Zahra, gadis miskin yang bekerja sebagai buruh cuci, jatuh cinta pada Arkan, pemuda kaya, tampan, dan taat beragama. Cinta mereka tumbuh sederhana di warung kopi, masjid, dan lorong kampung. Namun hubungan itu terhalang perbedaan status sosial dan agama: Zahra muslim, Arkan Kristen. Kedua keluarga menentang keras, ibu Arkan menolak, ayah Zahra memohon agar iman dijaga. Zahra berjuang lewat doa, Arkan lewat pengorbanan. Cobaan datang bertubi-tubi: penyakit, pengkhianatan, dan konflik keluarga. Saat harapan muncul, tragedi menghancurkan segalanya. Kisah ini tentang cinta tulus, doa yang perih, dan perjuangan yang berakhir dengan air mata, takdir pilu memisahkan mereka selamanya dalam keheningan abadi sunyi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: Hancurnya Dunia Arkan
#
Esok harinya. Pukul delapan pagi.
Arkan duduk di kursi direkturnya. Meja penuh dokumen yang belum dibaca. Laptop menyala tapi layarnya cuma nunjukin screensaver. Kopi di sampingnya dingin. Nggak disentuh dari sejam yang lalu.
Matanya... kosong. Merah. Bengkak. Kayak orang yang nggak tidur berhari hari.
Karena memang nggak tidur.
Sejak Zahra tutup telepon lima hari lalu... sejak Zahra nggak buka pintu... Arkan... Arkan kayak zombie. Kerja cuma formalitas. Pulang cuma buat rebahan di sofa sambil natap langit langit. Makan cuma buat nggak mati.
Hidup... tapi nggak hidup.
"Zahra... kamu dimana... jawab telepon Zahra please..."
Dia udah nelpon ratusan kali. Udah kirim ribuan pesan. Tapi... tapi nggak ada jawaban. Nggak ada balasan. Kayak Zahra... kayak Zahra menghilang dari muka bumi.
TOK TOK TOK.
Ketukan pintu.
"Masuk." Suara Arkan serak. Parau.
Pintu terbuka. Alisha masuk. Wajahnya... serius. Sedih. Matanya merah. Kayak habis nangis.
"Pagi Arkan."
"Pagi Kak." Arkan nggak noleh. Cuma natap layar laptop. "Ada apa?"
Alisha diem sebentar. Jalan pelan ke meja Arkan. Taruh amplop coklat di atas dokumen dokumen yang berantakan.
Arkan ngeliat amplop itu. Dahi berkerut.
"Apa ini?"
"Dari... dari Zahra."
Deg.
Jantung Arkan berhenti sedetik.
"Z-Zahra? Kapan... kapan dia kasih ini?"
"Kemarin sore. Dia... dia dateng ke lobby. Minta tolong aku kasih ini ke kamu. Tapi... tapi dia bilang jangan kasih hari itu. Kasih besok. Jadi... jadi aku kasih sekarang."
Arkan langsung berdiri. Ambil amplop itu. Tangan gemetar.
"Zahra... Zahra kemarin kesini? Terus... terus dia kemana sekarang? Dia masih disini?"
"Nggak. Dia... dia langsung pulang setelah kasih ini."
"Kenapa Kakak nggak tahan dia?! Kenapa Kakak nggak bilang ke aku?! Aku... aku bisa ketemu dia! Bisa ngomong! Bisa—"
"Karena dia minta aku nggak bilang ke kamu." Alisha potong. Suaranya lembut tapi tegas. "Dia... dia bilang butuh waktu. Dan aku... aku harus hormat permintaan dia."
Arkan napas berat. Genggam amplop itu erat.
"Ini... ini apa sih isinya?"
Alisha diem. Nggak jawab.
Dan diamnya itu... diamnya itu udah jadi jawaban.
"Ini... ini surat perpisahan kan?" Arkan bisik. Suaranya gemetar. "Dia... dia mau ninggalin aku kan?"
