NovelToon NovelToon
Istri Gendut Yang Diceraikan

Istri Gendut Yang Diceraikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Rumah Tangga / Dendam Kesumat / Cewek Gendut
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda SB

Danti tiba-tiba diceraikan oleh suaminya saat rumah tangga mereka sedang baik-baik saja.

Alasannya? karena tubuh Danti berubah gemuk setelah menjalani berbagai program kehamilan yang selama ini sedang mereka perjuangkan bersama.

Bukannya menangis dan memohon agar dicintai kembali, Danti justru menerima perceraian itu dengan tenang.

Namun sebelum palu hakim diketuk, Danti akan membuktikan bahwa perempuan yang dicampakkan karena bentuk tubuhnya... kini masih bisa berubah menjadi bidadari yang membuat banyak lelaki tergila-gila.

Dan saat mantan suaminya menyesal, Danti hanya tersenyum sambil berkata...

“Aku pawang buaya yang akan membuka kembali peternakannya!”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua Orang Asing

Sejak malam di sofa itu, rumah mereka berubah menjadi tempat singgah.

Rizal dan Danti masih tinggal di bawah atap yang sama, tidur di ranjang yang sama setelah beberapa malam keras kepala, makan di meja yang sama. Tapi di antara mereka terbentang jarak yang tak bisa diukur dengan meteran.

Mereka berpapasan di lorong tanpa saling menyapa, berbagi udara tanpa berbagi kata. Jika Rizal bertanya, Danti menjawab sependek mungkin. Jika Rizal diam, Danti tak mengisi kekosongan itu.

Ada sesuatu yang aneh dalam keheningan tersebut. Dulu, keheningan di rumah ini berarti Danti sedang memendam sesuatu, dan Rizal bisa memanfaatkannya dengan membentak atau menyindir. Kini keheningan itu terasa lain. Tenang. Penuh. Seolah Danti tak lagi menunggu apa pun darinya.

Danti kini hanya peduli pada hidupnya dan kebahagiaannya sendiri.

Dan itulah yang paling tak bisa Rizal pahami.

---

Rizal merasakan kehilangan itu, meski tak tahu apa yang hilang.

Ia pulang kerja dan mendapati rumah rapi tapi dingin. Makanan tersedia, tapi tak ada yang menyambutnya di pintu. Kopi tersaji, tapi tak ada yang bertanya bagaimana harinya. Ia duduk sendirian di meja makan sementara Danti sudah masuk kamar dengan pintu setengah tertutup, cahaya ponsel berpendar dari balik celahnya.

Kesunyian itu mengganggu. Ia menyalakan televisi, tapi suaranya hanya memperkuat kekosongan. Ia mengirim pesan ke teman-temannya, tapi mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Dan lama-lama, ia mulai merasa seperti tamu di rumahnya sendiri.

"Dia berubah," pikirnya suatu malam sambil menatap langit-langit. "Dulu dia nggak begini."

Ia menyadarinya dengan jelas. Danti memang berubah. Lebih tenang, lebih jarang bicara, lebih jarang menatap matanya. Tapi pertanyaan berikutnya...

Kenapa? tak pernah ia ajukan pada dirinya sendiri. Jawabannya terlalu dekat, dan terlalu tidak nyaman. Maka alih-alih mencari penyebab, ia memilih tersangkanya sendiri.

Sudah beberapa hari terakhir, selepas jam kantor, mobil Rizal tak langsung menuju rumahnya sendiri. Ia berbelok ke jalan yang sudah sangat ia kenal, berhenti di depan rumah dengan pagar besi hitam dan pot-pot bunga di terasnya, rumah ibunya.

Dan hari ini pun begitu.

Pintu terbuka bahkan sebelum ia mengetuk.

"Zal! Anakku!" Bu Sumarni menyambut dengan tangan terentang, senyum selebar bulan sabit. "Ya ampun, pasti capek ya? Sini, sini, masuk. Ibu udah masakin kesukaanmu."

