NovelToon NovelToon
Kesatria Merah

Kesatria Merah

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Isekai / Reinkarnasi / Perperangan
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: PrinceArslan

Mati di medan perang modern, Alvaro sang prajurit pasukan khusus elit terlahir kembali di Aetheria—dunia yang dikuasai oleh sihir dan aura. Sialnya, ia terjebak dalam raga "Arya Denwick" Anak bangsawan 17 tahun berpenyakitan pewaris desa rawa miskin, yang baru saja didorong ke jurang kematian oleh Musuh yg tidak diketahui.
Tanpa "sistem" ajaib layaknya kisah pahlawan lain, Arya menolak takdir pecundangnya. Memadukan pernapasan yang ia ketahui di militer untuk memanipulasi energi aura dan mematikannya seni pedang dari Bumi, ia merakit ulang tubuh rusaknya.
dan menjadi penguasa sejati di kerajaan bahkan dunia tersebut!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PrinceArslan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Rantai Makanan

Malam pertama di Hutan Kuno adalah siksaan mental.

Mereka tidak berkemah di bawah pohon, melainkan merapat pada sebuah cekungan tebing batu kapur yang lembap. Tebing itu menutupi punggung mereka, menyisakan hanya area depan untuk dijaga. Api unggun dibuat sekecil mungkin, hanya cukup untuk menghangatkan ujung jari yang membeku.

Di bawah cahaya remang itu, Max mengunyah dendeng daging yang sangat alot dan sepotong roti gandum keras sambil menatap kegelapan hutan. Tidak ada yang bisa benar-benar tidur.

Menjelang tengah malam, bahaya datang tanpa suara.

Tiga ekor anjing liar bermutasi dengan mata merah menyala merayap turun dari sisi tebing. Mereka meneteskan liur, tertarik oleh bau darah goblin di zirah Max. Seekor melompat tepat ke arah leher Willi yang setengah terlelap.

Srat!

Bilah pedang Arya membelah udara dalam kegelapan, memotong rahang anjing buas itu bahkan sebelum cakarnya menyentuh Willi. Anjing kedua dan ketiga langsung menerjang, namun panah Kin dan tebasan kasar dari Josh mengakhiri hidup mereka dalam kekacauan singkat yang berdarah.

Serangan itu hanya berlangsung semenit, tapi efeknya fatal: sisa malam itu dilalui tanpa ada satu pun dari mereka yang berani memejamkan mata.

Pagi harinya, langkah kelima prajurit itu terasa dua kali lipat lebih berat. Kantung mata mereka menghitam. Sepatu bot mereka amblas ke dalam lumpur basah Hutan Kuno yang semakin lebat. Mereka telah memasuki zona transisi. Udara di sini mencekik, dipenuhi uap air dan bau kotoran hewan raksasa.

Di barisan depan, Erson tiba-tiba berlutut di tanah berlumpur. Ia menunjuk sebuah goresan dalam pada batang pohon besar, lalu menunjuk jejak kuku belah seukuran piring makan di tanah.

"Babi Hutan Jarum," bisik Erson tegang. Hidungnya mengendus udara. "Jejaknya segar. Ukurannya... setidaknya setinggi dada kita."

Arya menatap jejak itu. "Bongkar formasi rapat. Buka jarak sepuluh langkah antar sisi. Makhluk sebesar itu butuh ruang lurus untuk menyeruduk. Jangan pernah menahannya secara frontal."

Keheningan hutan pecah oleh suara dengusan kasar yang menggetarkan dada.

Dari rimbunan pakis raksasa, monster masif melangkah keluar. Babi hutan itu sebesar gerobak gandum. Bulu di punggungnya berdiri kaku menyerupai kawat besi, dan sepasang taring tebal melengkung ke atas dari rahangnya yang berbusa. Mata merah kecilnya langsung mengunci posisi Max.

Makhluk itu mengais tanah dengan kuku depannya, lalu melesat. Berat tubuhnya membuat tanah berlumpur bergetar hebat.

"Menyebar!" teriak Max.

Max memiringkan tubuhnya di detik terakhir, menumpukan pelat lengan besinya untuk menahan sisi samping kepala babi raksasa itu.

Brak!

Benturannya brutal. Max terlempar sejauh dua meter, punggungnya menghantam akar pohon hingga ia terbatuk memuntahkan ludah berdarah. Zirah lengannya penyok parah.

