Ayra menjalani pernikahan yang tidak pernah benar-benar ia inginkan. Menikah karena perjodohan, ia berusaha menjalani perannya sebagai istri dengan sebaik mungkin. Dan kehamilan yang datang kemudian, justru membuatnya berusaha lebih kuat, meski pernikahan itu perlahan menunjukkan sisi gelapnya.
Saat mengetahui Rayyan mendua, Ayra tidak mendapat pembelaan apa pun. Suaminya justru lebih memilih wanita itu dibandingkan dirinya yang sedang mengandung. Tekanan batin yang berat membuat Ayra mengalami keguguran. Kehilangan anaknya menjadi pukulan terbesar dalam hidupnya.
Dikhianati, disudutkan, dan tidak lagi dihargai, Ayra akhirnya sampai pada titik lelah. Ia menyerah, bukan karena kalah, tetapi karena tak ingin menyia-nyiakan hidupnya untuk bertahan dalam hubungan toxic.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Brilliante Brillia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pesona Bos Baru
Ayra dengan sopan meraih belanjaan Eugenia dan menentengnya di tangan yang satunya.
"Berat nak, biar ibu saja." Kata Eugenia merasa tidak enak.
"Nggak apa-apa Bu, saya kuat kok."
"Kamu masih sekolah?" Tanya Eugenia. Ayra terdiam. Dia ragu untuk menjawab. Tapi kalau tidak dijawab, tidak sopan juga.
"Seharusnya sekarang saya sudah lulus sarjana, Bu. Tapi karena saya keburu menikah dan hamil, akhirnya saya ambil cuti dulu."
"Oh, kamu sudah menikah. Tapi nggak kelihatan. Kamu masih seperti anak ABG." Ucap Eugenia dengan tatapan kaget.
"Ah, Ibu bisa saja. Saya jadi malu."
Ayra tertunduk sambil terus berjalan mengikuti langkah Euginia.
Tak terasa perjalanan mereka sudah tiba di tempat mobil Eugenia diparkir. Sang sopir dan seorang bocah laki-laki tampan keluar dari mobil.
"Tante cantik..." Pekiknya sambil menghambur ke arah Ayra dan memeluk kaki wanita itu.
"Loh, Kenzie? Kok ada di sini?" Tanyanya kaget, sambil menurunkan kresek belanjaan ke lantai hotmix parkiran. Lalu berjongkok dan memeluk balik anak itu.
"Kenzie, cucu saya." Kata Euginia tersenyum haru. Tidak biasanya Kenzie seantusias itu pada orang lain.
"Oh, ya Allah... ternyata benar dunia itu sempit." Kekeh Ayra sambil geleng-geleng kepala, seakan nggak percaya dengan kejadian ini.
"Ibu juga kaget saat tadi kamu menyebut namamu Ayra. Ibu pikir, tidak mungkin ini Ayra yang dibicarakan Kenzie. Tapi ternyata benar." Ujar Eugenia membuat tawa di antara mereka pecah dengan aura kebahagiaan.
"Tante, dede bayinya mana? Kok pelut Tante nggak gendut lagi?" Tanya bocah polos itu sambil mengusap perut Ayra pelan. Raut wajah Ayra langsung berubah.
"Dede bayinya sudah pergi ke surga, sayang." Jawab Ayra pelan. Suaranya bergetar dan matanya mulai berembun. Melihat itu Eugenia langsung meraih tangan Ayra dan meremasnya lembut, seakan ingin menyalurkan kekuatan.
"Sama dong sama Mama Tia, mamanya Kenzie udah ke sulga sama ade bayi."
Diusapnya lembut lepala bocah itu, sambil menoleh pada Eugenia dan diangguki wanita bule itu.
"Ya sudah, ayok kita pulang. Ayra kamu bawa kendaraan sendiri?"
Ayra menggeleng. "Saya naik ojek, Bu."
"Kalau begitu, kamu ikut kami. Kita akan anterin kamu pulang."
