Ketika kabar bahagia berubah duka. Cinta yang dia impikan telah menjadi hal paling menyakitkan. Pertemuan manis, pada akhirnya adalah hal yang paling ia sesali dalam hidupnya.
Mereka dipertemukan ketika hujan turun. Lalu, hujan pulalah yang mengakhiri hubungan itu. Hujan mengubah segalanya. Mengubah rasa dari cinta menjadi benci. Lalu, ketika pertemuan berikutnya terjadi. Akankah perasaan itu berubah lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab*33
Avin mengangguk pelan. Senyum kecil langsung ia perlihatkan. "Mm ... baiklah. Jika itu kata putri mahkota, kakak pangeran akan mendengarkannya."
Ain langsung terkekeh. "Kak Avin masih saja gokil yah. Udah tua ih ... masa iya mau main putri-putrian lagi. Geli ah."
"Eh ... tapi kan, tetap saja kamu adalah putri bungsu kesayangan kami, Ain."
"Suka-suka kak Avin aja deh kalo gitu."
"Mmm .... "
...
"Tuan muda. Sudah ketemu."
Seketika, Rain yang sedang duduk langsung bangun dengan cepat. "Apa? Di mana?"
"Apartemen dibawah kekuasaan kita, tuan muda. Ini dia," Dion berucap sambil menunjukkan lokasi apartemen dari tablet yang ada di tangannya.
Dengan penuh semangat, Rain meraih benda pipih tersebut. Senyum kecil nan singkat langsung terlukis di bibir pria tersebut. "Bagus. Akhirnya, usaha kita tidak sia-sia."
"Dion."
"Iya, tuan muda."
"Ke sana sekarang. Ah, tidak. Biar aku pergi sendirian saja. Kamu, siapkan buket bunga tulip untukku."
"Hah? Ba-- baik, tuan muda."
Baru juga mau beranjak. Tiba-tiba, Rain merasakan perasaan perih yang tiba-tiba menusuk perutnya. Langkah Rain langsung terhenti seketika.
"Tuan muda." Panik Dion saat melihat wajah pucat yang Rain perlihatkan. "Kenapa, tuan muda? Saya panggilkan dokter sekarang juga."
"Tidak perlu, Dion!" Rain menolak dengan cepat. "Aku baik-baik saja."
"Tapi-- "
"Aku tidak bisa menunda kepergian ku untuk melihat Aina, Dion. Sudah cukup aku kehilangannya lima tahun yang lalu. Sekarang, aku tidak bisa kehilangannya lagi."
"Tapi kondisi tuan muda saat ini sangat tidak memungkinkan. Maag tuan muda mungkin kambuh lagi sekarang."
"Aku masih kuat. Begini saja, kamu ikut aku. Tugaskan anak buah yang lain buat membelikan buket bunga tulip untukku. Lalu, minta dokter Rika datang ke apartemen. Minta dia bawakan aku obat ke sana, Dion."
Pada akhirnya, tidak ada yang bisa Dion lakukan untuk mencegah keinginan Rain. Dia hanya bisa pasrah. Mengikuti apa yang tuan mudanya inginkan.
Dion cukup maklum akan hal tersebut. Lima tahun penantian, lima tahun hidup dalam penderitaan. Sekarang, akhirnya yang dinantikan datang. Wajar jika Rain memperjuangkannya sekuat tenaga.
"Tuan muda. Sedikit lagi kita akan sampai. Tuan muda yakin, baik-baik saja sekarang?"
"Iya, aku yakin. Aku baik-baik saja. Hanya sedikit perih, dan itu tidak akan jadi masalah. Kamu tenang saja, Dion."
"Baiklah. Semoga memang baik-baik saja, tuan muda." Dion berucap pelan.
Saat sampai ke tempat yang ingin mereka tuju, Rain malah tidak bisa menunggu lagi. Dia langsung beranjak meninggalkan mobil tanpa mendengarkan apa yang Dion katakan.
"Tuan muda. Tunggu dokter Rika sebentar saja lagi. Dia akan sampai sebentar lagi, tuan muda."
"Aku baik-baik saja, Dion. Tidak perlu menunggu dokter Rika. Aku sangat baik," ucap Rain sambil berjalan dengan cepat.
"Astaga." Dion berucap pelan sambil mengikuti Rain dari belakang.
Tuan mudanya memang sangat keras kepala. Sangat susah untuk di kasi tahu. Apalagi itu tentang wanita pujaan hatinya. Mana bisa dia menunggu. Walau sedang sakit, dia akan terus maju jika itu urusan Ain.
"Agh!" Rain kembali mengeluh gara-gara rasa sakit yang ada di perutnya.
Sontak, Dion langsung mendekat. "Tuan muda. Apa tidak sebaiknya, kita tunggu dokter Rika dulu. Anda tidak bisa bertemu dengan nona Aina dengan kondisi yang sakit seperti ini."
Rain langsung mengangkat satu tangannya.
"Tidak, Dion. Aku tidak sakit. Aku baik-baik saja. Aku tidak lagi bisa menunggu. Aku tidak ingin kehilangan dia lagi."
Dion hanya bisa mendegus pelan. Tidak ada kata yang berani ia ucapkan di depan tuan mudanya untuk saat ini. Tapi, dalam hati dia berucap. 'Ya Tuhan. Cinta yang seperti apa yang tuan muda punya? Sampai-sampai, rasa sakit bisa ia abaikan hanya untuk bertemu dengan wanita yang ia cintai. Cinta ini, cukup menakutkan ternyata. Sampai tuan muda tidak perduli dengan dirinya lagi. Hah .... '
Tangga lift akhirnya membawa mereka ke lantai yang ingin mereka datangi. Sejenak berjalan, kamar yang ingin mereka tuju akhirnya ketemu.
Hanya dengan menatap kamar tersebut, hati Rain sudah terasa berbunga-bunga. Tangan kurus itu tidak sabar lagi untuk menyentuh pintu apartemen yang sedang tertutup rapat.
Gegas, tangan Rain mengetuk pintu tersebut dengan perasaan yang bercampur aduk. Sesaat kemudian, pintu terbuka secara perlahan. Manik mata Rain langsung terlihat bercahaya. Dengan penuh harap, dia menatap ke arah pintu tersebut.
Kebetulan yang sangat membahagiakan hati Rain. Yang sedang menyambutnya adalah wanita yang sangat ia harapkan. Senyum seketika terkembang.
"Aina."
Sementara Rain bahagia bukan kepalang karena pertemuan itu, Aina malah kaget bercampur kesal. Sungguh, hal yang tak pernah ia harapkan malah ada di depan matanya saat ini. Bagaimana hatinya tak merasakan perasaan kesal, coba?