Di kantor, Cyan Liani (28 tahun) seorang atasan perempuan yang tegas, rapih, kaku, dan jutek. Netizen biasanya manggil pake julukan lain yang lebih variatif kayak; “Singa Ngamuk”, “Atasan Dingin” , “Ibu Galak”, dan “Perawan Tua”.
Sementara Magenta Kusuma (25 tahun) adalah anggota tim Cyan yang paling sering bikin suasana rapat jadi kacau. Pria ceroboh yang doyan ngeluarin celotehan humor, bikin seisi ruangan ketawa dan terhibur.
Hubungan mereka yang kayak dua kutub magnet itu nggak mungkin dimulai dari ketertarikan, melainkan dari kesialan-kesialan kecil yang mampir. Diskusi sering berakhir debat, sindiran dibalas sindiran, bertengkar adalah hal umum.
Kehidupan semerawut itu tambah parah ketika keluarga ngedorong Cyan ke pinggir jurang, antara dijodohkan atau memilih sendiri.
Terdesak dikejar deadline perjodohan. Cyan milih jalan yang paling nggak masuk akal. Yaitu nerima tawaran konyol Magenta yang selalu bertengkar tiap hari sama dia, untuk pura-pura jadi calon suaminya.
Cover Ilustrasi by ig rida_graphic
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Lift bergerak turun perlahan, hampir tidak menimbulkan suara. Berdengung lembut dari mesin yang sesekali terdengar, menemani angka-angka di panel digital yang menyala bergantian satu demi satu, bagaikan berada di ruang waktu. Terlalu pelan untuk pikiran Cyan yang justru terasa berisik sejak mereka meninggalkan kamar apartemen tadi.
Ia berdiri tegak di sisi kanan lift dengan tangan yang terkulai santai di sisi tubuhnya. Sementara Magenta berdiri dengan bahu bersandar ringan pada dinding lift. Jaket kulit hitam model biker melekat rapi, juga gaya rambut klimis yang tidak goyah. Ekspresinya kini sangat tenang. Ia berhasil menyelesaikan obrolan keluarga tanpa beban. Justru sebaliknya, ia lega bukan main. Setidaknya salah satu tantangan hubungan pura-pura ini berhasil ia lewati tanpa drama-drama berkelanjutan.
Cyan menatap lurus ke depan. Tidak ke panel angka apalagi ke pantulan kaca. Ia hanya menatap kosong dengan rahang mengeras dan napas yang memburu. Seolah tadi ia dikejar-kejar oleh zombie lift kesukaan Magenta.
Pikirannya kembali ke ruang tamu apartemen tadi. Cara ibunya yang tersenyum terlalu hangat ayahnya yang mengamati terlalu lama. Beberapa pertanyaan kini menggulung di kepalanya. Saling bertabrakan, seolah menuntut jawaban yang lebih dari sekadar kata-kata.
Apakah mereka percaya? Atau justru sudah mulai curiga?
Akan ada konsekuensi atas dua jalan yang berseberangan. Bagus jika mereka percaya, tapi bagaimana bila benar-benar didesak menikah dengan pria itu?
Ia menarik napas pelan, mencoba menenangkan diri. Namun, usahanya sia-sia. Kepalanya terasa penuh oleh berbagai kemungkinan yang mengusik hati kecilnya juga.
“Syan,” panggil Magenta lembut. Cyan tidak menoleh, pikirannya masih terburai ke mana-mana.
“Tadi gue yang bengong sekarang dia.” Inner Magenta keheranan.
“Hellow? Kamu masih di situ, Syan? Please, jangan sampai kerasukan. Aku nggak hapal doa lain selain ayat kursi,” canda Magenta tak membuat humor Cyan balik.
“Berisik kamu, Genta. Kepalaku sakit,” ucap Cyan akhirnya. Magenta menggumam, kembali bersandar di dinding lift dengan tatapan curi-curi pandang.
