NovelToon NovelToon
Cinta Terhalang Dinding Pesantren

Cinta Terhalang Dinding Pesantren

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Idola sekolah / Cintapertama / Tamat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Senja Juliani Putri

Cinta Terhalang Dinding Pesantren

Muthi'ah Azzahra hanya ingin menjalani hidupnya sebagai santriwati dengan tenang. Namun, semuanya berubah ketika dia mengetahui bahwa dirinya telah dijodohkan dengan Jay, putra pengasuh pesantren yang selama ini terasa begitu jauh dari kehidupannya.

Bagi Muthi'ah, perjodohan itu adalah keputusan yang tidak pernah dia minta. Bagi Jay, itu adalah janji keluarga yang perlahan berubah menjadi sebuah pilihan.

Di tengah aturan pesantren, gosip, bullying, tekanan keluarga, dan perasaan yang tumbuh diam-diam, mereka harus belajar mengenal satu sama lain tanpa kehilangan hak untuk menentukan masa depan.

Sebab, cinta yang sebenarnya bukan tentang siapa yang menjodohkan mereka, tetapi tentang apakah mereka mampu memilih satu sama lain dengan hati yang benar-benar ikhlas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja Juliani Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14 - Jay Mulai Bersuara

Gosip di pesantren itu jalannya cepat sekali. Lebih cepat dari pengumuman roan.

Jay baru tahu pas lagi di dapur putra, mau mengambil air minum.

Dua santri putra kelas bawah lagi berbisik-bisik di belakang.

"Eh, lu dengar nggak? Katanya santri putri yang juara musabaqah itu dekat sama Gus Jay."

"Yang pendiam itu? Masa sih?"

"Iya, katanya sering rapat berduaan. Terus kemarin pas hujan juga dikasih payung langsung sama Gus Jay."

Jay berhenti. Botol di tangannya diremas.

Heeseung yang di sebelahnya langsung menoleh.

"Heh, ngomongin apa? Jangan ngarang," kata Heeseung tegas.

Dua santri itu langsung menunduk, kabur.

Jay diam. Mukanya datar, tapi di dalamnya panas.

Sepanjang hari itu, bisik-bisik itu makin terdengar di mana-mana. Di masjid, di lapangan, di kantin.

Jake yang paling gampang dapat info, sore itu lari ke kamar Jay.

"Jay, gawat. Gosipnya sudah ke mana-mana. Katanya lu sama Muthi'ah dekat. Ada yang bilang lu kasih payung langsung pas hujan kemarin," kata Jake.

Sunoo menambahkan, "Iya, tadi gue dengar di asrama putri juga ramai. Katanya Muthi'ah cari muka biar jadi favorit Ustazah."

Jay duduk di tepi ranjang, tangannya mengepal.

"Terus Muthi'ah gimana?" tanya Jay pelan.

Jungwon yang baru datang menjawab, "Tadi siang gue lihat di kelas, dia diam terus. Kayaknya dapat surat nggak enak juga. Dina sama Salsa yang jagain."

Jay langsung berdiri.

"Gue harus ngomong. Gue harus jelasin kalau itu nggak benar," katanya.

Heeseung yang dari tadi diam, langsung menahan bahu Jay.

"Jangan, Jay. Jangan sekarang. Jangan di depan umum," kata Heeseung. Tangannya sendiri agak gemetar, karena dia juga pernah digosipkan waktu jadi koordinator dulu.

"Kenapa? Masa gue diam saja? Muthi'ah difitnah gara-gara gue," jawab Jay, suaranya agak naik.

Heeseung menarik Jay duduk lagi.

"Dengerin gue dulu. Kalau lu sekarang bela Muthi'ah di depan semua santri, yang ada orang makin mikir 'wah, Gus Jay bela Muthi'ah, berarti benar ada apa-apa'. Fitnahnya makin besar. Kasihan Muthi'ah makin jadi bahan omongan," kata Heeseung pelan.

Jay diam.

"Terus gue harus diam saja?" tanya Jay.

