Novel ini menceritakan kisah Putri Mahkota Lyra ael Alar dari Kerajaan Elara, seorang penyihir Moon Magic (Sihir Bulan) yang kuat namun terikat oleh sebuah misteri kuno. Di tengah ancaman perang dari Kerajaan Utara Drakonia, Lyra dipaksa menjadi alat politik melalui pernikahan damai. Ironisnya, ia menemukan bahwa kutukan keluarga kuno menyatakan ia ditakdirkan untuk menghancurkan kerajaannya sendiri pada ulang tahun ke-25, kecuali ia menikah dengan "Darah Naga" yang murni.
Calon suaminya adalah Pangeran Kaelen Varrus, Pangeran Perang Drakonia, seorang Shadow Wyrm (Naga Bayangan) yang dingin, sinis, dan tertutup, yang percaya bahwa emosi adalah kelemahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Pelabuhan Kabut
Jika ada satu hal yang dibenci Valerius lebih dari politik istana, itu adalah laut.
Mereka telah meninggalkan puncak-puncak tajam Obsidiana tiga hari yang lalu, menuruni jalan setapak kuno yang jarang dilalui menuju pesisir timur. Di sini, udara dingin yang bersih dan kering dari pegunungan digantikan oleh kelembapan yang lengket dan bau garam yang menyengat. Kabut tebal menggantung rendah di atas permukaan air yang hitam, menyembunyikan cakrawala dan segala bahaya yang mengintai di baliknya.
Ia merasa terkekang dan gelisah. Sebagai naga, elemennya adalah api dan batu. Laut adalah antitesis dari keberadaannya. Ia merasa sisik-sisik di bawah kulitnya gatal, bereaksi negatif terhadap uap air asin.
"Tempat ini bau bangkai ikan dan pengkhianatan," gerutu Valerius, menepuk leher kudanya yang juga tampak gugup.
Aethela, yang berkuda di sampingnya dengan jubah bertudung abu-abu untuk menyembunyikan identitas, menoleh dan tersenyum geli. "Kau hanya mabuk laut bahkan sebelum kita naik kapal, Suamiku."
"Naga tidak mabuk laut," bantah Valerius defensif. "Kami hanya... tidak suka jika tanah di bawah kaki kami bergoyang."
Mereka tiba di gerbang Pelabuhan Kabut (Port of Mist). Ini bukan kota pelabuhan yang megah seperti di Solaria. Ini adalah kumpulan gubuk kayu reyot yang dibangun di atas panggung-panggung di atas air rawa, dihubungkan oleh jembatan gantung yang berlumut. Ini adalah tempat berkumpulnya para penyelundup, bajak laut, dan pelarian dari berbagai kerajaan—tempat yang sempurna untuk memulai pemberontakan.
Aethela memandang sekeliling dengan rasa ingin tahu. Meskipun tempat ini kotor dan suram, ia merasakan energi yang berbeda. Jika Obsidiana adalah tanah yang "diam", tempat ini adalah tanah yang "bergerak". Arus air di bawah panggung kayu berbisik padanya. Sebagai penyihir Bulan, ia memiliki koneksi alami dengan pasang surut air laut, sebuah kekuatan yang belum pernah benar-benar ia eksplorasi di pegunungan.
Di sini, di tepi samudra, sihir bulannya terasa lebih cair dan responsif.
"Kita mencari kedai bernama The Drowned Rat," bisik Aethela, mengingat informasi dari mata-mata Thorne. "Kapten yang bisa membawa kita menembus blokade laut Solaria ada di sana."
Mereka meninggalkan kuda mereka di istal yang dijaga oleh seorang ogre bermata satu, lalu berjalan kaki menyusuri dermaga yang licin. Orang-orang di sini menatap mereka dengan tatapan tajam dan penuh perhitungan, tangan mereka tidak jauh dari belati. Valerius berjalan dengan aura membunuh yang begitu pekat hingga kerumunan membelah memberinya jalan tanpa perlu diminta.
Mereka menemukan kedai itu di ujung dermaga paling gelap. Pintu kayunya rapuh, dan suara nyanyian pelaut mabuk terdengar dari dalam.
Valerius mendorong pintu hingga terbuka. Keheningan seketika menyelimuti ruangan. Puluhan pasang mata menatap mereka.
"Kami mencari Kapten Nyra," suara Valerius memecah kesunyian, berat dan berwibawa.
Seorang wanita yang duduk di meja sudut, kakinya dinaikkan ke atas meja, meletakkan gelas rum-nya. Dia memiliki kulit berwarna biru pucat, telinga yang meruncing dengan sirip kecil, dan rambut putih yang dipotong pendek. Seorang Half-Sea Elf.
"Siapa yang bertanya?" wanita itu menyeringai, memamerkan gigi yang dikikir runcing seperti hiu. "Dan kenapa aku harus peduli pada sepasang bangsawan yang tersesat?"
Valerius melangkah maju, melepaskan tudung jubahnya. Mata emasnya berkilat di keremangan kedai.
"Karena bangsawan yang tersesat ini bisa membakar kedaimu hingga rata dengan air dalam satu jentikan jari jika kau membuang waktuku," jawab Valerius datar.
Bisikan-bisikan ketakutan terdengar. "Mata emas... Naga..."
