NovelToon NovelToon
Kembalikan Cintaku Dokter

Kembalikan Cintaku Dokter

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Cintapertama / One Night Stand / Konflik etika / Obsesi / Dokter
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: MissSHalalalal

Demi menyelamatkan nyawa suaminya yang kritis akibat kecelakaan, Melisa harus berhadapan dengan tagihan rumah sakit yang sangat besar. Di tengah keputusasaan, ia bertemu kembali dengan Harvey, dokter bedah yang menangani suaminya sekaligus mantan kekasih yang ia tinggalkan secara tragis saat SMA.
Terdesak biaya, Melisa terpaksa mengambil jalan gelap dengan bekerja di sebuah klub malam melalui bantuan temannya, Laluna. Namun, takdir kembali mempermainkannya: pria kaya yang menawar harganya paling tinggi malam itu adalah Harvey.
Kini, Harvey menggunakan kekuasaannya untuk menjerat Melisa kembali—bukan hanya untuk membalas dendam atas sakit hati masa lalu, tapi juga menuntut bayaran atas nyawa suami Melisa yang ia selamatkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PENYATUAN DALAM DENDAM

🌼🌼🌼🌼🌼

Angin malam di balkon apartemen itu menusuk kulit, namun hawa panas yang memancar dari tubuh Harvey jauh lebih membakar. Di bawah temaram lampu kota, bayangan masa lalu menghantamnya tanpa ampun. Pesta kelulusan, sebuah kotak beludru di saku, dan kalimat perpisahan Melisa yang meruntuhkan segalanya dalam satu malam.

Harvey menatap wanita di depannya dengan mata yang menggelap. "Kau tahu apa yang paling lucu, Melisa?"

Melisa gemetar, ia merapatkan jemarinya di pagar balkon yang dingin. "Harvey, kumohon..."

"Lucu sekali melihatmu berdiri di sini setelah setahun lalu aku melihatmu tersenyum di depan gereja," potong Harvey, suaranya rendah dan tajam. "Gaun putih itu... tanganmu yang menggenggam Narendra... Kau tampak sangat suci, seolah kau tidak pernah menghancurkan hidup seseorang untuk mencapainya."

"Aku tidak punya pilihan!" tangis Melisa pecah.

"Semua orang punya pilihan!" Harvey maju satu langkah, memangkas jarak hingga Melisa terpojok. "Dan kau memilih untuk membuangku seperti sampah. Kau menghancurkanku di malam yang seharusnya menjadi awal masa depan kita."

Tanpa peringatan, Harvey menyambar pinggang Melisa. Ia meraup bibir wanita itu dengan kasar. Tidak ada kelembutan, hanya ada luapan dendam yang telah membusuk selama bertahun-tahun. Melisa terkesiap, tangannya memukul dada bidang Harvey yang sekeras batu.

"Lepas... Har—veugh..." Melisa mencoba berteriak, namun Harvey justru mengunci pergelangan tangannya ke balik punggung, memaksa tubuh mereka merapat tanpa celah.

Harvey melepaskan ciumannya sejenak, napasnya memburu di depan wajah Melisa yang basah oleh air mata. "Kenapa melawan? Bukankah ini yang kau tawarkan? Dirimu, untuk nyawa suamimu?"

"Bukan dengan cara begini," isak Melisa. "Jangan dengan kebencian ini..."

"Hanya kebencian yang kau sisakan untukku!" Harvey menyentak tubuh Melisa, membawanya masuk ke dalam kamar tidur utama yang luas dan dingin. Ia menghempaskan Melisa ke atas ranjang king size bersprei gelap.

Melisa meringkuk seketika, gaun satin hitamnya tersingkap memperlihatkan kulit pucat yang kontras dengan kegelapan di sekelilingnya. Ia gemetar hebat saat mendengar suara kancing kemeja Harvey yang terlepas satu per satu.

"Lihat aku, Melisa," perintah Harvey. Ia merangkak naik ke atas ranjang, mengunci pergerakan wanita itu. "Jangan pejamkan matamu. Aku ingin kau melihat dengan jelas siapa pria yang sedang menguasaimu malam ini."

