NovelToon NovelToon
Istri Yang Mereka Remehkan

Istri Yang Mereka Remehkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Selingkuh
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Jmn

Elina bukan istri yang polos. Saat suami dan mertuanya berusaha merebut aset dan perusahaannya, ia memilih diam sambil menyiapkan perangkap.

Mereka mengira Elina tidak tahu apa-apa, padahal justru menggali kehancuran sendiri.

Karena bagi Elina, pengkhianatan tidak dibalas dengan air mata... melainkan dengan kehancuran yang terencana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menunggu jatuh

"Kamu serius, May?"

Nada suara Amelia terdengar meninggi, matanya menyipit tajam.

Maya mengangguk pelan. "Iya, Mah. Elina dan Tante Aurel belanja berlian hingga miliaran," jelasnya, suaranya masih menyimpan kekesalan yang belum reda.

Sejak keluar dari mall tadi, perasaan Maya tak juga membaik. Pemandangan Elina yang begitu mudah menghamburkan uang untuk perhiasan mahal terus terbayang di kepalanya, membuat dadanya terasa panas. Rasa iri dan kesal bercampur menjadi satu. Karena itu, sepulang dari mall, Maya langsung menemui Amelia. Hanya pada calon mertuanya ia bisa meluapkan kekesalan, terlebih setelah melihat Elina dengan santainya membeli berlian bernilai fantastis seolah tak berarti apa-apa.

Amelia yang sejak tadi duduk di sofa langsung menegakkan punggungnya. Alisnya terangkat tinggi, matanya menyipit penuh perhitungan.

"Berlian?" ulangnya pelan, seolah tak percaya, "Hingga miliaran?"

"Iya, Mah," sahut Maya cepat, nada suaranya masih terdengar kesal. "Mereka masuk toko berlian paling mahal di mall. Elina ambil satu tanpa pikir panjang, kayak beli permen."

Amelia mendengus tajam. Tangannya mengepal di atas paha. "Kurang ajar. Jadi uang masih banyak, ya? Atau... dia sengaja pamer?"

Ia tersenyum miring, senyum yang sama sekali tak menunjukkan kehangatan.

Maya menggigit bibirnya. "Aku juga mikir gitu, Mah. Kayaknya disengaja bikin orang lain panas."

"Bagus," balas Amelia dingin. "Kalau begitu, berarti Elina belum sadar kalau sebentar lagi semua yang dia banggakan itu bakal berpindah tangan."

Amelia berdiri, berjalan mondar-mandir dengan langkah gelisah. "Beli berlian miliaran, tapi pelit sama keluarga sendiri. Benar-benar menantu durhaka."

Maya menatap Amelia ragu. "Mah... apa mungkin rencana Mas Ares—"

"Pasti," potong Amelia mantap. "Kalau dia berani belanja seenaknya, berati dia merasa aman. Dan orang yang merasa aman biasanya paling gampang dijatuhkan."

Amelia berhenti melangkah, menatap Maya lurus-lurus. "Kamu tenang saja, May. Dua hari ini, lihat siapa yang masih bisa tersenyum sambil pakai berlian."

Maya perlahan ikut tersenyum, meski di matanya terselip kegelisahan. "Semoga Mah... aku cuma nggak tahan lihat dia terus di atas."

Amelia terkekeh pelan. "Sabar. Puncak itu nggak pernah nyaman terlalu lama. Tinggal tunggu waktunya runtuh."

Amelia kembali duduk. "Jadi besan aku sudah kembali?"

"Iya, Mah. Tante Aurel sudah balik dari Swiss." balas Maya.

Amelia terdiam, besannya itu selalu membuatnya iri apalagi dengan umurnya sama dengannya, tetapi Aurelia lebih terlihat modis, cantik dan elegan, berbeda dengan dirinya.

Amelia mendengus pelan, lalu menyilangkan kedua tangannya di dada. Wajahnya mengeras, jelas tak bisa menyembunyikan rasa kesal yang tiba-tiba muncul.

"Hmph... pantas saja," gumamnya sinis. "Baru pulang dari Swiss, langsung belanja berlian. Hidupnya memang cuma keliling dunia sama buang-buang uang."

Maya mengangguk pelan, ikut menimpali. "Tante Aurel itu kelihatannya nggak capek, Mah. Traveling terus, pakaiannya selalu beda, kelihatan muda terus."

Nada Maya terdengar kagum, namun cepat ia tekan saat melihat raut Amelia makin masam.

"Itu bukan awet muda," potong Amelia ketus. "Itu kebanyakan uang. Kalau Mama punya uang sebanyak dia, mama juga bisa keliling dunia tiap bulan."

Ia mendengus lagi, matanya menerawang penuh iri. "Enak sekali hidupnya. Ke luar negeri tinggal berangkat, belanja tinggal gosok kartu. Sementara Mama harus mikir ini itu."

Maya ragu sejenak, lalu berkata hati-hati, "Tapi Mah... Tante Aurel memang kelasnya beda."

"Kelas beda karena nasibnya bagus," sahut Amelia cepat. "Dapat suami kaya, hidupnya mulus. Anak perempuannya juga dimanja habis-habisan."

Ia mengepalkan tangannya. "Dan sekarang Elina ikut-ikutan. Belanja berlian miliaran, seolah mau nunjukin kalau dia lebih tinggi dari kita."

Amelia menatap Maya tajam. “Mama paling nggak suka orang pamer di depan mata. Apalagi kalau itu besan sendiri.”

Maya tersenyum tipis, menyembunyikan perasaan campur aduk di dadanya. “Sabar ya, Mah. Kata Mas Ares, sebentar lagi keadaan bakal berubah.”

