Tiga tahun berbakti sebagai istri seolah tak ada artinya bagi Aira ketika Radit diceraikannya secara mendadak tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka.
Demi kehadiran sekretaris cantik, Aira terpaksa melangkah menembus hujan deras membawa kopernya. Kemalangan tak berhenti di situ; di tengah jalan ia diserang sekelompok preman hingga tak berdaya.
Di saat kritis, sosok pria tinggi bertato bernama Lucas datang menyelamatkannya. Namun, pertolongan itu membawa takdir baru. Dalam pengaruh obat akibat dijebak, Lucas membawa Aira ke hotel. Dengan bisikan "Jangan takut, aku mandul," Aira yang hancur akhirnya memejamkan mata dan pasrah.
Esok harinya, Aira pergi memulai hidup baru dari nol—mencari kontrakan dan pekerjaan. Namun beberapa minggu kemudian, garis dua di alat tes kehamilan meruntuhkan dunianya. Jika Radit sudah lama tak menyentuhnya, maka janin itu jelas milik Lucas. Lantas, apakah pengakuan mandul itu hanya kebohongan manis, atau ada rahasia besar yang sengaja Lucas sembunyikan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Jarum jam di dinding ruang makan menunjukkan pukul tujuh malam.
Segera Aira mematikan api kompor, lalu mengusap peluh di dahinya dengan ujung celemek.
Senyum tipis mengembang di bibirnya saat melihat meja makan yang kini sudah terhias rapi.
Malam ini adalah ulang tahun pernikahan mereka yang ketiga.
Tiga tahun yang diisi Aira dengan ketulusan, pengabdian, dan kesabaran melayani Radit sebagai seorang istri yang berbakti.
Di tengah meja, asap tipis membubung indah dari mangkuk besar berisi sop buntut dimana masakan kesukaan Radit yang sengaja ia racik sendiri sejak siang tadi.
Lilin aromaterapi dinyalakan, memberikan nuansa hangat di ruang tengah rumah mereka.
Aira menatap penampilannya di cermin lorong, membetulkan lipatan gaun merah muda elegan yang jarang sekali ia pakai.
Ia ingin tampil istimewa di mata suaminya malam ini.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu depan memecah kesunyian malam.
Jantung Aira berdesir penuh debar bahagia saat mengetahui suaminya sudah pulang kerja.
"Mas Radit sudah pulang," bisiknya gembira.
Dengan senyum paling manis, Aira bergegas melangkah dan meraih gagang pintu.
Namun, begitu kayu jati itu terbuka lebar, senyum di wajahnya seketika membeku.
"M-Mas Radit?" suara Aira tertahan di tenggorokan.
Radit berdiri di ambang pintu. Namun, ia tidak sendiri.
Di sampingnya, berdiri Mila seorang sekretaris pribadinya yang tampil begitu memesona dengan riasan tebal dan gaun pas badan.
Tangan Mila melingkar mesra di lengan Radit, seolah menegaskan kepemilikan yang sama sekali tidak canggung.
Tak berhenti sampai di situ, di belakang mereka berdua, berdiri Ibu mertuanya bersama Siska, adik kandung Radit.
Keduanya menatap Aira dengan tatapan dingin dan penuh penghinaan, seolah Aira hanyalah orang asing yang salah berdiri di dalam rumah itu.
"Kenapa berdiri di situ seperti patung?" tegur Ibu mertuanya tanpa nada ramah sedikit pun, memecah keheningan yang mencekam.
Aira mematung, dadanya bergemuruh hebat saat menyadari ada koper-koper besar yang diletakkan di samping teras.
Firasat buruk mulai menjalar, merobek hangatnya suasana malam yang tadinya ia siapkan dengan penuh cinta.
"Mas, ini ada apa?" suara Aira bergetar, matanya menatap Radit dengan pandangan tak percaya.
Tangannya meremas gaun merah mudanya yang kini terasa begitu menyiksa.
"Apa, Mas lupa kalau hari ini ulang tahun pernikahan kita?"
Radit tidak menjawab dengan rasa bersalah. Sebaliknya, pria itu justru tertawa kecil dimana sebuah tawa dingin yang menusuk tepat ke dada Aira.
"Aku tidak lupa, Aira," ujar Radit santai, sembari merapikan jasnya.
