Di ulang tahun pernikahan nya yang ke sepuluh, Sarah di minta oleh ibu mertua nya menyusul Gibran yang tinggal di tanah perantauan.
Tapi alangkah terkejut nya Sarah, dia menemukan suami nya sudah menjadi suami dari wanita lain. Bahkan mereka sudah memiliki anak berusia 7 tahun. Hal yang lebih mengejutkan, setiap tahun mertua nya datang ke sana mengunjungi mereka serta memberikan banyak hadiah.
Merasa di khianati, Sarah memutuskan kembali ke kota dan memilih untuk berpisah. Tapi setiba nya di rumah, sebuah fakta baru terungkap. Selama ini suami nya membohongi ibu nya sendiri dan menjual nama Sarah demi wanita itu.
Gibran, suami nya Sarah di dukung oleh ayah nya dan juga wanita yang menjadi selingkuhan dari Ayah nya. Ibu mertua nya mendukung Sarah dan membalas perbuatan anak dan suami nya, 2 orang yang berusaha merampas semua harta nya. Tepat di hari Gibran melakukan resepsi mewah, Ibu nya dan Sarah datang memberikan kejutan yang tak terduga untuk Gibran dan juga ayah nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31
Malam ini Sarah sedang memandangi langit - langit kamar nya, entah kenapa mendadak sekarang dia merasa tidak nyaman tinggal di rumah ini lagi. Mengingat diri nya bukan lagi istri dari Gibran, dia sebenar nya tidak mau lagi tinggal di rumah ini. Tapi Bu Meri tidak mengizinkan dia pergi dari rumah ini.
"Sebaik nya aku pergi saja dari rumah ini, biar bagai mana pun mas Gibran lebih berhak atas rumah ini. Dia adalah putra kandung nya ibu, sedangkan aku cuma mantan menantu!" Guman Sarah.
Sarah sadar, cepat atau lambat Gibran pasti akan merebut rumah ini. Karena Sarah tahu seperti apa kelakuan nya Gibran dan ayah nya, beberapa hari yang lalu Sarah tidak sengaja mendengar rencana licik Gibran dan ayah nya terhadap bu Meri.
Tok, tok, tok.
Pintu kamar Sarah di ketuk dari luar.
"Masuk kah bu, pintu nya tidak di kunci!" Jawab Sarah dari dalam kamar.
Pintu pun terbuka, dan Bu Meri masuk ke dalam kamar nya Sarah sambil membawa sebuah amplop besar yang berwarna coklat.
"Sarah, kamu belum tidur nak?" Tanya bu Meri berbasa - basi.
"Belum bu!" Jawab Sarah sambil menggelengkan kepala nya.
"Sarah, apa yang kamu fikirkan nak?" Tanya Bu Meri dengan nada lembut.
"Tidak ada bu!" Jawab Sarah singkat.
"Sarah, walaupun aku bukan lah wanita yang melahirkan mu. Tapi aku sudah hidup bersama mu selama 12 tahun, ibu tahu nak saat ini kau tengah memikirkan sesuatu. Cerita sama ibu nak, jangan di pendam sendiri!" Bujuk Bu Meri.
Sarah menghela nafas berat sebelum menjawab pertanyaan dari bu Meri, mungkin memang ini lah saat nya Sarah harus jujur.
"Bu, sebenar nya aku tidak mau tinggal lebih lama di rumah ini. Mengingat aku dan mas Gibran sudah resmi berpisah, biar bagai mana pun mas Gibran lebih berhak atas rumah ini. Karena dia adalah satu - satu nya putra kandung ibu!" Sarah lalu menceritakan apa yang mengganjal di dalam hati nya.
"Sarah, ibu paham akan perasaan mu nak. Ibu setuju jika kau mau pergi dari rumah ini nak, ini untuk mu!" Bu Meri memberikan amplop coklat yang dia bawa tadi.
"Apa ini bu?" Tanya Sarah yang mulai penasaran.
"Buka saja nak!" Perintah bu Meri.
Sarah langsung membuka amplop yang di berikan oleh bu Meri, lalu dia pun mengeluarkan semua isi nya.
"Ibu, ibu memberikan semua ini untuk ku?" Tanya Sarah dengan suara bergetar.
"Iya nak, ibu sengaja membelikan nya untuk mu. Ibu tahu nak, selama menikah dengan Gibran impian mu adalah memiliki rumah sendiri. Gibran tidak pernah mau mewujudkan keinginan mu itu, jadi biar ibu yang mewujudkan nya!" Jawab Bu Meri sambil tersenyum.
"Tapi bu, aku tidak bisa menerima nya!" Sarah mengembalikan amplop itu pada bu Meri.
"Sarah jangan menolak nya, semenjak ibu tahu jika Gibran mengkhianati mu. Sejak itu lah ibu mulai menyiapkan semua ini untuk mu!" Bu Meri berkata pada Sarah sambil menyerahkan kembali amplop itu ke pangkuan Sarah.
