Di antara cahaya yang tak pernah cukup dan bayangan yang tak pernah padam, namanya terucap hanya dalam hening: Orion.
Ia bukan milik dunia yang kau kenal. Pangeran dari kedalaman kegelapan, sosok yang dikabarkan tak pernah menyentuh sinar matahari, yang berjalan di tempat di mana cahaya tak mampu menjangkau. Banyak yang gemetar menyebut namanya; banyak yang menganggapnya kutukan. Namun bagi Aruna—ia adalah satu-satunya keberkahan yang menyelamatkannya dari jurang.
Aruna, gadis yang hidup di antara keraguan dan bahaya yang datang tanpa peringatan, selalu menemukan dirinya ditarik ke tepi jurang—sampai sepasang tangan yang kuat, hangat meski berasal dari kegelapan, menariknya kembali. Orion selalu hadir tepat saat dunia tampak membelakanginya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LailaHaidar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pilihan yang Mengubah Segalanya
Hening. Sepanjang ruangan itu nyaris tak ada suara, kecuali detak jantungku sendiri yang rasanya bisa kudengar sampai ke telinga. Valdris menatap tulisan di kitab itu, matanya berkedip pelan seolah tak percaya pada apa yang dia baca. Selama ribuan tahun dia hidup dengan keyakinan bahwa takdir itu sudah tertulis, mutlak, tidak bisa diganggu gugat. Dan sekarang, di depan matanya sendiri, tertulis hal yang membalikkan seluruh pemikirannya.
"Itu... tidak mungkin," gumamnya pelan, suaranya yang biasanya tegas dan mengintimidasi kini terdengar sedikit goyah. "Ramalan itu selalu bilang salah satu harus hancur. Selama ribuan tahun begitulah ajarannya..."
"Kau salah mengerti maknanya," kata Orion pelan, tapi suaranya tegas. Dia membalik halaman berikutnya, dan tulisan baru muncul perlahan di sana, seolah menunggu saat yang tepat untuk terlihat.
"Kehancuran bukanlah akhir dari cerita. Itu hanya akhir dari jalan yang salah. Jika dua cahaya bersatu bukan untuk menaklukkan, tapi untuk melengkapi — maka tidak ada yang perlu binasa. Dua dunia bisa berdiri berdampingan, tanpa satu menelan yang lain."
Valdris mundur selangkah, tongkat di tangannya terasa berat tiba-tiba. "Dan kau pikir semudah itu? Selama ribuan tahun dua dunia terpisah karena suatu alasan. Kalau kita menyatukannya begitu saja... siapa yang tahu apa yang akan terjadi? Kekacauan? Perang?"
"Justru sekarang yang berisiko," potongku, suaraku lebih tenang dari yang kuduga. "Selama ini dua dunia terpisah karena ketakutan. Kau takut cahaya akan membakar kegelapan, dan kami takut kegelapan akan menelan cahaya. Tapi ketakutan itu bukan kebenaran. Kita tidak pernah benar-benar mencoba untuk saling mengenal."
"Dunia tidak berjalan dengan 'mencoba', gadis kecil," desisnya, tapi kemarahannya sudah tidak sekuat tadi. "Dunia berjalan dengan aturan. Dan aturan itu dibuat oleh mereka yang berkuasa."
"Aturan yang salah bisa diubah," sahut Orion. Dia menutup kitab itu perlahan, lalu menatap lurus ke mata ayahnya. "Dan kalau kau yang berkuasa, kau yang paling bertanggung jawab untuk mengubahnya kalau memang itu salah. Kau pikir rakyatmu takut pada dunia luar? Tidak. Mereka takut padamu. Takut salah bicara, takut salah melangkah, takut hilang tanpa kabar. Itu bukan kekuasaan, Ayah. Itu penjara yang kau bangun untuk mereka... dan untuk dirimu sendiri."
Valdris diam. Dia berjalan perlahan turun dari takhtanya, langkahnya berat seolah usianya tiba-tiba terasa seribu tahun lebih tua. Dia berhenti tidak jauh dari kami, menatap wajah anaknya sendiri — sosok yang selama ini dia coba hancurkan, tapi justru semakin bersinar semakin dia tekan.
"Kau berubah, Orion," katanya pelan. "Dulu kau hanya anak yang lembut dan takut. Sekarang... kau berdiri di hadapan rajamu dan berkata aku salah."
"Bukan aku yang mengubahmu, Ayah. Kau hanya lupa siapa dirimu sebelum takhta ini mengubahmu. Aku masih ingat... dulu kau pernah bercerita kalau kau ingin dunia di mana tidak ada yang harus takut. Dulu kau juga bermimpi menyatukan dua dunia, bukan menaklukkannya. Lalu kapan kau berhenti percaya pada mimpimu sendiri?"