"Justru karena hari ini hari spesial, aku mau memperkenalkan Mila, calon istriku yang sekarang sedang hamil anakku."
Perkataan itu bagaikan petir yang menyambar Aira di tengah malam yang tenang.
Seluruh persendiannya rasanya meloloskan diri. Kakinya melemah, menahan tubuh yang mendadak hilang tumpuan.
"Maksud Mas Radit, apa?" bisik Aira, air mata mulai menggenangi pelupuk matanya.
Mila, yang sejak tadi berdiri di samping Radit, justru tersenyum manis penuh kemenangan.
Ia semakin mempererat pegangan tangannya di lengan Radit, mengelus perutnya yang masih datar dengan gerakan manja.
"Hahaha! Dasar perempuan bodoh!"
Tawa terbahak-bahak menyembur dari mulut Siska. Adik iparnya itu melangkah maju, memandang Aira dari atas ke bawah dengan tatapan jijik.
"Masih nanya lagi maksudnya apa? Kurang jelas? Mbak Mila itu sedang mengandung anak Mas Radit, penerus keluarga ini!"
"Iya, nih. Sudah bodoh, mandul lagi!" timpal Ibu mertuanya tanpa belas kasihan sedikit pun.
Wanita tua itu melangkah masuk mendesak Aira mundur, diikuti Siska dan Mila.
"Tiga tahun kamu tinggal di rumah anak saya, cuma bisa jadi beban! Jangankan ngasih keturunan, melayani Radit saja kamu tidak becus!"
"Ibu, Mas Radit."
Aira menggelengkan kepala dengan linangan air mata yang membasahi pipi.
"Kenapa kalian tega sama Aku? Aku selalu berusaha jadi istri dan menantu yang baik."
"Baik saja tidak cukup kalau tidak bisa memberikan keturunan, Aira!" potong Radit tegas.
Tatapan matanya yang dulu hangat, kini menyiratkan penolakan yang begitu nyata.
"Mila memberikan apa yang tidak pernah bisa kamu berikan selama tiga tahun ini. Jadi, mulai malam ini, perayaan ini bukan untuk kita, tapi untuk menyambut kehadiran calon anakku dan Mila."
Radit sama sekali tidak terpengaruh oleh linangan air mata di wajah Aira.
Pria itu menepis tangan Aira yang mencoba menggapai lengannya, lalu merogoh saku jas dan mengeluarkan sebundel amplop cokelat.
"Mulai malam ini, hubungan kita selesai, Aira," ucap Radit dingin.
Kalimatnya meluncur tanpa beban, seolah tiga tahun kebersamaan mereka tak memiliki arti apa pun.
"Aku, Radit, menjatuhkan talak padamu. Kamu bukan lagi istriku!"
Brak!
Amplop cokelat berisi dokumen perceraian itu dilemparkan tepat ke dada Aira hingga berhamburan di lantai.
Belum sempat Aira mencerna rasa hantam di dadanya, Siska dan Ibu mertuanya berjalan cepat menuju kamar utama.
Hanya dalam hitungan detik, suara lemari dibuka paksa bergemuruh dari dalam.
"I-ibu. Siska, kalian mau apa?!" jerit Aira panik, mencoba menyusul.
Namun Radit mencengkeram lengan Aira dengan kasar, menahannya di tempat.
Dari pintu kamar, Ibu mertua dan Siska mulai melemparkan pakaian, sepatu, hingga barang-barang pribadi Aira ke ruang tengah.
Baju-baju yang ditarik paksa dari gantungan beterbangan di udara, mendarat mengenaskan di atas meja makan yang sudah tertata rapi dan mengenai piring nasi yang sengaja Aira masak sejak siang.
Piring itu tumpah sedikit dan mengotori gaun kesayangan Aira dan mengotori taplak meja yang bersih.
"Bawa semua barang-barang sampahmu ini keluar dari rumah anakku!" seru Ibu mertuanya sadis.
"Jangan sentuh barang-barangku! Mas, hentikan mereka, Mas!"
Aira terisak histeris, berjuang melepaskan cengkeraman Radit.
Mila yang berdiri di samping Radit hanya menyilangkan dada, tersenyum sinis menikmati pemandangan Aira yang hancur berkeping-keping.
