Hidup Kinan berubah ketika pergantian CEO terjadi di kantor ia bekerja. Walaupun ia hanya seorang office girl, namun CEO yang baru tampak tak menyukainya. Berbagai alasan dibuat sang CEO untuk membuat kerja Kinan menjadi sulit. Hingga pada saat ia melakukan kesalahan sepele namun berdampak hingga ia dipecat. Kebenciannya kepada sang CEO pun semakin menjadi.
Raditya Abhimanyu, CEO tampan dan (tentunya) kaya raya kembali pulang dari Amerika dan menjadi pimpinan perusahaan konstruksi besar milik ayahnya. Raditya adalah pria dingin yang "mati rasa". Segala hal bisa ia dapatkan membuatnya ingin mencari hal baru untuk hidupnya. Untuk itu ia memulai sebuah petualangan. Petualangan yang membuat ia mengetahui sebuah rahasia yang sangat penting untuk hidupnya.
Bagaimana pertemuan Raditya dan Kinan terjadi?
Apakah mereka berakhir saling jatuh cinta?
Ini novel romantis komedi pertama saya. Semoga banyak yang suka dan menikmatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Armasita Wardhojo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CEMBURU
Siang ini Raditya tak bisa berkonsentrasi dengan pekerjaannya. Ia mengkhawatirkan kondisi Nenek, lebih dari itu ia pun memikirkan Kinan sedari tadi. Hari ini Kinan ijin tidak masuk kerja, ia harus menunggu Nenek yang masih belum siuman.
Raditya berulang kali mengecek ponselnya. Berharap ada telepon masuk atau pesan dari Kinan. Namun wanita itu seperti biasanya, jarang sekali membalas pesan yang Raditya kirim.
"Kau mau makan siang di luar?"
Raditya terkejut dengan suara yang muncul dari balik pintu. Nuri telah berdiri di depan pintu tanpa disadari oleh Raditya. Ia pun hanya menggeleng, tatapannya kembali berfokus pada ponselnya.
Nuri menghampirinya, lalu duduk dengan berani di atas meja kerja Raditya. Raditya melirik tajam, menunjukkan raut wajah yang tak senang atas tingkah Nuri.
"Kau masih belum bisa membuka hatimu untukku?" tanya Nuri dengan pelan.
"Kurasa aku sudah dengan jelas mengatakannya, aku hanya menganggapmu sahabatku"
"Namun semua orang tahu kalau kini kita bertunangan"
"Kau yang merencanakan acara pertunangan di gathering itu? Apa kau sudah tahu hubunganku dengan Kinan?"
"Ya. Aku yang merencanakan semuanya. Aku yang membuat Kinan kembali ke kantor ini agar ia bisa melihat hubungan kita. Agar ia tahu posisinya seperti apa."
Raditya berdiri dari kursinya. Amarahnya memuncak. Ia merasa tak nyaman berada di posisi yang sangat dekat dengan Nuri. Raditya bermaksud untuk melangkah pergi namun tangan Nuri segera meraih dasi yang dikenakan Raditya. Perempuan itu menarik dengan kuat hingga badan Raditya menimpa tubuh Nuri yang masih duduk di atas meja.
Tiba-tiba pintu dibuka dan dua orang muncul dari balik pintu. Kinan berdiri melongo melihat apa yang terjadi di depannya. Bang Miko yang berada di belakang Kinan pun terkejut hingga menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Menyadari hal itu, segera mungkin Raditya menarik diri dari tubuh Nuri. Dan Nuri nampak sangat senang melihat situasi ini.
"Kinan.."
Kinan mencoba untuk menenangkan diri. Akan sangat konyol jika ia harus berlari pergi, itu hanya nampak seperti adegan sinetron yang biasa ditonton Nenek. Tidak, Kinan mengendalikan emosinya. Ia malah membungkuk dan meminta maaf.
"Maafkan saya yang tidak mengetuk pintu terlebih dahulu"
"Maafkan kami Boss" sahut Bang Miko. Tak lama kemudian Bu Siska menyusul dari belakang mereka. Ia mengisyaratkan Kinan dan Miko untuk keluar dari ruangan Raditya.
"Maaf Boss, saya pikir Boss sedang tidak sibuk" timpal Bu Siska.
Raditya semakin marah. Ia merasa seperti baru saja melakukan hal yang tidak senonoh dan semua orang meminta maaf karena mengetahui itu. Terlebih ia melihat Nuri yang tersenyum puas mengetahui Kinan melihat Ia memeluk tubuh wanita itu.
