NovelToon NovelToon
Apa Yang Terjadi Padaku, Kim?

Apa Yang Terjadi Padaku, Kim?

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / Mantan / Romansa / Cinta Murni
Popularitas:41
Nilai: 5
Nama Author: Chndrlv

Mereka bersama hanya sebentar, namun ingatan tentang sang mantan selalu memenuhi pikirannya, bahkan sosok mantan mampu menembus alam mimpi dengan membawa kenangan-kenangan manis ketika masa-masa sekolah dan saat mereka menjalin kasih.
Pie meneruskan hidupnya dengan teror mimpi dari sang kekasih. Apakah Pie masih mencintai sang mantan? Atau hati Pie memang hanya terpaku pada Kim?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chndrlv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tipuan

Suasana lingkungan resto masih gelap dan sepi, bengkel dan tempat pencucian mobil yang ada di belakang resto pun masih gelap tanpa adanya lampu. Pie melangkah maju usai turun dari motor bebeknya. Ia mendorong pelan pintu belakang resto yang dikatakan oleh rekan kerjanya hanya diganjal tabung gas 3 kg.

"Kak?" Panggil Pie pelan seraya masuk ke dalam.

"Kak Reami?" ia berjalan masuk untuk mengecek keberadaan rekannya.

"Apa dia belum bangun?" gumam Pie.

"Pie?" suara serak menyapa Pie, ia menoleh mendapati Reami yang duduk di alas kasur tipis di bawah meja kasir. Terlihat rambut gondrong laki-laki itu berantakan.

"Baru bangun, Kak?"

"hmm." Reami beranjak dari tidur dan membereskan bekas tempat tidurnya ke dalam loker yang berada di dekat meja kasir lalu menuju ke kamar mandi.

"Mana bahan masakannya, Kak? Biar langsung aku siapkan."

"Tunggu di sini." Pie mengerutkan keningnya namun ia memilih mengangguk.

Pie memeriksa freezer tempat menyimpan daging-daging dan kulkas.

"Kenapa tidak ada bahan yang tersedia?" Pie melirik arlojinya yang menunjukkan pukul enam.

"Apa sempat?" Pie berpikir sejenak. Ia harus membeli bahan yang mungkin tak sedikit jumlahnya lalu memasak dan mengemasnya. Ia ragu apakah akan sempat sebelum waktu pesanannya diambil?

Pie berdiri menghadap sink yang terdapat banyak bekas makanan diduga ulah Reami.

Sebuah pelukan dari belakang tiba-tiba membuat Pie menegang dan refleks melepaskan. Ia menghadap Reami yang tersenyum ke arahnya.

"A-ada apa, Kak? Kenapa memelukku?"

"Kenapa? Di sini hanya ada kita berdua, jangan begitu." Reami berusaha untuk kembali memeluk Pie namun gadis itu memundurkan langkahnya.

"Kita harus belanja, waktu kita tidak banyak." Pie melirik jam dinding.

"Santai aja, Pie. Ayo kita menikmati waktu kita berdua."

Pie menepis tangan Reami yang hendak memeluknya.

"Tidak ada pesanan?" Pie mengernyitkan dahi, sontak Reami tertawa pelan.

"Kau bohong?"

Reami mengangguk santai, ia menuangkan air putih dan meneguknya. Lalu tanpa sadar dirinya menarik Pie ke dalam dekapan dan melumat bibir gadis itu.

Pie memberontak ketika ia mendapat ciuman, Reami melumat bibirnya dengan penuh nafsu, kedua tangan Pie tertahan di antara dada keduanya.

Terasa aroma pasta gigi dan air yang tak sengaja ia telan. Pie merasakan jijik ke pada laki-laki ini.

Ia menginjak kaki Reami dengan satu hentakan lalu menendang tulang keringnya. Pelukan terlepas, Reami mengaduh kesakitan.

Pie mengambil kesempatan untuk menampar wajah Reami yang sedang mengusap tulang keringnya.

"Menjijikan kau brxngsek!" Pie menatap nyalang ke arah Reami, kedua matanya memanas. Degub jantungnya berdebar kencang.

"Kau menyukaiku, jangan munafik, Pie." Reami menyeringai menatap Pie yang marah.

"Bukan berarti kau seenaknya padaku, sialan! Kau kira aku semurahan itu, Hah?!"

Reami tertawa mendengarnya, lalu mencoba mendekati Pie. Gadis itu mencoba menghindar.

"Ini kan yang kau inginkan ketika menyatakan cinta? Lalu kau sok menolaknya? Ckck.. Dasar wanita."

Reami mengukung Pie dalam pelukan, gadis itu terus memberontak. Ia sadar menyesal sudah menyatakan cinta dan tak harus selalu mengungkapkan perasaannya.

"lepas, brengsek!"

"Badanmu bagus Pie, kau pasti masih perawan." tawa Reami membuat Pie ingin muntah.

