Yurinika tak mengira akan di labrak oleh selingkuhan suaminya. bukan hanya sekali tapi berkali-kali selingkuhannya itu datang dan melabrak dia. memintanya meninggalkan sang Suami Abimana. pria bingung itu justru tak mau meninggalkan keduanya.
hingga akhirnya Yuri benar-benar kecewa kepada Abimana dan saat tahu Sandra adalah anak dari atasannya di kantor membuat Yuri memiliki ide untuk memanfaatkannya.
apa yang akan di lakukan Yuri atas rasa kecewa yang dia dapat dari suami yang sudah dia bersamai dari titik nol sampai mereka menikah dua tahun? ikuti terus ceritanya.
dan jangan lupa baca karya othor lainnya dengan mencari nama pena Yam_zhie.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yurinika 28
"Kamu... kamu sengaja datengin istri sah aku buat nginjak-injak harga dirinya?!" suara Abimana tercekat di tenggorokan, matanya merah padam. Bukan karena ia membela Yuri, melainkan karena ketakutan luar biasa akan apa yang mungkin sudah dilakukan Yuri di belakang mereka.
"Kenapa emangnya?!" tantang Sandra tanpa rasa bersalah sedikit pun, mendongakkan kepalanya makin tinggi.
"Perempuan kayak Yuri itu emang pantes digituin! Biar dia sadar diri kalau dia cuma remahan remah rengginang yang nggak level sama kita! Lagian, waktu itu dia sok jual mahal, sok tegar, bahkan sempat-sempatnya berbuat kasar sama aku! Bukannya kamu bilang nggak cinta sama wanita kampung dan kumal kayak dia? Kenapa sekarang kamu malah marah sama aku?"
"Jangan bilang kalau kamu anggap hubungan kita ini cuma main-main, Abi! Kamu tahu komsekuensinya apa kan?"
Abimana terlihat frustasi dan dilema. Dia tak mengira akan berada di dalam keadaan yang sangat sulit seperti ini. Abimana terhuyung mundur selangkah, napasnya memburu tak beraturan seolah paru-parunya kekurangan oksigen. Matanya yang merah padam menatap Sandra dengan kombinasi antara rasa ngeri, jijik, dan keputusasaan yang mendalam.
"Main-main...?" ulang Abimana dengan suara serak, nyaris seperti bisikan penuh teror. Ia menggelengkan kepalanya kuat-kuat, menjambak rambutnya sendiri hingga helaiannya berantakan.
"Kamu benar-benar gila, Sandra! Kamu pikir ini masalah aku menganggap hubungan kita main-main atau serius?! Kamu nggak tahu apa-apa tentang Yuri!"
Sandra tertegun melihat reaksi histeris Abimana. Alisnya bertaut tajam, dagunya terangkat dengan sisa-sisa keangkuhan yang mulai goyah.
"Ih, kenapa jadi kamu yang parno sendiri, Mas?!" bentak Sandra, mencoba mempertahankan gengsinya di hadapan keluarga Abimana yang kini menonton dengan tegang.
"Emangnya ada apa sih sama Yuri?! Dia kan cuma perempuan lemah yang numpang hidup dari kamu! Mau dia ngamuk kayak apa juga, dia nggak bakal bisa sentuh kita! Paling-paling dia cuma nangis di pojokan kamar!"
"Nangis kamu bilang?!" suara Abimana melengking tinggi, memotong ucapan Sandra dengan nada putus asa. Pria itu menggeleng panik, air mata penyesalan dan ketakutan mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Kamu nggak kenal Yuri, Sandra! Selama ini... selama ini yang menopang hidup aku, yang mendoakan aku setiap malam, yang ngerawat aku dari nol waktu aku bukan apa-apa... itu Yuri!"
Sandra terbelalak sejenak, namun segera mendengus sinis. "Terus kenapa?! Kalau dia begitu, tinggal buang! Kenapa sekarang kamu malah gemetar kayak orang ketakutan gitu? Bukannya dari awal kamu bilang nggak cinta sama wanita kampung dan kumal kayak dia? Kenapa sekarang kamu malah kelihatan mau mati gara-gara mikirin dia?!"
"Karena aku cinta sama dia, Sandra!" teriak Abimana putus asa, suaranya pecah di tengah keheningan ruang tamu itu.
Pengakuan itu meluncur begitu saja dari bibir Abimana, menghantam dinding ruang tamu dan membuat seluruh orang di ruangan tersebut tertegun membeku. Bu Gina terpana, Zaki melongo, dan Sandra membelalak tak percaya.
Abimana merosot terduduk lemas di lantai, menutup wajahnya dengan kedua belah tangan sementara bahunya bergetar hebat.
