NovelToon NovelToon
Darah Naga Dan Cahaya Bulan

Darah Naga Dan Cahaya Bulan

Status: tamat
Genre:Perperangan / Kutukan / Fantasi Timur / Fantasi Wanita / Demon Slayer / Cinta Istana/Kuno / Tamat
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Novel ini menceritakan kisah Putri Mahkota Lyra ael Alar dari Kerajaan Elara, seorang penyihir Moon Magic (Sihir Bulan) yang kuat namun terikat oleh sebuah misteri kuno. Di tengah ancaman perang dari Kerajaan Utara Drakonia, Lyra dipaksa menjadi alat politik melalui pernikahan damai. Ironisnya, ia menemukan bahwa kutukan keluarga kuno menyatakan ia ditakdirkan untuk menghancurkan kerajaannya sendiri pada ulang tahun ke-25, kecuali ia menikah dengan "Darah Naga" yang murni.
​Calon suaminya adalah Pangeran Kaelen Varrus, Pangeran Perang Drakonia, seorang Shadow Wyrm (Naga Bayangan) yang dingin, sinis, dan tertutup, yang percaya bahwa emosi adalah kelemahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33: Kota di Bawah Ombak

​Tiga hari di lautan terasa lebih menyiksa daripada tiga tahun di medan perang. Valerius berdiri di geladak The Phantom Tide, mencengkeram pagar kayu seolah nyawanya bergantung padanya. Wajahnya pucat pasi, sedikit kehijauan. Setiap kali kapal itu mengayun mengikuti ombak, perut Valerius melakukan protes keras.

​"Kau terlihat menyedihkan, Yang Mulia Raja Naga," komentar Kapten Nyra sambil lalu, mengunyah apel hijau dengan santai.

​"Jika kau bicara satu kata lagi," geram Valerius tanpa menoleh, "aku akan memastikan apel itu menjadi makanan terakhirmu."

​"Kita sudah sampai," sela Aethela. Ia berdiri di haluan, jubahnya berkibar ditiup angin laut yang kencang. Tidak seperti Valerius, Aethela tampak hidup. Kulitnya bercahaya, dan matanya memantulkan warna samudra yang dalam.

​Valerius memaksakan diri untuk melihat ke depan. Tidak ada pulau. Tidak ada daratan. Hanya hamparan air biru tua yang tak berujung.

​"Di mana?" tanya Valerius bingung.

​"Di bawah," jawab Nyra. Ia membunyikan lonceng kapal dengan pola ritmis tertentu—tiga ketukan cepat, satu lambat. "Bersiaplah. Mereka tidak suka tamu yang datang tanpa undangan."

​Tiba-tiba, permukaan laut di depan mereka mulai bergejolak. Air berputar membentuk pusaran raksasa. Dari dalam pusaran itu, muncul puluhan tombak kristal yang dipegang oleh tangan-tangan bersisik biru.

​Pasukan Sea Guard muncul ke permukaan. Mereka menunggangi hiu martil raksasa yang mengenakan zirah dari cangkang keras. Para Elf Laut itu memiliki kulit yang berkilau seperti mutiara, insang di leher mereka berdenyut, dan mata hitam tanpa pupil yang menatap tajam.

​Tangannya bergerak ke gagang pedang. Tapi di tengah laut ini, ia tahu api naganya tidak akan banyak berguna. Ia berada di wilayah musuh, secara harfiah.

​Seorang Elf Laut yang mengenakan mahkota karang merah muncul dari tengah pasukan. Dia tidak menunggangi hiu, melainkan berdiri di atas gelombang air yang ia kendalikan sendiri.

​"Nyra," suara Elf itu terdengar seperti gema di dalam gua basah. "Kau berani kembali ke Aer'thos membawa Flame-blood (Darah Api)? Kau ingin kami menenggelamkan kapal rapuhmu ini?"

​"Aku membawa diplomat, Komandan Kael," jawab Nyra santai. "Mereka ingin bicara dengan Lord Thalassar."

​"Darat tidak punya urusan dengan Laut," desis Kael. Ia mengangkat tombaknya, dan air di sekeliling kapal mulai naik membentuk dinding gelombang yang mengancam akan meremukkan mereka.

