【Perjuang keras meraih cinta+Cerita di waktu SMA+Romantis nonfiksi】Seseorang yang jatuh cinta kepda perempuan terpintar di sekolah... Meskipun dia bukan pria yang pandai dalam akademi tapi dia ingin membuktikan jika dia layak mendapatkan perempuan tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Putra Satria Hsb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31- Warna Baru di Barisan Belakang
Senin pagi datang membawa angin baru di SMA Negeri kami. Matahari terbit dengan cerahnya, menyinari halaman sekolah yang mulai ramai oleh riuh anak-anak yang bersiap mengikuti upacara bendera.
Bagi sebagian besar murid, hari Senin mungkin terasa berat. Tapi bagiku, Senin pagi kali ini terasa jauh lebih ringan dan membahagiakan. Ada perasaan hangat yang membuncah di dalam dada sejak aku melangkahkan kaki melewati gerbang depan sekolah.
Usai barisan upacara dibubarkan, aku dan Diko berjalan beriringan menyusuri koridor menuju kelas X IPA 2. Tas ransel hitamku tersampir di bahu kanan, sementara Diko sibuk mengunyah gorengan hangat yang baru dibelinya dari kantin samping.
Saat kami berdua melangkah masuk ke pintu kelas, mataku langsung tertuju ke barisan meja depan dekat jendela. Nara sudah duduk manis di sana bersama Rina, temannya. Dia mengenakan seragam putih abu-abu yang sangat rapi, dengan kerudung putih yang membingkai wajah cantiknya.
Mendengar langkah kaki kami masuk, Nara mendongak. Begitu matanya menatap wajahku, pipinya yang putih halus mendadak merona merah. Dia menyunggingkan senyum tipis yang sangat manis—senyuman khusus yang kini resmi menjadi miliku.
Aku membalas senyumannya dengan anggukan kepala pelan, lalu berjalan menuju bangku belakang tempat biasa aku duduk.
Baru saja aku mendudukkan badan di atas kursi kayu, Diko yang duduk di sebelahku langsung menyenggol lengan bahuku keras-keras. Matanya berkedip-kedip jahat dengan cengiran lebar yang bikin geli.
"Aduh, aduh... ada yang beda nih dari tatapan mata Ibu Negara!" bisik Diko heboh setengah berteriak pelan. "Lu utang cerita sama gue ya, Sat! Kemarin Sabtu malam ada pergerakan apa di BBM?!"
Aku terkekeh pelan sambil merapikan buku pelajaran Bahasa Indonesia di atas meja. "Gak ada apa-apa, Dik. Cuma obrolan biasa."
"Alah, bohong banget!" potong Diko tak percaya. "Tadi pas lu masuk pintu kelas, senyumnya Maknar beda banget, Bro! Gak galak kayak biasanya, tapi manis banget kayak ada madunya! Jujur lu, udah jadian kan?!"
Melihat Diko yang merengek penasaran seperti anak kecil, aku akhirnya menyunggingkan senyum lebar. "Iya, Dik. Kemarin sore resmi jadian."
Diko menepuk mejanya keras-keras sampai anak-anak di barisan depan sempat menoleh kaget.
"ANJIR! SERIUSAN, BRO?!" teriak Diko histeris sebelum akhirnya membungkam mulutnya sendiri karena sadar kelas mulai ramai. "Gokil! Selamat, Satria! Akhirnya perjuangan lu berdarah-darah di atas matras sama di atas sejadah terbayar lunas! Lu emang petarung sejati, Bro!"
Diko merangkul bahuku erat, ikut merasa senang luar biasa melihat sahabat seperjuangannya akhirnya mendapatkan kebahagiaan sejati.
"Sip, makasih ya, Dik. Tapi jangan heboh-heboh di kelas, kasihan Naranya nanti malu," pesanku pelan.
"Tenang, Bro! Tapi tetep... pajak jadian es teh sama bakso dua mangkok di kantin wajib hukumnya!" tagih Diko sambil tertawa ngakak.
Saat bel jam istirahat pertama berbunyi nyaring, kelas X IPA 2 mendadak agak lengang karena sebagian anak langsung berhamburan ke kantin.
Aku masih duduk di meja belakang, merapikan catatan pelajaran. Tiba-tiba, sebuah kotak makan plastik warna pink dan botol air mineral diletakkan di atas mejaku.
Aku mendongak. Nara sudah berdiri di samping mejaku. Dia melipat kedua tangannya di pinggang dengan gaya galak manis khasnya, tapi tatapan matanya terpancar kehangatan yang amat sangat.