"Semua keluar! Kecuali kau, Kinan!" teriak Raditya menggemparkan ruangan. Nuri berlalu dengan sinis, disusul Bang Miko dan Bu Siska dibelakangnya. Kinan tak bereaksi, ia masih berdiri kaku tak menatap Raditya.
Setelah semua orang keluar, pintu telah tertutup. Raditya menghampiri Kinan.
"Hey, ini tidak seperti yang kau lihat. Dan kenapa kau masuk kerja? bukankah kau menjaga nenek?" ujarnya dengan lembut. Kinan masih menunduk tak menjawab. Namun ia bisa merasakan tubuhnya yang bergetar hebat. Ia berusaha kuat untuk menahan air matanya. Kinan tak munafik, ia cemburu melihat apa yang baru saja terjadi.
"Kau sepertinya senang sekali aku tak masuk kerja"
"Astaga! Aku benar-benar tak melakukannya. Ia menarik dasiku hingga aku.."
"Maafkan saya Boss" Kinan memotong ucapan Raditya. Laki-laki itu meraih kedua tangan Kinan.
"Jangan panggil aku seperti itu! Aku sangat tersiksa mendengarnya"
"Maafkan saya, Boss"
"KINAN!!" bentak Radit. Kinan terhenyak. Namun ia masih tak mau melihat Raditya. Ia hanya menunduk. Emosi Raditya meluap. Diraihnya wajah Kinan dan ia mencoba untuk mencium bibir wanita itu. Namun sebelum bibirnya menyentuh bibir Kinan, wanita itu menarik diri. Kinan menghindar.
"Kau marah?"
"Saya harus kembali ke Pantry" ujarnya sambil berlalu. Raditya terdiam. Ia masih tak menyangka Kinan menolaknya.
Kinan menutup pintu ruangan Presdir dengan perlahan. Di depannya, telah menunggu Bang Miko dengan wajah khawatir. Disampingnya ada Bu Siska yang sedang menggigit kukunya karena tegang.
"Kau baik-baik saja?" tanya Bang Miko.
"Tidak" jawab Kinan dengan tersenyum getir. Bang Miko memeluk Kinan. Ia tahu pasti apa yang dirasakan wanita itu. Bu Siska menepuk pelan punggung Kinan. Wanita paruh baya itu pasti berpikir Kinan telah diamuk habis-habisan oleh Boss. Ia tadi mendengar pria itu membentak Kinan. Walau sebetulnya, bukan seperti apa yang ia pikirkan.
Pintu ruangan Presdir dibuka dari dalam. Raditya nampak tergesa keluar dari ruangannya. Namun ia terkejut karena mereka masih berada di depan pintu ruangannya. Lebih terkejut lagi melihat Bang Miko yang sedang memeluk Kinan.
Bang Miko yang menyadari arti tatapan Raditya, segera mendorong tubuh Kinan dengan kuat. Hingga tubuh Kinan terdorong ke belakang dan hilang keseimbangan. Raditya dengan sigap menangkap tubuh kekasihnya. Bu Siska mencubit lengan Bang Miko. Bang Miko pun segera minta maaf dan bergegas pergi dengan Bu Siska.
"Jangan biarkan lelaki lain memelukmu. Aku tak suka"
"Andaikan aku bisa bicara seperti itu juga"
"Sudah kubilang aku tak sengaja"
"Sengaja pun tak apa, kalian sudah bertunangan bukan? Apa salahnya?"
Kinan melepaskan diri dari pelukan Raditya. Tanpa banyak bicara ia lalu pergi menyusul Bang Miko ke Pantry. Ia sedang malas melihat Raditya. Hari ini sebenarnya ia ijin untuk tidak masuk. Namun Bang Miko menelepon meminta bantuan. 3 Pegawai Pantry sedang sakit sehingga mereka kekurangan personil. Kebetulan pula teman Nenek menjenguk ke Rumah sakit dan menawarkan diri untuk menjaga nenek.
Kinan tak menyangka ia akan melihat Raditya dan Nuri berpelukan di atas meja kerja Radit. Walau Raditya terlihat jujur mengatakan bahwa ia tak sengaja, namun hati Kinan masih dongkol.
"Cih, kenapa aku jadi cemburu begini?"
...***...
