NovelToon NovelToon
Ketika Hati Salah Memilih

Ketika Hati Salah Memilih

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Romantis / Cintamanis / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Fauzi rema

Andrew selalu percaya bahwa hidup adalah tentang tanggung jawab.
Sebagai pewaris perusahaan keluarga, ia memilih diam, bersifat logis, dan selalu mengalah,bahkan pada perasaannya sendiri.
sedangkan adiknya, Ares adalah kebalikannya.
Ares hidup lebih Bebas, bersinar, dan hidup di bawah sorotan dunia hiburan. Ia bisa mencintai dengan mudah, tertawa tanpa beban, dan memiliki seorang kekasih yang sempurna.
Sempurna… sampai Andrew menyadari satu hal yang tak seharusnya ia rasakan:
ia jatuh cinta pada wanita yang dicintai adiknya sendiri.
Di antara ikatan darah, loyalitas, dan perasaan yang tumbuh diam-diam, Andrew terjebak dalam pilihan paling kejam,
apa Andrew harus mengorbankan dirinya,
atau menghancurkan segalanya.
Ketika cinta datang di waktu yang salah,
siapa yang harus melepaskan lebih dulu?

Novel ini adalah lanjutan dari Novel berjudul "Istri simpananku, canduku" happy reading...semoga kalian menyukainya ✨️🫰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fauzi rema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Pagi itu, suasana di kediaman Wijaksana sedikit kacau. Driver pribadi Ares, Pak Dadang, baru saja menelepon dengan suara sedikit panik, meminta izin karena putra bungsunya mendadak demam tinggi dan harus dibawa ke puskesmas.

​Ares, yang seharusnya sudah berada di lokasi syuting untuk sesi take pertama, tampak panik. Ia menatap kakaknya yang sedang tenang menikmati kopi hitam dan membaca koran bisnis di meja makan.

​"Kak, tolonglah... Pak Dadang izin. Gue nggak mungkin nyetir sendiri, kaki gue masih sesekali nyeri kalau kena macet Jakarta," bujuk Ares dengan wajah memelas.

​Andrew tidak bergeming. "Pesan taksi online, Res. Gue ada rapat penting jam sembilan."

​"Taksi online lama masuknya ke kompleks kita jam segini! Ayolah, Kak, cuma anterin doang. Nanti dari sana Kakak langsung ke kantor, kan searah kalau lewat tol dalam kota," Ares terus merengek. "Anggap aja ini bentuk dukungan Kakak buat karier adiknya yang ganteng ini."

​Andrew menghela napas panjang. Ia menutup korannya dengan suara lipatan yang tegas. "Sepuluh menit. Kalau lo belum siap dalam sepuluh menit, gue tinggal."

​Ares bersorak kegirangan dan langsung berlari mengambil tasnya.

​Tiga puluh menit kemudian, mobil sedan mewah Andrew memasuki area Kota Tua yang dijadikan lokasi syuting. Suasana sudah sangat ramai dengan kru yang menarik kabel dan menata lampu. Begitu mobil berhenti, Andrew berharap Ares segera turun agar ia bisa segera pergi.

​Namun, baru saja Ares membuka pintu, sesosok wanita berlari menghampiri mobil mereka dengan semangat yang meluap-luap.

​"Areeees! Telat ya lo? Waahh, gue udah nunggu lama—eh?"

​Elena Valeska terpaku saat melihat siapa yang duduk di balik kemudi. Matanya yang bulat berbinar seketika. Hari ini Elena tampak sangat feminin dan segar, ia mengenakan gaun midi berwarna soft pink dengan potongan kerah yang manis. Namun, ada satu hal yang langsung menarik perhatian Andrew.

​Rambut hitam legam Elena yang panjang tidak dibiarkan terurai seperti biasanya. Rambut itu diikat sebagian ke belakang menggunakan sehelai kain berwarna biru navy yang sangat familiar di mata Andrew.

​Itu adalah sapu tangannya. Sapu tangan yang semalam ia suruh buang, kini justru dijadikan pita rambut yang mempercantik penampilan Elena.

​"Wah, Mas Kanebo! Ternyata beneran dateng lagi ke lokasi," seru Elena, ia langsung menyandarkan lengannya di jendela mobil Andrew yang terbuka, tanpa peduli pada tatapan dingin pria itu. "Tahu gitu tadi aku pesenin bubur ayam depan buat sarapan bareng."

​Andrew menatap pita rambut itu dengan kening berkerut. "Saya sudah bilang buang barang itu, Elena. Kenapa masih ada di kepala kamu?"

