"masukkan kartu penyegelnya sekarang, atau kita akan mati di tempat ini!,
saat satu persatu siswa lenyap misterius dan hanya memisahkan debu hitam, itsuki ikawasi dan teman temannya terjebak oleh siluman pemangsa manusia, situasi menjadi gila ketika sahabat mereka berbalik menyerang di bawah sihir hitam!
dipojokkan oleh amukan api dari raja siluman pemangsa manusia dan penyanderaan di atas kawah lava gunung valerius, itsuki terpaksa meledakkan rahasia terbesarnya: kebangkitan murni kekuatan 7 elemen.
berhasilkah mereka menyegel monster legendaris tersebut, ataukah ini awal dari perang dimensi yang jauh lebih besar? .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NABILA_08.p, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23 Lembah Suasana Baru, Masalah Baru
TAP, TAP, TAP.
Langkah kaki Itsuki menggema pelan di sepanjang ubin lantai koridor dua. Ketika tangannya menyentuh gagang pintu kelas, ada firasat yang tidak enak mendadak menyergap dadanya.
Begitu pintu tergeser terbuka, atmosfer di ruangan langsung berubah drastis, kesunyian yang mencekam seketika menyelimuti seisi kelas. Obrolan riuh yang tadinya terdengar dari luar mendadak berhenti.
Puluhan mata menatap Itsuki dengan pandangan yang sulit di artikan, perpaduan dengan rasa, takut, segan, dan canggung setelah setelah mengetahui pemuda itu baru saja terbangun dari koma pasca akibat pertempuran besar di lembah kota.
Itsuki tidak memedulikan tatapan-tatapan itu, ia melangkah menuju bangku baris belakang tempat timnya biasa berkumpul. Namun, keheningan di dalam kelas itu justru semakin diperparah oleh reaksi dan respon Roy yang berubah drastis sejak hari pertama mereka kembali ke sekolah.
Saat guru membagikan tugas kelompok tentang perekonomian, Itsuki mencoba memberikan sumbangan saran. "Menurutku kita harus memperkuat sektor barat daya karena vegetasinya yang lebat dapat menguntungkan," ujar Itsuki dengan nada tenang.
"Aku tidak setuju," potong Roy cepat dengan nada ketus yang belum pernah ia gunakan sebelumnya. Perkataannya selalu menjadi bertolak belakang dengan itsuki.
Roy: "Sektor barat daya itu terlalu terbuka. Pendapatmu sama sekali tidak efesien, Itsuki. menurutku Kita harus fokus pada sektor utara".
Itsuki: Tapi Roy, laporan intelijen menyatakan...."
Roy: "Aku tidak butuh laporan lamamu..."
sela Roy lagi, wajahnya tampak mengeras. Detik berikutnya, pandangan Roy melembut saat ia menoleh ke arah gadis berambut hitam di sampingnya,Roy hanya mendengarkan perkataan Kaguya.
Roy,: "Bagaimana menurutmu, Kaguya? Ide dari dari sektor utara jauh lebih aman untuk tim kita, bukan?".
Kaguya yang berada di antara mereka berdua tampak serba salah.
Kaguya: "Heeem... Kurasa pendapat Roy ada benarnya, tetapi Itsuki juga memikirkan celah".....
Roy: "Sudahlah, ikuti saja rencana Kaguya dan ideku." ucap Roy final tanpa mau memberikan ruang diskusi bagi Itsuki.
Penolakan mentah-mentah yang berulang itu sempat membuat mereka berdua bertengkar hebat di dalam kelas. Urat-urat di leher Roy menegang, sementara Itsuki yang biasanya penyabar mulai kehabisan toleransi akibat perubahan sikap sahabatnya yang memusuhi nya tanpa sebat alasan yang jelas.
Pertengkaran mulut yang memanas itu berujung pada keputusan sepihak. Mereka pisah tempat duduk menjadi sangat jauh, Itsuki menggeser mejanya menjadi di sudut paling belakang dekat jendela, sementara Roy tetap berada di barisan depan, duduk tepat di samping kaguya seakan ingin menegaskan batas teritori yang tidak boleh di lewati oleh itsuki.
Waktu berjalan dengan lambat di tengah ketegangan yang merayap. Ketika bel istirahat berbunyi nyaring di seluruh penjuru akademi, para siswa berhamburan keluar untuk melepaskan penat.