Babi hutan itu terus melaju akibat momentumnya, menabrak semak belukar sebelum mengerem dan berputar dengan beringas.

Josh dan Willi melompat dari sisi sayap. Keduanya mengayunkan pedang sekuat tenaga ke arah rusuk makhluk itu.

Klang! Klang!

Bunga api memercik. Bilah pedang mereka memantul keras saat beradu dengan bulu kawat dan kulit alot monster itu. Getaran dari benturan baja itu membuat pergelangan tangan Josh mati rasa.

"Kulitnya terlalu tebal! Besi biasa tidak bisa tembus!" teriak Willi panik sambil berguling mundur menghindari sabetan taring yang nyaris membelah perutnya.

Anak panah Kin melesat, namun hanya memantul tak berguna di atas tengkorak keras babi tersebut. Monster itu memekik marah, bersiap melakukan serudukan kedua, kali ini menargetkan Erson yang posisinya paling terbuka.

Otot-otot kaki belakang babi itu menegang. Di detik itulah, Arya bergerak.

Ia tidak berteriak. Ia tidak melompat. Arya meluncur di atas lumpur basah dengan gerakan menyilang yang sunyi, memposisikan dirinya tepat di luar sudut pandang mata monster tersebut. Saat babi raksasa itu melontarkan tubuh beratnya ke depan, Arya menggeser kuda-kudanya.

Ia membiarkan monster itu lewat hanya sejengkal dari tubuhnya, lalu mengayunkan pedang abu-abunya dengan tebasan memutar yang efisien. Ia tidak mengincar kulit tebal di rusuk, melainkan celah sempit di persendian leher, tepat di pangkal rahang bawah.

Srat!

Bilah pedang Arya merobek masuk ke daging yang lembut. Arya menahan gagang pedangnya kuat-kuat, menggunakan tenaga lari babi itu sendiri untuk memperdalam robekan hingga memutus arteri utama, sebelum menariknya keluar dengan kasar.

Babi hutan itu menabrak tanah. Darah merah pekat menyembur bagai air mancur, mewarnai dedaunan pakis dan genangan lumpur di sekitarnya. Kaki-kakinya menggelepar brutal selama belasan detik sebelum akhirnya kaku tak bernyawa.

Napas kelima prajurit itu menderu liar. Keringat bercucuran membasahi wajah kotor mereka. Max bersandar pada pohon, memegangi tulang rusuknya yang berdenyut nyeri.

Arya menyarungkan pedangnya yang berlumuran darah. Tidak ada raut lega di wajahnya.

"Jangan diam saja," ucap Arya dingin. "Bau darah sebanyak ini adalah undangan makan malam bagi predator lain. Bongkar kulit dan taringnya sekarang."

Tugas itu ternyata sama melelahkannya dengan pertarungan itu sendiri. Selama berjam-jam, Max dan rekan-rekannya berlutut di lumpur, menggunakan belati untuk memisahkan kulit alot seberat puluhan kilogram dari otot sang monster. Tangan mereka licin oleh lemak dan darah kental. Bau anyir isi perut membuat napas mereka sesak.

Menjelang sore, gulungan tebal kulit babi hutan dan sepasang taring masif berhasil diikat. Pakaian mereka kini sepenuhnya basah oleh darah monster. Berat beban jarahan itu menekan pundak Max dan Josh hingga otot punggung mereka menjerit.

Mereka telah mencapai batas kelelahan fisik. Langit mulai gelap, dan kembali ke Rustwood di malam hari dengan beban seberat ini sama saja bunuh diri.

"Kita cari tebing batu lain," perintah Arya, menatap pasukannya yang gemetar kelelahan. "Kita harus bertahan satu malam lagi bersama bau darah ini."

1
palupi
semangat thor👍🥰
palupi
semakin seru...👍🥰
palupi
❤️
PrinceArslan: halo kak' Jika kaka suka karya ku.. aku akan merekomendasikan karya ku yang lain yaitu "Goblin Emperor" barangkali kaka tertarik terimakasih
total 1 replies
palupi
semakin seru 👍
palupi
👍
palupi
langsung tertarik ceritanya 🥰
👍
PrinceArslan: terima kasih 👍
total 1 replies
marsabat hindom
sangat bagus
PrinceArslan: terima kasih 🙏
total 1 replies
Sung Jin Woo
bagus
Akagami Shanks
suka cerita yg seperti ini 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!