Karena kesalahpahaman, Anindia harus menikah dengan cowok yang paling tidak disukainya, Keanu si badboy sekolah. Mereka tidak pernah akur, bahkan Anindia selalu menghindari Keanu.
Tapi, malang tidak dapat ditolak, untung tidak dapat diraih. Mereka terjebak dalam kesalahpahaman yang fatal, dan sekarang mereka harus terpaksa menikah.
Anindia, siswi paling pintar di sekolah, harus menikah dengan Keanu, sang ketua geng sekolah yang terkenal dengan keberanian dan kenakalannya.
Mereka harus merahasiakan pernikahan mereka setidaknya sampai hari kelulusan. Tapi di sekolah, Keanu justru membuat pernyataan bahwa Anindia adalah pacarnya.
Apakah Keanu dan Anindia bisa merahasiakan pernikahan mereka?
•••
"Gue memang badboy, tapi setidaknya gue bukan playboy. Kenapa gue berani ngomong kayak gini?"
"Karena gak ada seorangpun yang bisa bikin hati gue luluh selain lo, Nindi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NdahDhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Perhatian Keanu untuk Anindia
Jam pulang pun tiba, semua murid langsung berhamburan menuju tempat parkir, terlihat juga beberapa yang berjalan ke arah gerbang.
Tak ada perbincangan apapun antara Anindia dan Dara, keduanya benar-benar terlihat asing. Namun, saat melewati koridor, mata Anindia tidak sengaja melihat Dara yang berjalan ke arah tempat parkir mobil. Anindia merasa heran, karena yang ia tahu Dara selalu diantar jemput oleh supir.
Anindia merasa sedikit pusing, ia tidak tahu apa sebabnya. Ia terus berjalan mengikuti Keanu, namun ia tiba-tiba menabrak tubuh tegap itu dari belakang ketika Keanu yang tiba-tiba saja berhenti.
"Kean, kenapa berhenti tiba-tiba sih?" Ujar Anindia yang kini menggosok hidungnya.
"Maaf-maaf, aku kira kamu hilang. Kecil banget sih, jadi gak keliatan," canda Keanu.
"Ihh nyebelin," ujar Anindia yang merasa kesal namun terdengar lemas dari suaranya.
Keanu tidak menghiraukan perkataan Anindia, ia justru memperhatikan wajah istrinya itu yang bersemu merah, bukan karena malu tapi karena sesuatu yang lain. Tanpa aba-aba, Keanu langsung meletakkan punggung tangannya di dahi Anindia, membuat Anindia langsung menatapnya tanpa kata.
"Kamu sakit?" Tanya Keanu khawatir.
"Enggak kok, cuma pusing aja. Nanti istirahat udah enakan kok," ujar Anindia meyakinkan.
"Kita pulang sekarang," ujar Keanu yang langsung menarik tangan Anindia, ia benar-benar mengkhawatirkan istrinya itu.
Anindia hanya membiarkan Keanu menariknya, ia pun berjalan mengikuti Keanu menuju ke arah mobil. Mobil itu pun melaju meninggalkan area sekolah menuju ke kediaman Keanu.
...✧✧✧✧✧✧✧✧✧✧...
Malam harinya, Keanu menatap layar ponselnya. Ia sebenarnya merasa ragu-ragu, ingin bertemu orang itu atau menemani Anindia. Terlebih ia yang mengajak orang itu untuk bertemu, membuatnya merasa tidak enak jika harus membatalkannya.
Keanu berjalan ke arah ranjang, menghampiri Anindia yang sedang berbaring. Anindia meringkuk di dalam selimut, dengan kain kompres di atas dahinya. Ia pun menoleh ke arah Keanu dengan tatapan yang sayu. Demam yang datang secara tiba-tiba membuatnya tidak bertenaga saat ini.
"Aku keluar sebentar ya, sayang. Aku mau beli obat buat kamu," ujar Keanu sembari membelai rambut Anindia.
Anindia hanya mengangguk lemah, namun senyuman tipis terukir di wajahnya. Keanu pun mengecup pucuk kepala Anindia, tanpa kata lagi ia pun berlalu pergi meninggalkan kamar.
Anindia mencoba untuk memejamkan matanya, mencoba untuk menghilangkan rasa pusing yang masih terasa di kepalanya.
"Lho Keanu, mau kemana malam-malam gini?" Ujar ibu Keanu ketika ia baru saja menuruni anak tangga terakhir.
"Mau keluar sebentar Ma, Pa. Mau beli obat buat Nindi," ujar Keanu.
