Rembulan Senja adalah anak yatim-piatu di sebuah panti di kota pesisir pantai. Hidupnya selalu diliputi kemalangan. Suatu hari, dirinya melihat mobil mewah terbalik dan mengeluarkan api, milik orang kaya dari kota.
Dibalik kaca, dia mengintip, tiga orang terjebak di dalamnya. Tanpa keraguan, tangan mungilnya membuka pintu yang tak bisa dibuka dari dalam. Akhirnya terbuka, salah satunya merangkak keluar dan menolong yang lainnya. Kedua orang kaya itu ternyata pemilik panti dimana dia tinggal. Lantas, dirinya dibawa ke kota, diadopsi dan disematkan nama marga keluarga angkat. Tumbuh bersama anggota keluarga, jatuh cinta dan menikah dengan salah satu pewaris. Malangnya, ada yang tak menyukai kehadirannya dan berusaha melenyapkannya!
Tiga tahun menghilang, kemudian muncul dan menuntut balas atas 'kematiannya'. Bangkit dan berjaya. Harus memilih antara cinta dan cita. Yang manakah pemenangnya!? Siapa jodoh yang diberikan Tuhan padanya? Akankah dia menjemput kebahagiaannya!?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cathleya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26. Pas Foto.
Rembulan sudah sampai ke apartemennya. Suasana begitu sepi dan lengang. Belum terlihat batang hidung kedua asistennya. Ternyata, selama tiga tahun bersama keduanya, hari ini tak ada, dia merasa kehilangan.
Sejujurnya, selama hidupnya selalu dikelilingi banyak orang dan tak merasa kesepian. Walaupun dengan kepolosannya tidak bisa mendeteksi sinyal jahat dari orang-orang yang mengelilinginya.
Baginya, Ambrosia adalah segalanya. Untuk itu dia berusaha menjaga nama baik keluarga angkatnya agar selalu diterima dan disayang walaupun ada harga yang harus dia bayar. Dan keluarga itu adalah poros bagi dunianya yang berjalan statis dan sunyi.
Setelah keluar dari Ambrosia (dengan terpaksa), hidup dengan manusia lain di kampung, bersama kedua makhluk astral yang menjadi bestie dan asistennya, barulah dia merasa dunia itu luas dan kehidupan di luar tak semenakut itu, dia baru menemukan hidup dan yang semakin hidup, menikmati kebahagiaan dan kedamaian yang hakiki serta tujuan hidup.
Dirinya menyimpan semua barang belanjaannya di meja. Rasanya terlalu malas untuk membereskan ke dalam lemari pakaian ditambah suasana hatinya dalam keadaan tidak baik karena bertemu dua durjana untuk sekedar melihat pun dia enggan. Tetapi pria itu berusaha membuka benteng pertahanannya. Kalau bukan karena misi balas dendam dan menanti saat yang tepat untuk mewujudkannya, ingin rasanya menonjok mukanya yang menyebalkan itu.
Dia berjalan ke arah kulkas dan membukanya. Dan mengambil minuman bersoda instan dalam kemasan botol plastik warna hijau dari dalam dan membuka tutupnya.
Krekkk!
Cesssss!
Busa soda meluap dan merembes dari botol. Sebelum menetes ke lantai, segera dia meneguknya sampai setengah botol karena merasa tenggorokannya sangat kering akibat emosi dan cuaca kota Jakarta di siang hari cukup menguras keringat.
Kemudian merebahkan dirinya di sofa berbahan suede yang cukup nyaman di tubuhnya. Pikirannya pun melanglang pada kejadian tadi.
"Huhhh! Sungguh membuat kesal. Maksud hati ingin bersenang-senang dengan mengelilingi kota ini, jadi urung!" dengusnya mengutuk keduanya.
"Huffff! Ternyata dunia ini begitu sempit. Dari jutaan manusia di kota ini, mengapa harus bertemu dengan keduanya!?" rutuknya.
