Dalam kehidupan keduanya, Mahira Qalendra terbangun dengan ingatan masa lalu yang tak pernah ia miliki—sebuah kehidupan 300 tahun silam sebagai putri kesultanan yang dikhianati. Kini, ia terlahir kembali di keluarga konglomerat Qalendra Group, namun fragmen mimpi terus menghantuinya. Di tengah intrik bisnis keluarga dan pertarungan harta warisan, ia bertemu Zarvan Mikhael, pewaris dinasti Al-Hakim yang membawa aura familiar. Sebuah pusaka kuno membuka pintu misteri: mereka adalah belahan jiwa yang terpisah oleh pengkhianatan berabad lalu. Untuk menemukan cinta sejati dan mengungkap konspirasi yang mengancam kedua keluarga, Mahira harus menyatukan kepingan masa lalu dengan kenyataan yang keras—sebelum sejarah kelam terulang kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: Rapat Keluarga yang Memanas
#
Mahira tidak ingat bagaimana ia sampai di kantor.
Perjalanan dari rumah nenek terasa kabur—seperti melewati lorong panjang dalam kegelapan. Yang ia ingat hanya bayangan wanita berjubah itu. Wajah yang identik dengannya. Senyum sedih yang terpatri di benaknya.
"Nona Mahira, sudah sampai."
Suara sopirnya membuyarkan lamunan. Mahira mengedip, baru menyadari mobil sudah terparkir di basement Menara Qalendra—gedung pencakar langit tiga puluh lima lantai yang menjadi markas Qalendra Group.
"Terima kasih, Pak Hasan."
Ia turun dari mobil dengan langkah gontai. Lift eksekutif membawanya langsung ke lantai tiga puluh dua, tempat ruang rapat utama berada. Ketika pintu lift terbuka, Mahira disambut oleh Kiara—sahabatnya sekaligus asisten pribadi.
"Akhirnya datang juga!" Kiara langsung menyeretnya keluar. "Udah dari tadi dicari-cari. Rapat mau mulai lima menit lagi."
"Sorry, ada urusan mendadak." Mahira merapikan blazer cream-nya. "Udah pada datang semua?"
"Papamu, Mamamu, Raesha, paman Danesh sama—" Kiara menurunkan suaranya, "—si Khaerul udah dari tadi mondar-mandir kayak macan kelaparan."
Mahira menghela napas. Khaerul Danesh. Sepupu satu-satunya dari pihak ayah. Anak paman Danesh yang sejak dulu selalu iri dengan posisi cabang keluarga Irfash di perusahaan.
"Great. Pasti bakalan seru nih rapat."
"Lu baik-baik aja?" Kiara menatapnya khawatir. "Muka lu pucat banget. Sakit?"
"Nggak. Cuma—" Mahira menggeleng. "Nanti aja ceritanya. Sekarang harus fokus dulu."
Mereka berjalan melewati koridor dengan dinding kaca yang memamerkan pemandangan Jakarta dari ketinggian. Mahira bisa melihat pantulan wajahnya di kaca—dan untuk sesaat, ia melihat bayangan jubah sutra emas melilit tubuhnya.
Ia berhenti mendadak.
"Mahira?" Kiara menoleh. "Kenapa?"
"Nggak... nggak apa-apa." Mahira memejamkan mata sejenak, mengusir bayangan itu. "Ayo."
Pintu ruang rapat sudah terbuka. Meja panjang berbentuk oval mendominasi ruangan dengan kursi-kursi kulit hitam mengelilinginya. Ayahnya duduk di ujung meja dengan laptop terbuka. Ibunya di sampingnya, sedang membaca dokumen. Raesha sibuk dengan iPad-nya. Paman Danesh—pria gemuk dengan kumis tebal—duduk dengan postur tegang.
Dan di seberang, Khaerul.
Pria dua puluh sembilan tahun itu menatap Mahira dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Bukan sekadar kesal atau iri. Ada sesuatu yang lebih gelap di balik mata hitamnya. Sesuatu yang membuat bulu kuduk Mahira berdiri.
"Mahira, duduk." Irfash menunjuk kursi kosong di samping Raesha.
Mahira mengambil tempat, merasakan pandangan Khaerul mengikuti setiap gerakannya. Ia berusaha mengabaikan, fokus pada dokumen yang sudah disiapkan di mejanya.
"Baik, kita mulai." Irfash menutup laptopnya. "Seperti yang sudah aku sampaikan minggu lalu, ini soal restrukturisasi manajemen Qalendra Group. Kita perlu perubahan untuk menghadapi tantangan pasar yang makin kompetitif."
