Serah Spencer adalah seorang Ratu yang terkhianati oleh tunangannya sendiri, Raja Louis dari kerajaan Mathilda.
Awalnya ia mengira dengan status pertunangannya akan membawa ketenangan juga kedamaian untuk rakyat dan kerajaannya di Regina yang sedang menjadi wilayah perebutan. Namun, setelah mengetahui rencana Louis yang licik, Serah memutuskan untuk tak tinggal diam.
Dia akan membalas Louis dan berdiri sendiri demi kerajaannya. Namun, sebelum itu ia harus lolos dari genggaman Louis.
Apakah Serah akan berhasil kembali ke kerajaannya sendiri yang sedang menjadi wilayah konflik antar Raja Louis dan Raja Grenseal? Sementara kedua Raja itu mulai jatuh cinta kepada Serah.
Apa yang akan dilakukannya nanti untuk melawan Louis sekaligus melindungi kekuasaannya sebagai Negeri yang bebas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poporing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10 : Pertemuan di bawah bulan purnama
Serah berada sendirian saat ini di dalam ruangannya. Cristine sudah undur diri sejak satu jam lalu. Ia tampak merenung dan masih memikirkan soal pertemuan yang akan diselenggarakan.
Rembulan kala itu tampak terang bersinar dengan anggun di atas permadani hitam dengan taburan cahaya bagai kilau berlian yang ikut mendampingi. Serah menatap ke atas sana dengan hati rindu. Sudah berapa malam ia lewatkan tanpa kerajaan Regina?
Wanita itu menghela napas tatkala ia ingat kalau keputusannya untuk menerima pinangan dari Louis demi menjaga kedamaian dan stabilitas kerajaannya ternyata adalah keputusan yang salah. Siapa yang menduga, Louis yang ia percayai justru merencanakan kejatuhannya setelah ia menikah dan diangkat menjadi Ratu nanti. Pria itu bahkan sudah mempersiapkan penggantinya dari jauh-jauh waktu, Helena.
Mengingat ucapan pria itu membuat dadanya terasa panas kembali. Bukan karena ia merasa cemburu, tapi lebih karena kepercayaannya dikhianati oleh Louis. Dia sudah bertaruh, mempercayakan seluruh kesejahteraan rakyat dan kerajaan Regina kepada orang yang salah. Entah apa jadinya kalau Louis benar-benar berhasil menguasai kerajaan kecil milik Serah. Apakah pria itu akan berbaik hati kepada rakyatnya? Jawabannya tentu tidak.
Sekarang hal yang harus segera Serah lakukan adalah keluar dari kerajaan Mathilda dengan kepala yang utuh. Tapi ia tau Louis terlalu berambisi dan melarikan diri tidak menyelesaikan masalah. Makanya dia memiliki rencana lain dengan memanfaatkan Helena. Kalau sampai rumor perselingkuhan itu tersebar, Serah akan memiliki alasan untuk memutuskan hubungan dan sebisa mungkin Serah akan membuat Louis bosan kepadanya, jadi pria itu pasti akan mencari pelarian kepada wanita lain, entah Helena atau siapapun.
Sedikit demi sedikit dia akan mulai menanamkan kecurigaan orang-orang akan skandal di antara Louis dan Helena.
"Louis, aku ingin tau apa reaksimu, ketika pion milikmu lah yang akan menyerang balik?"" Ucapnya dengan senyuman puas di bibir.
.
.
Malam memang semakin larut tapi kedua-matanya belum bisa terpejam, hingga akhirnya Serah memutuskan untuk bangun dari ranjang empuknya, membuka selimut dan berjalan ke arah pintu. Di sampingnya ia mengambil mantel bulu besar berwarna biru gelap yang tergantung pada gantungan berdiri dari kayu yang kokoh dan tebal. Dipakainya mantel itu sebelum kemudian ia berjalan keluar.