"Pasti saat ini keduanya sudah bertindak cepat dengan menemui si tua bangka itu dan bercerita panjang lebar tentang seseorang yang mirip dirinya dan menyangka itu aku, diselingi provokasi yang keluar dari mulut siluman betina macam si Helga! Ratu drama dan ratu Playing Victim. Harusnya aktingnya diberi piala Citra atau Oscar!" rungutnya lagi.
Semoga Iskandar percaya dan mau mematuhi peringatanku untuk keluar dari pekerjaannya saat ini dan menjauh dari kota ini!" ucapnya pada diri sendiri.
Beralih ke pangkalan taksi di tengah kota ...
Iskandar, sopir dari taksi yang ditumpangi Rembulan, memarkirkan kendaraanya dan bergegas ke dalam gedung kantor yang ada satu lokasi dengan parkiran.
Dia segera menghadap atasannya. Kemudian secara lisan, mengajukan pengunduran diri dengan alasan masalah keluarga yang memerlukan dirinya untuk mengatasi (tanpa merinci masalah).
Akhirnya, tanpa memerlukan prosedur yang lama dan beribet, permintaan mundur disetujui oleh atasannya (sebab banyak sopir pengganti). Iskandar, sifatnya pendiam dan tidak pernah banyak mengumbar tentang dirinya dan keluarganya kepada atasan maupun teman sejawatnya serta berperangai santun, dermawan dan rajin bekerja, di lingkungan kerja.
Atasan dan rekan sejawatnya sangat menyayangkan keputusannya apalagi secara mendadak. Tanpa berlama-lama, setelah mengucapkan salam perpisahan, dengan berat hati dia segera meninggalkan tempat mencari nafkahnya selama 10 tahun.
Sebelumnya selama di perjalanan, dia sudah menghubungi isteri, mertua dan kedua orangtuanya untuk bersiap diri meninggalkan kota kelahiran dan kota yang ditempatinya lebih dari 40 tahun (bagi orangtua dan mertuanya) dan detailnya akan diceritakan saat bertemu di kediaman salah satunya.
Satu jam kemudian, dia sampai di rumah mertuanya, sudah ada isteri dan kedua orangtuanya. Lantas menceritakan duduk perkara. Keduanya pun menurut dan mematuhi instruksi Iskandar (karena kedua keluarganya ditopang pria berusia 30 tahun).
Dia dan isterinya bersama kedua anak lelakinya, orangtua dan kedua adiknya, begitupun mertua dan seorang adik ipar, total 11 orang, menuju bandara. Mereka akan pergi ke pulau yang ada pesisir pantai sebab mertua dan kedua orangtuanya buruh panggul merangkap nelayan di pesisir Jakarta.
Berada di tempat baru dekat pantai memudahkan mereka untuk bekerja. Walaupun memiliki uang banyak, dirinya, isteri, orangtua dan mertuanya adalah pekerja keras sejak muda dan tak betah duduk berdiam diri berpangku tangan di rumah seharian. Sebisa mungkin badannya digerakkan, itu pikir mereka.
Dan pilihannya, Pulau Lombok!
Saat ini, Iskandar sudah memiliki tiket dan bersiap terbang meninggalkan kota kelahirannya!
Di tempat lain ...
Di mansion Ambrosia, terjadi perbincangan yang cukup serius. Kebetulan hari ini jatuh pada hari minggu, semua anggota berkumpul di rumah. Oma, opa, Reynand ke China dan Jerman untuk melakukan pengobatan selama dua minggu ke depan.
"Calvin, apa betul yang dikatakan Helga bahwa kamu melihat sosok Rembulan? Dan kamu punya fotonya! Kenapa kamu tidak langsung menginterogasinya?"
Calvin yang baru kembali dari toilet langsung diberondong pertanyaan oleh sang ayah yang terlihat gusar saat bertanya. Mereka berkumpul di kamar kerja Damian. Hadir di ruangan itu hanya Ellena dan si kembar masih berada di luar.
"Iya, pih! Tadinya aku tidak mengenalinya soalnya sosoknya berbeda jauh. Aku tidak berfikir sosok gadis itu adalah Rembulan. Tapi melihat kebiasaannya sama persis dengan Rembulan, aku yakin gadis itu adalah Rembulan. Pastinya Helga sudah cerita banyak!"