​Elena meraba pita rambutnya, lalu nyengir lebar. "Lho, kan kata Mas Kanebo, terserah mau diapain. Berhubung ini kainnya mahal dan warnanya cocok sama baju aku, mending aku jadiin pita dong. Cantik kan? Aura kecantikan aku jadi tambah terlihat nggak?"

​Ares yang sedang membereskan barangnya di kursi samping hanya bisa menahan tawa. "Cantik banget, El. Serasi sama muka Kak Andrew yang makin biru nahan kesel."

​"Ares, turun sekarang," perintah Andrew dingin.

​"Bentar dong, Mas Kanebo! Buru-buru banget," Elena menahan pintu mobil. "Makasih ya buat sapu tangannya. Gara-gara ini, asisten wardrobe aku tadi muji terus, katanya aku kelihatan lebih classy. Ternyata selera Sultan emang nggak main-main ya, meskipun orangnya pelit senyum."

​Andrew menatap Elena tajam. "Itu hanya selembar kain, jangan dibesar-besarkan. Dan berhenti memanggil saya dengan sebutan aneh."

​"Siap, Mas Kanebo Sayang—eh, maksudnya Mas Andrew yang Terhormat!" Elena tertawa melengking, suara yang entah kenapa membuat suasana lokasi syuting yang panas jadi terasa sedikit lebih ringan. "Hati-hati di jalan ya. Jangan sampai noda paha ayam kemaren bikin Mas nggak konsen nyetir!"

​Andrew tidak membalas. Begitu Ares turun dan menutup pintu, Andrew langsung menginjak gas dan memacu mobilnya pergi dari sana. Namun, saat mobilnya sudah menjauh, Andrew sempat melirik spion tengah. Ia melihat Elena masih berdiri di sana, melambaikan tangan dengan ceria, sementara sapu tangan biru navy di rambutnya berkibar tertiup angin.

​Di dalam mobil yang sunyi, Andrew kembali berdeham. "Gadis itu... benar-benar tidak bisa diatur," gumamnya. Tapi kali ini, tangannya yang memegang kemudi tidak secemas biasanya. Ada secercah warna baru yang mulai menyelinap masuk ke dalam rutinitasnya yang abu-abu.

 

Siang itu, kantor pusat Wijaksana Group sedang berada dalam mode "siaga satu". Andrew baru saja menyelesaikan rapat dewan direksi yang cukup alot. Wajahnya terlihat lebih kaku dari biasanya, dan aura dinginnya membuat para staf menunduk dalam setiap kali ia melewati lorong menuju ruang kerjanya di lantai paling atas.

​Andrew duduk di kursi kebesarannya, melonggarkan sedikit dasinya, dan baru saja hendak memeriksa laporan audit saat ponselnya bergetar di atas meja.

​Sebuah notifikasi WhatsApp muncul dari nomor yang belum sempat ia simpan namanya, namun ia sudah hafal di luar kepala siapa pemiliknya.

​Andrew membuka pesan itu. Sebuah foto selfie Elena muncul di layar. Gadis itu sedang berada di ruang rias, berpose mengedipkan satu mata sambil menunjuk pita biru navy di rambutnya yang kini dibentuk model ponytail.

📲​Elena: "Gimana? Lebih cocok jadi pita rambut atau jadi sapu tangan buat ngelap airmataku? Menurutku sih lebih cocok jadi pengikat hati... eh, pengikat rambut maksudnya! 😜 Semangat kerjanya ya, Mas Kanebo. Jangan terlalu serius, nanti cepet tua lho!"

​Andrew menatap layar ponselnya selama beberapa detik. Ia ingin mengabaikannya, namun jarinya seolah memiliki kemauannya sendiri untuk mengetik balasan.

📲​Andrew: "Kamu sedang bekerja atau sedang sibuk bermain ponsel? Jangan ganggu konsentrasi saya."

📲​Elena: "Duh, galaknya sampe ke sini. Aku lagi break, Mas! Lagian siapa yang ganggu? Aku cuma mau lapor kalau sapu tangan Mas dapet banyak fans di lokasi. Sampai sutradara tanya beli di mana. Aku bilang aja: 'Ini edisi terbatas, dikasih langsung sama Sultan Jakarta yang paling pelit senyum'."

​Andrew meletakkan ponselnya dengan kasar, berniat untuk benar-benar mengabaikan gadis itu. Namun, konsentrasinya sudah pecah. Bayangan Elena yang tertawa dengan pita biru di rambutnya terus berputar di kepalanya.

----

​Satu jam kemudian, sekretaris Andrew mengetuk pintu dengan wajah bingung. "Maaf, Pak Andrew... di depan ada seorang pengantar makanan, tapi dia bersikeras ingin memberikan pesanannya langsung kepada Bapak."