Tetiba ia membayangkan, bibir indah Cyan yang hampir berbentuk love sempurna itu ia kecup dalam diam. Pasti hangat dan lembut, terlebih Cyan belum pernah disentuh lelaki mana pun. Selain tentu aja Magenta yang menciumnya tanpa izin waktu kecelakaan ‘insiden selimut bolong’ di Bandung beberapa waktu belakangan.
“Anjir, gila lo, Gen! Pikiran macam apa ini?!” gumamnya merutuki diri sendiri.
Hingga seolah inginnya direstui semesta, tiba-tiba lift sedikit mengalami masalah. Guncangan yang lumayan hebat membuat keduanya tersentak dan bergerak dari posisi sebelumnya. Panik sekaligus takut, Cyan tentu tak ada pilihan lain selain lari ke pelukan Magenta.
“Aaaaaaa!”
Dan di sinilah mereka sekarang. Magenta yang sedikit mendongak karena kalah tinggi, sementara Cyan tepat di atasnya menutup mata. Cyan di pojok dinding, lalu wajah Magenta sangat dekat dengannya.
“Genta,” bisik Cyan lemah, seolah pasrah bila ini adalah akhir hidupnya.
“Iya, Syan?”
“Maaf kalau aku ada salah. Maaf kalau selama jadi atasan, aku terlalu kasar dan sering marahin kamu, maaf banget,” ucap wanita itu membuat Magenta memicing geli.
“What? Kamu jangan lebay banget, Syan. Kita cuma kejebak lift kampret ini doang, bukan kejebak perang dunia ketiga!”
“Ta-tapi ....”
Tanpa aba-aba, badan Magenta terlempar semakin ke arah dinding lift. Dan seperti yang diharapkan semuanya, sentuhan lembut di bibir Cyan yang masih terpejam terjadi tanpa disengaja. Namun, keanehan terjadi bukan karna tubrukan bibir secara tidak menusiawi itu, melainkan karena keduanya mulai sama-sama memposisikan diri seolah mencari dan menarik lebih jauh bibir orang di depannya. Cyan dengan refleks menunduk sedikit untuk memberi akses lebih bagi pria pendek yang tingginya cuma beda 10cm itu.
Mata mereka terpejam sambil melakukan kontak fisik yang awalnya tidak disengaja, tapi sialnya insting mereka menyuruh agar terus berlanjut. Lidah Magenta yang meliar, menyesap ke dalam sana, membuat gerakan lembut tapi konsisten. Sudah cukup membuat sekujur tubuh Cyan meremang geli tanpa alasan jelas.
Tubuhnya menempel sempurna di dinding lift, begitu cepat Magenta memutar posisinya. Ia memeluk pinggang Cyan, yang sontak saja gadis itu merasa dejavu. Ciuman pertama mereka di kamar hotel waktu itu kini terulang lagi. Bedanya Magenta lebih brutal, nyaris menyedot seluruh oksigen untuk Cyan.
Cyan meremas kuat baju Magenta, merasakan denyut jantungnya terlalu kencang hingga dadanya sakit. Ia bahkan kesulitan bernapas, mencuri sisa-sisa udara dari Magenta agar tidak mati konyol di lift menyebalkan itu.
Cyan mendorong tubuh Magenta ketika ia merasa tidak sanggup lagi menahan rasa pengap di dalam sana.
“Kamu gak masuk akal banget, Gen. Pelan-pelan dikit bisa kan?!” protes Cyan mengusap bibirnya. Magenta lagi-lagi terkekeh, lalu membantu Cyan menyeka sisa-sisa ciuman mereka di sekitar bibir Cyan.
“Kalau pelan-pelan nanti kurang berasa, Syan.”
“Tapi aku gak bisa napas!”
“Mau coba? Kamunya kurang pro kalau gitu. Balas aku juga dong.”
Magenta menciumi lagi, temponya dipelankan kali ini. Ia memberi kesempatan untuk Cyan agar membalas pagutannya juga. Tidak seperti ciuman pertama kali hari itu, di mana Cyan hanya pasrah. Untung saja Magenta tidak gelap mata.