Roy bangkit dari bangkunya setelah memastikan Kaguya dan Hinata pergi ke kantin. Dengan perasaan campur aduk, Roy berjalan menuju kamar mandi di ujung koridor untuk mencuci mukanya yang masih terasa panas akibat kekesalan di kelas.
Namun, saat mau berbelok ke koridor yang lebih sepi dekat ruang penyimpanan, langkah kaki Roy mendadak berhenti. Matanya menyipit tajam, di sana ia tidak sengaja melihat Itsuki sedang membelakanginya, memegang sebuah buket bunga segar yang indah.
Di atas buket bunga itu, terselip sebuah kartu ucapan kecil dengan tertulis sangat rapi. Itsuki sedang bersiap mengungkapkan perasaannya kepada Kaguya siang itu juga.
Pakta mengejutkan itu menghantam dada Roy dengan keras. Ternyata, selama ini Roy dan Itsuki memiliki perasaan yang sama kepada kaguya, mengetahui bahwa sahabat yang dulu ia percayai memiliki niat yang sama untuk memenangkan hati gadis yang ia cintainya, emosi Roy yang sejak pagi sudah memuncak, perlahan meledak.
Roy melangkah lebar-lebar dengan raut wajah memerah, langsung nyolot di tempat saat matanya menangkap nama kaguya yang tertulis jelas pada kartu di bunga tersebut.
"Apa maksud semua ini, Itsuki?!" bentak Roy dengan suara menggetar perlahan dengan amarah, menunjuk kasar ke arah buket di tangan Itsuki.
itsuki terkejut melihat kehadiran Roy yang tiba-tiba, melihat kondisi yang tidak kondusif dan enggan membuat keributan di area publik sekolah, Itsuki langsung membuang bunga itu di tempat penyimpanan di sampingnya dengan gerakan cepat.
"kau ingin mengungkapkan perasaanmu dengan Kaguya, kan?!" tuduh roy dengan napas memburu, melangkah maju hingga jarak mereka hanya beberapa senti.
Itsuki menarik napas dalam-dalam, menatap lurus ke dalam manik mata Roy yang di penuhi dengan rasa cemburu. "iya, kenapa?" jawab Itsuki dengan nada menantang yang jarang ia tunjukkan.
Seketika, suasana di koridor sepi itu menjadi semangkin memanas, udara di sekitar mereka seolah mendadak kekurangan oksigen, Roy menjawab dengan penuh emosi, giginya menggertak rapat. "Tidak, Kaguya milikku! Kau tidak pantas untuknya setelah semua kekacauan yang kau bawa kedalam tim ini!".
Itsuki tidak tinggal diam, harga dirinya sebagai seorang pemburu dan seorang pria terusik. "Dari mana kau bisa berbicara begitu? Lagi pula, aku bisa melindunginya dari bahaya, tidak sepertimu yang bahkan kesulitan menahan serangan di lembah kemarin!".
Kalimat Itsuki menghantam ego Roy sebagai seorang penyembuh dan petarung. Wajah Roy menegang, matanya mengkilat murka. "Ok,jika begitu menurutmu, kita buktikan malam ini di atap gedung sekolah !" sorak roy menantang,suaranya menggema di koridor kosong.
Itsuki menatap sahabat setimnya itu dengan dingin, lalu menjawab dengan tenang namun sarap akan ancaman, "Ok, kita lihat siapa yang layak".
Menyadari bahwa pikirannya kini terdistraksi dengan tantangan Roy dan atmosfer yang telah rusak, Itsuki memutuskan membatalkan rencananya dan menundanya. Ia tidak ingin menyatakan cinta dengan Kaguya dalam keadaan hati yang keruh oleh amarah.
Namun, di saat pertengkaran mereka berdua baru saja mereda dengan kesepakatan duel tersebut, tiba-tiba terdengar suara teriakan histeris yang entah berasal dari mana. Suara itu melengking tinggi, penuh ketakutan murni, memotong keheningan koridor belakang.
"Tolong!..... Siapapun tolong!!!"..... Suara itu mendadak terputus dengan suara deburan keras yang aneh.
Seketika, insting pemburu dalam tubuh Itsuki dan roy mengambil alih.