Ia berjalan dari lorong kamar menuju lorong utama, untuk sekedar berjalan-jalan mencari udara malam yang terasa lebih dingin. Beberapa pengawal masih ada yang berjaga dan membungkuk saat melihat kehadirannya. Mereka tak berani berkomentar meski pemandangan Serah yang berjalan sendiri ada malam hari sangatlah tak biasa. Namun, siapa yang mau mengurusi urusan calon Ratu kalau bukan ada perintah dari Louis?
Langkahnya terhenti sejenak ketika ia berpapasan dengan Beatrice, sang kepala pelayan. Tampaknya wanita itu baru saja selesai dengan tugasnya untuk mengecek semua keadaan ruangan pelayan. Beatrice yang melihat Serah dari kejauhan langsung berjalan cepat menghampiri.
"Selamat malam, Yang mulia," ucapnya membungkuk.
"Lady Beatrice," balas Serah tersenyum dan memberi anggukan kepala.
"Malam-malam begini, kenapa anda keluar sendirian? Di mana Lady Cristine?" Ujarnya penuh tanda-tanya.
"Aku meminta Lady Cristine untuk istirahat lebih awal, karena aku tak ingin dia menungguku menulis sampai larut," jawab serah menjelaskan kenapa Cristine tidak ikut mendampinginya.
"Lalu, sekarang apa yang anda mau lakukan sendirian?" Beatrice masih penasaran sepertinya dan berusaha menyelidiki lebih dalam lagi. "Apa anda perlu saya temani?"
"Tak perlu, aku hanya ingin berjalan santai sampai mataku mengantuk." Serah tersenyum santai, kata-katanya ringan sarat akan kejujuran hingga akhirnya Beatrice memilih untuk percaya dan berhenti bertanya.
"Baiklah kalau begitu Yang mulia, selamat malam," ujarnya kemudian membungkuk sedikit lalu berlalu pergi.
.
.
Serah akhirnya berjalan menuju taman istana. Suasana malam membuat taman itu tampak lebih eksotis dan mempesona, apalagi dengan cahaya samar sang dewi malam disertai dengan aroma mawar yang semerbak, menambah kesan romantis yang elegan.
Ia melangkahkan kaki menelusuri labirin mawar dalam diam, mengagumi pemandangan malam yang belum pernah ia saksikan oleh mata sebelum ini.
Udara yang dingin, kelembaban lingkungan disertai kabut tipis memberi sensasi yang berbeda di taman itu.
Namun, kedua kakinya berhenti saat ia terkejut melihat seorang pria muda sedang mengayunkan pedangnya beberapa kali di tengah udara yang kosong.
"Hah...!" Serah sedikit tersentak. Tangannya berusaha menggapai dedaunan mawar sebagai tumpuan secara tak sadar.
Pria itu pun menoleh karena suara Serah. Pandangan mereka bertemu, dan ternyata itu kali kedua mereka saling menatap.
"Kau...." Pria itu segera memasukkan pedangnya ke dalam sarung, tak ingin membuat wanita di hadapannya merasa takut.
"Maaf Yang mulai, saya tidak tahu kalau di sini ada orang," ujar Serah yang segera membungkuk pelan lalu kembali berdiri.
"Bukankah kau wanita yang kulihat tadi siang?" Tanya pria itu menatap lekat kepada Serah untuk memastikan dugaannya.
"Itu benar, Yang mulia, saya memang wanita yang anda lihat tadi siang," jawab Serah tak menapik.
"Ternyata dia jauh lebih cantik setelah dilihat dari dekat...," ujar Grenseal dalam hati yang malah mengagumi kecantikan Serah dari jarak dekat.
"Kenapa anda berlatih pedang di malam hari yang dingin seperti ini?" Tanya Serah yang jujur penasaran.
