"Perhatian ini yang aku inginkan. Tapi ... kenapa rasanya asing?" ~Danira
...
Seperti biasa, Ezran pergi ke luar kota untuk mengurus bisnisnya. Danira dan kedua anak mereka sudah terbiasa dengan rutinitas itu.
Namun ketika Ezran kembali, ada sesuatu yang terasa berbeda.
Pria yang biasanya sibuk, cuek, dan selalu punya alasan untuk menolak menghabiskan waktu bersama anak-anak, kini justru menjadi jauh lebih perhatian.
“Ma, Papa ... aneh,” ujar Arelio, anak pertama mereka.
Senara pun, ikut memperhatikan. “Iya, tumben nda malah-malah macam Papa tili Cindelela?”
Danira hanya terdiam. Ia juga merasakan perubahan itu.
Ezran mulai mengantar anak-anak, membantu pekerjaan rumah, bahkan memperhatikan hal-hal kecil tentang Danira yang selama ini tak pernah ia pedulikan.
Awalnya Danira bahagia. Namun semakin lama, perubahan itu justru membuatnya curiga.
Apa yang sebenarnya terjadi selama Ezran pergi Dan mengapa pria yang kembali ke rumah itu terasa begitu berbeda dari suami yang ia kenal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kenz....567, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kisah Lama
Makan malam bersama digelar di ruang makan utama kediaman Pranaja. Suasana yang biasanya hening dan kaku kini terasa ramai dan hangat. Percakapan didominasi oleh Senara yang sibuk berceloteh riang sembari mengayun-ayungkan sendok plastiknya. Tama Pranaja, pria paruh baya yang biasanya berwajah dingin itu, tampak tekun menimpali setiap racauan cucu kecilnya dengan senyum terkembang.
"Kakek, kakek kenapa nda lagi cali ictli? Kalau kakek cali ictli, kakek kan nda cendilian. Memang nda bocen kecepian? Itu di kantol Papa, banyak cewek pilang. Cantik-cantik, Kakek! Tapi macih cantik Cena, sih. Tapi nda papa, kakek kan cudah keliput, jangan banyak mau," celoteh Senara polos dengan nada sok tahu yang menggelitik.
Tama terkekeh renyah, menggeleng-gelengkan kepalanya seraya menghela napas pelan.
"Sena!" tegur Danira cepat, merasa sungkan dan tak enak hati. Menurutnya, perkataan putrinya sudah melampaui batas kesopanan.
Namun, Tama justru mengibaskan tangannya santai. "Tak apa, Menantu. Namanya juga anak kecil. Dia sangat menggemaskan, Papa sama sekali tidak tersinggung," ucap Tama ramah.
Sejujurnya, Tama jauh lebih menyukai cucunya yang aktif dan banyak bicara seperti Senara. Kehadiran bocah itu berhasil menyulap suasana rumah besarnya yang biasa sepi dan dingin menjadi bertabur hangat gairah kehidupan.
Mata tua Tama menerawang sejenak, mengusap kepala Senara dengan penuh kasih. "Kakek ... sudah terbiasa sendiri. Enggak adanya istri, tidak seburuk itu juga. Terkadang, kita lebih baik sendiri dibandingkan hidup bersama yang lain namun saling menyakiti," tutur Tama pelan, kalimatnya sarat akan penyesalan masa lalu.
Perkataan itu seketika membuat Ezran menghentikan gerakan sendoknya. Pria itu mendadak membisu, mengunci pandangannya lurus pada piring makan malamnya yang belum dihabiskan. Di sisi lain, Danira ikut terpaku mendengarkan ujaran sang mertua.
Danira mencuri pandang ke arah Ezran yang duduk di hadapannya. Kata-kata Tama seolah melemparkan ingatannya ke belakang, mengingat betapa dingin dan hampa pernikahan mereka selama sepuluh tahun terakhir ini. Dulu, hampir setiap hari Danira harus memendam rasa sakit hati akibat sikap acuh tak acuh dan kejam dari Ezran. Namun, tak pernah sekalipun terlintas di benaknya untuk menyerah atau bercerai dari pria itu.
Alasan utamanya selalu sama, kedua buah hatinya. Bagaimana jika mereka berpisah? Anak-anaknya pasti akan tumbuh dalam rasa trauma tanpa figur orang tua yang lengkap. Lagipula, Danira sejujurnya belum pernah siap untuk berjuang sendirian sebagai seorang orang tua tunggal.
"Tapi untungnya, Mas Ezran mau berubah ...," batin Danira mengucap syukur.
Secercah senyum tipis terukir di bibirnya. Perubahan manis Ezran beberapa hari belakangan membuat luka di hatinya perlahan mengering. Danira kemudian beralih menatap kembali ke arah mertuanya.