"Kenapa tidak panggil dokter saja? Biar dokter yang datang ke rumah buat periksa Anindia," ujar ayahnya menimpali.
"Nindi nya gak mau, Pa. Keanu udah bilang gitu tadi siang, tapi dia menolak," ujar Keanu jujur.
Ayah dan ibunya mengangguk perlahan, tidak ingin memaksa jika menantunya itu tidak ingin. Ayahnya menatap Keanu dengan tatapan tegas, seakan memberi peringatan kepada putranya itu agar tidak keluyuran.
"Aku gak kemana-mana kok Pa, cuma beli obat buat Nindi habis itu langsung pulang." Ujar Keanu yang seakan paham tatapan tajam dari ayahnya itu.
"Ya sudah, hati-hati di jalan. Kamu gak usah lagi ke apartemen Ariga, Papa ngerasa dia gak baik buat kamu," tegas ayahnya kemudian.
"Iya Pa. Keanu cuma sebentar kok," ujar Keanu meyakinkan.
"Iya udah nak, langsung pulang ya? Mama mau liat Anindia dulu," ujar ibunya yang langsung melangkahkan kakinya menuju ke arah tangga.
Tanpa kata lagi, ayahnya pun beranjak pergi mengikuti istrinya. Keanu pun langsung melangkahkan kakinya menuju ke arah garasi.
Di dalam kamarnya, Anindia terlihat menggigil kedinginan. Ia mencoba untuk tidur tapi matanya enggan untuk terpejam. Tenggorokannya terasa kering, ia pun akhirnya duduk dan meraih gelas air yang berada di atas meja.
Tookk... Tokk... Tookk...
"Anindia, ini Mama sayang," ujar ibu Keanu setelah mengetuk pintu.
Setelah meminum airnya, Anindia hendak turun dari atas tempat tidur untuk menghampiri mertuanya. Namun, pintu itu sudah terbuka dan memperlihatkan kedua mertuanya di ambang pintu.
"Mama, Papa?" Ujar Anindia lirih.
"Udah gak usah bangun, di situ aja." Ujar ibu Keanu menghampiri.
"Iya Anindia, berbaring saja." Ujar ayah Keanu kemudian.
Anindia pun kembali berbaring karena perintah mertuanya. Ibu Keanu memperhatikan wajah Anindia yang bersemu merah, lalu meletakkan punggung tangannya di dahi Anindia untuk mengecek suhu tubuhnya. Sementara ayah Keanu berdiri di samping istrinya, memperhatikan menantunya itu dengan khawatir.
"Anindia, kamu harus istirahat yang cukup. Jangan memaksakan diri, ya? Keanu sedang beli obat buat kamu," ujar ibu Keanu dengan nada yang lembut.
"Iya Anindia, kamu harus menjaga kesehatan kamu agar bisa selalu bahagia bersama Keanu," ujar ayah Keanu menimpali.
"Terima kasih Ma, Pa." Ujar Anindia dengan seutas senyum, ia merasa bahwa kedua mertuanya benar-benar menganggapnya seperti anak sendiri.
"Sama-sama sayang, kalo butuh apa-apa panggil aja ya? Mama sama Papa ke bawah dulu," ujar ibu Keanu kemungkinan.
"Iya Ma, Pa..." Ujar Anindia lirih.
Tanpa kata lagi, kedua mertuanya pun langsung berbalik pergi, meninggalkan Anindia sendirian di dalam kamarnya.
Sementara itu di lain sisi, setelah membeli obat di apotek, Keanu mampir sejenak ke sebuah kafe tempat ia mengadakan janji temu dengan orang itu. Keanu berjanji tidak akan lama, karena ia mengkhawatirkan istrinya.
Keanu melangkah masuk ke dalam kafe, di kejauhan ia bisa melihat jelas bahwa orang kepercayaan keluarganya sudah menunggu. Tanpa pikir panjang, Keanu pun langsung menghampiri orang itu.
"Malam mas, apa yang bisa saya bantu?" Ujar pria paruh baya yang bernama Pak Tony itu.
"Malam, Pak. Saya memang membutuhkan bantuan, tapi saya tidak bisa lama karena suatu hal," ujar Keanu yang langsung menarik kursi untuk duduk.
"Apa yang bisa saya bantu, Mas Keanu?" Ujar Pak Tony kemudian.
Keanu mengambil ponselnya, lalu menunjukkan gambar seseorang di dalamnya. Ia menatap pria paruh baya di hadapannya itu dengan tatapan serius, berharap beliau benar-benar bisa membantunya.
"Jadi gini, Pak," ujar Keanu membuka pembahasan. "Saya ingin tahu semua tentang orang ini."
