Dewi Wijaya meninggalkan keluarganya yang kaya raya untuk menikahi pria yang dicintainya, Budi Santoso, dan mendirikan perusahaan bersama di Bandung. Namun, kebahagiaan mereka tidak bertahan lama—Budi berselingkuh dengan sekretarisnya, Ratna, dan setelah Dewi wafat dalam keadaan mencurigakan, mereka segera menikah dan mengambil alih kendali perusahaan. Mereka bahkan membuang Ridwan, anak satu-satunya Dewi dan Budi, ke hutan saat dia berusia 14 tahun, berharap dia tidak akan pernah kembali.
Delapan tahun kemudian, Ridwan yang telah diajarkan ilmu pengobatan tradisional dan beladiri oleh seorang kakek yang menyelamatkannya, muncul di Bandung dengan satu tujuan: mengambil haknya yang dirampas. Dia membawa satu-satunya bukti yang tersisa dari ibunya—suatu bungkusan yang berisi foto lama dan petunjuk tentang sebuah surat wasiat yang disembunyikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. UPAYA TERAKHIR UNTUK MENGHANCURKAN JEJAK
Di sebuah rumah mewah yang terletak di kawasan pinggiran kota Bandung, Ratna dan Budi Santoso berkumpul dengan Rio di ruang tamu yang penuh dengan peralatan elektronik canggih. Mereka telah mendapatkan informasi dari salah satu orang yang masih bekerja untuk mereka di perusahaan bahwa keluarga Wijaya telah tiba di Bandung dan sedang aktif mengumpulkan bukti terhadap mereka. Wajah mereka penuh dengan kemarahan dan ketakutan—mereka tahu bahwa waktu telah hampir habis untuk menyelamatkan diri dari jerat hukum yang semakin ketat.
“Kabarnya Ridwan telah menemukan ruang arsip bawah tanah yang dibuat oleh Dewi,” ujar Rio dengan suara yang penuh dengan kegelisahan, sambil memegang ponselnya yang menampilkan pesan dari sumbernya di perusahaan. “Dia telah mengambil semua dokumen penting yang ada di sana—buku catatan pribadi Dewi, surat-surat antara kita dengan akuntan luar, bahkan laporan medis palsu yang kita buat untuk membuat Dewi terlihat tidak mampu mengelola perusahaan.”
Ratna menjatuhkan gelas anggur yang dia pegang ke lantai, membuat suara pecah yang menusuk telinga. “Ini tidak mungkin!” teriaknya dengan suara yang kasar dan penuh dengan kemarahan. “Kita telah menyembunyikan semua jejak dengan sangat baik selama bertahun-tahun. Bagaimana mungkin dia bisa menemukan semuanya?”
Budi menggaruk kepalanya dengan ekspresi yang penuh dengan kekesalan. “Kita terlalu meremehkan anak itu,” ujarnya dengan suara yang rendah namun penuh dengan ancaman. “Kita mengira dia telah mati atau telah terlupakan oleh dunia luar setelah hilang selama delapan tahun. Tapi ternyata dia telah belajar banyak hal dan memiliki orang-orang yang membantu dia mengumpulkan bukti terhadap kita.”
Mereka mulai berdiskusi dengan tergesa-gesa tentang apa yang harus dilakukan untuk menyelamatkan diri. Rio menyarankan untuk melarikan diri ke luar negeri dengan membawa semua uang yang telah mereka curi dari perusahaan. Namun Ratna menolaknya dengan tegas—dia tidak ingin tinggal sebagai pelarian sepanjang hidupnya dan kehilangan semua kekayaan serta kekuasaan yang telah mereka perjuangkan dengan cara yang tidak benar.
“Kita tidak bisa melarikan diri begitu saja,” ujar Ratna dengan suara yang penuh dengan tekad namun juga ketakutan. “Jika kita pergi, itu akan dianggap sebagai pengakuan bersalah dan pihak berwenang akan mencari kita ke seluruh dunia. Kita harus menemukan cara untuk menghapus semua bukti yang mereka miliki dan membuat Ridwan serta keluarga Wijaya tidak bisa lagi mengajukan klaim apa pun terhadap perusahaan.”
Setelah beberapa saat berpikir dengan serius, Budi mengusulkan sebuah rencana yang keji. “Kita masih memiliki beberapa orang yang setia kepada kita,” katanya dengan suara yang dingin dan kejam. “Kita bisa menyuruh mereka untuk menyerang tempat tinggal keluarga Wijaya dan mengambil semua dokumen penting yang mereka miliki. Jika perlu, kita bisa membuat mereka tidak bisa lagi berbicara—begitu tidak ada saksi dan tidak ada bukti, kasus ini akan lenyap dengan sendirinya.”