"Arkan... baca dulu. Jangan... jangan kesimpulan sebelum baca."
Tapi Arkan udah tau. Dari cara Alisha ngeliat dia. Dari cara Alisha nggak bisa kontak mata. Dari cara... dari cara tangan Alisha gemetar waktu naruh amplop tadi.
"Zahra... kamu... kamu beneran mau pergi..."
Arkan jatuh duduk. Robek amplop itu. Tangan gemetar parah sampe kertas di dalemnya nyaris sobek.
Surat putih terlipat rapi. Dan... dan cincin perak.
Cincin yang dia kasih. Cincin janji mereka.
"Nggak... nggak... ini... ini nggak mungkin..."
Dia ambil surat itu. Buka lipatan. Mulai baca.
Dan... dan dunianya... dunianya runtuh.
---
Baris pertama.
*Untuk Mas Arkan yang Zahra sayang...*
Arkan udah nangis.
"Zahra..."
Dia lanjut baca. Setiap kata... setiap kalimat... kayak pisau yang nusuk jantung berkali kali.
*Mungkin Mas bingung kenapa tiba tiba Zahra nulis surat...*
"Aku nggak bingung... aku... aku cuma... cuma nggak mau kamu pergi..."
*Maafin Zahra udah bikin hidup Mas berantakan...*
"Kamu nggak bikin hidup ku berantakan... kamu... kamu yang bikin hidup ku ada arti..."
*Zahra nggak mau jadi alasan Mas kehilangan kebahagiaan Mas...*
"Tapi kamu ADALAH kebahagiaan aku!" Arkan teriak. Air mata ngalir deras. "Kamu... kamu nggak ngerti?! Kamu... kamu satu satunya yang bikin aku bahagia!"
Alisha melangkah maju. "Arkan..."
"JANGAN KAK! JANGAN DEKETIN AKU!" Arkan teriak. Napas ngos ngosan. "Biarkan aku... biarkan aku baca ini... biarkan aku... biarkan aku rasain sakit ini sendirian..."
Alisha mundur. Diem di pojokan ruangan. Nangis diam diam.
Arkan lanjut baca. Tangan gemetar. Air mata basahin kertas.
---
*Zahra inget... inget waktu pertama kali kita ketemu...*
"Aku juga inget... aku... aku nggak bakal pernah lupa... itu... itu hari terbaik dalam hidup aku..."
*Mas ngajarin Zahra banyak hal... ngajarin Zahra kalau cinta itu nggak liat status sosial...*
"Dan kamu ngajarin aku... ngajarin aku kalau cinta itu tentang keikhlasan... tentang... tentang rela berkorban... dan sekarang kamu... kamu berkorban dengan ninggalin aku... Zahra... kenapa... kenapa kamu harus semulia ini..."
*Tapi Mas... cinta itu nggak cukup...*
Arkan berhenti baca. Tutup muka pake tangan.
"CINTA ITU CUKUP! CINTA KITA CUKUP!" Dia teriak. Keras. Sampai kedengeran ke luar ruangan. "KENAPA KAMU NGGAK PERCAYA?! KENAPA KAMU... KENAPA KAMU MENYERAH?!"
Tapi surat itu nggak jawab. Cuma... cuma diam. Kayak Zahra yang udah pergi.
Arkan paksa diri lanjut baca meskipun napasnya udah sesak. Meskipun dadanya kayak mau meledak.
---
*Zahra udah ketemu Mama Mas... dia bilang Zahra nggak layak...*
"MAMA SALAH!" Arkan remas kertas surat itu. "Kamu layak! Kamu... kamu lebih dari layak! Kamu... kamu terlalu baik buat aku!"