"Aku... aku memang salah, aku khilaf terbuai sama harta dan jabatan kamu, Sandra..." isak Abimana tertahan, suara keangkuhannya sirna tak bersisa, bergantikan kehancuran total seorang pria yang menyadari ia baru saja kehilangan satu-satunya orang yang benar-benar tulus mencintainya.
"Tapi aku nggak pernah berniat ninggalin Yuri... Aku cuma mau gila-gilaan sebentar, aku pikir Yuri bakal selalu ada di rumah nungguin aku... Tapi kalau sampai Yuri benar-benar tahu semuanya... kalau sampai Yuri ninggalin aku... aku bakal hancur, Sandra! Hidup aku bakal habis!"
Sandra menatap pria yang bersimpuh di hadapannya itu dengan rasa jijik dan amarah yang meluap-luap. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa pria yang selama ini dipujanya sebagai eksekutif sukses ternyata bernyali selemah itu.
"Jadi... kamu cuma mempermainkan aku selama ini, Mas?!" suara Sandra bergetar hebat, matanya menatap Abimana dengan tatapan penuh kebencian.
"Kamu cuma mau memanfaatkan fasilitas dan jabatan dari aku buat ambisi kamu, sementara hati kamu tetap buat istri kampungan itu?!"
Abimana mendongakkan kepalanya, wajahnya basah oleh air mata ketakutan. Ia menatap Sandra dengan tatapan memohon.
"Tolong aku, Sandra... Beri aku waktu... aku harus menjelasakan semuanya kepada Yuri. Apalagi kamu bilang kamu sudah ebrtemu dengan dia. Sedangkan Yuri tak mengatakan apapun padaku! Dia juga masih bersikap biasa padaku, Sandra!"
"Nggak mau. Aku dan kamu akan tetap menikah setelah kamu menceraikan wanita itu! Aku tidak mau di sebut pelakor! Dan kamu ingatlah kalau semua kendali atas jabatan kamu ada di tanganku! Kecuali kalau kamu ingin kembali menjadi gembel jalanan, silahkan saja!"
"Sandra..." Panggil Abimana lirih. Perasaannya benar-benar berkecamuk.
"Kita ke apartemen aku!"
Sandra mencengkeram pergelangan tangan Abimana dengan kasar, memaksa pria yang masih bersimpuh di lantai itu untuk bangkit berdiri. Kilatan amarah, rasa dipermalukan, dan ego yang terluka bercampur baur di wajah cantik Sandra.
"Berdiri, Abimana!" sentak Sandra dengan suara dingin yang mengiris udara ruang tamu.
"Jangan bikin malu diri kamu sendiri di depan keluarga kamu! Mau ditaruh di mana muka aku kalau kamu malah nangis dan memohon-mohon di lantai kayak orang patah semangat begini?!"
Abimana terhuyung berdiri dengan lutut yang lemas. Wajahnya basah oleh air mata, matanya merah sembab, dan penampilannya yang tadinya tampak sebagai eksekutif rapi kini tampak hancur lebur tanpa sisa. Ia melirik sekilas ke arah ayahnya, Pak Damar, yang berdiri tegap dengan tatapan paling menghinakan sedunia, sebuah tatapan yang menyiratkan bahwa Abimana bukan lagi anak yang ia banggakan, melainkan seorang pengecut yang gagal menjaga kehormatan rumah tangganya sendiri.
Bu Gina dan Zaki terdiam seribu bahasa, tidak berani berkutik melihat situasi yang berbalik menjadi mimpi buruk bagi keluarga mereka.
"Kita pergi dari sini sekarang juga!" perintah Sandra mutlak, tanpa sedikit pun memedulikan tatapan murka Pak Damar. Ia menarik lengan Abimana dengan paksa menuju pintu keluar.
"Kamu harus ikut aku ke apartemen! Kita selesaikan urusan ini kepala dingin, dan kamu harus dengar apa instruksi selanjutnya dari aku!"
Abimana, yang jiwanya sudah kosong tersisa ketakutan akan kehilangan Yuri, hanya bisa berjalan tertunduk bagaikan kerbau dicucuk hidung. Ia terseret langkah kaki Sandra keluar dari rumah kecil itu, meninggalkan tumpukan kantong belanjaan mewah yang tadi sempat dipuja-puja oleh ibu dan adiknya.
km udh gx bisa keluar dr cengkraman nenek lampir berkedok malaikat mu😏
knp km nekat ,, gila gilaan bersama nenek lampir ,, gila gilaan ,, gila gilaan ,,
lama2 km jd gila beneran Abimana😏😏😏