Bayangkan saja jika satu gadis di cinta oleh banyak laki-laki dan mereka adalah para CEO tampan dan kaya. Dan para CEO itu tentunya punya sifat yang berbeda-beda, ada yang membuat gadis itu kagum dan terkesima tapi ada juga yang membuat gadis itu sangat benci padanya.
Entahlah bagaimana ceritanya? Yang jelas akan ada persaingan, perseteruan, antara CEO-CEO itu untuk memperebutkan hati gadis cantik itu.
Bagaimanakah cara mereka mendapatkan hati gadis cantik itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maisy Asty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rasa kecewa Alvian
Malam semakin larut Nara masih terdiam sambil menatap lampu kamarnya yang masih menyala.
Nara mengingat wajah tampan Davin tadi yang sangat dekat pada dirinya, sungguh Nara masih terngiang-ngiang memikirkan Davin. "Bayangkan saja jika cecungguk tadi mencium bibirku, aish untung saja aku masih bisa melindungi ciuman pertamaku," batin Nara dalam hatinya.
Nara membaringkan tubuhnya lalu menyelimuti tubuhnya dengan selimut tebal, rasanya hari ini begitu lelah Nara juga akhirnya tertidur nyenyak.
Laras yang masih terjaga dia terus memikirkan Daniel, sungguh Laras tidak rela jika Daniel sampai menyukai Laras.
"Daniel, kamu tidak boleh menyukai Nara!"
"Aku tidak rela jika itu sampai terjadi, lagian Nara juga kenapa dia harus dekat-dekat dengan Daniel? Apa dia sengaja?"
Di otak Laras hanya ada Daniel dan Daniel saja, bahkan Laras tidak memperdulikan perasaan Alvian selama ini, Laras hanya menganggap Alvian sebagai sahabatnya saja.
*****
Pagi menunjukkan pukul 3 pagi, Alvian masih terjaga bahkan Alvian malam ini mabuk berat padahal biasanya dia tidak pernah seperti ini.
Beberapa botol sudah Alvian habiskan, rasanya sangat kecewa, sakit hati dan tentunya merasakan cinta sendirian itu tidak ada enaknya sama sekali.
"Laras, aku mencintaimu...!"
"Kenapa, kamu tidak mau melihatku sedikit saja?"
"Padang aku sebagai laki-laki jangan hanya sahabat!"
"Aku menginginkan kamu lebih, bertahun-tahun aku memendam perasaan yang begitu dalam. Tapi sedikit pun kamu tidak mau mengerti, sungguh Laras....."
Alvian terus mengoceh sambil meneguk minuman yang dirinya pegang, tiba-tiba Alvian menangis lalu tertawa.
Sungguh Alvian sudah seperti orang gila karena Laras tapi Laras sedikitpun tidak pernah perduli pada Alvian.
Hingga beberapa lama akhirnya Alvian merasa lelah, dia terlelap begitu saja dengan botol minuman yang masih berserahkan tidak jelas.
*****
Pagi yang cerah telah datang seperti pagi-pagi biasanya, Nara berangkat kerja naik bus sedangkan Laras di antarkan oleh Daniel.
Daniel yang niatnya ingin menjemput Nara lagi-lagi Laras salah paham dan akhirnya Daniel harus mengantarkan Laras ke tempat kerjanya.
"Daniel, aku senang deh setiap pagi kamu datang menjemputku," celetuk Laras dengan senang hati.
"Laras sebenarnya aku...."
"Iya aku tahu, sebenarnya kamu ingin memberikan kejutan padaku kan jadi kamu tidak memberitahu lebih dulu kalau kamu mau menjemputku." Laras memotong kata-kata Daniel, bahkan dia semakin tidak jelas.
Daniel sungguh kesal, dia berdecak kesal dalam hatinya. "Bagaimana, caranya agar aku bisa terlepas dari Laras? Sungguh aku bingung," batin Laras dalam hatinya.
"Laras bukan seperti itu, dengarlah penjelasanku dulu!" Daniel berusaha memberikan pengertian pada Laras.
Tapi Laras pura-pura tidak mendengarnya, dia malah sibuk dengan pikirannya.
"Daniel, kita sudah sampai. Terimakasih ya sudah mengantarkanku berangkat kerja," kata Laras dan dia buru-buru turun dari dalam mobil Daniel, karena tidak mau mendengar perkataan lebih dari Daniel.
Daniel hanya mengangguk, lalu dengan kasar dia melajukan mobilnya menuju ke cafe Al.
Sesampainya di cafe Alvian, Daniel langsung mencari sosok Nara.
Daniel melihat Nara sedang sibuk dengan pekerjaannya lalu Daniel berjalan menuju ke tempat Nara sedang sibuk.
"Nara....."
Nara menoleh mendengar suara khas Daniel, Nara tersenyum pada Daniel.
"Kak Daniel, mau pesan sesuatu?" tanya Nara dengan nada lembut.
Daniel menggelengkan kepalanya, lalu dia mendekatkan dirinya pada Nara membuat Nara memundurkan tubuhnya karena tidak mau terlalu dekat dengan Daniel.
"Ada apa kak?" tanya Nara, terlihat begitu gugup.
"Al, sudah datang?" tanya Daniel, ingin sekali meraih tubuh Nara lalu memeluknya dengan erat.
"Belum kak, mungkin tidak datang kak," jawab Nara dengan nada lembut.
Alvian bukan tipe orang yang suka terlambat, apalagi sudah hampir jam 8 pagi tapi tumben sekali Alvian belum datang ke cafenya?
Daniel mencoba menghubungi ponsel Alvian tapi tidak ada jawaban, tidak ada juga Alvian membalas pesan dari Daniel.
Daniel mengingat kejadian kemarin terakhir bertemu dengan Alvian, Alvian begitu marah pada dirinya.
"Apa bocah itu melakukan hal konyol?" kata Daniel, raut wajahnya terlihat begitu panik.
"Maksudnya kak?" tanya Nara.
Tanpa menjawab pertanyaan dari Nara, Daniel langsung menarik tangan Nara dan mereka juga langsung naik mobil Daniel.
"Kita mau kemana?" tanya Nara.
"Kita ke Apartemen Alvian, aku takut terjadi sesuatu pada dia." Jawab Daniel dan Nara hanya mengangguk.
Nara tidak tahu apa masalah mereka? Tapi Daniel keliatan begitu panik, seperti orang kawatir.
Daniel mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, hingga beberapa lama akhirnya mereka sampai di Apartemen milik Alvian.
Buru-buru Daniel dan Nara turun dari dalam mobil, lalu mereka langsung menuju ke Apartemen milik Alvian.
Daniel membuka pintu Apartemen Alvian dengan kata sandi, lalu Daniel dan Nara sama-sama masuk ke dalam Apartemen.
"Alvian......." teriak Daniel, melihat Alvian terbaring dengan wajah pucat.
"Al, bangun!!"
BERSAMBUNG 🙏
Terimakasih para pembaca setia 😊
btw nma ig nya pa kk🙏
sblom nikah dah dapet menanam saham duluan pas ngidam istri selalu dapet jatah terus tanpa bisa ditinggalkan....
sedangkan Davin malah zonk boro2 berpelukan, baru dideketin aja malah dah dapet Omelan sang istri...
sabaaarrrrr ya Davin tunggu 2-3bln lagi...🤭🤣🤣🤣