Keesokan harinya, Kinan pergi ke kantor seperti biasanya. Hari ini Kak Bima yang akan menjaga Nenek di rumah sakit. Kak Bima telah kembali dari tugas luar kotanya. Nenek pun telah siuman dan kondisinya semakin membaik. Kata dokter, Nenek bisa pulang besok. Oleh sebab itu Kinan memutuskan untuk masuk kerja penuh hari ini.
Pukul 07.00 ia mulai membersihkan ruangan Presdir. Raditya masih belum datang, biasanya ia akan datang pukul 09.00. Tiba-tiba Ardy, salah satu dari karyawan office boy menghampirinya.
"Kak, Pak Miki Direktur Perencanaan minta Kakak untuk membersihkan ruangannya sekarang." ucap Ardy terbata-bata.
"Sekarang? Apakah harus aku?" tanya Kinan.
"Iya, Pak Miki tak mengijinkan OB baru ke ruangannya. Katanya ada banyak berkas penting"
Kinan merasa sangat aneh dengan alasan Ardy. Biasanya memang Bang Miko yang membersihkan ruangan Bagian Perencanaan namun pagi ini sepertinya Bang Miko belum terlihat.
"Cepatlah Kak! Aku nanti dimarahi."
"Yasudah, kau bersihkan ruangan Boss ya? Ingat! Jangan sampai tersisa sedikitpun debu di ruangan ini. Sedikitpun! Atau kita mungkin akan diomeli seharian sama boss aneh itu" ujar Kinan mewanti-wanti. Masih ada sisa dongkol di hatinya rupanya.
Kinan pergi menuju ruangan Pak Miki. Sampai disana ia tak menjumpai siapapun. Ia lantas berpikir mungkin Pak Miki memerintah Ardy melalui telepon. Ia pun sama sekali tak memiliki firasat apapun hingga tiba-tiba terdengar pintu yang dikunci. Kinan menoleh dan mendapati Pak Miki tersenyum nakal kearahnya.
"Pak Miki.." gumamnya.
"Kinan, aku baru sadar kalau kau cukup manis juga" ucap Pak Miki sambil melangkah mendatangi Kinan yang berdiri di sudut ruangan. Ia mulai merasa ada hal yang tidak beres.
"Maaf Pak, saya harus mengambil sesuatu di Pantry" Kinan mencoba untuk beralasan.
Ia pun bergegas meninggalkan ruangan namun Pak Miki dengan cepat meraih tubuh Kinan dan menahannya. Kinan mencoba untuk melepaskan diri. Pak Miki menarik baju Kinan dengan paksa, membuat kancing bajunya terlepas dan sebagian tubuhnya terlihat.
"Wah!" Pak Miki semakin menggila, ia pun mencoba untuk memeluk Kinan, namun wanita itu cukup kuat untuk menahannya. Kinan berteriak tapi tak ada seorangpun yang datang. Pak Miki semakin ganas menyerangnya. Kinan benar-benar terpojok. Ia tak sanggup lagi menahan serangan pria tambun itu.
Di tengah keadaan yang kacau, Kinan meraih vas bunga diatas meja dan memukulkannya ke kepala Pak Miki. Sontak pria bertubuh tambun itu goyah, darah mengalir dari kepalanya yang plontos itu.
Kesempatan itu dipakai Kinan untuk keluar dari ruangan. Dan ketika ia telah berhasil keluar, beberapa karyawan yang baru saja datang melihatnya dengan terkejut. Bajunya terbuka, rambutnya berantakan, dan di tangannya terdapat bercak darah. Kinan meminta tolong namun Pak Miki keluar ruangan sambil berdarah-darah dan berteriak.
"Tangkap wanita sialan itu, dia berusaha melukaiku"
"Pak Miki mencoba melecehkan ku terlebih dahulu" Pekik Kinan.
Semua orang berkumpul, seorang sekuriti mencoba untuk melerai, dan Nuri tiba-tiba muncul dari kerumunan. Ia pun terlihat marah kepada Kinan.
"Kau, beraninya melukai atasanmu sendiri?"
Kinan tak menjawab. Ia tahu berdebat dengan Nuri tak akan membuatnya benar. Ia pasti akan tetap disalahkan.
"Ayo Pak! Kita ke rumah sakit" ajak Nuri kepada pria itu. Pak Miki pun pergi dengan senyum puas ke arah Kinan. Kinan melangkah dengan berat menuju Pantry. Tangannya dengan rapat menutupi dadanya yang terbuka. Sesampainya di Pantry, Kinan kembali menuju gudang kecil. Ia duduk diam didalamnya. Pandangannya kosong, kakinya bergetar. Air matanya jatuh juga.