Pak Tony memperhatikan dengan seksama, lalu menganggukkan kepalanya, seakan mengerti perintah orang di hadapannya itu.
"Baik, Mas. Saya akan mencari tahu tentang orang ini," ujarnya.
Keanu tersenyum puas, dan ia yakin akan mendapatkan informasi yang akurat dari orang kepercayaan keluarganya itu. Keanu pun langsung berdiri, karena ia tidak bisa membuang waktu lama di kafe itu.
"Terima kasih, Pak. Kalau gitu saya duluan, ada hal lain yang begitu penting untuk saya," ujar Keanu sembari berjabat tangan dengan pria paruh baya itu.
"Baik Mas Keanu, percayakan semua ini pada saya. Insya Allah jika saya sudah mendapatkan informasi nya saya akan menghubungi Mas sesegera mungkin," ujar Pak Tony kemudian.
"Baik Pak, sekali lagi terima kasih atas bantuannya. Mari," ujar Keanu sebelum akhirnya berbalik pergi.
Keanu langsung menuju mobilnya. Tanpa berlama-lama, ia pun langsung melesat meninggalkan kafe itu di belakang.
Beberapa menit berlalu, tibalah Keanu di rumahnya. Setelah memarkirkan mobilnya di garasi, ia pun langsung berlari menuju ke arah kamar. Rasa khawatirnya terhadap Anindia jauh lebih besar daripada rasa penasaran dirinya untuk menggali informasi tentang Dara.
"Nindi, aku udah pulang," ujar Keanu dengan nafas yang tersengal-sengal karena berlari menaiki anak tangga.
"Keanu? Kenapa ngos-ngosan?" Tanya Anindia dengan suaranya yang terdengar lemah.
"Karena aku khawatir sama kamu," ujar Keanu yang langsung berjalan menghampiri dan membuka bungkusan obat itu. "Minum obat dulu ya?"
Anindia mengangguk singkat, Keanu pun langsung membantunya untuk duduk bahkan ia dengan telaten memberikan obat itu kepada Anindia. Anindia pun meminum obatnya, lalu menatap Keanu dengan tatapan yang teduh.
"Jangan sakit-sakit... Get well soon my wife," ujar Keanu dengan seutas senyum tipis.
"Aamiin, makasih ya suamiku," ujar Anindia.
Keanu tersenyum tulus menanggapinya, tanpa aba-aba ia pun langsung menarik Anindia ke dalam pelukannya. Bahkan, sesekali mencium rambut Anindia penuh kasih sayang. Anindia sendiri bisa merasakan degup jantung Keanu yang berdetak kencang, senada dengan detak jam di dalam kamar itu. Cukup lama Keanu memeluk Anindia, akhirnya ia pun mengurai pelukan.
"Sekarang istirahat lagi ya, aku mau kamu cepat sembuh," ujar Keanu menatap Anindia dalam.
"Iya," ujar Anindia dengan anggukan singkat.
Keanu membantu Anindia untuk kembali berbaring, lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh istrinya itu. Keanu mengecup kening Anindia lembut, lalu duduk di tepi ranjang sembari memegangi tangannya.
"Aku akan temani kamu sampai kamu sembuh," ujar Keanu yang terdengar begitu tulus.
Anindia merasa hangat dengan perhatian Keanu. Ia pun mulai merasa kantuk, sepertinya karena efek obat yang diminumnya tadi. Anindia pun memejamkan matanya dengan tangan yang masih dipegang oleh Keanu.
Keanu memperhatikan wajah Anindia yang mulai terlelap, ia mengusap lembut tangan Anindia bahkan mengecupnya singkat. Suasana di kamar pun menjadi hening, hanya terdengar suara nafas Anindia yang teratur dan detak jam di dinding.
Keanu kemudian melepaskan genggaman tangannya, ia lalu mengambil kain kompres Anindia dan menggantinya. Keanu memutuskan untuk tidak tidur, ia merasa gelisah ketika melihat Anindia yang jatuh sakit seperti ini.
Keanu yang dulunya tidak pernah peduli dengan Anindia, kini justru memperdulikan Anindia jauh lebih dari sebelumnya. Bahkan ketika Anindia demam seperti ini saja membuat Keanu benar-benar merasa khawatir.
Dua jam berlalu, Keanu belum juga tidur. Dan benar saja, ia tidak bisa tertidur meskipun ia mencoba untuk memejamkan matanya. Keanu kembali duduk di tepi ranjang dan memegang tangan Anindia lagi, berharap dapat memberikan kenyamanan untuk istrinya itu.
^^^Bersambung...^^^