Nyra tertawa, suara yang terdengar seperti ombak yang menabrak karang. Dia menurunkan kakinya dan berdiri. Tingginya hampir menyamai Valerius. Di pinggangnya tergantung dua pedang melengkung dari tulang leviathan.
"Pangeran Valerius Nightshade," Nyra mengenali. "Atau haruskah kupanggil Raja sekarang? Kudengar kau membuat kekacauan besar di gunung. Dan ini..." matanya beralih ke Aethela, "...pasti Putri Matahari yang menjadi peliharaanmu."
Tangannya gatal ingin mencabut pedang. Penghinaan terhadap Aethela adalah hal yang tidak bisa ia toleransi. Tapi ia butuh kapal wanita ini. Ia menahan dirinya sekuat tenaga.
"Dia adalah Ratu Obsidiana," koreksi Valerius dingin. "Dan kami butuh kapalmu untuk menyeberang ke Wilayah Aer'thos."
"Aer'thos?" Nyra mendengus. "Kaum Elf Laut menembak siapa saja yang mendekati perairan mereka tanpa izin. Apalagi membawa seekor Naga api. Kalian ingin bunuh diri? Silakan lompat dari dermaga, itu gratis."
Aethela menyadari bahwa intimidasi fisik Valerius tidak akan bekerja pada bajak laut yang hidupnya sudah dikelilingi bahaya. Mereka membutuhkan pendekatan yang berbeda.
Aethela melangkah maju, melepaskan tudung jubahnya. Cahaya bulan yang menembus jendela kusam kedai seolah-olah berbelok untuk menyinari rambut peraknya.
"Kami tidak meminta tumpangan gratis, Kapten," kata Aethela tenang. "Kami menawarkan jalan."
Nyra menaikkan alisnya yang bertindik. "Jalan? Lautan adalah milikku, Putri. Aku tahu setiap arus dan karang."
"Kau tahu lautannya," Aethela mengangkat tangannya. Di luar, suara ombak tiba-tiba menderu lebih keras. Air di dalam gelas-gelas para pengunjung bergetar. "Tapi kau tidak bisa mengendalikan angin dan pasang surut yang dijaga oleh armada Solaria, bukan? Aku dengar mereka memasang Sun Wards (Mantra Matahari) di perbatasan laut yang membakar kapal mana pun yang lewat."
Nyra terdiam. Itu benar. Bisnis penyelundupannya hancur karena blokade sihir baru Solaria.
"Aku adalah Vespera," lanjut Aethela, matanya menyala dengan pendaran ungu lembut. "Darahku bisa membatalkan mantra matahari itu. Aku bisa membelah kabut blokade untukmu. Kau dapatkan rute perdaganganmu kembali, dan kami dapatkan tumpangan ke Aer'thos."
Ia sedang bernegosiasi bukan dengan emas, tapi dengan kekuatan.
Nyra menatap Aethela lama, menimbang-nimbang. Lalu seringai hiu itu kembali muncul, kali ini lebih hormat.
"Menarik," kata Nyra. "Naga api yang bisa membakar musuhku, dan Penyihir Bulan yang bisa membuka jalan. Baiklah. Kapalku, The Phantom Tide, berangkat saat pasang naik malam ini. Tapi satu syarat."
Nyra menunjuk Valerius. "Jaga apimu jauh-jauh dari layarku. Jika ada satu noda hangus di kapalku, aku akan menjadikanmu hiasan haluan."
Malam itu, di dermaga yang bergoyang, Valerius menatap kapal The Phantom Tide. Kapal itu ramping, terbuat dari kayu hitam yang menyerap cahaya, dengan layar yang tampak seperti jaring laba-laba.
Perutnya sudah bergejolak hanya dengan melihat gerakan ombak.
"Kau pucat," komentar Aethela yang berdiri di sampingnya, tersenyum kecil.
"Aku lebih suka melawan seribu tentara daripada naik ke atas benda terkutuk itu," gumam Valerius.
Aethela menggenggam tangannya, menyalurkan sedikit kehangatan. "Tenanglah, Rajaku. Jika kau muntah, aku berjanji tidak akan memberitahu Thorne."
Valerius mendengus, tapi ia membiarkan Aethela menuntunnya menaiki jembatan kapal. Saat kakinya menyentuh dek kayu, ia merasa dunianya miring. Namun, melihat Aethela berdiri tegak di haluan, memandang lautan luas yang gelap dengan mata penuh harapan, Valerius memaksakan dirinya untuk bertahan.
Kapal mulai bergerak, meninggalkan pelabuhan yang suram menuju kegelapan samudra.
Valerius berdiri di belakang Aethela, melingkarkan lengannya di pinggang istrinya—sebagian untuk memeluknya, sebagian untuk menjaga keseimbangan dirinya sendiri. Mereka meninggalkan benua yang mereka kenal. Di depan sana, di balik kabut dan ombak, ada sekutu yang mungkin akan membunuh mereka, atau membantu mereka meruntuhkan kekaisaran matahari.
"Satu langkah lagi menuju perang dunia," bisik Aethela, suaranya terbawa angin laut.
"Satu langkah lagi menuju pembebasan ibumu," balas Valerius, mencium puncak kepala Aethela.
Dan dengan itu, Sang Naga dan Sang Bintang berlayar ke dalam malam, siap menantang lautan yang tak bersahabat.
...****************...
...Bersambung.......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...
...****************...