Tanpa menerima penolakan, Eugenia langsung menarik lembut tangan Ayra ke arah pintu mobil di jok belakang. Akhirnya mau nggak mau Ayra menurut dan masuk ke dalam mobil mewah itu. Ingin menolak pun dia merasa tidak enak karena Eugenia bersikap tulus padanya.
***
"Stop Pak, di depan. Itu rumah saya." Kata Ayra sambil menunjuk rumah yang cukup besar tapi bangunannya masih bergaya kuno. Maklum, semenjak Ayahnya meninggal sepuluh tahun lalu, rumah itu belum pernah direnovasi. Palingan hanya diperbaiki bagian yang bocornya saja.
"Kok lumahnya beda lagi Tante?" Celetuk bocah tampan yang duduk di tengah, antara Ayra dan Euginia, dengan aksen cadelnya. Ingatannya yang tajam bisa membedakan antara rumah ini dengan rumah Rayyan, saat dulu ia dan ayahnya mengantarkan Ayra pulang
"Iya Kenzie, ini rumah peninggalan mendiang orangtua Tante. Kalau yang dulu, itu rumah suami Tante."
"Oh Tante pindah ke lumah ini?"
Ayra hanya tersenyum sambil mencubit gemas pipi cabi yang memiliki dua lesung pipi seperti Zavian itu. Lalu menganggukkan kepalanya.
"Mari Bu, mampir dulu." Ajaknya pada Euginia.
"Apa boleh?"
"Tentu saja." Ayra terkekeh, lalu keluar dari mobil lebih dulu. Sementara pintu di sebelah Euginia dibukakan sang supir.
"Kamu tinggal sendiri di sini, nak?" Tanya wanita patuh baya itu saat Ayra memutar kunci tumahnya.
"Iya Bu." Jawab Ayra singkat. Lalu mempersilahkan kedua tamunya masuk.
"Suamimu tugas di luar kota, ya?" Tanya Euginia lagi setelah mereka duduk di sofa ruang tamu dan Ayra sudah menyajikan minuman.
Sesaat Ayra menunduk, lalu menatap wanita paruh baya itu dengan wajah yang terlihat sendu.
"Saya..." Suara Ayra menggantung di udara. Bibirnya terasa kelu dan kalimat yang ingin dia ucapkan seakan tercekat di tenggorokan.
"Jangan dipaksakan nak, tidak usah dijawab jika itu akan membuat suasana hatimu menjadi tidak enak." Kata Euginia bijak.
"Oh iya, ngomong-ngomong, kamu dan Kenzie ketemu di mana sih? Papanya sampai pusing, karena dia terus merengek minta ketemu kamu."
Euginia segera mengalihkan pembicaraan dan berusaha mengembalikan suasana ceria tadi.
"Kami bertemu di supermarket dan saat itu saya sedang hamil menginjak lima bulan..."
Ayra pun menceritakan pertemuan mereka, saat ia tengah berbelanja dan nyaris tertabrak Kenzie yang tengah berlarian. Tapi tentu saja tanpa menceritakan kalau iapun memergoki suaminya dengan selingkuhannya di sana. Bagian itu sengaja tidak ia ceritakan, karena itu aib. Apalagi Euginia orang yang baru dikenalnya.
Sambil mengobrol mereka tertawa-tawa karena ditimpali celotehan dan tingkah Kenzie yang menggemaskan.
Benar saja, Euginia berhasil mengembalikan suasana hati Ayra yang tadi sempat tidak enak.
Tanpa terasa, sudah lebih dari satu jam mereka mengobrol dan akhirnya Euginia berpamitan pulang karena ia harus menyerahkan belanjaannya untuk dimasa para asisten rumah tangganya untuk makan siang.. Meski Kenzie sempat menolak, tapi karena dijanjikan nanti akan main lagi ke rumah itu bersama ayahnya, bocah itu pun akhirnya menurut.
***
Suasana di setiap departemen kantor ADW Group mendadak berubah menjadi riuh rendah tak lama setelah Zavian Zovano Adiwilaga meninggalkan aula serbaguna. Hampir di setiap meja, topik pembicaraannya seragam, seberapa tampan dan dinginnya bos baru mereka.
