NovelToon NovelToon
Garis Tangan Nona Kedua

Garis Tangan Nona Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Dunia Lain / Spiritual / Time Travel / Reinkarnasi
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: ImShio

Lilian Zetiana Beatrixia. Seorang mahasiswi cantik semester 7 yang baru saja menyelesaikan proposal penelitiannya tepat pada pukul 02.00 dini hari. Ia sedang terbaring lelah di ranjangnya setelah berkutat di depan laptopnya selama 3 hari dengan beberapa piring kotor yang tak sempat ia bersihkan selama itu.

Namun bagaimana reaksinya ketika keesokan harinya ia terbangun di sebuah ruangan asing serta tubuh seorang wanita yang bahkan sama sekali tak ia kenali.

Baca setiap babnya jika penasaran, yuhuuuu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ImShio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kuda untuk Zetian

Langkah mereka sempat terhenti di ujung pasar.

Wu Zetian berjalan lebih dulu dengan beberapa kantong belanjaan di tangannya, sementara Ningning mengikutinya dari belakang dengan kondisi yang sama. Namun baru beberapa langkah meninggalkan hiruk-pikuk pasar, Ningning tiba-tiba berhenti. Alisnya berkerut, matanya menatap kosong ke arah jalan yang berdebu.

“Zetian,” panggilnya pelan.

Wu Zetian menoleh. “Ada apa?”

Ningning tidak langsung menjawab. Ia menepuk keningnya sendiri pelan, seperti seseorang yang baru menyadari telah melupakan hal penting. Napasnya tertahan sesaat sebelum akhirnya ia menghela napas panjang.

“Sebentar,” katanya akhirnya. “Aku hampir lupa sesuatu.”

Zetian mengernyit, namun tidak mendesak. Ia hanya berdiri menunggu, memperhatikan Ningning yang tampak ragu namun mantap pada saat bersamaan. Tanpa menjelaskan apa pun, Ningning berbalik arah dan mulai berjalan menyusuri sisi pasar yang berbeda. Bukan ke arah kios, bukan pula ke arah jalan keluar.

Zetian terkejut.

“Ke mana kita?” tanyanya sambil menyusul.

Ningning tidak langsung menjawab. Langkahnya cepat, melewati lorong-lorong sempit yang jarang dilalui orang. Bau jerami, kotoran hewan, dan suara ringkikan mulai terdengar samar. Semakin jauh mereka berjalan, semakin asing tempat itu bagi Wu Zetian.

Baru saat itulah ia menyadari. Di hadapan mereka terbentang area luas berpagar kayu. Deretan kandang berdiri rapi, masing-masing dihuni kuda-kuda dengan postur gagah dan bulu mengilap. Beberapa peternak terlihat sibuk menyisir surai, membersihkan kuku, atau memberi makan.

“Kita… ke peternakan kuda?” suara Zetian terdengar nyaris tidak percaya.

Ningning tersenyum kecil.

“Iya.”

Wu Zetian berhenti melangkah karena bingung.

“Ningning, untuk apa kita ke sini?” tanyanya pelan.

"Adalah pokoknya." Jawab Ningning. Ia sudah lebih dulu menghampiri seorang pria paruh baya yang tampak sebagai pemilik peternakan. Percakapan mereka berlangsung cukup lama. Wu Zetian hanya bisa berdiri beberapa langkah di belakang, mendengar potongan suara yang tidak jelas tentang usia kuda, kekuatan kaki, daya tahan, dan jalur perjalanan.

Tak lama kemudian, Ningning menunjuk ke arah dua ekor kuda.

Satu berwarna cokelat tua dengan surai hitam mengilap, matanya tajam namun tenang. Yang satu lagi berwarna putih keabu-abuan, tubuhnya lebih ramping namun tampak lincah.

Wu Zetian tampak diam dan bingung.

Ia melihat Ningning menyerahkan sekantong uang kepada pemilik peternakan. Kantong itu nampak berat, bahkan dari jarak beberapa langkah, bunyi koin emasnya terdengar jelas.

Pemilik peternakan tersenyum lebar dan membungkuk hormat.

“Terima kasih atas kepercayaannya,” ucap pria itu.

Ningning mengangguk ringan.

“Tolong rawat pelana dan tali kendalinya. Kami akan langsung membawanya pergi.”

Wu Zetian melangkah maju dengan wajah pucat.

“Ningning…?”

Gadis itu menoleh dengan ekspresinya tenang.

“Apa yang kamu lakukan?” tanya Zetian.

Ningning berjalan mendekat, lalu berhenti tepat di hadapannya.

“Aku membeli kuda.”

“Kuda?” Zetian menelan ludah. “Dua?”

Ningning mengangguk.

“Satu untukku. Satu untukmu.”

Kata-kata itu membuat kepala Wu Zetian berdengung.

“Tidak, itu terlalu mahal.”

Ningning tersenyum kecil, seolah sudah menduga reaksi itu. Wu Zetian terdiam dengan sejumlah uang yang dikeluarkan oleh Ningning untuknya. Jumlah yang bahkan belum pernah ia sentuh sepanjang hidupnya di dua dunia.

Ia menggeleng keras.

“Aku tidak bisa menerimanya.”

Ningning mengerjap.

“Kenapa?”

Zetian menarik napas dalam-dalam,

“Ini terlalu berlebihan. Kita bahkan baru saling mengenal. Aku tidak bisa menerima pemberian semahal ini darimu.”

Ningning menatapnya dalam-dalam, lalu berkata lembut,

“Zetian, ini bukan pemberian.”

“Lalu apa?” balas Wu Zetian.

“Ini investasi.”

Zetian terkejut.

“Investasi?”

Ningning mengangguk.