Rio mengangguk dengan setuju, namun masih merasa ragu. “Tapi bagaimana jika mereka telah membuat salinan dari semua dokumen tersebut?” tanya dia dengan suara yang penuh dengan kekhawatiran. “Kita tidak bisa menghapus semua bukti jika mereka telah menyebarkannya ke berbagai tempat.”
“Kita harus melakukan yang terbaik yang kita bisa,” jawab Ratna dengan suara yang penuh dengan desakan. “Selain mengambil dokumen dari mereka, kita juga akan menghancurkan semua bukti yang tersisa di perusahaan—semua data elektronik akan dihapus secara permanen dan semua dokumen fisik akan dibakar. Kita akan membuatnya tampak seolah-olah tidak pernah ada bukti apapun tentang kejahatan yang kita lakukan.”
Mereka segera mulai menyusun rencana tindakan dengan sangat matang. Budi menghubungi beberapa orang yang telah mereka bayar untuk melakukan pekerjaan kotor, memberikan mereka instruksi rinci tentang waktu dan tempat yang harus diserang, serta apa yang harus mereka cari dan hancurkan. Ratna mulai mengumpulkan semua dokumen penting yang masih ada di rumah mereka dan di kantornya, mempersiapkan untuk membakarnya atau menyembunyikannya di tempat yang sangat aman. Rio diutus untuk memeriksa semua sistem komputer di perusahaan dan memastikan bahwa semua data yang bisa membahayakan mereka dihapus secara permanen.
Pada malam hari yang sama, salah satu orang yang bekerja untuk mereka mencoba memasuki hotel tempat keluarga Wijaya menginap. Namun berkat keamanan yang ketat yang telah disewa oleh Pak Wijaya, dia segera ditangkap oleh tim keamanan pribadi sebelum bisa melakukan apa-apa. Saat diperiksa, dia mengaku bahwa dia telah menyuruh untuk mengambil semua dokumen yang berkaitan dengan kasus perusahaan dan untuk membuat Ridwan serta keluarga Wijaya tidak bisa lagi bergerak.
“Budi mengatakan bahwa jika saya berhasil menyelesaikan tugas ini, saya akan mendapatkan uang sebanyak sepuluh juta rupiah,” ujar pria tersebut dengan suara yang penuh dengan penyesalan setelah ditangkap. “Dia juga menyuruh saya untuk mengatakan kepada keluarga Wijaya bahwa jika mereka tidak menarik diri dari kasus ini, mereka akan menghadapi bahaya yang lebih besar.”
Informasi ini segera diberikan kepada Ridwan dan keluarga Wijaya, serta kepada pihak polisi. Pak Hendra—tim pengacara—menyatakan bahwa ini adalah bukti tambahan yang sangat berharga tentang upaya Ratna, Budi, dan Rio untuk menghalangi proses hukum dan membahayakan saksi-saksi dalam kasus ini.
“Dengan kesaksian dari pria ini,” ujar Pak Hendra dengan suara yang jelas dan tegas, “kita bisa mengajukan tuduhan tambahan terhadap mereka tentang percobaan penghancuran bukti dan ancaman terhadap saksi. Ini akan membuat kasus kita semakin kuat dan memastikan bahwa mereka tidak akan bisa kabur dari hukuman yang mereka pantaskan.”
Pada saat yang sama, pihak polisi menerima informasi bahwa Rio sedang berada di perusahaan dan mencoba menghapus semua data elektronik dari sistem komputer. Mereka segera mengirimkan tim khusus untuk menangkapnya dan mencegah dia menghancurkan bukti penting yang masih tersisa di sana. Ketika petugas polisi tiba di gedung perusahaan, mereka menemukan Rio sedang sibuk menghapus file-file penting dari server utama perusahaan. Tanpa kesulitan, mereka menangkapnya dan menyita semua peralatan elektronik yang dia gunakan sebagai bukti tambahan.
“Saya hanya mengikuti perintah dari Budi dan Ratna!” teriak Rio dengan suara yang penuh dengan ketakutan saat dia ditangkap. “Mereka yang menyuruh saya untuk menghapus semua data agar tidak ada yang bisa membuktikan kejahatan yang kita lakukan.”