"Gila, aura Pak Zavian beda banget ya? Baru lewat aja hawanya langsung kayak di kutub, dingin tapi bikin penasaran!" celetuk salah satu staf admin sambil memperbaiki riasan wajahnya yang sebenarnya sudah tebal.
Sementara itu, Liztha berjalan menyusuri koridor menuju departemen keuangan dengan langkah yang sengaja dibuat lebih anggun. Ia sempat berpapasan dengan beberapa rekan kerjanya, namun pikirannya tertuju pada satu target. Ia tahu, pria seperti Zavian tidak akan bisa ditaklukkan hanya dengan senyuman manis biasa.
"Liz, kamu lihat kan tadi cara dia menatap? Tajam banget!" bisik salah seorang teman sejawat Liztha saat mereka berada di depan mesin kopi.
Liztha hanya tersenyum tipis, menyesap kopinya perlahan.
"Tatapan seperti itu justru yang paling menyenangkan untuk dijinakkan," jawabnya dalam hati.
Di sisi lain, Rayyan terlihat lebih tegang dari biasanya. Sebagai manajer keuangan, ia tahu betul bahwa di bawah kepemimpinan Zavian, segala sesuatunya akan menjadi lebih ketat. Ia sibuk merapikan beberapa laporan di mejanya, berusaha tetap terlihat profesional meski kabar pembahasan tentang "pesona" CEO baru itu terus berdenging di telinganya. Dan kelhawatiran yang mengusik hatinya, jika Lizrha pun akan tergoda pesona sang CEO.
Sementara itu suara langkah kaki yang tegas terdengar di koridor utama. Seketika itu juga, semua percakapan berhenti. Para karyawan yang tadinya berkerumun mendadak kembali ke kursi masing-masing dan pura-pura sibuk dengan layar komputer mereka.
Zavian melintas begitu saja tanpa menoleh ke kiri atau kanan, diikuti asistennya yang membawa tumpukan dokumen. Hanya aroma parfum maskulin yang mahal yang tertinggal di udara, cukup untuk membuat para staf wanita menahan napas selama beberapa detik.
"Hari pertama saja sudah begini, bisa-bisa produktivitas kita turun karena semua orang sibuk curi-curi pandang ke ruang CEO," gumam salah satu staf pria yang merasa tersaingi.
Sore itu, suasana kantor mulai sepi, tapi tidak dengan pikiran Liztha. Saat sedang merapikan meja kerjanya, sebuah pengumuman muncul di layar komputer. Semua manajer dan perwakilan dari tiap departemen diminta berkumpul di ruang rapat besok pagi jam delapan tepat untuk rapat perdana bersama CEO baru.
"Besok adalah harinya," gumam Liztha dengan senyum penuh arti. Ia sudah menyusun rencana di kepalanya. Baginya, rapat besok bukan sekadar urusan pekerjaan, tapi panggung untuk menarik perhatian Zavian.
lanjut min ceritanya
Tak terasa buku ini sudah hampir mencapai 20 bab. Terimakasih othor haturkan untuk para readers, semoga kedepannya novel ini akan lebih seru dan lebih diterima oleh penyuka cerita drama rumah tangga. Dan juga lebih banyak komen serta like 🙏
Yuk follow akun othor untuk bisa mengikuti cerita-cerita berikutnya yang akan launching dan tentu dengan cerita yang lebih seru lagi.
Hanya karena alasan dijodohkan, Rayyan berhak berlaku semena-mena pada istrinya dan terang-terangan lebih memilih cinta lamanya?
Disakiti, diinjak-injak harga dirinya dan dibuang seolah Ayra adalah barang yang tidak berharga, membuat batin Ayra terguncang dan harus kehilangan bayinya.
Lalu apakah Ayra akan tahan dalam kubangan ketidak adilan yang dia terima?
Tentu saja tidak!
Tak akan ada yang tahan dalam satu hubungan toxic. Di balik kelembutannya, bagaimana Ayra bangkit dan melawan ketidak adilan yang ia terima?
Temukan jawabannya hanya di, "Aku Menyerah!"