“Kamu tinggal jauh dari kota. Jalan kaki sepuluh kilometer setiap kali ke pasar bukan hal yang masuk akal, apalagi dengan kondisi tubuhmu.”

Wu Zetian mengatupkan bibir.

“Tapi aku bahkan tidak tahu cara menunggangi kuda.”

Ia menunduk sedikit, suaranya jujur tanpa dibuat-buat.

“Untuk apa memberiku kuda jika aku hanya akan jatuh sebelum bisa melaju sepuluh langkah?”

Ningning tertawa kecil

“Itu bukan masalah.”

“Bagaimana bisa bukan masalah?” Zetian mengangkat wajahnya. “Aku benar-benar tidak bisa.”

Ningning melangkah mendekat dan menepuk bahu Zetian dengan ringan.

“Kalau begitu, aku akan mengajarimu.”

Zetian terdiam.

“Kamu?” tanyanya ragu.

“Iya,” jawab Ningning mantap. “Aku tumbuh di dekat barak prajurit. Kakekku mengajariku berkuda sejak kecil.”

Wu Zetian menggeleng pelan.

“Aku tidak ingin merepotkanmu lebih jauh.”

Ningning menatapnya serius.

“Zetian, kamu sudah memberi seluruh uangmu pada orang asing yang kelaparan tanpa berpikir dua kali. Dibandingkan itu, seekor kuda tidak ada apa-apanya.”

Ucapan itu menghantam hati Wu Zetian tepat sasaran. Ia terdiam lama.

Akhirnya, ia menghela napas panjang, seolah melepaskan beban yang menekan dadanya.

“Kalau begitu…” katanya pelan, “…aku akan menerimanya. Tapi aku akan membalasnya suatu hari nanti.”

Ningning tersenyum hangat dengan kepribadian Wu Zetian.

“Aku akan menagihnya.”

 

Belajar berkuda ternyata tidak semenakutkan yang Wu Zetian bayangkan.

Awalnya, tangannya gemetar saat menggenggam tali kendali. Kakinya terasa kaku, punggungnya tegang. Namun Ningning berdiri di sampingnya, sabar, menjelaskan satu per satu cara duduk, cara menyeimbangkan tubuh, cara bernafas mengikuti gerak kuda.

“Jangan melawan gerakannya,” kata Ningning. “Ikuti.”

Zetian mengangguk.

Beberapa kali ia hampir terjatuh, beberapa kali kuda berhenti mendadak. Namun anehnya, tubuhnya cepat beradaptasi. Ingatan Wu Zetian entah milik siapa seolah menyerap gerakan itu dengan cepat.

Tidak sampai satu jam, ia sudah mampu mengendalikan kudanya berlari kecil.

Ningning menatapnya dengan mata membulat.

“Kamu cepat sekali belajar.”

Zetian sendiri terkejut.

“Aku juga tidak tahu kenapa.”

Ia tersenyum kecil, untuk pertama kalinya sejak terbangun di dunia ini, senyum yang benar-benar ringan.

 

Matahari mulai condong ke barat saat mereka meninggalkan pasar.

Kini mereka tidak berjalan kaki. Mereka menunggang kuda, melintasi jalan setapak dengan angin sore menerpa wajah. Rambut Wu Zetian berkibar pelan, wajahnya yang masih pucat tampak sedikit lebih hidup.

Namun mereka tidak menyadari. Di kejauhan, dua sosok berpakaian gelap berdiri di balik bayangan pepohonan.

Sejak Wu Zetian menyerahkan seluruh uangnya kepada ibu dan anak di pasar, dua pasang mata itu tidak pernah lepas dari punggungnya.

“Wanita itu menarik,” gumam sosok yang berdiri lebih tinggi, auranya dingin dan menatap tajam ke arah Wu Zetian.

Tatapannya kini mengikuti Wu Zetian yang kini menunggang kuda dengan tenang, seolah dunia tidak pernah menindasnya.

Bibirnya melengkung tipis.

“Ikuti mereka,” perintahnya dingin kepada prajurit bayangan di sisinya.

Dua sosok itu menghilang di antara pepohonan. Sementara Wu Zetian, tanpa menyadari apa pun, melaju pulang menuju takdir yang perlahan mulai bergerak.

__________

Yuhuuuu💓

Maaf ya teman-teman karena Author cuma bisa up 1 chapter hari ini karena banyak kerjaan.

Jangan lupa beri dukungan dengan cara like, komen, subscribe, dan vote karya-karya Author yaa~💖

See youu~

1
Wahyuningsih
💪💪💪💪💪💪💪💪💪
Murni Dewita
double up thor
Murni Dewita
next
Murni Dewita
lanjut
Murni Dewita
👣
xiaoyu
gaaass truuss
Wahyuningsih
thor upnya dikit amat 😔😔 amat aja gk dikit 😄😄😄klau up yg buanyk thor n hrs tiap hri makacih tuk upnya thor sehat sellu thor n jga keshtn tetp 💪💪💪
Wahyuningsih
lanjut thor yg buanyk upnya thor n hrs tiap hri jgn lma2 upnya thor makacih tuk upnya thor sehat sellu n jga keshtn tetp 💪💪💪
☘️🍁I'mShio🍁☘️: Siaaap kak, dan terimakasih dukungannya🥰
Sehat selalu💖
total 1 replies
Wahyuningsih
mantap thor wu zetian dpt ruang dmensi mkin sru 😄😄😄
Wahyuningsih
thor hrs kasih bnuslah ruang dimensi biar mkin seru bikin wu zetian badaz abiz
☘️🍁I'mShio🍁☘️: Hehe sabar yaa kak, nanti ada kok🤭
total 1 replies
Wahyuningsih
q mampir thor, moga2 jln critanya bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!