... ***...
Raditya datang ke kantor dengan tergesa, segera ia berlari menuju Pantry. Beberapa karyawan melihatnya dengan aneh namun Radit tak mempedulikannya. Ia hanya ingin bertemu Kinan.
Ketika sampai, ia melihat Kinan berdiri bersama beberapa karyawan yang lain. Raditya tanpa basa basi memeluk Kinan dengan erat. Karyawan lain yang melihat itu hanya melongo, tak menyangka Boss mereka memeluk Kinan.
"Kau baik-baik saja?" tanyanya dengan panik. Kinan melepaskan pelukan Radit yang terengah seolah habis berlari puluhan kilometer.
"Saya baik-baik saja Boss" jawabnya terbata-bata. Ia tak ingin terlihat kikuk di depan karyawan lainnya.
"Jangan berbohong!"
Raditya melihat Kinan dari ujung kaki hingga ujung rambut. Yang mencurigakan adalah jaket yang ia kenakan kebesaran. Seperti bukan jaket miliknya. Radit membuka resleting jaket Kinan dan melihat seragam yang ia kenakan terbuka karena beberapa kancingnya terlepas.
"Dia...mencoba.. memperkosamu?" tanya Raditya dengan terbata-bata. Ia tak ingin mendengar jawaban iya. Namun Kinan tak menjawab, ia hanya tertunduk.
"Dimana bedebah itu?" bentak Radit. Semua karyawan terkejut namun tak ada yg berani menjawab. Hingga Bang Miko muncul dari balik pintu.
"Bu Nuri membawanya ke rumah sakit, Boss. Pak Miki terluka kepalanya."
Raditya menghempaskan nafas panjang, mencoba meredam emosinya yang sedang memuncak. Ia lalu menyuruh Kinan untuk mengobati luka di tangannya. Sementara itu Bang Miko mengikuti Raditya menuju ruangannya.
...***...
"Jelaskan apa yang terjadi? Kau yang bertanggung jawab atas kebersihan di departemen perencanaan kan? Bagaimana bisa Kinan berada disana? Bukankah ia hanya bertanggung jawab atas ruangan Presdir saja?" Raditya bertanya dengan cepat. Nada suaranya terdengar begitu marah dan khawatir. Bang Miko menunggu hingga atasannya itu bisa menguasai diri.
Raditya lalu duduk di atas kursi kerjanya. Bang Miko mengambilkan air mineral botol dan memberikannya kepada Raditya.
"Bu Nuri menyuruh saya untuk membersihkan ruang rapat departemen keuangan karena akan ada meeting penting jam 8. Saya menyuruh Ardy, OB baru untuk menggantikan saya. Saya tak tahu jika Ardi dipaksa Pak Miki untuk memanggil Kinan. Saya minta maaf Boss."
Raditya terdiam. Ia nampak berpikir.
"Kenapa Miki datang ke kantor jam 7 pagi? Ia pasti telah merencanakan ini sebelumnya. Ah Bajingan itu!" Raditya menggenggam tangannya dengan geram.
Bang Miko terdiam menunduk. Sebenarnya ia telah merasakan keanehan ketika Bu Nuri meneleponnya pagi-pagi menyuruhnya untuk membersihkan ruangan meeting yang biasanya dibersihkan oleh OB lainnya. Namun ia tak kuasa menolak permintaan Bu Nuri.
"Saya ijin kembali ke Pantry Boss" pamit Bang Miko. Radit mengangguk.
"Bang Miko.." panggil Radit menghentikan langkah kaki Bang Miko.
"Iya Boss"
"Berhentilah menjadi kaki tangan Nuri. Aku akan memberi dua kali lipat dari yang telah ia berikan kepadamu. Kau tahu tujuan Nuri sebenarnya, bukan? Kalau kau masih menganggap Kinan temanmu, lindungi dia."
Bang Miko tertunduk.
"Panggilkan karyawan IT dan minta mereka membawa rekaman cctv pada waktu kejadian. Aku akan menghukum mereka yang mencoba menyakiti Kinan."
"Baik Boss"
...***...
Mau ngorbanin anakmu yg tinggal satu2nya ini ya Nyonya, demi status dan gengsimu?
Apa Shandy ingin memanfaatkan Shanju, utk mendapatkan uang dari orang tua Juliana?