Anies Fadillah hanya ingin menenangkan hatinya yang lelah.
Namun satu langkah tergesa tanpa perhitungan di malam hari menyeretnya pada fitnah yang tak sempat ia luruskan.
Faktanya Anisa Fadillah gadis tujuh belas tahun itu berada di dalam kamar Ustadz Hafiz Arsyad, yang tak lain adalah putra bungsu dari Kiai Arsyad.
Sebuah peristiwa yang menguncang kehormatan, meski keduanya tak pernah berniat melanggar syari'at.
Ketika prasangka lebih dulu berbicara dan kebenaran tak sempat di bela, jalan yang paling tepat menjaga marwah adalah pernikahan.
Hari itu juga Mereka dinikahkan secara tertutup, dan pernikahan itu dirahasiakan dari publik, hanya orang ndalem yang mengetahui pernikahan rahasia antara Hafiz dan Anies.
Apakah pernikahan mereka akan bertahan?
Atau mungkin pernikahan mereka akan terbongkar?
Ikuti kisahnya yuk...!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ZIZIPEDI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 Kebimbangan.
Pagi menyapa dengan cahaya lembut.
Suara burung bersahutan di pepohonan sekitar penginapan. Setelah salat Subuh berjamaah di musala kecil, Gus Hafiz dan Anisa kembali ke mobil dan melanjutkan perjalanan.
Langit masih bersih ketika mereka memasuki Jakarta.
Perjalanan panjang itu terasa singkat, karena sepanjang jalan mereka lebih banyak diam Diam yang nyaman. Diam yang penuh pikiran masing-masing.
Mobil akhirnya berhenti di depan rumah besar bercat putih gading. Gerbang terbuka pelan.
Seorang wanita sepuh berkerudung sederhana berjalan tergesa keluar.
“Mbok Yem…” lirih Anisa.
Wanita tua itu tersenyum lebar. Wajahnya penuh garis usia, tapi hangat.
“Lho, Mbak Anisa… Alhamdulillah rawuh.”
Anisa turun lebih dulu dan mencium tangan Mbok Yem.
Gus Hafiz ikut menyalami dengan takzim.
Anisa menoleh ke dalam rumah.
Sepi. Terlalu sepi untuk ukuran rumah sebesar itu.
“Loh, Mbok… Papa Mama di mana?” tanyanya pelan.
Mbok Yem tersenyum canggung.
“Ibu sama Bapak ngajak Mbak Alika liburan ke Paris, Mbak.”
Anisa terdiam.
“Emang Bapak ndak kasih tahu, Mbak Nisa, to?"
Anisa menggeleng. "
Baru aja pesawat mereka berangkat jam tujuh pagi tadi.”
Kalimat itu seperti menghantam pelan, tapi tepat di dada.
Padahal tadi malam, Anisa sudah mengabari.
Sudah mengatakan ia pulang hari ini. Tak hanya itu, Anisa pun telah memberi tahu, bawaannya ia ingin berpuasa dan lebaran di Jakarta bareng keluarga.
Tapi ternyata, mereka memilih pergi diam-diam. Memilih menghindar.
Anisa tahu. Ini cara Mama Sarah. Tak ingin melihat wajahnya. Tak ingin berbagi ruang dengannya.
“Berapa lama, Mbok?” suara Anisa nyaris tak terdengar.
“Kata Ibu sampai habis lebaran, Mbak. Ibu minta lebaran di Paris.”
Habis lebaran.
Artinya, rumah ini memang sengaja dikosongkan untuknya.
Anisa tersenyum tipis.
Getir.
Namun ia cepat menunduk, tak ingin Gus Hafiz melihat luka yang baru saja menganga.
“Monggo, Gus. Masuk,” ujarnya berusaha biasa. Mereka melangkah masuk.
Rumah itu luas. Elegan. Namun terasa dingin.
Anisa berjalan menuju lantai atas. Gus Hafiz mengikuti tanpa banyak bicara.
Kamar Anisa terbuka.Tirai dibuka.
Cahaya pagi masuk, memperlihatkan taman luas di belakang rumah.
Semuanya indah. Namun terasa hampa.
Gus Hafiz berdiri di sampingnya.
“Papa Mama nggak ada di rumah… kamu yakin tinggal di sini sendiri?”
Anisa menoleh cepat.
“Kok sendiri? Bukannya Gus juga tinggal di sini, selama Ramadhan?”
Pertanyaan itu polos. Penuh harap. Namun jawaban yang datang justru mematahkan.
Gus Hafiz menggeleng pelan.
“Amanah Umi… Mas hanya diizinkan mengantarmu pulang. Bukan untuk tinggal.”
Sejenak, dunia terasa sunyi. Anisa menelan ludah.
Dadanya yang sejak tadi sesak kini terasa benar-benar penuh. Frustrasi itu akhirnya meluap.
“Pulang lah…” suaranya bergetar. “Kalau Gus juga ingin pergi meninggalkan aku…”
Air mata jatuh begitu saja. Tak bisa ditahan.
Rasa sedih itu menggantung. Ia merasa tak diinginkan.Tak diharapkan. Bahkan di rumahnya sendiri.
