Aksi heroik Kapten Fikri Rafisqy ditengah perampokan swalayan berujung duka. Berusaha menyelamatkan seorang anak kecil, Fikri tak sadar peluru maut mengincar nyawanya. Naas, seorang kakek justru mengorbankan diri demi menyelamatkannya. Dalam kondisi kritis dirumah sakit, sang kakek menyampaikan wasiat terakhir: Fikri harus menikahi cucu tunggalnya, Seruni Shafira, gadis penjual bunga kini sebatang kara.
Seruni menolak tegas. Bagaimana mungkin ia harus menikah disaat impian sekolahnya masih membumbung tinggi? Namun demi melunasi utang nyawa dan amanah terakhir, Fikri menerimanya. Didepan ruang ICU, ijab kabul terucap sebelum sang kakek mengembuskan napas terakhirnya.
Kini, kehidupan mereka berubah total. Bisakah Seruni menerima takdir pernikahannya bersama pria yang terpaut jarak usia 12 tahun darinya? Apalagi, Seruni masih bersikeras memanggil suami dengan sebutan "Paman"!
Saksikan kisah cinta penuh liku, aksi menegangkan dan kepolosan Seruni yang meluluhkan hati dingin Kapten Fikri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hukuman Yang Manis
Sesampainya di depan toko bunga Kakek Rahmat, jip hitam Fikri berhenti halus. Di pelataran toko, Briptu Mayang Sari masih berdiri tegap mengawal lokasi. Begitu melihat sang Kapten melangkah turun dari mobil, Mayang refleks menegakkan tubuhnya dan memberikan hormat sempurna.
"Lapor, Kapten! Tugas pengawalan telah dilaksanakan!" ujar Mayang lantang.
Fikri mengangguk pelan. "Bagus, Mayang. Terima kasih. Sekarang kamu bisa kembali ke markas."
"Siap, Kapten!" Mayang memberi hormat sekali lagi sebelum melangkah pergi.
Kini tinggal Briptu Dimas yang setia menunggu di balik kemudi jip. Fikri mengisyaratkannya untuk tetap berada di mobil, sementara ia melangkah masuk menembus pintu kaca toko bunga. Dering lonceng pintu berdenting lembut.
Di dalam, Seruni tampak lincah membungkus dua buket bunga krisan untuk beberapa pelanggan. Begitu matanya menangkap sosok Fikri yang berdiri tegap dengan wajah kaku, Seruni langsung merapatkan kakinya dan memasang posisi berdiri formal.
"Lapor Paman Kapten! Semuanya aman dan terkendali!" seru Seruni dengan raut wajah dibuat-buat seolah menjadi prajurit sejati.
Fikri hanya mengangguk tipis, menahan senyum di bibirnya. Tanpa banyak bicara, ia berjalan ke area belakang lemari display yang penuh dengan vas-vas bunga kecil, lalu menghempaskan tubuhnya di atas kursi malas.
Pikiran Fikri masih melayang pada pembicaraannya dengan sang atasan di markas tadi siang. Laporan pernikahannya yang ditangguhkan serta tekanan dari Jenderal Bambang cukup menguras pikirannya. Dari balik celah-celah lemari bunga, matanya melirik lembut ke arah Seruni yang masih sibuk mengobrol riang dengan pembeli. Karena lelah bercampur efek nyeri dari luka jahitan di perut dan pahanya yang mulai berdenyut, Fikri akhirnya memejamkan mata sejenak.
Sepuluh menit berlalu, pelanggan terakhir keluar dari toko. Seruni melangkah jinjit mendekati kursi malas.
"Paman Kapten... Runi sudah selesai," panggil Seruni pelan seraya menunduk. "Paman mau tidur di sini? Atau mau pulang ke rumah dinas?"
Fikri perlahan membuka matanya, menatap wajah polos istri kecilnya. "Kalau tidur di sini... memangnya ada tempat tidur?"
"Tentu saja ada! Toko ini kan punya lantai dua!" sahut Seruni bangga.
"Antar aku ke sana. Sepertinya aku terlalu lelah untuk kembali ke rumah dinas malam ini," kata Fikri. Wajahnya yang sedikit pucat tak bisa membohongi bahwa fisiknya memang butuh istirahat akibat luka tugas kemarin.
Seruni menatap Fikri dengan iba, lalu mengangguk cepat. "Ayo, Paman."
Gadis itu menuntun Fikri menaiki tangga kayu menuju lantai dua. Di atas, terdapat ruang santai sederhana dengan televisi kecil, dapur mungil, dan dua buah kamar.
"Ini kamar Kakek," tunjuk Seruni pada pintu kamar yang tertutup rapat di sudut paling ujung. "Dan ini kamar Runi," lanjutnya seraya mendorong pintu kamar yang agak kecil.
Di dalam kamar Seruni, terdapat satu ranjang kayu yang ukurannya jauh lebih kecil dibandingkan tempat tidur king size di rumah dinas Fikri.
"Paman tidur di kamar Kakek saja ya? Di kamar Runi tempat tidurnya kecil," ujar Seruni memberi saran.
"Tidak usah," balas Fikri santai seraya mulai membuka kancing baju dinas kepolisiannya, menyisakan kaos cokelat khas aparat yang membalut dada tegapnya. "Walaupun kecil, tempat tidur ini cukup untuk dua orang."
