Di kehidupan sebelumnya, Li Hua adalah wanita yang dihina, dikucilkan, dan dianggap "buruk rupa" oleh dunia. Ia mati dalam kesunyian tanpa pernah merasakan cinta. Namun, takdir berkata lain. Ia terbangun di tubuh seorang Ratu agung yang terkenal kejam namun memiliki kecantikan luar biasa, mengenakan jubah merah darah yang melambangkan kekuasaan mutlak.
Kini, dengan jiwa wanita yang pernah merasakan pahitnya dunia, ia harus menavigasi intrik istana yang mematikan. Ia bukan lagi wanita lemah yang bisa diinjak. Di balik kecantikan barunya, tersimpan kecerdasan dan tekad baja untuk membalas mereka yang pernah merendahkannya. Apakah merah jubahnya akan menjadi lambang kemuliaan, ataukah lambang pertumpahan darah di istana?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitrika Shanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mahkota Perak dan Janji di Kursi Kayu
Kemenangan besar di Ibu Kota Jing tidak disambut dengan pesta pora yang megah. Sebaliknya, keheningan menyelimuti Istana Cahaya saat matahari terbit pertama kali setelah jatuhnya rezim Tuan Shen. Rakyat berdiri di jalanan, bukan untuk bersorak, melainkan untuk memberikan penghormatan dalam diam saat melihat kereta kuda kaisar melintas membawa sang Permaisuri yang telah mengorbankan segalanya.
Li Hua kini duduk di sebuah kursi kayu cendana yang diukir indah dengan roda di kedua sisinya. Kakinya, yang dulu pernah lincah berlari di jalanan sebagai pengemis dan gagah berdiri sebagai pejuang, kini tak lagi memiliki rasa. Ritual membangkitkan kekuatan dari cermin merah telah mengambil fungsi sarafnya sebagai bayaran. Rambutnya pun tak lagi hitam, ia kini memiliki rambut putih perak yang berkilau, memberikan kesan seperti dewi yang turun dari langit, namun dengan tubuh yang rapuh.
Beban di Atas Takhta
Kaisar Tian Long tidak pernah meninggalkan Li Hua. Ia memindahkan meja kerjanya ke kamar permaisuri agar ia bisa memerintah kerajaan sambil tetap menggenggam tangan istrinya. Namun, tugas mereka berat. Tuan Shen memang telah jatuh, tetapi ia meninggalkan lubang hitam dalam administrasi kerajaan. Kas negara kosong, dan dokumen yang ditemukan di ruang kerja rahasia Shen mengungkapkan kenyataan yang mengerikan.
"Lihat ini, Li Hua," ucap Tian Long sambil membentangkan sebuah gulungan kulit hitam. "Shen hanyalah seorang 'Utusan'. Dia adalah bagian dari organisasi yang disebut Penguasa Kegelapan. Dia mewakili kursi 'Keserakahan'. Masih ada enam penguasa lainnya yang tersebar di seluruh benua, dan mereka semua memiliki satu tujuan: mengumpulkan fragmen kekuatan kuno yang ada pada anak-anak kita."
Li Hua mengusap permukaan giok di leher Li Mei yang sedang tertidur di pangkuannya. "Berarti perang ini belum berakhir. Kita hanya memenangkan satu pertempuran kecil."
"Aku tidak akan membiarkan mereka menyentuh kalian lagi," tegas Tian Long. "Aku telah memerintahkan Jenderal Kael untuk memperkuat perbatasan darat, sementara Mu Feng akan memimpin unit intelijen baru untuk melacak keberadaan kursi lainnya.
Kedewasaan Dini Sang Bintang Kecil
Meskipun baru berusia empat tahun, Tian Shu dan Li Mei tampaknya mengerti bahwa ibu mereka sedang sakit. Mereka tidak lagi merengek meminta bermain di taman. Tian Shu menghabiskan waktunya duduk di dekat kaki Li Hua, mencoba mengalirkan energi hangat dari telapak tangan kecilnya, berharap kakinya bisa bergerak kembali.
Sedangkan Li Mei, matanya yang abu-abu kini lebih sering terbuka lebar. Ia mulai menulis coretan-coretan aneh di kertas, yang setelah diperiksa oleh Mu Feng, ternyata adalah peta-peta kuno lokasi tempat obat legendaris berada.
"Ibu," ucap Li Mei suatu sore sambil memegang tangan Li Hua. "Ada bunga yang bernapas di dalam es. Warnanya biru seperti matamu yang dulu. Ayah harus mencarinya."
Li Hua tersenyum sedih dan mencium kening putrinya. "Sayang, Ayah harus menjaga kerajaan. Ibu tidak apa-apa seperti ini."
Namun, Tian Shu berdiri dengan tegak. "Kalau Ayah tidak bisa pergi, maka aku yang akan pergi saat aku besar nanti. Aku akan membawa bunga itu agar Ibu bisa berjalan lagi."
