NovelToon NovelToon
Balas Dendam Pengantin Pengganti

Balas Dendam Pengantin Pengganti

Status: tamat
Genre:Cerai / Penyesalan Suami / Putri asli/palsu / Balas dendam pengganti / Chicklit / Tamat
Popularitas:220.9k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

“Aku hanya pengganti, bukan?” Suara Yura bergetar, namun matanya tak lagi memohon.
Arga Lingga Pradipta tak menjawab. Sejak awal, pernikahan itu memang tak pernah tentang cinta. Yura hanyalah bayangan dari wanita lain, dinikahi karena wajah, dipertahankan karena kesepakatan.

Empat tahun hidup sebagai istri tanpa nama, satu malam hampir mengakhiri segalanya. Saat kontrak pernikahan tinggal menghitung bulan dan wanita yang dicintai Arga kembali, Yura memilih berhenti terluka.

“Aku tak butuh cintamu,” katanya pelan.
“Aku hanya ingin kau menyesal.”

Saat tunangan asli kembali dan kontrak tinggal hitungan bulan, Yura bukan lagi istri yang patuh. Diam-diam, ia bangkit sebagai musuh paling berbahaya bagi keluarga Pradipta.

Bagaimana kisahnya? Yuk, simak di sini!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Kesadaran Yura kembali perlahan, seperti seseorang yang ditarik paksa dari dasar laut. Kelopak matanya terasa berat saat ia membukanya. Pandangannya buram, kepalanya berdenyut, dan tenggorokannya kering. Aroma obat dan antiseptik memenuhi inderanya. Beberapa detik berlalu sebelum ia menyadari bahwa dirinya telah berada di kamar, terbaring rapi di atas ranjang, tubuhnya diselimuti hangat.

“Kak Yura?” suara itu terdengar pelan, penuh kelegaan.

Yura menggeser pandangannya. Sheli duduk di sisi ranjang, matanya sembap, namun wajahnya jelas menyimpan rasa lega saat melihat Yura membuka mata.

“Kau akhirnya sadar,” ujar Sheli lirih. “Dokter baru saja selesai memeriksamu.”

Yura mencoba bergerak, namun rasa nyeri di punggung membuatnya mengerang pelan. Sheli sigap menahan bahunya agar ia tetap berbaring.

“Jangan bergerak dulu,” kata Sheli cepat. “Kau demam tinggi. Dokter bilang tubuhmu drop karena kehujanan dan kelelahan.”

Yura menelan ludah, lalu mengangguk lemah. Di sudut kamar, dokter tengah menuliskan sesuatu di atas kertas resep. Setelah selesai memberi beberapa pesan singkat pada Sheli, pria itu beranjak pergi.

Sheli berdiri. “Bibi, tolong antar dokter sampai keluar,” pintanya pada pelayan yang menunggu di ambang pintu.

Begitu pintu tertutup dan kamar kembali sunyi, Sheli duduk lagi di sisi ranjang. Ia menatap Yura lama, seolah ingin mengatakan banyak hal, tetapi tak tahu harus memulai dari mana.

“Aku minta maaf,” ucapnya akhirnya. Suaranya bergetar. “Aku … aku tak bisa menolongmu lebih banyak.”

Yura tersenyum tipis, senyum yang terlihat rapuh, namun entah bagaimana terasa tenang.

“Tak apa,” jawabnya lembut. “Aku baik-baik saja.”

Kata-kata itu keluar begitu mudah, seolah ia benar-benar tak terluka. Namun, di dalam hatinya, makian paling kejam mengalir deras.

'Kau iblis! Kau pengecut! Kau pria busuk yang hanya berani menyiksa wanita yang tak bisa melawan. Suatu hari nanti, Mas Arga … aku akan menghitung satu per satu semua lukamu.' Batin Yura terus memaki sosok pria yang tak ada di depannya.

Sheli menunduk, jarinya saling meremas. “Tak ada yang bisa melawan Kak Arga di rumah ini. Bahkan aku pun—”

“Jangan,” potong Yura pelan.

Sheli mengangkat wajahnya. Yura tetap tersenyum, wajahnya tampak lugu dan lembut, seperti wanita yang selalu mereka anggap tak berdaya. Dengan suara halus, ia berkata, “Jangan menentang kakakmu. Aku tak ingin kau bermasalah karena aku.”

“Tapi Kak—”

“Yang salah aku,” lanjut Yura cepat, masih dengan nada yang sama. “Bukan kakakmu.”

Sheli terdiam, dia menatap Yura dengan mata berkaca-kaca, jelas tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.

