Arga pulang ke dusun terpencil di Banyuwangi warisan kakeknya, di kaki Gunung Raung.
Kampung itu aneh, Azan terdengar jam 3 pagi tanpa muadzin, rumah kosong tapi piring masih hangat. Warga tutup pintu sebelum maghrib.
Ternyata kampung itu dibagi dua: Jin Islam yang sholat dan menjaga, dipimpin Ustadz ghaib bernama Malik dan Jin Kafir haus tumbal yang disegel di pohon beringin Alas Purwo.
Kepulangan Arga membangunkan Jin Kafir. Sekarang dia harus pilih: kabur dan biarkan gadis yang dia suka jadi tumbal, atau sumpah setia jadi penjaga manusia untuk pasukan Jin Islam.
Kalau kalah, kampung ini akan hilang dari peta Banyuwangi selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devi Wahyuni Halim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 : Malam Di Mana Manusia Jadi Mangsa
Tangan Ibu kandungku, Mira, masih keluar dari retakan masjid dua puluh meter, ditarik Banaspati. Jari-jarinya putih pucat, kuku-kukunya berdarah, dia cakar-cakar lantai masjid yang sudah jadi tulang.
"Arga... tolong Ibu..."ucap ibuku.
Aku mau lari tarik tangan Ibu, tapi Malik tahan aku dari belakang, tangannya cahaya putih pegang pundakku keras.
"JANGAN! Kalau kau tarik tangan ibumu sekarang dari retakan itu, kau akan ketarik masuk ke Alam Seberang dan gerbang dua puluh meter itu akan jebol jadi empat puluh meter dan masjid runtuh ,Satu-satunya cara selamatkan ibumu dan tutup retakan dua puluh meter itu, kau harus Sumpah Setia Kepada Jin Islam! ucap Malik.
Aku balik badan, "Sumpah apa? tanyaku.
Kiai Jirji, ayahnya Jamil yang abu-abu, yang jubahnya sobek-sobek habis perang, maju ke tengah masjid, di tengah empat puluh meter warga yang ketakutan dan 300 Jin Islam yang pegang pedang cahaya.
Kiai Jirji buka kitab tua kulit kerbau, kitab Mbah Suro Joyo tahun 1984, halaman 77, judulnya "Sumpah Penjaga Baru".
"Arga, kamu masih dianggap tamu. Tamu tidak bisa perintahkan Jin Islam, tamu tidak bisa tutup gerbang, tamu yang hanya bisa lihat. Mbah Suro Joyo dulu juga tamu sampai tahun 1984 dia sumpah setia, baru dia bisa punya Tongkat Cendana, baru dia bisa buat Perjanjian Darah Leluhur..."ucap Malik.
Aku lihat sekeliling, 300 Jin Islam semua menatap aku dan menunggu. Bahkan anak kecil 5 tahun anak Malik yang tadi jadi meteor cahaya, dia menatap aku, mata putihnya berkaca-kaca.
Malik jelaskan, "Sumpah Setia Kepada Jin Islam itu bukan syahadat biasa. Ada tiga syarat, kalau gagal satu, kamu mati, ibumu mati, kampung hilang dari peta.
"Apa tiga syaratnya? tanyaku.
Malik angkat jari satu, "Pertama: Kau harus minum Banyu Suci yang sudah dicampur darah empat puluh warga yang tadi kesurupan massal , Darah mereka masih ada sisa telur Ulo Sowo, kalau kamu minum, kamu akan rasakan kesurupan massal empat puluh orang sekaligus dalam satu menit. Kalau kamu kuat, kamu sah jadi saudara warga."
"Kedua: Kamu harus tulis nama ibumu Mira, nama Bapakmu Hendro, nama Ibu Angkatmu Bu Wiwik, dan nama adikmu Rania di atas kain kafan bayi peninggalan Beringin Kembar pakai darahmu sendiri. Itu artinya kamu relakan keluargamu jadi bagian penjaga, tidak bisa lagi hidup normal di Surabaya."
Ketiga, yang paling berat, "Ketiga: Kamu harus sholat 2 rakaat di atas retakan dua puluh meter yang ada tangan ibumu itu, sambil tangan ibumu pegang kakimu. Kalau kamu jatuh ke retakan saat sholat, kamu jadi tumbal ganti ibumu." Tiga syarat sumpah setia itu berat semua...."ucap Malik.
Aku tidak punya pilihan. Tangan Ibu masih menjerit di retakan.
Aku mengangguk tanda setuju.
SYARAT PERTAMA: MINUM DARAH WARGA.
Bu Lastri, Pak Min, Sari, empat puluh warga yang di dalam masjid, mereka disuruh Malik sayat sedikit jarinya, darahnya diteteskan ke satu mangkok Banyu Suci, air putih bercahaya yang dari sumur bening.
Mangkok itu diberikan ke aku.
Airnya putih, tapi di dalamnya ada empat puluh tetes darah merah, dan kalau dilihat dekat, ada bintik-bintik hitam bergerak, telur gaib Ulo Sowo sisa kesurupan massal.
Aku minum.
Begitu air masuk mulutku, kepalaku langsung pecah.