Amelia menyeringai kecil, senyum penuh ambisi. “Iya. Biar saja sekarang mereka kelihatan menang. Nanti juga kita yang tertawa paling akhir.”

Mereka berdua terus membahas Elina yang membuat Amelia dan Maya sama-sama diliputi rasa iri. Di benak mereka, terbayang bagaimana Elina akan jatuh saat perusahaan itu akhirnya berpindah ke tangan Ares.

“Ada apa ini? Asyik benar ngobrolnya.”

Amelia dan Maya kompak menoleh. Terlihat Ares menghampiri mereka dengan langkah santai.

“Mas Ares…” ucap Maya sambil tersenyum manis. Senyum itu langsung dibalas Ares.

“Hai, sayang,” balas Ares, lalu duduk di samping Maya. Saat Ares hendak merangkulnya, Maya justru sedikit menghindar.

“Kenapa, sayang?” tanya Ares bingung.

“Mas, nanti Elina lihat, Mas. Kita belum bebas untuk bermesraan,” balas Maya pelan.

Ares tersenyum tipis, seolah tak terlalu memedulikan hal itu. “Tenang saja, sayang. Elina saat ini nginap di rumah orang tuanya.”

“Serius, Res?” sahut Amelia, nada suaranya terdengar antusias.

Ares mengangguk, lalu kembali memeluk Maya dari samping. “Iya, Mah. Mertua aku sudah balik dari Swiss,” jelas Ares.

Maya melirik Amelia sekilas, lalu menatap Ares dengan raut setengah kesal setengah tidak percaya.

“Mas tahu nggak apa yang Elina lakukan hari ini?” tanyanya pelan.

Ares mengernyit. “Kenapa memangnya?”

Maya menarik napas, seolah masih menahan dongkol. “Dia belanja berlian, Mas. Bukan satu dua juta… tapi sampai miliaran.”

Nada suaranya sengaja ditekan, namun jelas sarat rasa iri.

Ares terdiam sesaat, lalu terkekeh kecil. “Berlian? Hah… Elina memang selalu begitu. Suka hal-hal mewah.”

“Bukan cuma Elina,” sambung Maya cepat. “Tante Aurel juga. Mereka masuk toko berlian paling terkenal di mall. Semua orang sampai melongo lihat mereka.”

Maya mendengus. “Seolah mau nunjukin kalau mereka masih di atas segalanya.”

Amelia ikut menyahut, wajahnya penuh ekspresi tidak suka. “Benar, Res. Hidup mereka terlalu sempurna. Ke luar negeri, belanja sesuka hati, seakan dunia milik mereka berdua.”

Ares menyandarkan tubuhnya, senyum tipis terukir di sudut bibirnya. “Biar saja, Mah. Selagi masih bisa.”

Matanya menyipit penuh arti. “Semua itu kan dari perusahaan. Kalau nanti perusahaan itu jatuh ke tanganku, mau beli berlian berapa pun juga percuma.”

Maya menatap Ares, senyum kecil mulai muncul di wajahnya. “Mas yakin semuanya bakal berjalan sesuai rencana?”

Ares menoleh, menatap Maya penuh percaya diri. “Yakin. Elina terlalu sibuk menikmati hidupnya, sampai lupa kalau fondasinya mulai rapuh.”

Amelia tersenyum puas. “Kalau begitu, biarkan dia puas sekarang. Jatuh dari ketinggian itu rasanya lebih sakit.”

Maya mengangguk pelan, matanya berbinar tipis. Di kepalanya, bayangan Elina yang kini tersenyum dengan berlian mahal perlahan berubah menjadi sosok yang kehilangan segalanya.

“Mama ada rencana!”

Maya dan Ares kompak menatap Amelia, menunggu jawaban.

“Rencana apa, Mah?” tanya Ares, nadanya terdengar hati-hati.

Amelia tidak langsung menjawab. Ia hanya menyunggingkan senyum miring—senyum yang sarat makna, seolah sebuah rencana licik telah tersusun rapi di kepalanya.

1
Ma Em
Ares pasti akan ngamuk karena sdh dibohongi sama Elina , karena kedudukan CEO yg Ares inginkan ternyata zonk .
tia
lanjut Thor
Nona Jmn: Sabar yah🫶🥰
total 1 replies
Ma Em
Sudah ga sabar nunggu kehancuran Ares dan keluarganya , Elina cepat tendang para benalu yg nempel dirumah mu .
Nona Jmn: Sabar
total 1 replies
Ma Em
Duh sdh ga sabar Ares dan keluarganya diusir dari perusahaan juga rumah Elina
tia
cepat singkirkan benalu
Nona Jmn: Sabar😭😁
total 1 replies
dyah EkaPratiwi
keterlaluan area
Nona Jmn: Sabar😁
total 1 replies
kaylla salsabella
pasti si maya
kaylla salsabella
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
kaylla salsabella
anak buah dewa
kaylla salsabella
lanjut
kaylla salsabella
🤣🤣🤣🤣 res Ares
kaylla salsabella
ayah belum tahu klu Ares selingkuh
kaylla salsabella
nah khawatir kan kamu res 🤣🤣
kaylla salsabella
lanjut thor
Nona Jmn: Besok ya kakak🥰 jangan lupa vote🙏😭🫶🫡
total 1 replies
@Mita🥰
😍😍😍
Nona Jmn
Besok ya kakak🥰
tia
lanjut Thor
kaylla salsabella
ooo ku kira Elina udah yatim piatu 🤭🤭
Ma Em
Semoga Elina selamat dari para benalu yg mau menguasai semua harta kekayaan nya , jgn sampai si mokondo Ares juga keluarganya yg benalu berhasil menguasai semua harta Elina .
kaylla salsabella
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!