NovelToon NovelToon
Terjerat Cinta Paman Suamiku

Terjerat Cinta Paman Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Saling selingkuh / Cinta Terlarang / Menikah dengan Kerabat Mantan / Penyesalan Suami
Popularitas:12k
Nilai: 5
Nama Author: FT.Zira

"Ketika cinta datang disituasi yang salah"

Rieta Ervina tidak pernah menyangka, jika keputusannya untuk bekerja pada Arlan Avalon, pria yang menjadi paman dari suaminya justru membuat ia terjebak dalam lingkaran cinta yang seharusnya tidak ia masuki.

Pernikahan tanpa cinta yang awalnya ia terima setulus hati berubah menjadi perlawanan saat Rieta menyaksikan sendiri perselingkuhan suaminya bersama wanita yang menjadi rekan kerjanya. Dan di saat yang sama, paman dari suaminya justru menyatakan peraasaannya pada Rieta.

"Cinta ini adalah cinta yang salah, tapi aku tidak peduli." Arlan.

Apa yang akan Rieta lakukan setelahnya? Akankah ia menerima cinta yang datang? Atau tetap bertahan pada pernikahan bersama suami yang sudah mengkhianati dirinya?

Ikuti kisah mereka...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1. Hari Kelulusan.

"Aku... Lulus..."

Rieta Ervina, gadis cantik bersurai coklat panjang itu melompat sembari melemparkan topi toga yang sebelumnya terpasang di kepalanya ke udara usai upacara kelulusan dan menangkapnya kembali.

Wajah cantiknya menunjukkan kepuasan, tersenyum lebar saat beberapa temannya mendekat, mengulurkan tangan mereka untuk memberikan ucapan selamat atas pencapaiannya mendapatkan nilai tertinggi di universitas tempat ia menjalani progam belajarnya.

"Selamat untukmu, Rie."

Rieta menoleh setelah mendengar satu kalimat itu dari seseorang yang sangat ia kenali, membubarkan kerumunan yang sebelumnya terbentuk, lalu tersenyum kala ia mendapati sahabatnya membuka kedua lengan dengan senyum bangga, sesaat kemudian mereka saling berpelukan hangat.

"Ucapan darimu adalah yang aku tunggu," ujar Rieta.

Dia tertawa. "Jahat sekali, padahal mereka juga teman-temanmu. Apakah kamu akan segera kembali?" tanyanya kemudian.

Lenny Elora, gadis berkacamata berkulit pucat dengan rambut putih sebahu itu bertanya usai melerai pelukan, menatap sahabatnya dengan tatapan takjub atas kecantikan yang Rieta miliki dalam balutan pakaian toga.

Tak hanya penampilan fisik Rieta saja yang membuat Lenny mengagumi sosok Rieta, tetapi juga dengan kecerdasan, sikap suka menolong dan pola pikir yang Rieta miliki. Selain mendapatkan beasiswa penuh di universitas tempat mereka menimba ilmu, ia juga tahu jika Rieta didukung oleh keluarga Larson yang menjamin semua kebutuhan yang Rieta butuhkan selama masa pendidikan.

"Ya." jawab Rieta disertai anggukan, sedikitpun tidak menghilangkan senyum ceria dari bibirnya. "Aku akan pulang lusa."

"Itu artinya, kamu akan datang ke prom night besok malam?" tanya Lenny.

"Tentu saja, aku tidak mungkin melewatkan waktu terakhirku bersama sahabat terbaikku," sahut Rieta riang. "Ayo ke kafe, kita rayakan kelulusan kita." sambungnya seraya merangkul bahu sahabatnya.

Lenny tersenyum, tetapi dalam benaknya ia berpikir keras bagaimana caranya agar ia bisa senantiasa bersama sahabatnya. Karena setelah sahabatnya itu pergi, mereka akan terpisah jarak yang sangat jauh, bukan hanya berbeda kota, tetapi juga berbeda negara.

Masih segar dalam ingatannya saat dimana ia bertemu Rieta pertama kali. Hari itu, ia diganggu beberapa orang yang juga seorang mahasiswa baru sama seperti dirinya. Hinaan mereka masih ia ingat sampai sekarang hanya karena ia berbeda. Ia seorang albino.

Namun, entah bagaimana, Rieta tiba-tiba datang, berdiri di depannya dan mengusir mereka yang mengganggu dirinya. Awal pertemuan yang tidak mereka duga akan membuat hubungan persahabatan itu terjalin sampai sekarang. Rieta bahkan dua tahun lebih muda darinya, tetapi hal itu sama sekali bukan penghalang bagi keduanya.

"Dua Ice white flat."

Rieta menyebutkan peasanan yang ia inginkan pada pelayan kafe begitu ia berdiri di depan meja bar tanpa memilih menu.

Di balik meja bar, seorang barista pria tersenyum hangat, mengenali wajah pelanggan tetapnya yang selalu memesan menu yang sama setiap kali dua wanita itu datang. Ia melangkah maju, meminta pelayan itu mundur dan mengambil alih tugas pelayan yang menjadi rekannya dalam melayani Rieta.