"Maksudnya, regenerasi kepemimpinan," sahut paman Danesh. Suaranya berat, penuh tekanan. "Kamu mau mundur, Irfash?"
"Bukan mundur. Aku akan tetap sebagai Chairman. Tapi posisi CEO perlu diganti dengan yang lebih muda, lebih visioner."
Keheningan sesaat. Mahira bisa merasakan ketegangan mengental di udara.
"Dan kamu sudah punya kandidat?" Paman Danesh mencondongkan tubuh ke depan.
"Raesha." Irfash menatap putri sulungnya. "Kamu sudah terbukti mampu. Kinerja divisi keuangan tiga tahun terakhir luar biasa. Aku percaya kamu bisa memimpin perusahaan ini."
Raesha terdiam. Mahira bisa melihat kejutan di wajah kakaknya—campur kebanggaan dan beban tanggung jawab yang tiba-tiba menimpa.
"Papa..." Raesha membuka mulut, tapi suara lain memotong.
"Tunggu dulu." Khaerul berdiri. Rahangnya mengeras. "Aku nggak setuju."
"Khaerul—" Syafira mencoba menenangkan.
"Nggak, Tante. Ini nggak adil." Khaerul menatap Irfash dengan mata menyala. "Aku udah sepuluh tahun di perusahaan ini. Dari bawah. Aku yang bangun divisi ekspor dari nol. Kenapa tiba-tiba posisi CEO dikasih ke Raesha yang bahkan belum sepuluh tahun kerja?"
"Karena kinerja bukan cuma soal lama kerja," Irfash menjawab tenang. "Kamu bagus di divisi ekspor, Khaerul. Tapi CEO perlu visi yang lebih luas."
"Atau karena dia anak kandungmu?" Nada Khaerul meninggi. "Sementara aku cuma keponakan?"
"Khaerul!" Paman Danesh memperingatkan anaknya.
Tapi Khaerul tidak peduli. Tangannya mengepal di atas meja. "Dari dulu begini. Keluarga cabang Papa selalu diprioritaskan. Kami cuma pelengkap. Aku capek jadi bayangan!"
"Kamu nggak jadi bayangan siapa-siapa," Raesha angkat bicara, suaranya dingin. "Kamu punya posisi yang jelas. Direktur Ekspor itu nggak main-main, Khaerul. Kenapa kamu ngerasa dikecilkan?"
"Karena aku tahu kemampuanku!" Khaerul menatap tajam kakak Mahira. "Aku bisa lebih dari itu. Tapi nggak akan pernah dikasih kesempatan karena bukan anak 'kesayangan'."
Mahira merasakan panas menjalar di dadanya. Bukan karena marah. Tapi ada sesuatu yang familiar dari aura Khaerul saat ini. Sesuatu yang gelap. Sesuatu yang—
—pengkhianatan.
Wajah pria di mimpinya muncul kembali. Pisau di tangan. Senyum licik. Dan mata. Ya, mata itu. Mata yang sama dengan mata Khaerul sekarang.
"Nggak mungkin," gumam Mahira tanpa sadar.
"Apa?" Raesha menoleh padanya.
Mahira menggeleng cepat. "Nggak. Nggak apa-apa."
"Dan untuk Mahira," Irfash melanjutkan, mengabaikan ketegangan yang masih terasa, "kamu akan jadi Direktur Pengembangan Bisnis. Fokus pada ekspansi baru, termasuk project merger dengan Al-Hakim Corporation."
"APA?" Khaerul nyaris berteriak. "Direktur? Dia bahkan baru dua tahun di perusahaan!"
"Mahira punya kemampuan—" Irfash mulai menjelaskan.
"Kemampuan apa? Main-main di CSR? Bagi-bagi sumbangan ke panti asuhan?" Khaerul tertawa sinis. "Dan tiba-tiba dikasih posisi Direktur untuk project jutaan dolar? Ini lelucon apa?"
Mahira berdiri. Tangannya gemetar—entah karena marah atau karena sesuatu yang lebih dalam yang ia sendiri tidak pahami.
"Kamu ngeremehin CSR?" suaranya keluar lebih tajam dari yang ia maksud. "Kamu pikir bangun relationship sama komunitas, sama stakeholder itu main-main? Aku udah bangun network yang bahkan divisimu nggak pernah sentuh, Khaerul."
"Network sama anak-anak jalanan?" Khaerul menyeringai. "Atau network sama keluarga di kampung yang kita kasih bantuan biar nggak demo?"
"CUKUP!" Irfash membanting tangannya ke meja. Semua orang terdiam. "Keputusan sudah final. Raesha jadi CEO. Mahira jadi Direktur Pengembangan. Dan kamu, Khaerul, tetap di Direktur Ekspor. Kalau nggak suka, pintu keluar selalu terbuka."