Rizal tersenyum lelah. Ia melangkah masuk, dan aroma sambal terasi serta ikan bakar langsung menyambutnya. Di meja makan, piring-piring sudah tertata rapi. Nasi hangat, lalapan segar, tempe goreng, ikan nila bakar, bahkan sebotol es teh manis yang berembun.

"Duduk Nak, duduk. Makan dulu."

Ia duduk. Bu Sumarni menyendokkan nasi ke piringnya, menaruh ikan di atasnya, bahkan mengambilkan sambal dengan sendok kecil, seolah ia masih anak berusia lima tahun. Rizal menahan senyum. Sudah lama tak ada yang memperlakukannya seperti ini.

"Gimana kerjaan hari ini?" tanya Bu Sumarni lembut. "Capek banget ya? Kasihan anak Ibu. Kerja siang malam, pulang nggak ada yang ngurusin."

"Ya... biasa, Bu."

"Hmm." Bu Sumarni menghela napas panjang dan menatap piringnya sendiri dengan raut sendu. "Ibu cuma kasihan aja, Zal. Dulu Ibu selalu berdoa, semoga kamu dapat istri yang bisa nyambut kamu pulang, nyiapin makan, nyenengin suami. Tapi sekarang..." Ia menggeleng pelan. "Kamu pulang ke rumah ibumu terus. Itu tandanya apa?"

Rizal tak menjawab. Mulutnya penuh nasi.

"Ibu nggak nyalahin kamu, lho," lanjut Bu Sumarni dengan nada sangat lembut, seperti membujuk bayi. "Ibu paham. Rumah itu seharusnya jadi tempat paling nyaman. Tapi kalau di rumah malah bikin pusing, ya wajar kalau kamu cari ketenangan di sini."

"Iya, Bu."

"Ibu ini nggak benci Danti, Zal. Beneran." Bu Sumarni meletakkan tangannya di lengan Rizal dan menepuknya penuh kasih. "Ibu cuma kecewa. Ibu sudah berusaha menerima dia, sudah berusaha baik. Tapi kamu lihat sendiri kan? Waktu Ibu butuh bantuan, dia malah pura-pura sakit. Waktu Ibu menegur, dia melawan. Waktu ada tamu, dia mempermalukan Ibu di depan semua orang." Suaranya bergetar sedikit, nada yang dilatih dengan sempurna. "Kalau menantu Ibu itu orang yang tahu diri, pasti dia nggak begitu. Ya kan?"

Kata-kata itu meluncur lembut, seperti madu yang dituang pelan-pelan. Tak ada bentakan, tak ada tuduhan kasar. Tapi di setiap kalimatnya terselip duri... pura-pura, melawan, mempermalukan, tak tahu diri.

Dan Rizal yang lelah, yang kesepian, yang butuh seseorang untuk membenarkan perasaannya, menelannya bulat-bulat.

"Iya, Bu," gumamnya. "Dia memang... akhir-akhir ini nggak sopan."

"Nah, Ibu cuma pengin kamu bahagia, Zal. Itu aja."

"Abaaaang!"

Rani muncul dari lantai atas dengan baju santai dan wajah bersinar oleh masker kain yang baru dilepas. Ia menjatuhkan diri di kursi sebelah Rizal dan langsung mencomot sepotong tempe dari piringnya.

"Udah pulang, Bang? Tumben cepet."

"Hmm."

"Eh tahu nggak, tadi aku lihat Mbak Danti di pasar loh."

Rizal berhenti mengunyah. "Danti? Ngapain dia di pasar?"

"Belanja kayaknya." Rani mengangkat bahu dengan gaya santai yang dibuat-buat, tapi matanya melirik ibunya, dan kedua perempuan itu bertukar pandang singkat. "Tapi Bang aku ngerasa aneh, deh. Mbak Danti sekarang pakai baju baru, wangi pula. Kayaknya dia mulai dandan lagi."

Alis Rizal terangkat.

"Dan Abang tahu nggak, dia lagi senyum-senyum sendiri pas baca HP. Aku nyapa, dia cuma ngangguk doang, nggak mau ngobrol. Sombong banget, Bang." Rani mendecak. "Jangan-jangan..."

"Jangan-jangan apa?"