"Harvey, kau bukan pria kejam seperti ini. Pria yang kukenal dulu..."

"Pria itu sudah mati di malam kau meninggalkannya!" bentak Harvey. "Sekarang, yang ada hanya pria yang membeli waktumu. Kau menontonku hancur saat kau menikah dengannya. Sekarang, giliranku menontonmu hancur saat kau menyerahkan segalanya padaku demi pria itu."

Tangan Harvey membelai wajah Melisa dengan kasar sebelum turun ke lehernya. Sentuhannya terasa seperti api yang membakar. Melisa memejamkan mata rapat-rapat, mencoba memanggil bayangan wajah Narendra yang kini terbaring lemah di ruang ICU, mencoba meyakinkan dirinya bahwa pengorbanan ini adalah demi cinta.

Namun, tubuhnya mulai memberikan reaksi yang tidak sejalan dengan nuraninya. Aroma maskulin Harvey—aroma yang dulu sangat ia puja—kini memenuhi indranya.

"Katakan, Melisa," bisik Harvey, suaranya serak di ceruk lehernya. "Siapa yang menyentuhmu sekarang? Apakah Narendra bisa memberikan sensasi ini padamu? Apakah dia pernah memujamu seperti ini?"

"Hentikan... kumohon..."

"Katakan namanya!" Harvey menuntut, gerakannya semakin dominan dan provokatif.

"Kau... Kau, Harvey," rintih Melisa, suaranya pecah antara isak tangis dan desahan yang tak tertahankan.

Ketika Harvey akhirnya menyatukan tubuh mereka, sebuah desahan panjang lolos dari bibir Melisa. Itu adalah suara kehancuran yang dibungkus gairah. Harvey bergerak dengan tempo yang tegas dan penuh klaim, seolah setiap inci tubuh Melisa adalah tanah jajahan yang harus ia rebut kembali.

"Ah... Harvey..." Melisa mengerang, jemarinya mencengkeram sprei sutra hingga kusut.

Di kamar yang kedap suara itu, hanya ada bunyi napas yang berkejaran dan detak jantung yang berdentum hebat. Harvey menatap tajam ke arah Melisa, ingin memastikan wanita itu tidak melarikan diri ke dalam fantasinya tentang pria lain. Ia ingin Melisa tahu bahwa di dalam ruangan ini, Narendra tidak memiliki kuasa apa pun.

Penyatuan itu terasa begitu intens. Harvey membenci betapa tubuhnya masih sangat mengenali dan menginginkan wanita ini. Di tengah kemarahannya, ada kerinduan yang putus asa yang enggan ia akui.

Setelah mencapai puncak yang melelahkan, Harvey langsung menjauh. Tidak ada kata-kata manis. Tidak ada pelukan pasca-perang. Ia bangkit dan memungut kemejanya dari lantai dengan gerakan dingin.

Melisa bergelung di bawah selimut, menyembunyikan wajahnya yang sembab. Ruangan itu kembali dingin, lebih dingin dari balkon tadi.

"Jangan berpikir ini berarti aku memaafkanmu, atau aku masih mencintaimu," ucap Harvey datar sambil mengancingkan kemejanya tanpa menoleh.

Melisa hanya bisa terisak pelan di balik selimut.

Harvey berjalan menuju pintu, namun langkahnya terhenti sejenak. "Ini baru malam pertama, Melisa. Kau masih punya dua puluh sembilan malam lagi untuk melunasi hutangmu. Pastikan kau tidak jatuh sakit, karena aku tidak akan memberimu keringanan sesenti pun."

Brak!

Pintu tertutup dengan keras. Melisa menatap langit-langit kamar yang gelap. Ia merasa kotor, merasa telah mengkhianati janji sucinya, namun di saat yang sama, ia tahu ini adalah harga yang harus dibayar agar jantung Narendra tetap berdetak besok pagi.

***

Bersambung...

.....................

......Sebelum lanjut, bantu author lebih semangat dengan memberikan Like, komen, vote, dan gift semampu kalian ya 🥰🥰🥰......

1
Dede Dedeh
oke lanjuttt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!