Informasi tentang penangkapan Rio segera menyebar dan membuat Ratna serta Budi semakin panik. Mereka mencoba melarikan diri dari rumah mereka dengan membawa semua uang dan dokumen penting yang mereka miliki. Namun pihak polisi telah mengelilingi rumah mereka dan siap menangkap mereka saat mereka keluar.
“Saya tidak akan menyerah begitu saja!” teriak Ratna dengan suara yang penuh dengan kemarahan saat dia melihat petugas polisi yang mengelilingi rumahnya. “Saya adalah istri dari direktur utama perusahaan dan saya memiliki hak untuk berada di sini!”
Kepala petugas polisi yang menangani operasi tersebut mengeluarkan surat perintah penangkapan resmi yang telah dikeluarkan oleh pengadilan. “Kami memiliki surat perintah penangkapan untuk Anda, Ratna Santoso dan Budi Santoso,” ujarnya dengan suara yang jelas dan resmi. “Anda dituduh atas pembunuhan dengan sengaja terhadap Dewi Wijaya Santoso, pencurian aset perusahaan, manipulasi keuangan, dan percobaan penghancuran bukti. Silakan ikuti kami dengan tenang jika tidak ingin kami menggunakan kekerasan.”
Setelah beberapa saat menahan diri, Ratna dan Budi akhirnya menyerah dan diambil oleh petugas polisi ke kantor polisi untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Selama pemeriksaan, mereka coba saling menyalahkan satu sama lain—Ratna mengatakan bahwa semua rencana adalah ide Budi dan Rio, sementara Budi mengklaim bahwa dia hanya mengikuti perintah Ratna yang ingin menguasai perusahaan semenjak Dewi masih hidup.
Namun dengan semua bukti yang telah dikumpulkan oleh Ridwan dan keluarga Wijaya, serta kesaksian dari Rio dan orang-orang yang bekerja untuk mereka, pihak berwenang memiliki dasar yang kuat untuk menuntut mereka secara hukum. Semua bukti yang mereka coba hapus atau sembunyikan telah berhasil diselamatkan, dan bahkan menjadi alat untuk membuktikan kesalahan mereka di pengadilan.
Pada hari berikutnya, berita tentang penangkapan Ratna, Budi, dan Rio menjadi berita utama di seluruh media massa di Indonesia. Publik memberikan dukungan yang besar kepada Ridwan dan keluarga Wijaya, menyatakan bahwa mereka berharap keadilan bisa segera diberikan dan perusahaan bisa kembali ke tangan yang benar. Banyak orang yang pernah menggunakan produk perusahaan atau mengenal Dewi Wijaya secara pribadi datang untuk memberikan dukungan dan doa kepada keluarga Wijaya.
Ridwan mendengar berita tentang penangkapan pelaku dengan hati yang penuh dengan rasa lega dan juga kesedihan. Meskipun dia senang bahwa orang-orang yang telah membunuh ibu nya dan mencuri warisan keluarga akhirnya akan mendapatkan hukuman yang mereka pantaskan, dia juga merasa sedih melihat bagaimana keinginan akan kekuasaan dan kekayaan bisa membuat seseorang melakukan hal-hal yang keji.
“Sekarang perjuangan kita memasuki babak baru, Kakek,” ujar Ridwan kepada Pak Wijaya saat mereka duduk bersama di ruang tamu hotel. “Kita harus fokus untuk mengembalikan perusahaan ke kejayaan semula dan menjalankannya sesuai dengan visi dan misi ibu saya.”
Pak Wijaya mengangguk dengan setuju, kemudian mengambil tangan Ridwan dengan erat. “Kamu akan menjadi pemimpin yang hebat untuk perusahaan ini, cucu saya,” ujarnya dengan suara yang penuh dengan kebanggaan. “Ibu kamu pasti sangat bangga dengan apa yang kamu lakukan dan bagaimana kamu telah membawa keadilan bagi dia serta keluarga kita.”
Di bawah sinar matahari yang mulai muncul di ufuk timur, Ridwan melihat ke arah gedung PT. Dewi Santoso yang menjulang tinggi di kejauhan. Dia tahu bahwa pekerjaan yang akan datang tidak akan mudah—mereka harus memperbaiki citra perusahaan yang telah rusak, mengembalikan kepercayaan masyarakat, dan menjalankan perusahaan sesuai dengan nilai-nilai yang diajarkan oleh ibu nya. Namun dengan dukungan dari keluarga, teman-teman, dan karyawan yang setia, dia merasa bahwa mereka memiliki kekuatan dan tekad yang dibutuhkan untuk menghadapi segala tantangan yang akan datang dan membawa perusahaan kembali ke jalur yang benar.