Damian pun membenarkan bahwa Helga sudah cerita panjang lebar tapi belum mendengar yang sebenarnya versi Calvin.
"Oh ya, katanya kamu memungut pas foto miliknya saat selfie, mana?" tanya ibunya.
Calvin mengeluarkan foto dan menyerahkan pada ibunya. Dan wanita yang akan memasuki usia setengah abad itu mengamati dengan seksama.
"Berbeda jauh! Gadis ini sangat cantik sekali. Memiliki kontur wajah sempurna. Bulan memakai kaca mata, bola mata sipit, ada tulang pipi!" unggahnya.
"Yakin, ini gadis yang sama dengan mantan isterimu!? Rasanya, mama tak yakin!" ucap Ellena menyangsikan keberadaan anak angkatnya.
"Itu dia, mam. Aku tuh berpatokan pada si kembar, muka mereka sama namun kepribadian dan kebiasaan berdua berbeda!" ucap Calvin bersikukuh pada keyakinannya bahwa dia tidak salah mengenali seseorang.
"Padahal satu rumah, setidaknya banyak persamaan. Ini kan, tidak. Ericka-Erina kembar identik tapi sifat keduanya berbeda. Sedangkan sosok itu kepribadian keduanya sama persis! Aku hafal betul karena kami bersama sejak kecil!
"Coba kita ke pangkalan taksi burung biru, siapa tahu kita menemukan petunjuk. Calvin bilang, terakhir, gadis itu pergi menaiki taksi!" ucap Helga mengalihkan pembicaraan tentang Rembulan, saingan cintanya.
"Iya, pah. Aku mencatat nomer taksi B XXX ABA. Kita kerahkan orang-orang kita untuk menemukan keberadaan sopir taksi tersebut. Kalau perlu kita minta bantuan Orion Group!" ucap Calvin.
Damian pun setuju dan menghubungi anak buahnya untuk menyatroni setiap pangkalan Taksi Burung Biru.
Benar dugaan Rembulan, bahwa Calvin dan Damian gerak cepat untuk melacak keberadaan dirinya.
Sementara itu di Bandara Soekarno-Hatta, Iskandar dan keluarga, memutuskan ke Lombok dan akan terbang ke pulau tersebut. Tak lupa dia mengirimkan pesan teks kepada Lembayung Senja.
"Entah ini, berkah atau musibah untukku!" gumamnya sesaat sebelum menaiki badan pesawat.
Orang-orang suruhan Damian, serentak bergerak menyambangi setiap kantor perwakilan Taksi Burung Biru. Akhirnya didapat informasi drngan nomer plat B XXXX ABA dengan sopir Iskandar.
Atasannya mengatakan pria tersebut sudah mengundurkan diri tadi siang karena ada urusan keluarga dan dia tidak tahu kemana juga kampungnya sebab identitasnya sudah jadi warga Jakarta dan lahir di kota ini.
Atas perintah Damian, agar melacak ke alamat yang ada di database tempat kerja dan beberapa orang mendatangi tempat tinggal orangtua dan mertua yang ada di kampung nelayan ternyata jam tersebut semuanya sudah meninggalkan rumah kontrakan tersebut. Anak buah Orion kembali ke markas menunggu instruksi selanjutnya.
Mereka pun mencari ke terminal bus, kereta api, pelabuhan, bandara tapi nihil. Ternyata, transaksi pembelian tiket dilakukan melalui hape (atas perintah Rembulan) di agen tiket. Iskandar sudah berpengalaman cara memesan tiket online. Energi MANNA segera menghapus jejak digital dalam hapenya, otomatis data di komputer penyedia tiket terhapus. Dan akan terhapus di komputer bandara begitu yang bersangkutan sampai ditujuan.
"Sial! Pasti ada hubungannya dengan gadis itu dan benar dia adalah Rembulan Senja! Soalnya kebetulan sekali, Rembulan menaiki taksi yang disopiri Iskandar dan di jam yang sama keduanya pergi dari kota ini!" geram Damian.
Keempatnya kembali ke mansion malam hari setelah sekian jam mencari keberadaan keduanya.