"Baik, mohon tunggu sebentar," sahut si barista ramah.

Rieta mengagguk, berbalik dan menuju meja di mana sahabatnya sudah duduk menunggu.

"Rasanya baru kemarin kita menjadi seorang mahasiswi, dan sekarang kita sudah lulus," Lenny mendesah pelan, menopang dagunya menggunakan satu tangan. "Waktu sungguh sangat cepat berlalu."

"Dan kamu..." Lenny melanjutkan, menatap sahabatnya dari atas sampai bawah yang kini mengenakan pakaian santai. "Akan menjalankan peranmu sebagai seorang istri. Tidakkah menurutmu pendidikanmu akan sia-sia, Rie? Padahal kamu sangat cerdas."

Rieta tersenyum, lalu menggeleng. "Ayah mertua justru menyarankan agar aku bekerja setelah lulus, beliau mengatakan agar aku memiliki pengalaman kerja."

"Di perusahaan mertuamu?" tanya Lenny.

"Bukan." Rieta menggeleng. "Tapi di perusahaan paman suamiku."

"Tetap saja mereka kerabat," Lenny mencibir pelan. "Apa bedanya? Kamu tentu saja ajan langsung diterima bekerja tanpa bersusah payah."

"Paman bukan orang yang akan menerima karyawan tanpa memperhatikan kemampuan walaupun itu adalah kerabat. Paman memiliki pendiriannya sendiri, perusahaan yang sekarang dia kelola pun perusahan yang dia bangun sendiri, dan itu lepas dari nama keluarga," ungkap Rieta.

Lenny mengangguk, sedikit rasa takjub menyusup ke dalam hatinya setelah mendengar pernyataan sahabatnya.

"Lalu suamimu? Dia masih koma?" tanya Lenny lagi.

"Maaf sudah membuat kalian menunggu lama."

Sebelum Rieta memiliki kesempatan untuk menjawab pertanyaaan sahabatnya, barista pria yang sebelumnya membuatkan pesanan mereka menyela, meletakkan dua gelas es kopi di hadapan mereka sekaligus dua cheesecake di dekat kopi masing-masing.

"Aku tidak merasa memesan cake ini, Ares," ucap Rieta setelah barista itu selesai meletakkan dua piring kecil ke meja.

"Memang tidak," barista bernama Ares itu tersenyum. "Tapi aku yang sengaja memberikan ini untuk kalian. Bukankah hari ini adalah hari kelulusan kalian? Anggap saja ini adalah perayaan kecil dariku sebagai ucapan selamat."

"Kamu baik sekali, Ares." Lenny memekik senang. "Terima kasih."

"Terima kasih, Ares," Rieta menimpali.

Ares mengangguk sambil tersenyum. "Ini menu baru yang aku buat, semoga kalian menyukainya."

Selesai mengatakan itu, Ares melangkah mundur, lalu berbalik menjauh, menyembunyikan senyum samar di bibirnya kala netranya bisa memandang wajah Rieta dari dekat.

"Jadi..." Lenny kembali memandang sahabatnya begitu Ares sudah menjauh, menunggu jawaban atas pertanyaan yang ia lontarkan beberapa saat lalu.

"Ya, dia masih koma," jawab Rieta.

Evan Larson, pria yang berstatus sebagai suami Rieta dan saat ini dalam keadaan koma. Ia menikah dengan pria itu saat pria itu belum mengalami koma di awal ia masuk universitas. Pernikahan itu pun ia terima karena ia tidak bisa menolak permintaan keluarga Larson yang sudah merawatnya sejak ia masih anak-anak. Dan ia mencatat dalam benaknya jika ia akan setia pada suaminya meski cinta itu tidak ia rasakan untuk membalas budi.

"Pst ... Rie." Lenny mencondongkan tubuhnya, sedikit menutupi mulut saat ia akan berbicara.

"Uhm... Apa?"

"Kurasa Ares menyukaimu-"

Tak!

"Aduh!"

Baru juga Lenny menyelesaikan kalimatnya, jitakan Rieta mendarat tepat di kening Lenny yang membuat wanita albino itu mengaduh dan segera mengusap keningnya.

"Jangan mengatakan hal aneh," tegur Rieta dengan mata melotot.

"Dasar tidak peka." gerutu Lenny seraya menurunkan tangan. "Aku mengatakan apa yang aku lihat."

"Habiskan saja makanan dan minumanmu, setelah ini kita berbelanja," ucap Rieta.

"Berbelanja?" ulang Lenny mengerutkan kening, merasa heran.

Pasalnya, selama ia mengenal sosok Rieta, sahabatnya itu sangat anti berbelanja, dan mendengar sahabatnya mengajak berbelanja terasa aneh baginya.

"Yap." Rieta merogoh isi tasnya, mengeluarkan dompet dan menunjukkan kartu hitam yang ada di dalamnya pada Lenny.