"Hah," pemuda itu menghela napas sesaat. Asap putih tipis keluar dari mulutnya karena udara yang semakin dingin. "Aku hanya sedang berusaha untuk mengalihkan begitu banyak pikiran yang akhir-akhir ini cukup mengganggu," jawabnya dengan senyum tipis. "Berkeringat di malam hari, itu cukup bagus menyegarkan kepala," lanjutnya yang kali ini disertai tertawa kecil.
"Ah, saya dapat memaklumi itu," balas Serah dengan cara yang simpatik. Dia tak menghakimi atau pun menggurui pria di depannya.
"Yah, semua orang memiliki cara yang berbeda untuk melepas kegelisahan yang mengganggu bukan...." Pria itu menatap Serah dengan tatapan bermakna. Seolah ia sedang mempertanyakan keberadaan wanita itu di tengah taman pada malam hari.
"Anda benar, saya setuju dengan itu." Serah hanya tersenyum. Ia tidak menapik langsung atau pun defensif, tapi membenarkan, seperti sebuah pengakuan halus kalau keberadaan dirinya saat ini juga sebagai bentuk pelepasan dari pikiran yang terlalu rumit.
"Ngomong-ngomong, Yang mulia kalau saya diijinkan bolehkah saya bertanya sesuatu?" Ucap Serah tiba-tiba.
"Tentu, apa?" Balas Grenseal dengan singkat.
"Apakah anda adalah salah satu tamu delegasi dari Raja Louis? Saya dengar dia akan segera mengadakan pertemuan beberapa hari ke depan."
"Ya, saya dari Kerajaan Duncan, khusus datang kemari atas undangan Raja Louis."
"Duncan...? Jadi, apa dia adalah Grenseal Baldric, Raja muda Duncan? Tapi kenapa dia ada di sini? Bukankah dia sedang berkonflik dengan Mathilda karena krisis pangan yang dialaminya? Tunggu dulu, apa jangan-jangan mereka akan melakukan kerjasama?"
Serah terdiam bukan karena terkejut sosok di depannya adalah seorang Raja Duncan, melainkan ia sedang memikirkan kemungkinan keberadaan Raja muda itu di wilayah Louis yang dianggapnya sangat janggal.
"My Lady...? Apa yang sedang anda pikirkan?" Grenseal mengernyitkan dahi saat melihat Serah langsung terdiam.
"Saya hanya tidak menyangka bisa bertemu dengan anda, Raja Duncan. Ini sungguh suatu kehormatan." Serah dengan cepat langsung menjawab, ia tak ingin pria di hadapannya curiga.
"Jangan bicara seperti itu, aku tidaklah istimewa Lady." Grenseal terlihat agak sungkan.
"Yang mulia, karena malam semakin larut, tampaknya saya harus segera undur diri," ucap Serah kemudian karena merasa ia tak bisa berlama-lama di sana sebelum Grenseal menanyakan identitasnya. Pria itu tak boleh tau dulu kalau dia adalah Ratu dari kerajaan Regina dan calon istri dari Raja Louis.
"Silahkan, My Lady...," balas Grenseal yang secara khusus memberi penghormatan kepada Serah.
Serah pun membalas dengan membungkuk perlahan lalu beranjak pergi memutar, membelakangi kembali sang Raja dan melewati lorong mawar dalam gelap malam yang semakin pekat.
Grenseal menatap kepergian wanita itu dengan tatapan kagum yang tak bisa ia pungkiri. Wanita itu tak hanya cantik, tapi lembut, sopan, dan dia cerdas yang membuat Grenseal penasaran ingin mengetahui akan sosoknya lebih jauh lagi.
Bagaimana nanti dia bereaksi kalau tau Serah adalah tunangan Louis sekaligus Ratu Regina yang sedang ia cari?
fix bakalan di kudeta dah ini.
ato lewat hutan, tinggalkan sj dia😁
serah akan sukarela menyerahkan louis pdmu
jgn ampe louis jd sm serah, gk rela qu
jadi tumbal Louis buat muja kerang ajaib