*Dan tau nggak Mas? Yang paling sakit bukan kata kata itu... yang paling sakit itu... itu waktu Zahra sadar... sadar Mama Mas mungkin ada benernya...*
"NGGAK! NGGAK ADA BENERNYA!" Arkan banting meja. BRAK! Laptop nyaris jatuh. "Dia... dia cuma nggak ngerti! Dia... dia nggak kenal kamu! Dia nggak tau... nggak tau betapa mulianya hati kamu! Betapa tulusnya kamu! Betapa... betapa sempurnanya kamu buat aku!"
Napas Arkan makin cepat. Tangan gemetar. Dada naik turun.
"Zahra... please... jangan percaya kata kata Mama... jangan... jangan pikir kamu nggak layak... please..."
Tapi dia tau. Dia tau Zahra udah percaya. Udah... udah menanamkan pikiran itu di hati. Dan sekarang... sekarang nggak ada yang bisa Arkan lakuin.
Karena Zahra... Zahra udah pergi.
---
Dia lanjut baca. Meskipun setiap kata bikin dia pengen teriak. Pengen robek surat ini. Pengen... pengen lari ke Zahra dan bilang semua ini salah.
*Zahra nggak bermaksud ngeracunin pikiran Mas...*
"Kamu nggak ngeracunin! Kamu... kamu ngasih aku jalan! Ngasih aku... ngasih aku alasan buat cari kebenaran!"
*Sementara Mas... Mas masih ragu kan? Masih bingung kan?*
Arkan diem. Terdiam.
Karena... karena itu bener.
Dia masih ragu. Masih bingung. Masih... masih ada bagian dari dirinya yang nggak bisa lepas dari Yesus. Dari ajaran yang udah dia peluk sejak kecil.
Dan Zahra... Zahra tau itu.
"Zahra... maafin aku... maafin aku yang lemah... yang... yang nggak bisa segera yakin... maafin aku..."
Tapi penyesalan nggak bisa balik waktu.
---
*Jadi Mas... Zahra mau lepas Mas...*
"Jangan..." Arkan bisik. Suaranya pecah. "Jangan lepas aku... aku... aku nggak bisa hidup tanpa kamu..."
*Biar Mas bisa... bisa cari jalan sendiri...*
"Aku nggak mau cari jalan sendiri! Aku mau... aku mau cari bareng kamu! Kita... kita bisa lewatin ini bareng!"
*Biar Mas bisa... bisa balik ke kehidupan Mas yang dulu...*
"Aku nggak mau balik! Aku nggak mau hidup tanpa kamu! Kehidupan tanpa kamu itu... itu bukan kehidupan! Itu... itu neraka!"
Arkan nangis makin keras. Isakan keluar nggak terkendali.
"Zahra... kumohon... jangan... jangan tinggalin aku... aku... aku nggak kuat... aku... HIKS... aku butuh kamu..."
---
*Mas jangan cari Zahra lagi ya...*
"NGGAK! AKU BAKAL CARI KAMU! AKU BAKAL... AKU BAKAL TERUS CARI SAMPE KETEMU!"
*Jangan... jangan dateng ke kontrakan...*
"AKU BAKAL DATENG! AKU BAKAL BAWA KAMU BALIK!"
*Biar Zahra bisa... bisa move on...*
"AKU NGGAK MAU KAMU MOVE ON! AKU MAU KAMU... AKU MAU KAMU TETEP CINTA AKU KAYAK AKU CINTA KAMU!"
Tapi surat itu nggak peduli. Surat itu cuma... cuma lanjut dengan kata kata yang makin nusuk.
---
*Mas adalah cinta pertama Zahra... cinta terakhir Zahra... cinta satu satunya...*
Arkan berhenti nangis. Diam. Baca kalimat itu berkali kali.
"Aku... aku juga Zahra... kamu juga cinta satu satunya aku... kamu... kamu satu satunya alasan aku bangun tiap pagi... satu satunya... satu satunya alasan aku masih bernafas..."
*Tapi kadang... kadang cinta nggak cukup kan Mas?*
"CUKUP!" Arkan teriak sampe suaranya serak. "CINTA KITA CUKUP! KENAPA KAMU NGGAK PERCAYA?! KENAPA... HIKS... KENAPA KAMU... KENAPA KAMU NYERAH..."