"Ah, nggak ah. Aku nggak mau nuduh." Rani mengibaskan tangan, tapi ekspresinya jelas ingin dibujuk. "Cuma Abang tahu sendiri lah. Perempuan itu kalau tiba-tiba rajin dandan dan sibuk sama HP, biasanya ada sesuatu."

Rizal meletakkan sendoknya. Rahangnya mengencang.

Ia ingin membantah. Danti bukan perempuan seperti itu. Danti hampir tak punya teman, tak punya siapa-siapa selain dirinya. Tapi kalimat Rani sudah menancap di kepalanya seperti benih yang disemai di tanah gembur.

"Dia sering pegang HP, Zal," Bu Sumarni ikut menimpali, seolah baru teringat. "Waktu Ibu lihat di arisan itu, dia sibuk terus. Ibu nggak mau menduga yang aneh-aneh, tapi... hati-hati aja."

Rani menyodorkan es teh ke Rizal. "Minum dulu, Bang. Jangan dipikirin."

Tapi kalimat itu justru membuat Rizal makin memikirkannya.

Ia memikirkan Danti yang tak lagi menunggunya di pintu. Danti yang tertawa pelan saat menelepon. Danti yang pulang membawa kantung belanja kecil berisi sesuatu yang wangi. Danti yang menatapnya dengan mata asing.

Semakin dipikir, semakin pekat rasanya. Dan di tengah rasa itu, wajah istrinya, wajah yang kini lebih bulat, tubuh yang lebih berisi, terasa semakin tidak sedap dipandang.

1
ryuka
bagus rizal semakin cepat kamu masuk kurang klo bgini 🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Muft Smoker
selamat Rizal sbntar lgii km bkal masuk k jurang kehancuran 😏
Muft Smoker
awalnya emnk manis ,, tp nanti juga akhirnya anda bakal ngerasa mana yg tulus ma hidup mu ,, mana yg cuma tulus ma uang mu zal ,, 😒😒😒
ryuka
nunggu kehancuran kalian sekeluarga aku tuuuhhh 🤭🤭🤭🤭🤭
ryuka
haduuuhh biasa nya yg gampang terpukau itu yg gampang di bodohi 🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭
ryuka
orang salah emang selalu cari pembenaran 🫠🫠🫠🫠🫠🫠
Muft Smoker
ayoo dantii ,, semangat berjuang ,,
ryuka
semangat dantiiii 👍👍👍👍👍👍👍
ryuka
kamu mulai terlena rizal.. haduh haduh haduhh.. /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Muft Smoker
gpp danti ,, biarkan si Rizal hancur sndrii dg selalu merasa bnar ,,
km tinggal fokus dg ap yg Skrang km kerjakan ,, meski rasa sakit mungkin ad ,, sbgai istri melihat suami sperti itu ,,
Muft Smoker
baru 1 hari atur uang belanja ,, km udh stress zal/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
ryuka
naahhh mikir kamu sekarang.. haduuhh di bodohin kok mau aja sihhh
Muft Smoker
sbntar lgii jugaaa hancur dy ,, biarin aj ,,
ryuka
bodoh kamu bodoh rizal.. tunggu kehancuran kamu zal
Muft Smoker
gpp zal semakin km merasa bosan ma danti ,, semakin penyesalan dan kehancuran mendekat ke arah mu
ryuka
terlalu bodoh kamu rizal../Sweat//Sweat//Sweat//Sweat/
Muft Smoker
danti pun membalas ,, ' km banci mas ' 😒😒😒😒😒
Muft Smoker
good dantii ,, keluarin uneg2 mu ,, abis tu tinggalin si Rizal ,, punya suami otak ny Segede udang rebon ,, yx begitu ,, 😒 😒 😒 😒
Muft Smoker
good dantii ,, keluarin uneg2 mu ,, abis tu tinggalin si Rizal ,, punya suami otak ny Segede udang rebon ,, yx begitu ,, 😒 😒 😒 😒
ryuka
bagus danti.. keluarkan semua uneg2 mu biar rizal tau.. tinggal kita liat keputusan apa yang kita ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!