Gus Hafiz mendekat, hendak menariknya ke dalam pelukan. Namun dengan tegas, Anisa mendorong dadanya.
“Jangan buat aku berada di puncak paling tinggi, Gus…” suaranya pecah. “Kalau pada akhirnya Panjenengan juga akan menjatuhkanku.”
Ia tersenyum getir di sela tangisnya.
“Pulanglah kalau Gus ingin pulang. Aku tidak akan menahan Panjenengan.”
Kalimat itu menusuk.
“Dan aku…” ia terdiam sejenak, napasnya berat, “aku tahu… statusku. Dan tempatku di mana…”
Bisiknya lirih. Seolah ia sudah terlalu sering merasa menjadi yang tak sepenuhnya diterima.
Di rumah ini, ia anak dari madu.
Di keluarga Gus Hafiz, ia istri yang harus disembunyikan.
Ia berdiri di tengah, tapi tak benar-benar punya tempat.
Gus Hafiz terdiam. Kata-kata Anisa seperti cermin. Memperlihatkan betapa selama ini ia sibuk menjaga nama, menjaga amanah, namun lupa menjaga hati istrinya.
Di kamar yang luas itu, di bawah cahaya pagi yang terang, dua hati berdiri saling berhadapan, sama-sama mencintai, namun sama-sama terluka, oleh keputusan-keputusan yang bukan sepenuhnya milik mereka.
Di tengah keheningan yang menggantung dan napas yang masih tersengal oleh tangis, ponsel Gus Hafiz kembali berdering.
Nama yang tertera di layar membuat suasana makin menegang.
Umi Laila.
Gus Hafiz menatap layar itu beberapa detik, lalu mengangkat panggilan.
“Assalamu’alaikum, Mi.”
“Wa’alaikumussalam." sahut Umi Laila tegas. "Sudah sampai?”
“Alhamdulillah sudah, Mi. Baru saja.”
Tak ada basa-basi. Tak ada pertanyaan panjang. Hanya satu kalimat tegas yang langsung dijatuhkan.
“Kalau begitu segera pulang.”
Suara itu tidak tinggi. Tidak marah.
Tapi jelas.
Perintah.
Bukan permintaan.
Gus Hafiz terdiam sepersekian detik.
“Inggih, Mi…” jawabnya akhirnya, pelan.
Telepon terputus.
Sunyi kembali merayapi kamar.
Perlahan, ia menurunkan ponsel dari telinganya.
Dan saat ia mengangkat wajah, Anisa sedang menatapnya. Tatapan itu datar, tak lagi basah oleh tangis.
Tak lagi memohon. Hanya… kosong.
Seperti seseorang yang sudah menduga jawabannya.
Seperti seseorang yang sudah siap ditinggalkan. Dada Gus Hafiz terasa ditarik dari dua arah. Di satu sisi, ada titah ibu. Di sisi lain, ada remaja yang berdiri di hadapannya. Istrinya, wanita yang teramat ia cintai, wanita yang selalu ingin ia jaga, hatinya.
Anisa tersenyum tipis.
“Umi nyuruh Panjenengan pulang, Gus?”
Gus Hafiz tak langsung menjawab. Keheningan itu sudah cukup menjadi jawaban.
Anisa mengangguk kecil.
“Ya sudah… berangkatlah, hati-hati di jalan.”
Nada suaranya tenang, terlalu tenang.
“Anisa...”
“Ndak apa-apa,” potongnya lembut. “Aku sudah biasa kok… ditinggal.”
Kalimat itu seperti tamparan halus.
Biasa.
Berarti ini bukan pertama kali ia merasa begitu.
Gus Hafiz melangkah mendekat.
“Tapi Mas....” suaranya terputus, saat Anisa menyela.
“Titah orang tua itu harga mati, kan?” ulang Anisa pelan. “Aku nggak mau jadi alasan kamu durhaka, Gus.”
Bukan marah, bukan pula menyindir.
Justru itu yang membuatnya lebih menyakitkan.
Gus Hafiz memejamkan mata sejenak.
Ia benar-benar merasa terhimpit.
Jika ia pulang, ia taat pada Ibu.
Tapi ia meninggalkan hati istrinya yang sedang rapuh.
Jika ia tinggal, ia melawan perintah ibu.
Dan mungkin membuka celah pertikaian yang lebih besar.
Ia membuka mata. Menatap Anisa yang berdiri tegar di hadapannya.
Namun di balik ketegaran itu, ia tahu ada luka yang baru saja ditorehkan dua kali.
Tangan Gus Hafiz mengepal pelan.
Antara kembali ke Ponorogo, atau tetap di Jakarta, menemani istri tercinta yang sedang belajar kuat sendirian.
Yang jelas, pilihan itu kini bukan lagi soal jarak. Tapi soal, ia ingin menjadi anak yang patuh saja, atau suami yang bertanggung jawab di hadapan Allah.
Anisa menatap pria yang kini berstatus suami. Tatapan itu dalam, lama. Lalu perlahan Anisa membalik badan keluar dari dalam kamar menyisakan Gus Hafiz masih berdiri dengan ponsel di telinganya.