Amplop itu berisi sertifikat rumah mewah atas nama Sarah, bu Meri sengaja membelikan nya secara diam - diam. Dia ingin mewujudkan keinginan Sarah sejak dulu, memiliki rumah sendiri.
"Ibu,,,,!!!" Sarah tidak bisa meneruskan kata - kata nya.
Diar menangis sambil memeluk erat tubuh bu Meri, dia menangis di dalam pelukan nya.
"Sarah, ibu tahu nak. Gibran tidak akan membiarkan mu hidup dengan tenang di rumah ini, itu lah sebab nya ibu sengaja membelikan rumah baru untuk mu agar kau bisa hidup dengan nyaman tanpa ada nya gangguan dari Gibran!" Bu Meri berkata sambil mengelus puncak kepala Sarah.
"Ibu, apa ibu menggunakan uang penjualan tanah milik untuk untuk membeli rumah ini?" Tanya Sarah sambil mengurai pelukan nya dari tubuh Bu Meri.
"Iya nak, di tambah uang tabungan ibu selama ini!" Jawab Bu Meri sambil tersenyum.
"Ibu, bagai mana jika nanti mas Gibran dan bapak menanyakan tentang uang itu. Mas Gibran dan bapak pasti akan sangat marah saat dia mengetahui semua nya!" Sarah berkata pada bu Meri.
"Kamu jangan takut nak, Gibran dan ayah nya biarlah menjadi urusan ibu. Ibu yang akan menghadapi mereka berdua!" Bu Meri berkata dengan tenang.
"Ibu, terima kasih bu. Sekalipun aku dan mas Gibran sudah resmi berpisah, tapi ibu baik sekali pada ku yang cuma bekas menantu ini!" Sarah berkata dengan nada sendu.
"Sarah, selama 10 tahun ini kau lah yang sudah merawat ku. Sedangkan anak dan suami ku, mereka malah asyik berselingkuh dengan wanita pilihan mereka!" Ujar bu Meri.
"Sarah, ibu tahu nak. Kau tidak nyaman tinggal di rumah ini, karena setiap hari Gibran selalu datang ke rumah ini. Jadi mulai besok, kau bisa tinggal di rumah itu nak!" Kembali bu Meri berkata.
Sarah bahagia sekali mendengar nya, bu Meri benar - benar sosok wanita yang berhati mulia. Sarah berjanji pada diri nya sendiri, bahwa dia lah yang akan merawat bu Meri kelak hingga akhir hayat nya.
Sementara itu di tempat yang berbeda, bu Siti dan pak Burhan sedang menghitung uang dari hasil penjualan semua perhiasan milik bu Siti.
"Pak, uang dari hasil menjual semua perhiasan itu adalah 35 juta. Jadi besok kita bisa langsung menemui agen nya, untuk membayar uang muka nya!" Bu Siti berkata pada pak Burhan.
"Kamu benar sekali sayang, besok pagi kita akan menemui orang itu untuk membayar uang muka rumah kita!" Pak Burhan setuju dengan apa yang di katakan oleh bi Siti.
"Mas, aku sudah tidak sabar lagi mau tinggal di rumah kita sendiri!" Ujar Bu Siti.
"Mas juga sayang!" Jawab pak Burhan yang langsung memeluk tubuh bu Siti.
"Mas, sampai kapan kita akan terus seperti ini. Main kucing - Kucingan di depan semua orang, aku muak mas. Aku mau hubungan kita ini di resmikan secara terang - terangan, agar tidak ada lagi ucapan miring orang - orang!" Bu Siti berkata dengan wajah cemberut.
"Sayang, setelah aku dan Gibran berhasil mendapatkan semua uang nya Meri. Aku akan segera menceraikan diri nya, dan aku akan mengumumkan hubungan kita di depan banyak orang!" Pak Burhan berkata sambil menggenggam erat tangan Bu Siti.
"Benarkah itu mas?" Tanya bu Siti dengan wajah berbinar.
"Benar sayang, sabar lah sebentar lagi. Tidak lama lagi uang nya akan cair, dan setelah itu aku akan langsung menceraikan Meri dan mengumumkan hubungan kita berdua!" Pak Burhan berjanji pada bu Siti.
"Terima kasih mas, aku senang sekali mendengar nya!" Bu Siti tidak bisa lagi menahan rasa haru dan bahagia nya.
Sebuah senyuman terbit di sudut bibir bu Siti, dia merasa menang karena sudah mendapatkan hati pak Burhan selama nya. Tidak lama lagi, dia dan pak Burhan akan mengumumkan tentang hubungan mereka berdua di depan orang banyak, sebentar lagi dia akan menjadi satu - satu nya pak Burhan.
klo g pngen hidup susah..... krja dunk santi....
wloupun g bikin kaya.... stidknya klo krja punya uang untuk mnyambung hidup.... bisa beli mkanan untuk ankmu...