​Valerius adalah api, dan api dianggap ancaman di sini. Ia adalah bulan, dan bulan adalah sahabat laut.

​Aethela melangkah ke pagar kapal. Ia tidak menggunakan sihir serangan. Ia mengangkat tangannya perlahan, telapak tangan menghadap ke langit.

​Tenanglah, bisiknya dalam hati, menyalurkan sihir Vespera.

​Cahaya perak lembut memancar dari tubuhnya. Dinding air yang dibangun Kael bergetar, lalu perlahan surut kembali menjadi ombak yang tenang. Para hiu martil yang gelisah tiba-tiba menjadi jinak, seolah dibelai oleh tangan tak kasat mata.

​Kael terbelalak. "Sihir Pasang Surut? Tapi kau manusia..."

​"Aku adalah Aethela Vespera," kata Aethela lantang. "Putri dari Bintang Malam yang mengatur pasang surutmu. Aku datang bukan untuk membakar lautanmu, tapi untuk meminta bantuan melindunginya."

​Kael menatap Aethela dengan rasa hormat yang enggan. Ia menurunkan tombaknya.

​"Lord Thalassar akan memutuskan nasib kalian," kata Kael. "Tapi Naga itu... jika dia mengeluarkan asap sedikit saja, dia mati."

​Kael melemparkan tiga bola mutiara raksasa ke atas geladak. "Telan ini. Mutiara Napas. Itu akan memberi kalian insang sementara. Kita menyelam sekarang."

​Valerius menatap mutiara berlendir di tangannya dengan jijik. "Kau bercanda."

​"Telan atau tenggelam, Suamiku," kata Aethela, yang sudah menelan mutiaranya tanpa ragu. Lehernya seketika mengeluarkan cahaya biru tipis, dan celah insang halus muncul samar di kulitnya.

​Valerius menghela napas panjang—mungkin napas terakhirnya di udara terbuka untuk sementara waktu—dan menelan mutiara itu. Rasanya asin dan pahit. Sensasi dingin menjalar ke paru-parunya.

​"Turun!" perintah Kael.

​Pusaran air itu membesar, menelan kapal The Phantom Tide. Valerius mencengkeram tiang kapal saat air dingin menerjang mereka. Namun, anehnya, ia tidak tersedak. Ia menarik napas, dan air masuk ke paru-parunya, memberikan oksigen seperti udara biasa.

​Sensasi: Rasanya sangat aneh. Berat, dingin, tapi menyegarkan.

​Saat gelembung-gelembung udara menyingkir, pemandangan di depan mereka membuatnya lupa pada rasa mualnya.

​Aer'thos.

​Kota itu tidak dibangun, melainkan tumbuh. Menara-menara spiral yang terbuat dari karang raksasa berwarna-warni menjulang dari dasar laut yang gelap, diterangi oleh jutaan ubur-ubur bioluminesens yang melayang seperti lampion hidup. Jalan-jalan rayanya adalah arus air hangat yang mengalir di antara bangunan. Ikan-ikan berwarna neon berenang keluar masuk jendela-jendela tanpa kaca.

​Itu adalah keindahan yang asing dan menakutkan.

​Kapal mereka dituntun menuju sebuah dermaga bawah air yang terlindung oleh kubah udara magis di depan istana utama—sebuah struktur raksasa yang terbuat dari cangkang kerang mutiara putih.

​Saat mereka turun dari kapal di dermaga kering istana, Aethela merasa kakinya sedikit goyah. Transisi dari air ke udara lagi selalu membingungkan.

​Mereka digiring oleh pengawal bersenjata tombak menuju Ruang Takhta. Lantainya terbuat dari pasir putih yang dipadatkan, dan dindingnya adalah akuarium raksasa yang memisahkan mereka dari laut dalam.

​Di ujung ruangan, duduk di atas takhta yang terbuat dari tulang paus purba, adalah High Tide Lord Thalassar.

​Dia tinggi, ramping, dengan kulit sebiru laut dalam dan rambut panjang yang mengapung seolah dia masih berada di dalam air. Matanya adalah dua lubang hitam yang seolah bisa melihat dosa setiap orang.

​"Seorang Naga Api di istanaku," suara Thalassar berat dan bergema. "Kau mencemari airku dengan kehadiranmu, Valerius Nightshade."

