kelenjar tiroid. Kelenjar tiroid adalah kelenjar yang terletak di leher dan berfungsi untuk menghasilkan hormon tiroid yang mengatur metabolisme tubuh. Gangguan tiroid terjadi ketika kelenjar tidak berfungsi dengan baik, entah itu karena menghasilkan hormon tiroid yang terlalu sedikit yang kita sebut Hipotiroidisme, atau terlalu banyak dan biasa kita sebut Hipertiroidisme. Keduanya akan berpengaruh pada metabolisme tubuh. Dalam kasus ini, kelenjar tiroidmu tidak aktif dalam memproduksi hormon tiroid sehingga metabolisme tubuh akan melambat, itu bisa berdampak pada organ tubuh yang lainnya, seperti gangguan jantung, penyakit alzeimer, infertilitas pada wanita, ganguan saraf, obesitas, koma, keguguran pada wanita hamil dan banyak lagi komplikasi yang bisa terjadi, itu semua sangat mengancam jiwa si pengidap jika tidak cepat di tangani. Meski begitu, kamu jangan khawatir kita akan segera melakukan pengobatan, meskipun pada umumnya si penderita harus sabar menjalani pengobatan sepanjang hidupnya.
Kamu sudah paham kan sekarang?"
Shasha hanya terdiam lalu menganggukan kepalanya. "Begitu, ya?"
"Iya, jadi... sekarang kita makan di mana? Di situ mau, gak?" ucap Luthfie sambil menunjuk kafe yang tak jauh dari tempat mereka saat ini.
Shasha kembali menganggukkan kepalanya. Kali ini, ia tak ingin protes lagi. Sampai Luthfie memakaikan kembali syal di lehernya, lalu mereka sama-sama keluar dari mobil.
Sebelum melangkah, Luthfie kembali meraih tangan Shasha karena dia tau benar jika gadis itu sedang lapar.
"Coba aku lihat dulu menu makan di sini. Mulai sekarang aku harus mengontrol makananmu, ingat ya kedepannya kamu harus menghindari makanan yang berbahan dasar kedelai, kamu juga libur dulu makan pisang kesukaanmu itu."
Melihat Shasha sudah mulai mengerutkan bibirnya Luthfie mencoba menghibur dengan mengiming-imingi makan es krim setelah selesai makan. Seketika, senyum Shasha merebak kembali.
"Kamu bisa makan ikan, daging, telor, susu, sayuran hijau, dan... gimana kalo hari ini kita makan seafood aja?" tanya Luthfie yang masih sibuk membuka buka buku menu.
"Terserah," jawab Shasha sambil mengendikkan bahunya.
"Oh, ya, suplemen yang aku kasih tempo hari, jangan diminum lagi ya. Obat-obatan yang lain juga, jangan dikonsumsi tanpa resep dokter."
"Baiklah" jawab Shasha. lagi-lagi sambil mengangguk, membuat Luthfie menoleh padanya.
"Kamu manis sekali ya, kalo jadi anak yang penurut seperti ini," godanya sambil mencubit pipi Shasha
"Auww! Sakit, loh, ini." Luthfie hanya tersenyum tipis saat melihat Shasha meringis sambil mengusap pipinya.
Sambil menunggu makanan datang, Luthfi merogoh ponsel dari sakunya dan sepertinya ia hendak menelepon seseorang.
"Assalamualaikum. Kenapa lagi, Fie?" suara Zidan saat mengangkat telpon dari luthfie.
"Waalaikumsalam, Dan... kayanya gue gak jadi ke sana sekarang deh."
"Kenapa Fie? Kan besok weekend tuh, ajak Shasha mumpung libur sekolah."
"Ya udah Lo ngobrol dulu aja sama Ade lo, kalo dia mau kita berangkat abis makan siang ini," ucapnya sambil menyerahkan ponsel pada Shasha.
Gadis itu sedikit gelagapan karena harus bicara dengan Kakaknya di telepon, tiba-tuba.
"Assalamualaikum Kak, pakabar?"
"Alhamdulillah baik. Jadi gimana kamu ke sini apa enggak?"
Shasha menatap Luthfie dengan mata penuh tanya, pasalnya dia tidak pernah membahas akan pergi menemui kakaknya, sebelum ini.
Memangnya kapan kalau aku bilang mau ke sana? Ini pasti Kak Luthfie yang merencanakannya, soalnya tadi dia bilang ingin memarahi Kak Zidan.
"Ohhh... ya. Jadi Kak, jadi. Nanti Sha telepon lagi ya ini baru mau makan siang dulu. Oke Kak aku tutup dulu telepon nya ya, Assalamualaikum." Telpon pun terputus.
"Kenapa gak bilang sama aku, kalo Kaka dah janji sama Kak Zidan mau ke sana?" tanyanya di sela-sela makan siang.
"Tadinya mau bikin kejutan, tapi Kakak lihat kamu sudah kecapean hari ini, makanya aku pikir ditunda dulu pergi ke sananya."
"Tapi barusan aku dah bilang sama Kak Zidan, kita jadi pergi hari ini."
"Ya bagus, berarti abis ini kita siap siap berangkat."
"Yeayyy... akhirnya bisa ketemu Kak Zidan sama Teh Anita!" serunya dengan mata yang berbinar.
"Ehh... tapi tunggu dulu, Kita ke sana bukan buat marahin Kak Zidan 'kan?" sambil melayangkan tatapan curiga.
"Rencananya, sih, memang begitu."
jawab Luthfie seraya mengusap tengkuknya sambil cengengesan.
BERSAMBUNG.
Author minta maaf jika ada kesalahan dalam penggunaan istilah-istilah kedokteran karena author bukan dokter, dan maaf jika tulisannya masih banyak tipo. Terima kasih untuk readers semua telah meluangkan waktu untuk membaca.🙏😘
Note :
Sumber informasi by google