Dunia tidak pernah tahu nama negeri ini. Tapi semua orang di dalamnya tahu satu aturan: jangan pernah percaya siapa pun.
Kenzo Adriel berumur tujuh tahun saat ia bersembunyi di balik semak dan menyaksikan keluarganya dibantai habis — sementara negerinya sendiri berpura-pura hal itu tidak pernah terjadi.
Sepuluh tahun kemudian, ia bukan lagi anak itu.
Ia adalah bayangan yang disewa untuk membunuh orang-orang yang terlalu berbahaya untuk disentuh hukum. Tidak ada yang tahu wajahnya. Tidak ada yang tahu namanya yang sebenarnya. Dan tidak ada yang tahu bahwa setiap kontrak yang ia ambil hanyalah alasan untuk mendekati satu nama — dalang dari malam yang menghancurkan hidupnya.
Pencarian itu membawanya ke dalam rumah Alexander Gunawan, salah satu orang paling berkuasa — dan paling berbahaya — di negeri ini.
Sebagai tamu, bukan pembunuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Komara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: YANG TIDAK BOLEH DILAWAN
Langkah-langkah itu berhenti tepat di depan pintu. Tak ada tendangan atau teriakan. Hanya kesunyian yang sabar. Dari celah bawah pintu, Kenzo melihat enam pasang sepatu berbaris rapi, seperti tamu yang menunggu dipersilakan masuk.
Kebiasaan lama itu membuat bulu kuduknya berdiri. Orang yang tak terburu-buru biasanya sudah memperhitungkan segalanya.
"Anak muda." Suara dari balik pintu terdengar hangat dan sopan, seperti seseorang menyapa tetangga di pagi hari. "Kami tidak ingin kamu terluka. Letakkan apa yang kamu ambil dari Pak Rendra, lalu pulang. Kami bahkan tidak akan bertanya siapa kamu."
"Xel..." Kenzo berbisik tanpa menggerakkan bibir. "Ada jalan keluar lain?"
"Tangga darurat timur dikunci dari luar. Atap bisa jadi pilihan, tapi kita harus melewati jendela lorong dan..." Napas Axel terdengar patah-patah di telinganya. "Kenzo, mereka sudah di lorong. Dua orang lagi naik dari bawah. Total delapan."
Pintu terbuka perlahan. Tak ada pistol yang menyambutnya, melainkan seorang lelaki berjas abu-abu dengan tangan kosong dan senyum rapi. Usianya sekitar empat puluh tahun, rambutnya disisir licin ke belakang. Di belakangnya berdiri lima pria berjaket kulit. Tak satu pun melirik mayat Rendra, seolah lelaki itu hanya perabot rusak.
Kenzo tak melihat cincin batu hijau. Namun, saat lelaki itu membungkuk memeriksa pergelangan tangan dua orang yang tergeletak di lantai, gerakannya begitu lembut hingga perut Kenzo mengencang. Sikap tenang itu terasa lebih mengancam daripada pistol.
"Sikut patah, pelipis retak." Lelaki itu bergumam, nyaris kagum. "Tujuh belas? Delapan belas? Siapa yang mengajarimu menjatuhkan orang tanpa membuang tenaga? Cara itu hanya diajarkan di satu tempat."
Kenzo tak menjawab. Ia menggeser kaki, mengukur jarak ke jendela.
"Namaku Gandara." Lelaki itu berdiri tegak dan merapikan manset jasnya. "Orang-orang menyebut kami Lingkar. Kami tidak suka membunuh anak-anak. Jadi, jangan paksa kami melakukannya malam ini."
Gandara bergerak.
Kenzo bahkan tak sempat melihat gerak awalnya. Dalam sekejap, jarak tiga meter lenyap dan telapak tangan lelaki itu menghantam ulu hatinya. Pukulan itu tak tampak keras, tetapi terasa menghantam dari dalam. Udara terempas dari paru-parunya. Kenzo terlempar ke meja, membuat kertas-kertas berhamburan.
Sebelum ia sempat bangkit, siku Gandara menyapu rahangnya. Dunia berputar. Kenzo menangkis dengan refleks yang ditempa selama sepuluh tahun, mengayunkan kaki dan merasakan ujung sepatunya mengenai sasaran. Namun, Gandara hanya bergeser setengah langkah, seolah sudah mengetahui arah serangannya. Lututnya langsung menghantam rusuk Kenzo yang telah memar.
Terdengar bunyi retak kecil dan basah.
Kenzo jatuh berlutut, mulutnya dipenuhi rasa besi. Dari balik pandangan yang berkunang, ia melihat lima anak buah Gandara masih berdiri di tempat semula.
"Bagus," ujar Gandara pelan. "Tapi bagus saja tidak cukup."
Ia mengulurkan tangan untuk mencengkeram kerah Kenzo.
Saat itulah seluruh lampu gedung padam.
Gelap total.
Dalam sekejap, Kenzo mendengar kaca pecah dari dalam ruangan. Bukan jendela, melainkan botol obat di rak. Bau tajam menyengat hidung dan matanya. Lalu, seseorang mencengkeram kerahnya dari belakang dengan kekuatan yang terasa begitu akrab.
Tangan besar dengan kulit penuh retakan.
"Jangan lawan mereka," bisik suara serak tepat di telinganya.
Kenzo ingin mendorongnya menjauh. Ingin berteriak. Namun, lututnya sudah tak sanggup menopang tubuh.
"Lari. Jangan tanya apa-apa." Cengkeraman itu menguat. "*Lari*, Kenzo."
***
Mereka meloloskan diri melalui saluran sampah di sisi gedung, meluncur turun sepanjang tiga lantai dengan Victor menopang tubuh Kenzo yang lemas. Setelah itu, mereka menyusuri gang-gang yang hanya dikenal oleh orang yang telah menghabiskan dua puluh tahun hidupnya untuk bersembunyi.