Mu Feng, yang berdiri di ambang pintu, melihat pemandangan itu dengan hati terenyuh. Ia menyadari bahwa anak-anak ini tidak akan memiliki masa kecil yang normal. Mereka lahir dengan beban dunia di pundak mereka.
Intrik dari Kerajaan Barat: Surat Ancaman
Ketegangan meningkat ketika seorang utusan dari Kerajaan Barat tiba membawa kotak hitam yang disegel dengan lilin ungu. Di dalamnya terdapat surat dari Ratu Valeriana, penguasa kursi 'Iri Hati' dari Septem Tenebris.
Isi surat itu singkat namun mematikan:
"Tuan Shen adalah yang paling lemah di antara kami. Kalian telah membunuh seekor tikus, namun sekarang kalian telah memanggil para serigala. Kembalikan liontin giok itu ke perbatasan Barat dalam waktu tiga puluh hari, atau kami akan mengirimkan wabah yang tidak bisa disembuhkan oleh tabib mana pun."
Tian Long meremas surat itu hingga hancur. "Mereka menantangku di saat rakyatku baru saja mulai bernapas."
"Ini adalah jebakan, Tian Long," sela Mu Feng. "Valeriana dikenal dengan sihir racunnya. Jika kau pergi ke perbatasan, kau akan terjebak. Tapi jika kau diam saja, dia benar-benar akan menyebarkan wabah."
Strategi Sang Ratu Lumpuh
Di tengah keputusasaan para menteri, Li Hua angkat bicara. Suaranya tidak lagi menggelegar seperti saat ia di gerbang kota, namun setiap katanya memiliki bobot yang tak terbantahkan.
"Kita tidak akan memberikan giok itu, dan kita tidak akan membiarkan rakyat terkena wabah," ucap Li Hua. "Tian Long, kau akan tetap di sini untuk menjaga kestabilan ibu kota. Mu Feng, kau akan membawa pasukan bayanganmu untuk menyergap laboratorium racun Valeriana di perbatasan sebelum mereka sempat menyebarkannya."
"Lalu siapa yang akan menghadapi Valeriana?" tanya Jenderal Kael ragu.
"Aku," jawab Li Hua singkat.
"TIDAK!" Tian Long membentak. "Kau tidak bisa berdiri, Li Hua! Bagaimana kau bisa bertempur?"
Li Hua menatap suaminya dengan tatapan Mata Emas yang perlahan muncul kembali, meski hanya redup. "Aku memang tidak bisa berjalan, tapi aku adalah pemilik tongkat merah Aruna. Aku telah menyerap energi Shen. Aku bisa bertempur dari atas kursi ini menggunakan proyeksi astral. Aku akan memancingnya keluar, dan Mu Feng akan menghancurkan sumber kekuatannya."
Latihan di Bawah Bulan Purnama
Malam-malam berikutnya dihabiskan Li Hua dengan berlatih meditasi tingkat tinggi di bawah bimbingan Nenek Mayang yang dipanggil kembali ke istana. Li Hua belajar bagaimana menggerakkan kursinya menggunakan kekuatan pikiran, dan bagaimana menciptakan perisai energi yang bisa melindungi satu kota.
Tian Long sering menemukannya kelelahan hingga pingsan di kursi kayunya. Ia akan mengangkat tubuh istrinya yang ringan ke tempat tidur, menyelimutinya, dan berbisik, "Kau melakukan terlalu banyak, Li Hua. Biarkan aku menanggung sebagian."
"Kita adalah satu jiwa, Tian Long," jawab Li Hua di tengah setengah sadarnya. "Sakitmu adalah sakitku. Takhtamu adalah kehormatanku."
Keberangkatan yang Sunyi
Tiga puluh hari berlalu. Di gerbang barat ibu kota, Li Hua duduk di atas kereta terbuka yang dirancang khusus. Ia mengenakan jubah perak yang serasi dengan rambutnya, tampak seperti patung hidup yang suci.
Tian Shu dan Li Mei berdiri di menara gerbang, melambaikan tangan. Mereka tidak menangis, karena mereka tahu ibu mereka sedang pergi untuk berperang demi mereka.
"Hati-hati, Li Hua," ucap Tian Long sambil mencium tangannya sebelum kereta itu berangkat. "Jika dalam tujuh hari aku tidak mendengar kabarmu, aku akan meratakan Kerajaan Barat dengan tanganku sendiri."
Li Hua tersenyum, sebuah senyuman yang penuh dengan misteri dan kekuatan. "Tunggu aku kembali dengan berita kemenangan, suamiku."
Saat kereta itu menghilang di balik cakrawala, langit di Barat mulai berubah warna menjadi ungu beracun. Pertarungan antara Sang Permaisuri Lumpuh dan Ratu Racun telah dimulai. Di balik bayang-bayang, lima penguasa kegelapan lainnya mulai bergerak, memperhatikan dengan minat besar pada wanita yang berani menantang takdir meski tubuhnya telah hancur.