"Dimakan tuh, Sat," kata Nara pelan dengan nada memerintah yang imut.
Diko yang masih duduk di sebelahku langsung berdiri spontan sambil mengangkat kedua tangannya. "Siap, Maknar! Gue tahu diri kok, gue ke kantin dulu ya biar gak mengganggu keharmonisan pasangan baru!"
Tanpa menunggu balasan, Diko meluncur cepat keluar kelas sambil tertawa-tawa.
Aku menatap kotak makan pink itu, lalu menatap Nara yang kini duduk di kursi kosong bekas Diko. "Ini apa, Ra?"
"Roti bakar keju buatan aku tadi pagi," jawab Nara agak malu-malu, jemarinya memainkan ujung jilbabnya. "Kemarin pas latihan silat kamu kan capek banget. Makanya aku bikin ini buat ganjal perutmu sebelum jam Olahraga nanti."
Aku membuka tutup kotak makan itu. Aroma harum roti bakar keju langsung menguar. Tanpa ragu, aku mengambil satu potong dan mengunyahnya pelan.
"Enak banget, Ra. Makasih banyak ya," kataku tulus sambil menatap matanya.
Nara tersenyum lega, matanya berbinar gembira melihatku makan dengan lahap. "Sama-sama, Sat. Habisin ya, jangan disisa-sisa!"
Di barisan tengah, aku sempat melirik sebentar ke arah meja Riski. Cowok itu duduk menyendiri sambil memandangi kami dari jauh dengan raut wajah yang serba salah dan serba canggung. Tidak ada lagi keberanian atau gaya sok hebohnya seperti dulu. Dia menyadari sepenuhnya bahwa masa kejayaannya sudah tuntas, dan kini aku serta Nara berdiri sebagai pasangan paling kuat di kelas.
Masa-masa awal jadian ini membawa warna yang sangat indah di sekolah. Nara yang biasanya terkenal sangat cuek dan galak pada cowok-cowok lain, kini menunjukkan sisi perhatiannya yang luar biasa padaku.
Suatu sore saat pelajaran terakhir usai dan kelas mulai sepi, rintik hujan turun membasahi lapangan sekolah.
Aku sedang mengemas buku-bukuku ke dalam tas ransel. Nara berjalan mendekati mejaku, berdiri di sampingku sambil memperhatikan kegiatanku.
"Sat," panggil Nara pelan.
"Kenapa, Ra?"
Nara memajukan badannya sedikit, menunjuk kancing lengan kemeja seragamku yang agak terlepas.
"Nih kancing lenganmu mau lepas," kata Nara. Tanpa canggung lagi, jemarinya yang halus melingkar di tanganku, merapikan letak kancing kemejaku dengan sangat telaten.
Jarak kami yang begitu dekat membuatku bisa menghirup aroma wangi minyak wangi bayi yang lembut dari jilbabnya. Dadaku berdesir hangat.
"Awas ya kalau di luar sekolah kamu keluyuran gak jelas sama Diko," celetuk Nara mendadak sambil mendongak menatap mataku dengan tatapan menuduh yang lucu.
Aku tertawa pelan. "Keluyuran ke mana coba, Ra? Kan tiap sore jadwal latihan silat di aula bawah."
"Ya siapa tahu... keluyuran nemuin cewek lain," goda Nara sambil mencubit pelan lengan atas kemejaku.
Aku menahan tangan halusnya, memandangi mata cokelatnya yang jernih dengan raut wajah yang sangat mantap dan tulus.
"Gak bakal, Ra," kataku pelan tapi sangat lugas. "Proses buat dapatin kamu itu panjang dan gak gampang. Gak bakal tak sia-siakan cuma buat hal-hal yang gak penting."
Mendengar kata-kataku yang begitu mantap, pipi Nara mendadak merah padam. Dia melepaskan tangannya pelan-pelan, menyeka rambut di balik kerudungnya sambil tersenyum malu-malu.
"Dasar pinter gombal..." bisik Nara pelan, walau kelihatan banget kalau hatinya berbunga-bunga luar biasa.
Sore itu, kami berjalan bersama menuju gerbang sekolah di bawah satu payung yang sama menembus gerimis tipis. Langkah kaki kami sejajar, mengayun pelan menyusuri jalanan kota yang mulai basah.
Dunia persekolahan masa SMA yang tadinya terasa penuh perjuangan, keringat, dan air mata, kini berubah menjadi lembaran cerita yang sangat manis. Kami berdua siap melangkah bersama, saling menjaga, dan saling menguatkan dalam setiap babak kehidupan di depan mata.