Di balik ruang pemulasaraan yang dingin dan sunyi, Arya menyimpan kemampuan magis sekaligus mengerikan. Ia bisa melihat detik-detik terakhir kehidupan dari setiap jenazah yang disentuhnya. Tugasnya bukan sekadar menyucikan jasad, melainkan menjadi saksi bisu bagi suara-suara yang dibungkam kematian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: Pelarian di Bawah Hujan Badai
Hujan deras mengguyur tanpa ampun, mengubah lorong-lorong sempit di belakang kawasan Stasiun Lama menjadi labirin berlumpur yang licin dan mencekam. Deru air yang menghantam atap-atap seng warga beradu dengan suara derap langkah kaki yang saling berkejaran.
Arya menggenggam erat pergelangan tangan Dian, dan menuntut jurnalis muda itu untuk terus berlari menerobos kegelapan. Napas Dian terdengar berbunyi ketakutan, dan terengah-engah di balik deru angin malam.
"Ar-Arya... aku... aku sudah tidak kuat..." bisik Dian dengan suara gemetar, bahkan kakinya sempat tersandung batu bata yang terlepas di permukaan jalan.
"Jangan berhenti, Mbak Dian! Sedikit lagi!" seru Arya seraya menahan tubuh Dian agar tidak jatuh tersungkur.
Namun di belakang mereka, bayangan tiga pria berbadan tegap itu makin mendekat. Suara sepatu boot kulit mereka yang menghantam genangan air terdengar seperti ketukan kematian.
"JANGAN LARI KALIAN! SERAHKAN CATATAN ITU!" teriak salah satu pengejar dari arah belakang, suaranya parau menembus tirai hujan.
Arya menoleh sekilas ke belakang. Dua penjahat bergerak menyisir sisi kiri gang, sementara satu orang lagi mengambil jalur memotong lewat lorong pemukiman.
Mereka mengepung dari dua arah. Jika mereka tetap berlari bersama, kecepatan Dian yang terus menurun akan membuat mereka berdua tertangkap dalam hitungan menit.
Arya mengambil keputusan cepat. Saat mereka melewati sebuah persimpangan gang sempit yang diapit dua dinding rumah warga yang tinggi, Arya mendadak menghentikan langkahnya dan memutar tubuh Dian.
"Mbak Dian, dengarkan saya!" tegas Arya sambil memegang kedua bahu Dian yang basah kuyup. Matanya menatap tajam ke balik kacamata Dian yang berembun. "Kita harus terpisah. Mereka mengincar saya karena saya yang membawa fisik bukti dan catatan itu!"
"T-tapi Arya... kalau kamu sendiri—"
"Tidak ada waktu lagi!" potong Arya cepat, suaranya penuh tekanan namun begitu meyakinkan. "Mbak Dian lari ke arah kanan, keluar ke jalan raya utama, lalu segera cari tempat keramaian atau pos polisi! Sembunyikan kode lantai tiga itu baik-baik! Jangan hubungi siapa pun sampai saya yang menghubungi Mbak!"
"Arya, kamu bisa terbunuh!" jerit Dian pelan, air matanya menyatu dengan guyuran air hujan di pipinya.
"Saya tahu cara bertahan hidup. LARI SEKARANG!"
Arya mendorong pelan tubuh Dian ke arah gang kanan. Dian menatap Arya dengan pandangan penuh kecemasan dan rasa bersalah, sebelum akhirnya membalikkan badan dan berlari sekuat tenaga menghilang di balik kegelapan lorong kanan.
Arya menarik napas panjang, merapikan tudung jaketnya yang basah, lalu sengaja berteriak keras ke arah gang kiri tempat para pengejar berada. "WOI! CARI SAYA KAN?!"
Setelah memastikan perhatian para penjahat teralih sepenuhnya kepadanya, Arya berbalik dan berlari kencang menerobos lorong kiri.
Arya memacu kakinya melompati tumpukan kayu bekas dan kotak-kotak plastik yang berserakan.
Hujan yang kian lebat menyulitkan pandangannya. Namun, karena tidak begitu mengenali denah pemukiman kumuh tersebut, Arya mengambil keputusan salah di sebuah belokan.
Langkahnya terhenti mendadak.
Di hadapannya membentang tembok beton tinggi setinggi tiga meter tanpa celah, sebuah lorong buntu!