"Jahat kamu, Mas. Jahat!" jerit Aira dengan suara serak, terbebas dari pegangan Radit lalu berlutut di antara tumpukan pakaian yang basah oleh kuah masakan buatannya sendiri.
"Tiga tahun aku melayani kamu dan keluargamu tanpa mengeluh! Aku mengabdi tulus, Mas! Kenapa kamu tega melakukan ini di hari ulang tahun pernikahan kita?!"
"Karena kamu tidak berguna!" bentak Radit seraya menunjuk wajah Aira.
"Bawa kopermu dan pergi dari rumahku sekarang juga! Jangan pernah menampakkan wajahmu lagi di depanku!"
Aira terdiam sejenak. Tangis histerisnya perlahan mereda, digantikan oleh keheningan yang mencekam.
Matanya yang sembab menatap wajah-wajah orang di depannya satu per satu.
Radit yang dingin, Mila yang bertingkah seolah menang, serta Ibu dan Siska yang memandangnya penuh cemooh.
Sesuatu dalam diri Aira retak, lalu membakar habis seluruh rasa takut dan penghormatan yang selama ini ia miliki untuk mereka.
Tanpa mengucap sepatah kata pun, Aira bangkit berdiri.
Langkah kakinya tenang namun tegas menuju meja makan yang penuh dengan hidangan istimewa buatan tangannya.
"Mau apa lagi kamu? Mau memohon-mohon?" dengkus Siska meremehkan.
Aira tidak menjawab. Tangannya yang bergetar menempel di tepi meja kayu padat itu.
Dengan seluruh sisa tenaga dan amarah yang menumpuk selama tiga tahun, Aira mencengkeram pinggiran meja, lalu,
BRAKKK!
Satu sentakan kuat membalikkan meja makan secara brutal.
Piring-piring porselen pecah berkeping-keping di atas lantai, vas bunga hancur, dan mangkuk besar berisi sop buntut yang panas melayang di udara sebelum menghantam lantai dengan keras.
"Aaaaaakh! Panas! Mas Radit, panasss!" jerit Mila histeris ketika cipratan kuah sop buntut yang masih mengepul menyengat gaun mewahnya dan mengenai kulit kakinya.
Mila melompat-lompat panik sembari menangis ketakutan.
"Aira! Kamu gila, ya?!" bentak Siska murka saat melihat kekacauan di ruang tamu.
"Dasar perempuan gila!"
Siska melangkah maju hendak menyerang Aira, tetapi Aira bergerak lebih cepat.
Dengan mata menyalang penuh amarah, Aira meraih mangkuk kecil berisi sambal ulek pekat yang masih tersisa di lantai.
Sebelum Siska sempat bereaksi, Aira mencengkeram rahang adik iparnya itu dengan kasar dan mengoleskan seluruh sambal pedas itu tepat ke bibir dan mulut Siska!
"Mmmph! Huaaakh! Pedasss! Ibuuu, pedas!" jerit Siska histeris, memegangi mulutnya yang seketika terasa terbakar.
Ia berlutut di lantai sambil terbatuk-batuk dan merintih kesakitan.
Radit terpaku menatap aksi nekat Aira, sementara Ibu mertuanya berteriak panik mencoba menolong Siska dan Mila.
Aira menatap mereka tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Ia berjalan ke arah wastafel di sudut ruangan, memutar kran, lalu membasuh kedua tangannya hingga bersih dari sisa sambal.
Gerakannya begitu tenang di tengah jeritan histeris dan kekacauan yang menyelimuti rumah itu.
Setelah mengeringkan tangannya dengan serbet, Aira meraih koper pakaian yang tadi dilemparkan keluar, menggenggam erat gagangnya, lalu menatap Radit untuk terakhir kalinya.
"Persetan dengan kalian semua," desis Aira dingin.
Tanpa menoleh lagi, Aira mendorong pintu depan dan melangkah keluar menembus kegelapan malam, meninggalkan rumah yang telah menghancurkan hidupnya.
gimana Radit, ternyata kamu yang mandul 🤣🤣 jadi anak siapa yang dalam kandungan Mila? kan pelacur murahan yah 🤣🤣
niat hati menjatuhkan chef Aira, kamu yang akan menghadapi kekuasaan Lucas
mama kandung yang waras pasti ga akan mau punya menantu pelacur murahan seperti kamu, jadi jelas sekali chef Aira kelasnya jauh di atas kamu