Aku merasakan empat puluh kesurupan sekaligus: aku merasakan Bu Lastri siram minyak panas ke kepalanya, aku merasakan Pak Min pukul kentongan pakai kepala, aku merasakan dua puluh anak di genteng bernyanyi Jawa kuno, aku merasakan Pak Lurah makan tanah. empat puluh rasa kesurupan masuk otakku satu menit.
Aku jatuh, kejang, mata putih, muntah air hitam.
Sari pegang aku, "Kak Arga! teriak Sari.
Tapi setelah satu menit, aku muntah terakhir, air hitam keluar semua, dan di lantai air hitam itu membentuk tulisan: "SAUDARA WARGA SAH".
Syarat pertama lolos.
SYARAT KEDUA: TULIS NAMA KELUARGA PAKAI DARAH DI KAIN KAFAN
Kiai Jirji kasih kain kafan bayi anak Kecil bermata hitam, kain yang dipakai bungkus dua puluh anak mata hitam.
Aku sobek telapak tanganku lagi, darah segar keluar, aku tulis pakai jari:
MIRA - Ibu Kandung (mati tahun 2009)
HENDRO - Bapak Kandung
WIWIK - Ibu Angkat (Surabaya)
RANIA Adik
Begitu aku tulis RANIA, kain kafan itu terbakar sendiri tapi tidak habis, tulisannya jadi cahaya putih, masuk ke dahiku. Artinya keluargaku resmi terikat jadi keluarga penjaga. Rania di Surabaya yang dijaga Bu Wiwik, tiba-tiba di video call terakhir, dia bersin darah, tanda ikatan masuk.
Syarat kedua lolos.
SYARAT KETIGA: SHOLAT DI ATAS RETAKAN DUA PULUH METER SAMBIL DIPEGANG TANGAN IBU.
Retakan masjid dua puluh meter menganga, dalamnya terlihat tulang dan api Alam Seberang, dan tangan Ibu Mira masih keluar, pegang bibir retakan.
Aku harus sholat di bibir retakan itu.
Aku wudhu pakai Banyu Suci, aku berdiri di bibir retakan dua puluh meter, kaki kiriku di lantai masjid yang masih keramik, kaki kananku di atas tulang Alam Seberang.
Tangan Ibu langsung pegang kaki kananku, dingin, kuku berdarah.
Aku takbir, "Allahu Akbar..."
Begitu takbir, Banaspati dari luar masjid, yang masih kepung kampung, dia kirim angin hitam masuk ke masjid, angin itu dorong aku biar jatuh ke retakan dua puluh meter.
Malik dan 300 Jin Islam buat lingkaran, baca ayat kursi 1000x bersamaan, tahan angin hitam itu.
Aku lanjut, ruku, sujud. Saat sujud, dahiku menyentuh tulang Alam Seberang, aku lihat di bawah retakan, ada ribuan wajah penjaga lama, termasuk Mbah Suro Joyo kakekku, mereka semua sujud juga, mereka dukung aku.
Saat aku duduk tahiyat akhir, tangan Ibu yang pegang kakiku, yang tadi dingin, jadi hangat, dan Ibu berbisik dari dalam retakan, "Arga, Ibu lepas, kamu sudah sah jadi penjaga, sumpahmu diterima..."ucap ibuku.
Aku salam, "Assalamualaikum warahmatullah..."
Begitu salam, retakan dua puluh meter yang ada tangan Ibu, langsung bercahaya putih terang sekali, mengecil dari dua puluh meter jadi dua meter!
Tangan Ibu yang tadi ditarik Banaspati, sekarang bisa keluar sendiri, Ibu Mira keluar setengah badan dari retakan, sudah tidak ditarik, tapi keluar sukarela dan peluk aku.
Aku berhasil. Sumpah Setia Kepada Jin Islam diterima.
300 Jin Islam di dalam masjid langsung berlutut semua ke aku, termasuk Kiai Jirji dan Malik, mereka tunduk, "Penjaga Baru... Penjaga Sah Dusun Krajan..."ucap Malik.
Anak kecil 5 tahun anak Malik lari peluk kaki ku, "Kak Arga penjaga! ucapnya.
Di luar masjid, Banaspati menjerit marah, karena kepungannya gagal total, retakan yang dia pakai untuk tarik Ibu, sekarang jadi dua meter dan bercahaya putih, tidak bisa dipakai lagi.
Tapi Ibu Mira yang keluar setengah badan dari retakan dua meter itu, dia hanya bisa keluar setengah, pinggang ke bawah masih di Alam Seberang, dia bilang, "Arga, sumpahmu baru setengah, kamu baru sumpah ke Jin Islam, tapi kamu belum sumpah ke warga manusia, dan kamu belum sumpah ke tanah Krajan sendiri. Dan ingat, karena kamu tulis nama Ibu Angkatmu Bu Wiwik di kain kafan tadi, sekarang Bu Wiwik jadi target Banaspati selanjutnya, karena darahnya sudah terikat."
Aku lihat HP, video call Bu Wiwik Ibu Angkat masih menyala, tapi di belakang Bu Wiwik di rumah Surabaya, di dinding kamarnya, ada bayangan kepala kerbau Banaspati.
Sumpah Setia Kepada Jin Islam selesai, tapi harga untuk menjadi penjaga baru dimulai.