Dia jatuh dari kursi. Duduk di lantai. Peluk lutut. Nangis kayak anak kecil yang kehilangan ibunya.
"Zahra... kumohon... jangan pergi... jangan... jangan tinggalin aku sendirian... aku... aku nggak bisa... nggak bisa tanpa kamu..."
Alisha nggak tahan lagi. Dia berlutut di samping Arkan. Peluk adiknya yang hancur.
"Arkan... nangis aja... keluarin semuanya... Kakak disini... Kakak nggak kemana mana..."
"Kak... sakit... sakit banget... dada ku... kayak... kayak ada yang sobek... kayak... kayak aku nggak bisa napas... Kak... tolong... tolong ilangin sakit ini... tolong..."
"Kakak nggak bisa Arkan... ini sakit yang... yang cuma waktu yang bisa obatin... cuma... cuma waktu..."
"Tapi aku nggak mau nunggu waktu! Aku mau Zahra! Aku... aku cuma mau dia! CUMA DIA!"
Arkan nangis makin keras. Teriak. Isak. Kayak orang gila.
Dan Alisha... Alisha cuma bisa peluk. Cuma bisa nangis bareng adiknya yang dunianya baru aja hancur.
---
Setelah... entah berapa lama. Sejam? Dua jam? Arkan akhirnya tenang. Nggak nangis lagi. Cuma... cuma diem. Kosong.
Dia ambil surat itu lagi. Baca bagian terakhir.
---
*Cincin yang Mas kasih... Zahra kembaliin ya Mas...*
Arkan ambil cincin perak itu. Pegang erat.
"Kamu... kamu kembaliin ini... berarti... berarti kamu beneran serius... beneran... beneran mau pergi..."
*Mas... Zahra doain Mas selalu...*
"Aku juga doain kamu Zahra... aku... aku doain kamu bahagia... meskipun... meskipun tanpa aku..."
*Zahra berharap... berharap suatu hari nanti... Mas bisa maafin Zahra...*
"Aku... aku nggak bisa maafin kamu Zahra... nggak bisa... karena maafin berarti aku... aku nerima kamu pergi... dan aku... aku nggak bakal pernah nerima..."
*Maaf ya Mas... maaf...*
Arkan lipat surat itu. Pelan. Hati hati. Kayak megang harta paling berharga di dunia.
"Aku yang minta maaf Zahra... maafin aku yang nggak bisa bikin kamu percaya... maafin aku yang... yang nggak cukup kuat buat kamu... maafin aku..."
*Zahra sayang Mas... selamanya...*
"Aku juga sayang kamu... selamanya... dan... dan aku nggak bakal berhenti... nggak bakal pernah berhenti..."
---
Arkan berdiri. Tiba tiba. Mata nya... mata nya berubah. Dari kosong jadi... jadi penuh tekad.
"Kak... dimana Zahra sekarang?"
"Arkan... dia bilang jangan cari dia—"
"AKU NGGAK PEDULI APA DIA BILANG!" Arkan teriak. "Dia... dia pikir dia bisa pergi kayak gini?! Pikir aku bakal diem aja?! NGGAK! Aku... aku bakal cari dia! Bakal... bakal bawa dia balik!"
"Arkan dengar Kakak—"
"NGGAK!" Arkan ambil kunci mobil dari meja. "Aku... aku harus ke kontrakan dia. Harus... harus ketemu dia. Harus bilang ke dia kalau... kalau aku nggak bakal lepas dia! NGGAK BAKAL!"
"Arkan tunggu—"
Tapi Arkan udah lari keluar. Lari ke lift. Turun. Lari ke parkiran.
Naik mobil. Nyalain mesin.
NGEEENG!