Senara yang tak paham situasi hening itu kembali membuka mulutnya. "Kakek, kakek cama Cena itu ...,"
"Ngomong mulu kamu! Habiskan makan malamnya, nanti dingin gak doyan!" tegur Arelio kesal, menyela celotehan adiknya agar tidak makin melantur.
Bibir Senara seketika mengerucut tajam, matanya mendelik sebal ke arah sang kakak. "Apalah Abang! Ganggu pelacaan olang aja," desisnya bersungut-sungut. Meski begitu, Senara tetap menurut dan kembali menyuap makanan ke mulutnya.
Selang beberapa saat, jamuan makan malam itu pun selesai. Danira segera beranjak dari duduknya dan menggandeng tangan Senara untuk diajak ke kamar atas guna bersiap tidur. Sementara itu, Arelio menenggak habis air putih di gelasnya sebelum menyusul.
"Kakek, Arel ke kamar dulu. Selamat malam," ucap Arelio pamit dengan amat sopan.
"Selamat malam, cucu Kakek. Tidur yang nyenyak, ya," balas Tama mengusap lembut puncak kepala Arelio, membiarkan anak laki-laki itu berlalu pergi.
Setelah ruangan hanya menyisakan mereka berdua, tatapan Tama beralih sepenuhnya mengunci sosok Ezran yang baru saja hendak beranjak dari kursinya.
"Ezran, ke ruangan Papa. Papa ingin bicara," ucap Tama singkat namun tegas, lalu melangkah pergi lebih dulu tanpa menunggu jawaban.
Ezran berdiri mematung, menatap punggung ayahnya yang menghilang di balik lorong menuju ruang kerja.
Di dalam ruang kerja Tama yang beraroma kayu jati tua dan penuh tumpukan buku, Ezran dan Tama kini duduk saling berhadapan. Keheningan yang sangat pekat dan mencekam menyelimuti atmosfer di antara mereka berdua. Ezran mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan dengan tatapan dingin, sementara Tama di hadapannya tampak menghela napas panjang, mencoba menyusun kata-kata yang tepat.
"Papa minta maaf atas kejadian bulan lalu," buka Tama dengan nada suara rendah dan penuh penyesalan. "Papa hanya ingin ... kamu gak gagal jadi suami. Papa ...,"
"Seperti Papa, gitu?" potong Ezran cepat dengan nada sinis, membuat ucapan Tama terhenti seketika. Tama tersentak kaget menatap putranya.
Ezran menyandarkan punggungnya, menatap sang ayah dengan kilatan emosi yang tertahan. "Tenang aja, Pa. Aku gak akan pernah jadi seperti Papa. Aku bakal membahagiakan wanita yang aku cintai, dan gak akan pernah aku membiarkan dia terluka sedikit pun. Aku gak akan melakukan apa yang pernah Papa lakukan dulu sama Mama, sampai mengorbankan anak Papa sendiri."
Mendengar kalimat menohok itu meluncur mulus dari bibir anaknya, Tama terkejut bukan main. Wajahnya yang keriput mendadak pucat pasi, tak menyangka Ezran menyimpan kepahitan seluar biasa itu.
Ezran lantas beranjak berdiri dari kursinya. Ia menunduk, bertumpu pada meja kerja dan menatap tajam pria paruh baya di hadapannya tanpa rasa takut.
"Papa enggak usah mengajariku cara menjadi suami yang baik, sementara Papa sendiri gagal menjaga rumah tangga Papa," desis Ezran dingin dan menusuk. "Konyol namanya kalau seorang yang gagal malah sok mengajari orang lain."
Tanpa menunggu balasan, Ezran memutar tubuhnya hendak berlalu pergi. Namun, tepat sebelum jemarinya menyentuh gagang pintu kayu ruangan tersebut, Ezran menghentikan langkahnya dan kembali membuka suara tanpa berbalik.
"Bahkan sampai saat ini ... Papa masih merasa sebagai korban," ucap Ezran pelan namun penuh penekanan.
Ezran kemudian mendorong pintu dan melangkah keluar, meninggalkan ruangan itu. Sementara di dalam sana, Tama Pranaja terdiam membatu dalam rasa terkejut dan rasa bersalah yang menghantam dadanya begitu telak.
"Ezran ...," gumam Tama lirih pada kegelapan ruangan, menyuarakan nama putranya dengan suara yang bergetar.
__________________
aku bantuin dech 😂😂😂
trs kenapa abis koma kok km lembut sama danira Ezran..apa abis kepentok stir mobil kah atau gimana?
kasiannya ae si evran,gak dapat kasih sayang dr salah satunya..baik emak atapun bapaknya.
jujrlah pd danira mungkin dia bisa membantumu
Penilaian Papamu benar
Jika dulu Papamu yg hancur krn keegoisan Mamamu...sekarang Evran
Dan sebentar lagi...kau yg dpt giliran Ezran
Maka kau akan tau seegois apa Mamamu
Dan jika saatnya itu tiba...jgn pernah kau menyalahkan & menyakiti Evran