"Nggak diam. Tapi belanya jangan pakai emosi, pakai aturan. Datang ke Ustazah Khadijah. Minta semua tugas yang melibatkan putra-putri dievaluasi lagi. Biar tidak ada celah untuk fitnah," jawab Heeseung.

Jay berpikir lama.

"Oke," katanya akhirnya. "Gue ke Ustazah Khadijah sekarang."

Sore itu juga, Jay ke kantor Ustazah Khadijah. Sendirian.

"Jay, ada apa? Mau laporan Haflah?" tanya Ustazah.

Jay duduk, agak menunduk.

"Ustazah, maaf mengganggu. Saya mau bicara soal tugas Haflah dan tugas lain yang melibatkan santri putra dan putri," kata Jay.

"Kenapa? Ada masalah?"

Jay menarik napas.

"Ustazah, saya dengar ada gosip di luar. Soal saya dan Muthi'ah. Katanya kami dekat, katanya saya kasih payung langsung. Padahal tidak, Ustazah. Rapat kemarin ada Zahra dan Jungwon. Payung kemarin juga saya suruh Jungwon yang mengantarkan," kata Jay jujur.

Ustazah Khadijah diam, mendengarkan.

"Saya tidak mau Muthi'ah jadi korban gara-gara tugas yang Ustazah berikan. Dia santri berprestasi. Kasihan kalau prestasinya dituduh hanya karena mau dekat dengan saya. Jadi... saya minta, kalau boleh, semua tugas yang mengharuskan interaksi putra-putri dievaluasi lagi. Kalau bisa rapatnya di kantor Ustazah saja. Biar tidak ada celah untuk fitnah," lanjut Jay.

Ustazah Khadijah menatap Jay lama.

"Kamu ke sini bukan mau bela diri kamu sendiri ya? Kamu ke sini mau menjaga Muthi'ah?" tanya Ustazah.

Jay menunduk, "Saya mau menjaga nama baik pesantren, Ustazah. Dan saya tidak mau Muthi'ah terluka karena tugas dari saya."

Ustazah Khadijah tersenyum bangga.

"MasyaAllah, Jay. Ustazah setuju. Mulai besok, semua rapat Haflah Ustazah yang pimpin langsung di kantor. Dan soal surat itu, Ustazah yang urus. Kamu tidak usah ikut campur dulu."

Jay merasa lega. Untuk pertama kalinya, dia merasa melakukan sesuatu yang benar, bukan hanya diam.

Pas Jay keluar dari kantor, Heeseung, Jake, Sunoo, Jungwon, Ni-ki, dan Sunghoon sudah menunggu di bawah pohon mangga.

"Gimana?" tanya Jake.

Jay mengangguk, "Ustazah setuju."

Heeseung menepuk bahu Jay, "Bagus. Itu cara paling benar. Lu tidak bela Muthi'ah dengan teriak-teriak, tapi lu bela dia dengan menjaga sistem. Itu lebih ksatria."

Di asrama putri, Muthi'ah lagi duduk di tepi ranjang. Tiba-tiba Zahra masuk membawa kabar.

"Muth, tadi Gus Jay ke kantor Ustazah Khadijah," bisik Zahra.

Muthi'ah kaget, "Ngapain?"

"Katanya minta semua tugas putra-putri dievaluasi biar nggak jadi fitnah. Buat jaga kamu," jawab Zahra.

Muthi'ah diam. Matanya berkaca-kaca lagi, tapi kali ini bukan karena sedih.

Dia tidak menyangka, Jay yang biasanya dingin, ternyata bersuara juga. Tidak dengan cara marah-marah di depan umum, tapi dengan cara datang ke Ustazah.

Malam itu, tahajudnya Muthi'ah agak beda. Tidak hanya nangis karena surat itu. Tapi juga ada doa kecil yang kepleset.

"Ya Allah, jaga Gus Jay juga ya..."

Dan di asrama putra, Jay yang lagi witir, juga kepleset doa yang sama.

"Ya Allah, jaga Muthi'ah ya..."

Dua doa yang tidak janjian, tapi naik bersamaan di sepertiga malam yang sama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!