"Aku bisa menggunakan ini," lanjut Rieta.

"Apakah itu kartu suamimu?" tanya Lenny menyipitkan mata.

Rieta mengangguk. "Ayah mertua yang memberikannya di tahun pertama aku kuliah, tapi aku tidak pernah menggunakannya. Jadi kali ini, aku ingin menggunakannya untuk acara prom night."

"Tentu saja aku akan mentraktirmu," Rieta menambahkan.

"Sepakat," sambut Lenny riang sambil menyatukan kedua tangannya.

.

.

.

Di sebuah ruangan dari perusahaan AVA Corp, seorang pria berwajah tampan dengan usia matang tengah duduk bersandar pada kursi kerjanya. Pandangannya tertuju pada layar komputer, tetapi tatapannya menerawang jauh. Jemari tangannya bergerak mengetuk meja dengan jeda teratur, membentuk sebuah irama yang memecah keheningan.

Tok... Tok... Tok...

Gerakan jemari pria itu terhenti, sesaat kemudian pintu ruangannya terbuka diikuti sosok pria yang menjadi asistennya melangkah masuk dengan sebuah dokumen di tangan.

"Tuan." sang asisten membungkuk sopan, lalu menyerahkan dokumen yang ia bawa pada sang atasan.

"Ini data Nona Rieta yang Anda minta. Nona lulus dengan nilai terbaik," lapornya kemudian.

Arlan Avalon, pria yang kini tengah duduk di kursi kebesarannya itu mengangguk singkat, menerima dokumen yang diberikan tanpa suara. Sorot dingin di mata pria itu begitu kentara kala tatapannya bertemu dengan asisten pribadinya, membuka dokumen di tangannya tanpa ada satu kata pun yang terlewat. Hingga, ketika ia berada di lembar terakhir yang memuat potret seorang gadis, seringai tipis terbentuk di bibirnya.

"Cantik."

. . . .

. . . .

To be continued...

1
Reni Anjarwani
lanjut doubel up
Patrick Khan
untung saja rie gk di sentuh paman..mw ngereg q..klo sampek terjadi🔥🔥😑
Dewi Payang
Si paman gak may kalah sama Wvan di sebelah🙈
Dewi Payang: Ya ampun typo ku untung kaak Zira faham🤣
total 2 replies
Dewi Payang
Jedag jedug nih si Re dengar🤭
Dewi Payang: Nah. iya, jadi si Re lebih mantap mutusin langkah selanjutnya😁
total 2 replies
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah)
ini juga ngapain nyosor duluan🤣
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah)
astaga🙄🙄🙄 gak tau tempat banget ya🤣🤣🤣 astagfirullaaaah
〈⎳ FT. Zira: /Shhh//Shhh//Shhh/
total 1 replies
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah)
ayo mau ngapain ke hotel
〈⎳ FT. Zira: mau nina ninu🤣🤣🤣
total 1 replies
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah)
ketahuan kan🙄🙄
Zhu Yun💫
Aku ngarepnya adegan panas mereka bukan karena obat malah, biar lebih alami perselingkuhannya, bukan karena salah satu melakukannya karena paksaan 🤭🤣🤣🤣✌️
〈⎳ FT. Zira: oiiik/Curse//Curse//Curse//Curse/
total 9 replies
Zhu Yun💫
Bilang saja kamu yang ingin dimakan 😅😅😅
〈⎳ FT. Zira: /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Zhu Yun💫
Obat nganu 🤣🤣🤣
Zhu Yun💫
Masukkan aja kedalam troli dan dorong, Rie 🤣🤣🤣
〈⎳ FT. Zira: ide bagus
total 1 replies
Zenun
malah memberi keuntungan Buat si paman😁
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: lha iyo, mlh si paman dapat apem legit, si evan gigit jari, salah sendiri milih kue bolong🤭🤭🤭, kaboooorrrr
total 2 replies
j4v4n3s w0m3n
lalalal kelicikan yg udah biasa di lakukan sama ulat.bulu yg suka menaruh seauatu di minuman orang...ya biarunlah rieta tidur sama.arlan bagus malahan jd gak sama evan udah terlalu sakit rieta sama evan
〈⎳ FT. Zira: /Facepalm//Facepalm/
total 3 replies
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat , semoga tfk kejadian arlan dan reta , takut kalau dividio orang tak bertanggung jwb itu
〈⎳ FT. Zira: anuu pokoknya kak🤭🤭
total 1 replies
Dewi Payang
Udah Re, tueuti aja si bos, biar kamu tampil beda nanti, Eihana mah lewat, dah tuir, ups🤭🤭🤭🤭🤭🤭
Dewi Payang
Ini modus ya kan paman.....🙈
Dewi Payang
Sepeduli itu si Paman....
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah)
gk usah sungkan rie, ambil aja. si paman itu punya lumbung duit kok🤭
〈⎳ FT. Zira: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah)
yes, that's a good idea
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!