​Andrew mengernyit. "Saya tidak memesan makanan. Suruh dia taruh di resepsionis saja."

​"Tapi katanya ini... obat penawar kaku. Pak?" sekretaris itu menjawab ragu.

​Belum sempat Andrew membalas, pintu ruangannya terbuka sedikit. Sesosok wanita dengan kacamata hitam besar, topi bucket, dan masker muncul dari balik pintu. Meskipun wajahnya tertutup, Andrew langsung mengenali postur tubuh ramping dan rambut hitam legam itu.

​"Permisi! Paket spesial untuk Mas Andrew datang!" seru Elena sambil melepas masker dan kacamatanya begitu pintu tertutup rapat.

​Andrew berdiri dengan wajah tidak percaya. "Elena? Apa yang kamu lakukan di sini? Bagaimana kamu bisa lewat keamanan?"

​"Gampang! Aku bilang aja aku asisten pribadimu yang disuruh anterin berkas—eh, maksudnya bubur sumsum," Elena meletakkan sebuah kantong plastik di atas meja kerja Andrew yang rapi dan steril. "Tadi lokasi syuting lagi pindah set, jadi aku punya waktu dua jam. Aku inget Mas pasti belum makan siang karena sibuk marah-marah sama angka."

​Andrew menatap kantong plastik itu seolah-olah itu adalah barang ilegal. "Kamu gila? Ini kantor, Elena. Kalau ada wartawan yang melihat kamu masuk ke sini, reputasi kamu bisa hancur, dan kantor saya akan jadi bahan gosip."

​"Halah, santai aja kali. Aku udah nyamar jadi ninja tadi," Elena menarik kursi di depan meja Andrew dan duduk dengan santai, melipat kakinya yang jenjang. "Ayo makan, ini bubur sumsum langgananku. Enak, manis, lembut... kayak aku."

Melihat situasi yang tidak biasa, sekretaris itu langsung undur diri, dia tak mau ikut campur urusan pribadi atasannya.

​Andrew mematung. "Elena Valeska, keluar sekarang."

​Elena justru membuka bungkus buburnya, aroma pandan dan santan langsung memenuhi ruangan Andrew yang biasanya hanya berbau parfum kayu yang mahal. "Nggak mau. Aku mau liat Mas makan ini sampai habis. Kalau nggak, aku bakal teriak di koridor kalau kita lagi 'backstreet'."

​"Kamu..." Andrew kehilangan kata-kata. Ia menatap Elena yang kini asyik menyuap buburnya sendiri tanpa beban.

​Entah karena lelah berdebat atau karena aroma bubur itu memang menggoda, Andrew akhirnya duduk kembali. Ia mengambil sendok yang disodorkan Elena dengan ragu.

​"Kenapa kamu melakukan ini?" tanya Andrew suara yang sedikit melembut.

​Elena berhenti menyuap, menatap Andrew dengan binar mata yang jujur. "Karena aku suka liat reaksi kesal Mas Andrew, Mas itu kayak teka-teki silang yang susah banget diisi, tapi bikin nagih buat dicoba. Lagian, aku kasihan liat Mas. Hidup kok isinya banyak aturan. Sekali-kali makan bubur di meja kerja nggak bakal bikin perusahaan Mas bangkrut, kan?"

​Andrew menyuap bubur itu. Manis. Sangat manis.

​"Gimana? Enak kan?" Elena tersenyum lebar, menopang dagunya dengan kedua tangan.

​Andrew tidak menjawab dengan kata-kata, tapi ia tidak lagi mengusir Elena. Untuk pertama kalinya, ruang kerja yang biasanya terasa dingin dan menekan itu berubah menjadi hangat, hanya karena kehadiran seorang aktris yang nekat menyerbu wilayah pribadinya.

​"Habiskan, ya. Nanti pita rambutnya aku balikin kalau Mas udah bisa senyum," goda Elena lagi.

​Andrew hanya bisa mendengus pelan, namun di sudut bibirnya, sebuah lengkungan sangat tipis, hampir tak terlihat mulai muncul. Dan Elena, yang matanya sangat jeli, langsung bersorak dalam hati. Dikit lagi, seblak gratis setahun bakal jadi milikku!

...🌼...

...🌼...

...🌼...

...Bersambung......

1
Lilis Yuanita
bgus lnjut
Herman Lim
aduh Thor kog kasian bgt sih buat 2 sodara berdarah2 Krn 1 cew
Herman Lim
kyk bakalan perang sodara ne moga aja setelah ini Ares yg mau ngalah buat KK nya
muna aprilia
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!