Keheningan mencekam mengisi ruangan.
Paman Danesh menarik napas panjang. "Irfash, ini terlalu—"
"Aku sudah mempertimbangkan semua aspek, Danesh." Pandangan Irfash keras. "Ini keputusan terbaik untuk perusahaan. Bukan untuk personal siapa pun."
Khaerul masih berdiri. Napasnya memburu. Mahira bisa melihat urat di lehernya menegang. Dan tatapan yang ia layangkan pada Mahira—penuh kebencian yang murni.
Bukan cuma kebencian biasa. Ini lebih dalam. Lebih tua. Seperti dendam yang sudah terpendam berabad-abad.
"Baiklah," ucap Khaerul pelan. Terlalu pelan. Terlalu terkontrol. "Aku terima. Untuk sekarang."
Ia berjalan keluar dengan langkah berat. Paman Danesh bangkit, menatap Irfash dengan tatapan kecewa sebelum mengikuti anaknya.
Pintu tertutup dengan bunyi gedebuk keras.
Syafira menghembuskan napas yang ia tahan. "Itu... intens."
"Dia akan tenang nanti," ujar Irfash, meskipun Mahira bisa mendengar keraguan di suaranya. "Dia cuma kecewa. Wajar."
Tapi Mahira tahu ini bukan sekadar kekecewaan. Ada sesuatu yang lebih berbahaya mengintai di balik amarah Khaerul. Sesuatu yang membuat alarm di kepalanya berbunyi keras.
"Mahira, kamu yakin bisa handle posisi ini?" Raesha bertanya lembut, mengalihkan perhatian.
"Aku... aku akan coba." Mahira duduk kembali, kakinya tiba-tiba terasa lemas.
"Nggak cuma coba. Kamu harus bisa." Irfash menatap putri bungsunya. "Meeting dengan CEO Al-Hakim itu penting. Ini bisa jadi terobosan terbesar Qalendra Group. Jangan sampai gagal."
Mahira mengangguk. Tapi pikirannya melayang ke tatapan terakhir Khaerul sebelum ia keluar.
Tatapan penuh dendam yang sama persis dengan pria di mimpinya.
Pria yang membunuhnya 300 tahun yang lalu.
***
Mahira mengunci diri di kamar mandinya begitu rapat selesai.
Air dingin ia siram ke wajahnya berulang kali. Tapi bayangan itu tidak hilang. Wajah Khaerul. Wajah pembunuh di mimpi. Wajah pria di istana kuno yang menikamnya dengan pisau.
Semuanya sama.
"Ini gila," bisiknya pada pantulan di cermin. "Aku mulai gila."
Ponselnya berdering. Kiara.
"Lu di mana? Gue udah nunggu di kantin."
"Sebentar. Lagi di toilet."
"Buru-buru. Ada yang perlu gue omongin."
Mahira menutup keran. Ia menarik napas dalam, berusaha menenangkan diri sebelum keluar.
Kiara sudah duduk di meja pojok kantin eksklusif lantai tiga puluh, dengan dua cangkir kopi di hadapannya. Wajahnya serius—ekspresi yang jarang Mahira lihat dari sahabatnya yang biasanya ceria.
"Ada apa?" Mahira duduk dan meraih kopinya.
"Tadi gue nggak sengaja denger Khaerul nelpon seseorang pas keluar dari rapat." Kiara menurunkan suaranya. "Dia bilang 'rencananya dimajuin'. Dan dia sebut nama... Putri Aisyara."
Cangkir kopi nyaris terjatuh dari tangan Mahira.
"Apa?"
"Putri Aisyara. Gue jelas denger." Kiara menatapnya bingung. "Lu kenal nama itu? Siapa dia?"
Mahira tidak bisa menjawab. Tenggorokannya tercekat. Ruangan berputar. Suara-suara di sekitarnya meredup jadi gema yang jauh.
Putri Aisyara.
Nama yang disebut Sultan di visinya tadi pagi. Nama yang terasa begitu melekat di jiwanya meskipun ia tidak pernah mendengarnya sebelum mimpi-mimpi itu datang.
"Mahira?" Kiara mengguncang bahunya. "Eh, lu kenapa? Pucat banget!"
"Aku..." Mahira mencoba bernapas. "Aku nggak tahu. Aku nggak tahu siapa itu."
Tapi ia tahu. Entah bagaimana, ia tahu.
Putri Aisyara adalah dirinya.
300 tahun yang lalu.
Dan Khaerul—atau siapa pun reinkarnasi dia—adalah orang yang membunuhnya.
---
**BERSAMBUNG KE BAB 3**