Kedua tangan Pie dicekal oleh satu tangan Reami dan tangan lainnya menggerayangi pinggang lalu naik ke atas. Pie terus mengeluarkan makiannya dan meludah ke wajah Reami. Tampaknya laki-laki itu tak terganggu dengan respon Pie.

"Jangan berani kau menyentuhnya, sialan!" Pie geram tangan Reami yang meremas dadanya dengan kasar.

Wajah Reami merah terlihat terangsang. Ia mencium Pie dengan memberikan tamparan sebelumnya.

Tanpa Pie sadari, Reami melepas celana dan mengarahkan kejantanannya ke arah Pie. Wajah gadis itu ditundukkan agar Pie membuka mulutnya.

"Hisap, Pie."

"Tidak!" Pie mencoba menghindarkan wajahnya dari benda menjijikan itu.

"Hisap!"

Dengan paksaan dan perlakuan kasar Reami, Pie terpaksa memasukkan benda tersebut ke dalam mulutnya.

"Ahh.. Begitu, sayang. Teruskan." Tangan Reami menarik dan mendorong kepala Pie agar memompa miliknya.

Pie menangis dalam diam, ia merasa sangat terhina.

"Jangan terkena gigi! Shh."

Pie meringis kesakitan, rambutnya ditarik kencang.

"Ohh, aku akan keluarr."

Pie membulatkan mata ketika merasakan sebuah cairan yang mengalir di dalam mulutnya.

"Telan itu, Sayang."

Pie mendorong tubuh Reami yang tidak sekuat tadi. Ia memuntahkan semua yang ada di mulutnya ke dalam sink.

ia berkali-kali berkumur dan mengoreknya sampai benar-benar terasa air mentah.

Pie mual ketika mengingat cairan menjijikan itu. Ia kembali muntah.

Ia terduduk lemas ke lantai, dan menatap Reami yang duduk di kursi kasir dengan santai merokok.

Pie menangis segugukan.

"Kenapa kau menangis? Padahal aku belum memperawanimu."

Pie sontak melotot ke arah Reami yang menghembuskan asap rokoknya.

"Dasar gila! Kau melecehkanku!"

Seolah tak mendengarnya, Reami mematikan rokok dan beranjak ke arah Pie.

"Apa?! Mau apa kau setan?!" Pie memeluk lututnya, tubuhnya bergetar ketakutan menatap sorot mata Reami yang tajam.

"Kita baru permulaan." suara tenang tapi tak menenangkan Pie. Dengan tubuh yang gemetar ia bersiap melawan.

"Menjauh dariku!"

"Pie kau manis dan memabukkan. Berikan aku kenang-kenangan selain sapu tangan sebelum aku pulang ke kampung halamanku."

Beberapa hari lalu Pie menyatakan perasaannya dengan memberikan sebuah sapu tangan yang ia sulam sendiri.

"Tidak! Jangan sentuh aku!" Tubuh Pie semakin lemas. Ia berteriak minta tolong ketika tubuhnya dibaringkan dengan paksa. Reami membuka celana kembali dengan satu tangannya yang sibuk menangkis serangan Pie.

"Diamlah! Ini akan indah, Pie."

"Indah matamu, Sialan!" Pekik Pie sembari kakinya menendang kejantanan Reami. Laki-laki itu seketika berguling kesakitan.

Pie segera melarikan diri ketika ada kesempatan.

Reami mengerang kesakitan dan melempar umpatan untuk Pie yang sudah keluar dari dapur resto.

Dengan air mata yang terus menetes Pie menarik gas motor bebeknya meninggalkan resto.

Matahari sudah menampilkan cahaya hangatnya, Pie beberapa kali mengusap air mata yang menghalangi pandangannya. Ia memilih menepikan motor di tepi jalan yang terdapat hamparan sawah hijau di sisinya. Pie menangis tersedu menutup matanya dengan kedua tangan. Bahunya berguncang keras, suara tangisannya teredam dengan suara kendaraan yang berlalu-lalang.

Pie merasa kecewa dengan dirinya yang bisa tertipu. Ia tak berani untuk mengadu pada orang tuanya, hal ini cukup memalukan untuk dirinya.

Pie mengusap air matanya dengan kasar. Ia menatap tajam ke arah belakangnya.

"Tidak ada yang boleh tahu hal ini. Sangat memalukan." Pie kembali menarik gas motor bebeknya menuju rumah.

Beruntung orang tuanya sudah pergi ke kebun, lalu sang kakak yang kemungkinan masih tidur di kamarnya. Pie masuk ke dalam kamar mengambil pakaian ganti lalu menuju kamar mandi.

Pie berusaha bersikap seperti tak terjadi apa-apa, ia enggan lapor polisi tentang kejadian yang menimpanya. Menurutnya, lapor sama dengan ia menyebarkan aibnya itu. Biarlah hukum karma yang berjalan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!