“Emm ....” Cyan menahan suara, tidak ingin ada siapa pun yang mendengar meski Magenta sekalipun. Ia semakin meremas kuat baju Magenta, mengalihkan perasaan aneh di tubuhnya.
Tiada pergerakan lain selain diam. Benar-benar mematung, tetapi Magenta merasakan tubuh Cyan menghangat. Suhu tubuhnya meningkat, membuat pipi Cyan sedikit memerah. Hal itu membuatnya gemas dan ingin menembus lebih lama.
“Genta,” lirih Cyan ketika tak sanggup lagi mengimbangi.
“Hm?”
“Aku ....”
“Okay kalau capek, biar aku aja. Pada dasarnya kamu emang bloon kalau bukan urusan kantor.”
Magenta melanjutkan, tinggi badan membuat ia harus bikin kakinya jinjit dan menekan leher Cyan lebih dalam. Suara kecupan yang asing bagi Cyan itu menghiasi pendengarannya. Awalnya aneh, tetapi lama-lama terbiasa dan candu juga. Gurih dan legit, seperti menggigit apel segar yang baru saja dipetik.
“Mmm ...” Magenta menggumam, seolah lupa segalanya ketika berhadapan dengan Bos singa hutan yang biasanya mengamuk. Tidak salah orang banyak mengklaim bahwa wanita memang membuat para pria menjadi gila dan hilang arah.
Sementara gadis itu, semakin tak bisa mengendalikan napas sendiri. Jantungnya berdegup semakin kencang dan tak stabil. Rasanya akan meloncat keluar dari tempatnya dan tentu saja ia tak mau mati konyol di tangan Magenta.
Apa kata-kata orang nanti? Seorang atasan cantik ditemukan tewas karena habis berciuman dengan bawahannya sendiri?
Rasa sakit di leher Cyan akibat menunduk terlalu lama membuyarkan perempuan tinggi itu ke realita, dia terkejut sedikit melotot, belum sempat mencerna apa yang terjadi. Magenta yang lebih pendek 10 cm sadar duluan, buru-buru menarik wajahnya menjauh dan mundur.
“GEN ....”
“Sssshh, jangan berisik. Anggap aja lagi latihan siapa tau suatu saat kita kejebak di situasi begini dan ada banyak orang. See? Biar nggak kaku banget, Sayang,” potong Magenta membuat Cyan tersipu malu.
“INI MAH MODUS KAMU, BUKAN LATIHAN!”
“Tapi kamu ngebales juga tuh? Jangan munafik. Suka nggak? Suka kan? Suka dongg\~”
“GENTA!”
Lift berhenti berdenting pelan, disusul pintu lift yang terbuka perlahan.
Cyan melangkah keluar lebih dulu, lalu diikuti oleh Magenta. Lelaki itu mengikuti, tetap menjaga jarak meski berjalan seiringan. Dari suara sepatunya saja sudah dipastikan ia masih marah, setidaknya menyalahkan lift itu karena tiba-tiba bermasalah.
Magenta melirik sekilas ke arah Cyan sambil terus berjalan menuju lobby.
“Duh … mendadak banyak jangkrik di sini, ya,” gumam Magenta yang ternyata masih bisa didengar Cyan.
Gadis itu menoleh, sempat terdiam mencerna maksud pemuda ini.
“Jangkrik? Apa, sih? Orang di ruangan dingin gini.”
“Iya, maksudnya garing banget. Gitu aja nggak ngerti. Jangan-jangan isi otakmu kesedot habis bareng bibirmu barusan. Aneh, padahal aku nggak narik kekencangan lho,” sambung Magenta cengengesan.
“JANGAN. ASAL. NGOMONG!!”
“Duh keceplosan, sorry Bu Bos, hehe.”