“Kau terlalu baik,” bisik Sheli lirih. “Terlalu baik untuk berada di sini.”

Yura hanya tersenyum kecil.

'Bukan baik,' batinnya dingin.

'Aku hanya sedang bersabar.'

Saat itu juga, pintu kamar terbuka. Aura dingin langsung memenuhi ruangan. Arga berdiri di ambang pintu dengan rahang mengeras, tatapannya tajam mengarah ke ranjang. Ia memandangi Yura tanpa ekspresi dan tak ada rasa bersalah, tak ada kekhawatiran. Hanya tatapan kosong yang sulit diterjemahkan.

Sheli langsung berdiri.

“Kak, aku harus ke kampus,” ucapnya cepat, jelas tak ingin berada di antara ketegangan itu. Dia menoleh ke Yura dan menggenggam tangannya sebentar.

“Istirahatlah.”

Yura mengangguk pelan. “Hati-hati.”

Sheli melirik kakaknya sekilas, lalu keluar dari kamar. Pintu tertutup kembali, menyisakan keheningan yang mencekam.

Yura tetap berbaring, menatap langit-langit, seolah tak menyadari keberadaan Arga. Namun, di balik kelopak matanya yang setengah terpejam, pikirannya bergerak cepat.

Lima tahun, ia menghitung dalam hati. Tinggal beberapa bulan lagi. Dan kali ini, ia berjanji pada dirinya sendiri, ia tak akan keluar dari pernikahan itu sebagai wanita yang sama.

Langkah kaki Arga terdengar mendekat setelah pintu kamar tertutup sempurna. Udara di ruangan itu seketika berubah, lebih berat, lebih menekan. Yura masih berbaring, namun tubuhnya menegang tanpa sadar.

Arga berhenti di sisi ranjang.

“Shasmita akan kembali sore ini,” ucapnya datar.

Kalimat itu jatuh begitu saja, tanpa nada, tanpa empati. Namun, bagi Yura, kata-kata itu terasa seperti palu yang menghantam dadanya. Kedua matanya melebar. Jantungnya berdegup lebih cepat.

Sore ini, itu berarti waktunya hampir habis. Perannya akan segera berakhir. Ia akan kembali menjadi tidak berarti atau lebih tepatnya, memang sejak awal ia tak pernah berarti.

Bibir Yura melengkung tipis, senyum getir yang nyaris tak terlihat.

'Peranku akan digantikan oleh orang lain,' batinnya pahit. 'Padahal sejak awal … aku memang hanya pengganti.'

Dia menarik napas pelan, menahan rasa sesak yang mendadak memenuhi dadanya. Lalu, dengan suara lemah dan wajah yang tetap terlihat patuh, Yura membuka mulut.

“Mas…” panggilnya lirih.

Arga menatapnya sekilas, ekspresinya tetap dingin.

“Selama kontrak kita belum selesai,” lanjut Yura pelan, “apa aku boleh tetap berada di sini?”

Tangannya mencengkeram selimut, jemarinya bergetar. Ia menoleh, menatap Arga dengan mata nanar, tatapan seorang wanita yang benar-benar berada di ujung jurang.

“Ayahku masih butuh perawatan,” ucapnya, suaranya nyaris berbisik. “Belum ada ginjal yang cocok. Aku mohon…”

Itu bukan sepenuhnya sandiwara. Rasa takutnya nyata. Ayahnya benar-benar bertaruh nyawa. Namun, di balik permohonan itu, ada sesuatu yang jauh lebih berbahaya, kesabaran seorang wanita yang tengah menghitung waktu.

Arga menatapnya lama. Wajahnya tak menunjukkan perubahan apa pun. Seolah permohonan itu hanyalah suara latar yang tak penting.

Di dalam hatinya, Yura kembali memaki.

'Kau bahkan tak punya sisa kemanusiaan,' sumpahnya dingin.

"Tak apa, bertahanlah sedikit lagi, Yura. Setelah semuanya selesai … aku akan meninggalkan pria ini dengan luka yang tak pernah ia bayangkan. Uangnya terlalu berarti untuk ayahku saat ini,'

“Aku sudah bilang,” ujar Arga akhirnya, suaranya tenang namun menusuk. “Kau hanya pengganti.”

Kalimat itu membuat dada Yura berdenyut nyeri, namun wajahnya tetap menunduk patuh.

“Dan mulai sekarang,” lanjut Arga tanpa emosi, “di depan Shasmita, bersikaplah seperti seorang pelayan yang berhadapan dengan majikannya.”