​Api di dalam diri suaminya bereaksi terhadap ancaman air di sekelilingnya. Valerius ingin bertarung, tapi dia menahan diri demi Aethela.

​"Kami datang untuk menawarkan aliansi, Lord Thalassar," kata Valerius, suaranya tetap tegas meski tanpa gaung magis yang biasa ia miliki di darat. "Solaria telah mendeklarasikan Perang Suci. Mereka tidak akan berhenti di Obsidiana. Lautanmu adalah target berikutnya."

​"Solaria membuang sampah mereka ke lautku, benar," Thalassar berdiri, melayang turun dari takhtanya. "Tapi kalian, para Naga... kalian mendidihkan lautku. Sejarah mencatat bagaimana leluhurmu membakar kepulauan karang timur seratus tahun lalu."

​Thalassar berhenti tepat di depan Valerius. Perbedaan elemen mereka begitu nyata—panas bertemu dingin.

​"Mengapa aku harus membantu satu monster untuk membunuh monster lainnya?" tanya Thalassar sinis. "Lebih baik aku membiarkan kalian saling membunuh, lalu aku akan menenggelamkan sisanya."

​Valerius mengepalkan tangannya. Egonya sebagai Raja tertusuk. Tapi ia ingat wajah ibu Aethela di dalam liontin itu. Ia ingat janjinya.

​Momen Kerendahan Hati: Valerius melakukan sesuatu yang tidak pernah dibayangkan oleh siapa pun, termasuk Aethela.

​Ia berlutut.

​Bukan berlutut sebagai bawahan, tapi berlutut sebagai tanda penghormatan yang setara.

​"Karena monster ini," kata Valerius, menatap mata hitam Thalassar, "telah belajar untuk mencintai sesuatu selain api. Aku tidak memintamu bertarung demi aku. Aku memintamu bertarung demi dia."

​Valerius menunjuk Aethela.

​"Ratu ini memiliki kekuatan Bulan yang bisa memulihkan arus laut yang rusak. Solaria ingin memenjarakannya. Aku ingin membebaskan ibunya. Jika kau membantu kami, kami bersumpah akan menggunakan kekuatan Obsidiana untuk menjaga kesucian lautmu selamanya. Tidak ada lagi api naga di perairanmu."

​Thalassar terdiam. Ia menatap Valerius yang berlutut, lalu menatap Aethela yang memancarkan aura perak lembut.

​"Seorang Raja Naga yang berlutut..." gumam Thalassar. "Itu pemandangan yang lebih langka daripada hujan di gurun."

​Thalassar berbalik, jubah airnya berdesir.

​"Solaria telah membangun bendungan sihir di Delta Selatan yang mematikan migrasi paus kami. Itu adalah penghinaan yang sudah lama ingin kuhancurkan."

​Thalassar kembali menatap mereka, senyum tipis yang penuh gigi runcing muncul di wajahnya.

​"Baiklah. Musuh dari musuhku bisa menjadi temanku... untuk sementara. Tapi aku butuh jaminan."

​"Jaminan apa?" tanya Aethela.

​"Darahmu, Ratu Bulan," kata Thalassar. "Teteskan darahmu ke dalam Sumur Pasang. Jika kau benar-benar tulus, air akan menerimamu. Jika tidak... Sumur itu akan menenggelamkanmu dan nagamu saat ini juga."

​Valerius bangkit berdiri, siap memprotes, tapi Aethela sudah melangkah maju. Ia mengambil belati kerang yang disodorkan Thalassar.

​"Aku tidak takut pada air," kata Aethela. "Karena air selalu mencerminkan kebenaran."

​Ia mengiris jarinya. Setetes darah merah jatuh ke dalam sumur kecil di tengah ruangan.

​Air di dalam sumur itu bergolak, lalu berubah warna menjadi perak bersinar. Sebuah gambar muncul di permukaan air: armada kapal perang Solaria yang sedang terbakar.

​Thalassar tertawa, suara yang mengguncang istana.

​"Masa depan yang indah," kata sang Raja Laut. "Kalian mendapatkan armada Elf Laut. Aer'thos akan berperang."

...****************...

...Bersambung.......

...Terima kasih telah membaca📖...

...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...

...****************...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!