Cyan tetap berjalan dalam diam, pandangannya lurus ke depan, langkahnya tetap dijaga. Namun kali ini, diamnya terasa berbeda. Tatapan Cyan terlalu fokus hingga bahunya menegang. Hal sepele yang mungkin tak akan diperhatikan oleh orang lain, tapi tidak luput dari pengamatan Magenta.
Mungkinkah ia masih membeku karena ciuman singkat tadi?
Magenta melambatkan setengah langkah, memastikan dirinya tidak salah menangkap sinyal itu.
“Kamu kenapa deh?” tanya Magenta akhirnya.
“Aku gak papa.”
Magenta menghembuskan napas pelan, lalu kembali berjalan sejajar lagi dengannya. Beberapa langkah berlalu dalam diam, sebelum ia kembali bersuara.
“Kamu kelihatan gelisah banget, Syan. Karena tadi?”
Cyan tetap tidak menjawab dan itu seakan memberi tanda bahwa ia sedang tidak ingin menjawab apa-apa. Magenta berhenti sejenak, tepat sebelum pintu kaca lobby. Cyan yang menyadari langkahnya terhenti, otomatis ikut berhenti. Mereka berdiri di sana, berhadapan dengan pantulan samar cahaya luar yang jatuh lembut ke wajah Cyan.
“Kalau gak ada apa-apa kamu gak bakal kayak gini.”
Tatapannya bertemu dengan Magenta, tetapi kali ini lebih jinak.
“Aku cuma takut,” katanya akhirnya.
“Takut kenapa? Takut ketauan kita ciuman barusan?”
Cyan menghela napas panjang. Ia menunduk, seolah pasrah menghadapi badai besar di depan sana kelak.
“Bukan itu, soal …,” ucap Cyan pasrah.
Magenta kini benar-benar serius, menatap dan menunggu Cyan mengatakan sesuatu tanpa ingin memotongnya.
“Aku takut kalau orang tuaku tau.”
“Tahu apa? Tahu kita ciuman di Bandung? Atau tadi kita ciuman di lift?” tanya Magenta meski ia sudah bisa menebaknya.
“Ih! Serius dikit bisa, ‘kan!”
“Hahaha … oke, takut apa, sayang?”
“Takut ketauan kalau kita itu cuma pura-pura pacaran.” Cyan memalingkan wajahnya sedikit, seolah malu dengan pengakuannya sendiri.
“Tadi, aku ngerasa kayak satu kesalahan kecil aja, semuanya bisa kelihatan. Aku takut mereka syok kalau tau ini semua sandiwara. Mereka udah tua, aku nggak tega aja.”
Magenta tidak langsung menjawab. Ia mengambil satu langkah, mendekat dan memperkecil jarak yang sudah ada sejak tadi.
“Syan. Dengerin aku.”
Cyan menoleh lagi.
Magenta mengangkat tangannya perlahan, memberi waktu. Lalu, dengan gerakan tenang, ia menggenggam tangan Cyan. Bukan tiba-tiba, karena ia melakukannya dengan penuh kesadaran.
Cyan tersentak kecil, matanya melebar sesaat. Lalu, alih-alih menarik diri, jemarinya justru membalas menggenggam tangan Magenta dengan kuat, seolah hanya genggaman itu satu-satunya hal yang membuatnya tetap bertahan hingga detik ini. Setidaknya cukup membantu, napas yang semula memburu sesak, perlahan stabil dengan sendirinya.
“Aku yakin orang tua kamu pasti percaya. Mereka percaya, karena tadi mereka lihat kamu nyaman sama aku. Buang jauh-jauh pikiran jelekmu itu.”
Cyan mengernyit kecil.
“Kamu kelihatan santai banget tadi dan itu disimpulkan mereka sebagai tanda nyaman. Itu udah cukup banget.”
Kalimat itu membuat Cyan terdiam. Ia tidak langsung membantah, tidak juga mengiyakan. Magenta juga tidak buru-buru melanjutkan. Ia memberi jeda, memastikan Cyan benar-benar mendengarkan.