Yura mengangkat wajahnya perlahan.

“Jangan pernah memberitahunya,” Arga menegaskan, “tentang hubungan yang kita jalani selama empat tahun ini. Aku tak ingin Shasmita salah paham.”

Empat tahun penderitaan, luka, dan penghinaan harus dihapus begitu saja. Seolah semuanya tak pernah terjadi. Yura menelan ludah. Senyum lembut kembali terbit di wajahnya, senyum yang selama ini membuat Arga percaya bahwa ia benar-benar lemah.

“Baik, Mas,” jawabnya patuh. “Aku mengerti.”

Namun, di dalam hatinya, senyum itu runtuh menjadi kebencian yang dingin dan terukur.

'Tenanglah, Mas Arga,' bisiknya dalam batin.

'Aku akan menjadi pelayan terbaikmu. Dan kau … akan menjadi korban paling sempurna.'

Arga berbalik dan melangkah keluar kamar tanpa menoleh lagi. Pintu tertutup pelan, meninggalkan Yura sendirian bersama detak jam dan pikirannya sendiri.

1
Anre1201
Thanks Thor.. 🙏🙏
Jujur, baru kali ini, saya baca tanpa Skip ❤️😃😘
Jalan ceritanya sederhana tanpa banyak Drama yang bikin nampol😩🤣🤣🤣
Anre1201
Thanks Thor ❤️
Ceritanya bagus, karakter Yura bukan wanita lemah, lebay, plin plan, manja / jadi Goblok karna bucin. 👍👍
Anre1201
Thor, jangan bikin karakter perempuan yang lemah lagi.. Jangan sampai gw marah + maki-maki diri mu yaaa
😭 kali ini bikin Arga + Putri menyesal sampai berdarah darah 😡
Aisyah Alfatih: 😁🙏 siap kakak 🤭
total 1 replies
Anre1201
Jangan bilang ini karakter yg sama Thor, karakter wanita yg katanya pintar, punya bisnis usaha di belakang tapi lemah hanya karna uang 100M.
Harusnya kalau memang pemeran wanita nya pintar, uang 100M tidak ada artinya. Tapi ya gitu lah.. Terserah Author aja.. 😃
Palingan saya bacanya banyak di Skip aja.. 🙄🤔
Wanganiaidariafriday
yaaa, kirain sampe Yura lahiran
RieNda EvZie
/Good//Good//Good//Good//Good/
niktut ugis
Yura, keluarga Wijaya memang sangat ² salah padamu tapi benar apa yg di katakan oleh sky & jgn sampai di suatu hari nti ada penyesalan buat mu. bukan keluarga mu yg membuangmu tapi takdir yg bekerja hingga peristiwa itu terjadi
niktut ugis
siput anak angkat yg g tau diri
niktut ugis
putri selamat datang di neraka
niktut ugis
rada membingungkan
apa yg di cari Yura selain donor untuk ayah nya sedangkan sebagai lartika dia org berpengaruh+ bergelimpangan
TRIDIAH SETIOWATI
thor bikin cerita serem amat
ken darsihk
Terpaksa menikahi mafia buta karena hutang , aq cari nggak ketemu
Aisyah Alfatih: belum up kak 🤭
total 1 replies
ken darsihk
Gagal paham dngn kata2 " karya ini ganti karya Abian ya "
Karya Abian yng mana yak ?? 🙏
Aisyah Alfatih: ada nona kota jodoh anak pak kades
total 3 replies
Dessy Lisberita
wajar yura sakit hati pada keluarga hans mereka terlalu memanjakan putri da menindas yura kedasar yg paling dalm
Angelia nikita Sumalu
luar biasa suka dengan semua cerita kamu.. bagaimana penempatan para tokoh serta karakternya...
Aisyah Alfatih: makasih banyak kakak 🙏
total 1 replies
YuWie
baguss..diawal2 sempat emosi dg kepasrahan yura walopun itu mmg taktik yura sih.
YuWie
happy end... selamat yura sky
Vie
ini keluarnya kapan kak, aku tunggu masih belum nongol.... 🤭🤭🤭🤭
reti
ceritanya bagus kak..
endingnya hepi semua
terima kasih
Ayu
Kok udah tamat aja thor.. si Yura sm Sky dah bhgia. trs kbr Arga gimana thor. msh penasaran aja para pembaca. tapi mksh thor. karya mu sl bagus. smpai gk ingt sdh berapa karya mu yg sdh aku bc. sukses sl thor🙏💪
Aisyah Alfatih: Arga jatuh sejatuhnya...😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!