Dan dia ngebut. Ngebut keluar dari gedung. Ngebut di jalanan Jakarta yang macet. Ngebut... ngebut menuju kontrakan Zahra.
"Zahra... tunggu aku... aku... aku dateng... aku bakal bawa kamu balik... kita... kita bakal lewatin ini bareng... aku janji... aku janji..."
Tapi di hatinya... ada ketakutan.
Ketakutan kalau... kalau dia udah terlambat.
Ketakutan kalau Zahra... Zahra beneran udah pergi.
"Jangan Ya Allah... jangan biarkan aku terlambat... please... please..."
---
Tiga puluh menit kemudian. Arkan sampe di gang kontrakan Zahra. Gang yang becek. Sempit. Bau got.
Dia lari. Lari cepat. Napas ngos ngosan.
Sampe di depan pintu biru kusam yang catnya ngelupas.
TOK TOK TOK!
Dia ketuk pintu. Keras. Berkali kali.
"ZAHRA! ZAHRA BUKA PINTUNYA! AKU TAU KAMU DI DALEM! ZAHRA!"
Nggak ada jawaban.
"ZAHRA PLEASE! KITA NGOBROL! AKU... AKU NGGAK MAU KAMU PERGI! KITA... KITA BISA CARI JALAN BARENG! ZAHRA!"
Tetep nggak ada jawaban.
Arkan mulai panik. Dia pukul pintu makin keras.
BANG BANG BANG!
"ZAHRA! ZAHRA JAWAB AKU! JANGAN... JANGAN KAYAK GINI! PLEASE!"
Pintu sebelah terbuka. Bu Ria keluar. Wajahnya... sedih. Kasian.
"Nak Arkan..."
"Bu Ria! Zahra... Zahra ada di dalem kan? Tolong... tolong buka pintunya. Aku... aku harus ketemu dia. Harus—"
"Zahra nggak ada nak."
Arkan diem. Membeku.
"A-apa?"
"Zahra... Zahra udah pindah. Kemarin malem. Dia sama Bapak nya... mereka angkut barang barang mereka. Terus... terus pergi."
"P-pindah? Kemana? Kemana mereka pindah?!"
"Ibu nggak tau nak. Zahra... Zahra nggak bilang. Dia cuma bilang... bilang mereka mau mulai hidup baru. Di tempat lain. Jauh dari sini."
Arkan nggak bisa napas. Kayak ada yang nyekik leher.
"Nggak... nggak mungkin... dia... dia nggak mungkin pergi tanpa pamit... nggak mungkin..."
"Maafin Ibu nak. Ibu... Ibu juga sedih. Zahra itu... Zahra itu anak baik. Tapi... tapi mungkin dia punya alasan sendiri kenapa harus pergi."
"Alasan?! ALASAN APA?!" Arkan teriak. "Aku... aku cinta dia! Aku... aku bersedia ngapain aja buat dia! Kenapa... kenapa dia pergi?!"
Bu Ria diem. Nggak tau harus jawab apa.
Arkan jatuh duduk di depan pintu. Kontrakan kosong. Kontrakan yang dulunya ada Zahra. Sekarang... sekarang cuma... cuma kosong.
"Zahra... kamu... kamu beneran pergi... kamu... kamu ninggalin aku... tanpa... tanpa kata perpisahan terakhir... tanpa... tanpa kasih aku kesempatan..."
Dia nangis. Di depan pintu kosong. Di tengah gang becek. Di tengah... di tengah kehidupan yang tiba tiba jadi nggak ada artinya.
"Zahra... dimana kamu... dimana... aku... aku janji bakal cari kamu... bakal... bakal terus cari sampe ketemu... aku nggak bakal menyerah... nggak bakal..."
Tapi suaranya cuma bergema di gang sepi.
Nggak ada yang jawab.
Cuma... cuma angin yang lewat.
Dingin.
Kosong.
Kayak hati Arkan sekarang.
---
**BERSAMBUNG KE BAB 32: Pencarian Tanpa Henti...**