“Awal atau akhir, orang tua kamu mungkin akan tahu semuanya.”
Cyan menelan ludah. Kerongkongannya perih seolah dia lagi debus nelen beling macem Limbad di acara TV. Rasa khawatir berlebihan bikin dia nggak tenang.
“Dan kalau suatu hari itu terjadi itu emang gak akan sesederhana yang kamu bayangkan.”
“Tapi satu hal yang perlu kamu ingat! Jangan pernah pendam semuanya sendiri, Syan.”
“Ada aku di sini. Kamu gak harus menghadapi ini sendirian. Dan … asal kamu tau, aku punya backup plan, kalau memang itu semua terjadi.”
“Rencana cadangan? Apa?”
“Udah, kamu nggak usah banyak pikiran. Jalanin dulu yang ada sekarang. Percaya sama bawahan kamu yang ganteng nggak ada obat ini.”
Cyan tersipu, menyembunyikan senyum khasnya ketika salah tingkah. Ia buru-buru menarik senyum itu sebelum Magenta menyadarinya. Hingga beberapa saat berlalu, tercipta hening di ruang sepi tanpa seseorang pun di sana. Diam yang menjadi pertanda bahwa keduanya sama-sama hanyut dalam perasaan, tetapi enggan mengungkapkan.
“Senyum dong. Kalau cemberut gitu jelek banget sih jujur, kek kuntilanak jangkung,” ucap Magenta terkekeh geli.
“KURANG AJAR!”
“Eitss ... jangan marah cinta. Kamu cantiknya berkurang kalo lagi panik gitu.”
“Kamu itu ish,” decak Cyan sebal, justru menambah kesan imut di wajahnya.
“Kenapa? Makanya senyum dong, Sayang.”
“Berisik, Genta.”
“Tuh kan … salting lagi dia! Hahaha!”
Tawa Magenta pecah, mencairkan atmosfer buruk yang menyelimuti sejak tadi. Wajah Cyan yang semula sendu murung pun perlahan luruh. Sekuat apa pun disembunyikan, jelas tidak menutup kemungkinan bahwa ia sulit berbohong kepada siapa pun.
Akhirnya, Magenta melepaskan genggaman tangannya dengan hati-hati, seolah ia takut ada sesuatu berharga yang tertinggal.
“Aku pulang dulu, ya,” katanya pamit.
“Hati-hati.”
Magenta melangkah pergi, melewati pintu kaca. Kini, bayangannya memudar bersama cahaya malam. Sekarang Cyan berdiri sendiri di lobby. Kembali sepi dan sunyi tanpa canda tawa pria itu.
Untuk beberapa detik, ia tidak bergerak. Hanya berdiri di tempatnya, menikmati saat-saat kepergian Genta yang mungkin sulit direlakan begitu saja.
Suara pintu kaca yang tertutup di depannya sudah lama mereda, tetapi gema kepergian itu masih terasa. Cyan menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan.
Kepalanya memang tidak lagi berisik seperti tadi. Pertanyaan-pertanyaan yang semula saling bertabrakan, kini mereda, meski tidak sepenuhnya memudar.
Ia kembali mengingat kata-kata Magenta. Tentang kenyamanan, menjadi diri sendiri, juga tentang tidak harus menghadapi semuanya sendirian.
“Makasih banyak. Makasih banget. Lo hadir di saat gue lagi kacau-kacaunya dan buntu sama diri sendiri. At least kalau memang nggak jodoh, setidaknya kita tetap jadi partner yang baik.”
Sementara di tanah parkiran sana, Magenta bersorak senang sambil menyentuh bibirnya sesekali.
“Yes, gue berhasil dapetin first kiss-nya lagi selain di Bandung dan di bibir cangkir waktu itu! Amazing, Genta! Haha!”
“Dih … ngapain dia joget-joget begitu? Dasar orang gila,” batin Cyan mengintip dari atas jendela apartemen.
jadi senyum" sendiri kan keinget ciuman di bandung🤣