Mata Valdris terbelalak sedikit. Seolah ada kenangan lama yang baru saja muncul kembali ke permukaan. Dia menatap ke kejauhan, ke arah jendela terbuka di langit-langit tempat bintang-bintang bersinar terang.
"Aku berhenti percaya saat aku melihat orang-orang yang aku percaya mengkhianatiku," suaranya hampir berbisik. "Saat aku menyadari kebaikan saja tidak cukup untuk melindungi orang-orang yang kusayangi."
"Kau tidak melindungi mereka dengan menutup pintu dan menakuti mereka. Kau hanya membuat mereka kesepian," jawabku lembut.
Dia menoleh padaku, dan untuk pertama kalinya tatapannya tidak penuh permusuhan. Hanya kelelahan yang dalam.
"Dan kalau aku biarkan kalian pergi... kalau aku biarkan kalian mencoba cara baru... apa jaminannya kalau ini tidak akan berakhir dengan bencana?"
"Tidak ada jaminan," akuku jujur. "Tapi setidaknya biarkan kami mencoba. Biarkan kami menjadi contoh. Kalau berhasil... mungkin suatu hari nanti dua dunia bisa berdamai. Kalau gagal... aku yang akan menanggung risikonya. Aku akan kembali ke duniaku, dan tidak akan ada yang tahu tempat ini ada. Tapi tolong... jangan biarkan ketakutan menentukan masa depan semua orang."
Dia diam cukup lama. Menimbang, bertarung dengan dirinya sendiri di dalam kepalanya. Lalu perlahan dia menghela napas panjang, dan perlahan meletakkan tongkatnya di lantai. Bunyi tongkat yang menyentuh batu itu terdengar nyaring di ruangan hening itu.
"Pergilah," katanya pelan.
Kami berdua saling berpandangan, nyaris tidak percaya mendengarnya.
"Tapi..." lanjutnya, suaranya kembali tegas, "jangan kira ini berarti aku setuju sepenuhnya. Aku hanya memberi kalian kesempatan. Satu tahun. Satu tahun dari sekarang, kembalilah ke sini. Ceritakan padaku bagaimana hidup di antara dua dunia itu. Kalau pada akhirnya kalian membuktikan bahwa perdamaian itu mungkin... mungkin aku akan mempertimbangkan untuk tidak lagi menutup gerbang ini selamanya."
Dia menatap Orion dalam-dalam.
"Tapi ingat, anakku. Bukan berarti aku tidak akan mengawasi. Kalau sekecil apa pun ada tanda bahaya... aku tidak akan ragu bertindak. Harapanku ada padamu, jangan kecewakan aku."
Orion menunduk hormat, matanya berbinar. "Terima kasih, Ayah. Kami tidak akan mengecewakanmu."
"Pergilah sekarang. Sebelum aku berubah pikiran. Dan hati-hati di jalan pulang. Bukan semua orang di istana ini senang dengan keputusanku. Beberapa orang mungkin mencoba menghalangi kalian."
Kami berjalan mundur perlahan, masih tidak percaya betapa mudahnya — atau seberapa berat harga yang sebenarnya harus kami bayar. Saat kami sampai di pintu keluar, Valdris memanggil sekali lagi.
"Orion!"
Dia berhenti, menoleh.
"Jaga dirimu. Dan jaga dia. Dia lebih berharga dari yang kau tahu."
"Sekalipun nyawaku sendiri taruhannya," jawab Orion tegas.
Saat kami melangkah keluar dari ruangan itu, udara di luar terasa jauh lebih ringan dari sebelumnya. Langkah kami cepat, tapi tidak lagi lari dari sesuatu. Kami berjalan menuju sesuatu. Harapan.
"Kita benar-benar berhasil?" tanyaku, nyaris tidak percaya.
Orion tersenyum lebar — senyum paling tulus yang pernah kulihat darinya. Dia merangkul bahuku erat, lalu mencium keningku.
"Kita belum selesai. Tapi setidaknya pintu itu tidak lagi tertutup rapat. Dan itu... itu awal yang luar biasa."
Saat kami melewati lorong panjang itu, aku menyadari satu hal penting. Kekuatan terbesar bukanlah tentang memenangkan pertarungan. Tapi tentang mengubah hati seseorang yang selama bertahun-tahun hidup dalam kegelapan. Dan itu... itu adalah keajaiban yang hanya bisa dimulai dengan keberanian untuk berbicara, bukan dengan pedang.
Di depan sana, cahaya siang dari gerbang luar menunggu. Bukan cahaya perak redup seperti di lembah, tapi cahaya matahari yang hangat — cahayaku, cahayanya, cahaya milik kami berdua.