Seruni melotot. "Tapi Paman! Runi itu kalau tidur lasak banget lho! Paman kan masih terluka... Kalau tidak sengaja kena tendangan maut Runi bagaimana, ayo?"
Fikri hanya terkekeh pelan seraya mengibas-ibaskan tangannya. "Sudahlah. Sebaiknya kamu turun tutup toko bunganya. Minta Dimas kembali ke markas dan bilang padanya besok pagi jam delapan harus sudah jemput ke sini lagi."
Seruni memutar bola matanya, bersungut-sungut kesal karena sarannya diacuhkan begitu saja. "Iya, iya! Dasar Paman pemaksa!"
Dengan bibir cemberut, Seruni turun ke lantai satu. Ia mengunci pintu toko bunga, mematikan lampu depan, dan menyampaikan pesan Fikri kepada Briptu Dimas yang ada di jip. Setelah mobil Dimas berlalu, Seruni kembali menaiki anak tangga ke lantai dua.
Aroma gurih mi instan mendadak menyambut hidungnya di lantai atas. Seruni terperangah melihat Fikri sudah berdiri di dapur kecil, menyajikan dua mangkuk mi instan rebus berkuah hangat dengan telur setengah matang di atas meja makan mungil khusus dua orang.
"Isi kulkasmu hanya ada telur dan mi," kata Fikri santai. "Malam ini kita makan seadanya."
Seruni menyengir lebar, langsung menarik kursi dan mendudukinya. Ia menyambar sendok dan melahap mi buatan Fikri dengan antusias. "Hmm! Ternyata enak banget mi rebus buatan Paman Kapten!"
Fikri menatapnya datar. "Hanya untuk hari ini saja. Mulai besok tidak boleh lagi makan makanan seperti ini."
Seruni seketika menghentikan suapannya dan memelotot. "Lho! Kok begitu?! Mi instan kan makanan favorit Runi, Paman!"
"Tidak ada protes. Makanan instan tidak baik untuk kesehatanmu," pangkas Fikri tanpa kompromi.
Seruni hanya bisa mendengus pasrah. Selesai makan dan mencuci mangkuk, Seruni berjalan masuk ke kamarnya. Di sana, Fikri sudah berbaring di atas ranjang kecil, menyisakan sedikit tempat kosong di sisinya.
"Tuh kan, Paman! Sempit tahu kalau berdua!" gerutu Seruni melihat sisa ruang di kasur.
"Tidak. Kemarilah," panggil Fikri pelan seraya menepuk area kosong di sampingnya.
Seruni akhirnya merebahkan tubuhnya dengan canggung di tepi kasur. Tiba-tiba, tangan tegap Fikri terulur, menyelip lembut di bawah tengkuk Seruni, lalu menarik tubuh kecil gadis itu ke dalam pelukannya secara protektif.
"Tidak sempit, kan?" bisik Fikri sangat dekat di telinga Seruni, membuat bulu kuduk gadis itu seketika merinding hebat!
"I-iya... tapi tidak nyaman tahu, Paman! Runi tidak bisa napas!" cicit Seruni dengan wajah memerah padam.
"Diamlah, Runi," gumam Fikri seraya memejamkan mata.
Suasana kamar mendadak hening dan hangat. Hanya ada detak jantung Fikri yang berhembus teratur di dekat kening Seruni. Tak lama kemudian, Fikri kembali bersuara.
"Besok akhir pekan, kamu libur sekolah, kan?" tanya Fikri.
"Iya, libur," jawab Seruni pelan dari balik dada Fikri.
"Besok kamu ikut aku ke desa tempat aku dinas kemarin," tegas Fikri.
Seruni mendongak kaget dalam pelukan Fikri. "Loh! Sayang dong, Paman! Besok kan akhir pekan, toko bunga Runi pasti lagi ramai-ramainya!"
"Tidak ada bantahan, Runi. Besok kamu harus ikut aku... sebagai istriku," ujar Fikri dengan nada dalam dan penuh penekanan mutlak.
Seruni menggerutu kesal di dalam hati. "Huh! Sementang dia polisi, selalu saja mengatur orang seenaknya..."
Namun, sebelum kalimat gerutuannya selesai di dalam hati maupun bibirnya, Fikri mendadak menunduk dan meraup lembut seluruh bibir Seruni!
CUP!
Mata Seruni seketika membulat sempurna! Tubuhnya membeku kaku di tempat!
Begitu Fikri melepaskan tautan bibirnya dengan senyuman tipis yang sangat menawan, Seruni refleks menepuk dada tegap Fikri dengan wajah merona panas bagaikan kepiting rebus!
"AAAKHH! Ciuman pertamaku!" jerit Seruni histeris seraya memegangi bibirnya. "Paman jahat! Paman mesum!"
Fikri hanya terkekeh renyah, sebuah tawa langka yang terdengar sangat tampan, seraya makin mempererat pelukannya pada tubuh kecil istrinya.
"Itu hukuman kalau kamu tidak menurut pada suamimu," bisik Fikri santai, menutup matanya kembali untuk tidur, meninggalkan Seruni yang masih jantungnya berdebar kencang tak karuan di dalam dekapan sang Kapten.