"Sial!" umpat Arya pelan. Ia berbalik untuk mencari jalan keluar lain, namun baru saja ia berputar, dua dari tiga pria berbadan tegap itu sudah berdiri menutup mulut lorong.
Pria berkumis tipis yang tadi disiram kopi panas oleh Arya melangkah maju paling depan. Matanya yang memerah akibat luka bakar ringan menatap Arya dengan dendam yang membara. Di tangan kanannya, berkilat sebilah pisau lipat taktis berukuran sedang.
"Sudah selesai larinya, Petugas Pemulasara?" bisik pria berkumis itu dengan senyum miring yang mengerikan. "Bagus juga caramu mengalihkan perhatian untuk menyelamatkan si jurnalis. Tapi sayang, hidupmu berhenti di sini."
Arya mundur dua langkah hingga punggungnya menempel pada tembok dingin di belakangnya. Dadanya naik-turun memburu napas.
Rasa takut merayapi sarafnya, tetapi memori tentang masa lalunya saat belajar beladiri dasar semasa SMA serta refleks fisiknya yang terbiasa mengangkat dan memindahkan jasad kaku mendadak mengambil alih.
Pria berkumis itu menerjang maju tanpa peringatan! Tangannya mengayunkan pisau lipat lurus ke arah dada Arya dengan gerakan menusuk yang cepat!
Sreeek!
Arya menggeser tubuhnya ke kanan secepat kilat! Bilah pisau itu hanya berhasil merobek bagian samping jaket denimnya tanpa menyentuh kulit. Memanfaatkan momentum dorongan tubuh lawan, Arya melayangkan pukulan siku kanannya dengan keras tepat ke arah rahang pria berkumis itu!
BAM!
Pria berkumis itu tersungkur ke samping, dan meringis kesakitan seraya memegangi rahangnya yang berdarah.
Namun, penjahat kedua yang bertubuh lebih besar tidak tinggal diam. Ia menerjang dari arah samping, dan mengayunkan tinjunya yang berat tepat ke arah wajah Arya.
Arya berhasil menangkis dengan kedua tangannya, namun benturan keras itu membuat tubuh Arya terdorong ke belakang hingga bahunya menghantam tembok beton dengan keras.
Puk!
Rasa nyeri menusuk di bahu Arya. Penjahat kedua mencoba mengunci leher Arya dari belakang, tetapi Arya menyundulkan bagian belakang kepalanya secara mendadak ke arah hidung lawan!
CRACK!
Penjahat itu mengerang keras dan melepaskan kunciannya saat darah segar mengucur dari hidungnya.
Arya tidak membuang kesempatan emas itu. Dengan sisa-sisa tenaganya, ia menendang lutut penjahat kedua hingga melipat, lalu mendorong tubuh pria besar itu ke arah pria berkumis yang baru saja akan bangkit. Kedua penjahat itu saling bertabrakan dan jatuh berguling di atas tanah lumpur.
Arya melompati tubuh mereka tanpa membuang waktu satu detik pun, menerobos keluar dari lorong buntu itu dan kembali berlari menembus hujan deras.
Darah segar mulai menetes dari luka lecet di kening Arya akibat benturan tembok tadi. Penglihatannya samar-samar, bercampur antara darah, air hujan, dan rasa pusing yang merayap di dalam kepalanya.
Suara teriakan para penjahat di belakangnya masih terdengar, meski jarak mereka agak merenggang. Arya mengandalkan nalurinya, terus berlari lurus menelusuri lorong sampai akhirnya ia melihat deretan lampu terang dan lalu lintas kendaraan di ujung gang. Itu adalah Jalan Raya Diponegoro.
"Sedikit lagi... aku harus sampai ke jalan raya..." bisik Arya pada dirinya sendiri. Kakinya terasa seperti timah yang sangat berat, matanya makin kabur, dan napasnya terasa terbakar.
Arya keluar dari mulut gang sempit tanpa sempat melihat kanan kiri. Pikiran tunggal yang ada di dalam otaknya hanyalah: Lari dan selamatkan bukti ini!
Ia melangkah lebar menyeberangi aspal jalan raya yang basah dan licin.
Tiba-tiba, dari arah tikungan sebelah kiri, muncul sepasang lampu sorot mobil yang membelah kegelapan hujan. Suara klakson nyaring bergema hebat, diiringi bunyi decitan rem yang beradu keras dengan aspal basah!
CIIIITTTTTT!
BRUK!
Bersambung...