Laras, ibu rumah tangga yang setia, tak sengaja membaca pesan mesra di ponsel suaminya, Dimas. Perempuan di balik pesan itu ternyata Vania, tetangga baru yang selama ini bersikap ramah padanya.
Laras hancur, tapi ia memilih diam dan mengumpulkan bukti. Saat melihat Reza, suami Vania, yang tulus mencintai istrinya, ia memutuskan membalas dengan cara yang sama: merebut apa yang paling Vania sayangi.
Namun semakin dalam Laras bermain, semakin kabur batas antara dendam dan perasaan. Rahasia masa lalu Vania dan Reza mulai terbuka, dan Laras harus memilih antara menuntaskan pembalasan atau menyelamatkan dirinya dan Kenzo, anaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RUMAH YANG LUNAS
Akta rumah itu masih di pangkuan Laras ketika Sumi duduk di sampingnya.
Tidak ada yang bicara soal borgol yang baru saja lewat. Lorong ICU kembali sepi, hanya bau kopi basi dari mesin vending dan suara AC tua.
Sumi mengambil akta itu pelan dari tangan Laras, membacanya dengan kacamata baca yang ia ambil dari saku kebaya. Matanya bergerak lambat.
"Lunas," gumamnya. "Tiga bulan lalu."
Laras mengangguk. Hidungnya masih merah.
"Ibu tahu?" tanya Laras.
Sumi menggeleng. "Ibu cuma tahu dua bulan lalu Dimas datang malam-malam ke rumah. Bawa martabak. Bilang motornya hilang dicuri. Ibu kira dia bohong biar nggak dimintai uang."
Laras tertawa kecil, pecah di tengah tangis. "Motornya dia jual, Bu."
"Untuk tebus rumah yang dia gadaikan sendiri." Sumi melipat akta itu rapi, mengembalikannya. "Anak itu..."
"Anak itu bodoh," potong Laras pelan, "tapi bukan jahat."
Di seberang, Reza masih berdiri mematung di depan meja. Kotak besi kecil kini kosong. Kaset, foto, map, semua sudah dibawa Hendarto ke dalam tas barang bukti. Hanya busa hitam dan amplop biru yang tersisa.
Vania mendekati Reza, Kenzo sudah tertidur lagi di gendongannya, kepalanya terkulai di bahu.
"Mas," bisik Vania. "Kita pulang ya? Kenzo kedinginan."
Reza tidak langsung jawab. Ia menatap lorong tempat Kajati tadi digiring. Pria jas abu-abu itu tidak melawan, tapi sebelum belok, sempat berbisik ke Hendarto sesuatu yang membuat Hendarto menegang.
"Reza," panggil Bu Tuti dari kursi roda. Suaranya pelan tapi jelas. "Duduk sini."
Reza duduk di lantai, bersandar di dinding, di depan Bu Tuti. Seperti anak kecil yang menunggu dongeng.
"Kamu marah sama Bapakmu?" tanya Bu Tuti.
Reza menggeleng. "Saya nggak sempat marah. Saya kangen."
Bu Tuti mengelus rambutnya. Rambut Reza yang berantakan dan berminyak karena dua hari tidak keramas di RS.
"Bapakmu orang keras. Tapi dia sayang kamu. Malam sebelum berangkat ke Puncak, dia panggil saya ke ruangannya. Dia bilang, Tuti, kalau terjadi apa-apa, kamu jaga Sumi dan anaknya. Dia sudah curiga proyek pelabuhan itu ada yang main."
"Dia tahu akan dibunuh?"
"Dia tahu akan ada yang coba hentikan dia. Tapi dia pikir cuma diancam." Bu Tuti batuk kecil. "Dia nggak tahu orang yang dia ajak di mobil itu sendiri yang akan lepas setirnya."
Reza menutup wajah dengan kedua tangan.
Laras berdiri. Akta rumah ia selipkan ke dalam tas kain yang tadi berisi map.
"Mbak mau ke mana?" tanya Mira, yang sejak tadi mencatat semua di ponselnya untuk laporan.
"Mau pulang," kata Laras. "Mau lihat rumah itu."
"Rumah yang mana?"
"Rumah yang lunas."
---
Rumah itu masih sama. Cat putih yang mulai menguning, pagar hitam yang catnya mengelupas, pohon mangga di halaman yang daunnya rontok menutup got.
Tapi gembok di pagar sudah tidak ada. Pintu depan tidak dikunci.
Laras mendorongnya.
Di dalam, debu tipis di meja ruang tamu. Di atas meja, ada helm ojek online dan kunci motor yang bukan motor Dimas — motor sewaan.
Dan di dinding, tempat dulu pigura foto pernikahan mereka tergantung, kini ada lubang paku kosong. Di bawahnya, di lantai, pigura itu tergeletak tertelungkup. Kaca retak.
Laras mengangkatnya. Foto di dalamnya masih ada: Dimas tersenyum kaku, Laras tersenyum gugup, Kenzo belum ada. Foto itu diambil di KUA, dengan latar belakang kain biru.
Ia membalik pigura itu. Di belakang foto, terselip kertas kecil, tulisan Dimas lagi.
Kalau kamu baca ini, berarti kotak sudah dibuka dan akta sudah ketemu. Jangan jual rumah ini, Ras. Tinggalin buat Kenzo. Aku sudah urus balik nama ke nama kamu bulan lalu, diam-diam. Suratnya ada di bawah keset kaki depan, dalam plastik.
Laras bergegas ke teras, mengangkat keset kaki yang sudah hitam oleh hujan dan debu. Di bawahnya, plastik bening.
Sertifikat. Nama: Laras Ayu Wijayanti.
Bukan Dimas.
Bukan bersama.
Atas namanya sendiri.
Laras terduduk di teras, sertifikat di pangkuan, akta lunas di pangkuan, foto pernikahan retak di pangkuan.
Untuk pertama kalinya sejak pesan "Kurebut suamimu" masuk, ia tidak merasa direbut.
Ia merasa dikembalikan.
Ponselnya bergetar. Hendarto.
"Bu Laras, Kajati sudah dibawa ke Jakarta. Tapi sebelum masuk mobil, dia bilang satu hal."
"Apa?"
"Dia bilang: 'Rudi bukan yang paling atas'. Ada yang di atas saya."
Laras menatap jalanan gang yang sepi. Sore turun pelan, lampu jalan mulai menyala satu per satu.
Di kejauhan, suara motor berhenti. Langkah kaki mendekat.
Bukan Rudi. Langkahnya ringan, sandal jepit.
Vania, Reza, dan Kenzo yang mengantuk, ditambah Sumi dan Bu Tuti yang dituntun Mira.
Mereka pulang ke rumah yang lunas, tanpa diundang, tanpa rencana.
Kenzo berlari, memeluk kaki Laras. "Mama, ini rumah kita ya?"
Laras memeluknya. Menatap sertifikat atas namanya.
"Iya, Sayang. Ini rumah kita. Lunas."
Di belakangnya, Bu Tuti berbisik ke Sumi, "Sudah selesai?"
Sumi menggeleng pelan, menatap ke ujung gang yang gelap, ke arah bayangan yang belum sempat pergi.
"Belum," katanya. "Kalau Rudi bukan yang paling atas, dan Kajati bukan yang paling atas... berarti T yang sebenarnya belum keluar."
Laras mengangkat wajah. Di atas kepala mereka, langit sore jingga, dan di antara kabel listrik, seekor burung gereja bertengger, diam, mengawasi.
Seperti seseorang yang sudah menunggu lama untuk pulang.