Di belakang mereka, langkah-langkah terus mengikuti. Tak panik, tak tergesa-gesa. Hanya tekun dan tak kenal lelah.
Victor tak berhenti sampai mereka tiba di kolong jembatan tua di tepi kali. Perahu-perahu nelayan masih ditumpuk terbalik di sana.
Terlalu lelah untuk merasa heran, Kenzo baru menyadari tempat itu ketika Victor menjatuhkannya ke atas lumpur.
Tempat yang sama.
Selalu tempat yang sama.
Napas Kenzo tersengal. Rusuk kanannya terasa seperti ditusuk bara. Ketika Victor berjongkok hendak memeriksa lukanya, Kenzo menepis tangannya sekuat tenaga.
"Jangan sentuh aku."
"Kenzo, rusukmu..."
"JANGAN SENTUH!"
Teriakannya pecah dan menggema di bawah beton.
"Om membunuh dia! Om menembaknya tepat di depan mataku! Dia satu-satunya orang yang tahu... satu-satunya yang mengenal Ayah. Dia bilang sudah menunggu sepuluh tahun, Om. Sepuluh tahun! Dan Om..."
"Om nggak tahu."
Victor tak menghindar dari amarahnya. Ia tetap berlutut di lumpur dengan kedua tangan terbuka. Bahunya bergetar, membuat Kenzo yang ingin terus marah justru ingin memejamkan mata.
"Demi Tuhan, Nak, om nggak tahu. Kontraknya cuma menyebut seorang pengacara. Katanya, 'pengacara yang membocorkan penyuplai'. Om nggak pernah bertanya nama. Om memang nggak mau tahu."
Victor menelan ludah, berusaha mengatur napas.
"Om melihat lewat teropong. Ada cahaya, ada seseorang. Om menarik pelatuk, lalu orang di bawahnya menjatuhkan tubuhnya. Baru setelah itu om melihat rambutmu." Suaranya semakin serak. "Rambut yang selalu berdiri itu. Om sudah menarik pelatuknya, Kenzo. Om nggak bisa menariknya kembali."
Kesunyian panjang menyelimuti mereka. Hujan menetes dari tepi jembatan ke genangan, sementara sirene terdengar menjauh dari arah yang berlawanan.
Kenzo menatap Victor. Di tengah amarahnya, ada satu hal yang ia benci karena masih bisa dilihatnya: Victor menangis seperti anak kecil. Tanpa suara, tanpa berusaha menyembunyikannya. Mata dan hidungnya merah, bibirnya gemetar.
"Om pembunuh bayaran," kata Kenzo akhirnya, datar. "Sejak kapan?"
"Sejak dua belas tahun lalu."
"Terus uang buat kami? Obat Axel? Nasi di piring kami?"
"Iya."
Victor tak menunduk. Ia memaksa dirinya tetap menatap Kenzo, meski setiap kata terasa seperti menguliti dirinya sendiri.
"Semua itu dari pekerjaan om. Om bohong. Om bilang cari angin, bilang kerja serabutan..." Ia menarik napas gemetar. "Maafin om. Maafin om, Nak."
Kenzo menyeka darah di bibirnya dengan punggung tangan.
"Siapa mereka? Orang-orang tadi. Gandara itu."
Wajah Victor berubah. Bukan marah atau takut, melainkan seperti seseorang yang melihat hantu dari mimpi buruk lama muncul di depan pintu rumahnya.
"Lingkar Hitam," jawabnya. "Pasukan pribadi yang dipakai orang-orang di atas para jenderal. Mereka bukan polisi, bukan tentara. Mereka sisa dari tiga puluh tahun kekuasaan orang-orang yang tak bisa disentuh siapa pun."
Ia terdiam sejenak.
"Om pernah melihat Gandara menghadapi sepuluh orang terlatih di ruangan tertutup. Sepuluh orang. Dia keluar sambil merapikan jasnya."
"Aku bisa..."
"Nggak."
Satu kata itu meluncur tajam tanpa keraguan.
"Kamu nggak bisa, Kenzo. Dan om nggak akan membiarkanmu mencoba."
"Om nggak punya hak..."
"Om punya hak karena om yang menggendong kamu melewati kali ini!"
Suara Victor meledak menjadi teriakan yang menggema di bawah jembatan. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Kenzo melihat lelaki itu gemetar bukan karena kesedihan, melainkan ketakutan.
"Kamu pikir om bersembunyi sepuluh tahun karena pengecut? Om pindah tiga kota, ganti nama, membunuh orang-orang yang seharusnya nggak pernah om sentuh, semua supaya mereka nggak pernah melirik ke arahmu!"
Victor terengah-engah. Tangannya yang sempat terangkat kini jatuh lemas ke pangkuan.
"Lalu malam ini kamu datang sendirian ke depan pintu mereka, membawa kaleng itu di jaketmu seperti membawa sumbu bom..."
Ia terdiam. Ketika kembali bicara, suaranya melemah.
"Kenzo, lawan mereka sekarang, kamu mati. Lawan mereka sepuluh tahun lagi, mungkin kamu juga mati. Tapi sekarang kamu terlalu muda, terlalu marah, dan terlalu banyak yang belum kamu tahu."
Victor menatapnya dengan mata basah.
"Om mohon. Sekali ini saja, jangan lawan mereka. Simpan kalengnya. Biar Axel yang menjaganya sampai waktunya tiba."
"Kapan waktunya?"
"Om nggak tahu."
Kenzo tertawa pendek tanpa sedikit pun kegembiraan.
"Berarti Om bohong lagi."
Victor tak membantah.
Kali ini, ia tak punya kebohongan lain untuk ditawarkan.