NovelToon NovelToon
Takhta Kaisar Langit

Takhta Kaisar Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Ahli Bela Diri Kuno
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: UrLeonard

Ketika nama seorang Kaisar Langit mengguncang seluruh Alam Fana, sebuah rahasia tua mulai bergerak di balik dunia yang dikuasai sekte, kekaisaran, dan para kultivator.

Di tengah pusaran kekuasaan itu, Ye Chan, mendapati jalan hidupnya berubah setelah sebuah tragedi menghancurkan segalanya.

Dari sana, ia melangkah kembali ke dunia kultivasi, berhadapan dengan kekuatan yang jauh melampaui pemahamannya, sembari perlahan menyadari bahwa di balik Takhta Kaisar Langit tersimpan rahasia yang menghubungkan nasib seluruh Alam Fana

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: Mencoba bertahan hidup

Rongga mulut monster itu menganga lebar, menebar aroma busuk yang menusuk hidung.

Tanpa sempat berpikir dua kali, Ye Chan menggeser paksa tubuhnya yang remuk, menempel erat ke sudut tersempit di dinding batu.

Seketika itu juga, bayangan hitam besar melesat melewati wajahnya.

Benturan keras terdengar saat moncong monster itu menghantam dinding batu. Ye Chan sendiri terpekik kecil ketika punggungnya terbentur sudut tajam celah, memicu rasa sakit luar biasa di tulang rusuknya.

Namun, ia tetap memaksa matanya terbuka lebar.

Dari jarak yang sangat dekat, ia mengamati makhluk itu. Cakar hitamnya yang tebal mengais-ngais tanah, tetapi gerakan bahunya tampak kaku.

Ruang sempit ini sangat membatasi gerak lawan.

'Bagus,' batin Ye Chan, menahan napas agar tidak terbatuk. 'Tubuhnya terlalu besar untuk celah ini. Jalur sempit adalah sekutuku.'

Mundur secara perlahan menjadi pilihan Ye Chan berikutnya, sambil menjaga agar gesekan tubuhnya tidak menimbulkan suara bising.

Namun, cairan merah dari lengannya yang terluka terus menetes ke tanah lembap, meninggalkan jejak yang sangat jelas.

Mendengus pelan, makhluk itu kembali mengendus aroma darah segar yang membimbingnya keluar dari celah.

Ye Chan segera meraba cincin ruang cadangan di jarinya. Tangannya menarik keluar sebotol salep luka murah.

Bukannya mengoleskan obat itu untuk menyembuhkan luka, ia hanya meratakannya di area yang paling banyak mengeluarkan darah.

Langkah itu murni diambil untuk mengontrol jejak aroma, bukan untuk pemulihan tubuh.

'Sedikit saja, cukup untuk menyamarkan bau amis ini,' pikirnya dingin.

Sehelai dendeng kering kemudian diambil dari cincin penyimpanannya. Dengan satu sentakan tangan yang lemah, ia melempar bungkusan daging itu ke arah sebaliknya, mengarah ke sudut tebing yang gelap.

Aroma makanan berbaur dengan sisa darah di tanah.

Makhluk itu sempat menghentikan langkahnya. Indra penciumannya yang tajam mendadak kebingungan oleh dua aroma yang bertolak belakang.

Monster itu akhirnya berbalik, mengikuti arah lemparan dendeng yang baunya terasa lebih kuat.

Sambil mengembuskan napas lega, Ye Chan terus melangkah menjauh dengan kaki yang gemetar.

Baginya, tidak ada barang yang tidak berguna di dunia ini. Di tangan yang tepat, sisa makanan dan obat murah sekalipun bisa menyelamatkan nyawa dari maut.

Langkah kakinya membawa Ye Chan tiba di sebuah lereng berbatu yang cukup curam.

Ia mendongak, melihat sebongkah batu besar yang menggantung goyah di atas tebing, hanya ditahan oleh jalinan akar pohon tua yang mulai membusuk.

'Ini tempatnya,' batinnya, menyeka keringat dingin di dahi.

Menggunakan sisa tenaga di lengannya, ia mencabut sebilah pisau kecil dari pinggang. Ia menusuk dan mengoyak jalinan akar penyangga batu itu berulang kali hingga serabutnya mulai terputus.

Geraman berat kembali terdengar dari arah belakang.

Rupanya, makhluk itu menyadari bahwa dirinya telah ditipu. Monster itu melesat cepat ke arah lereng, melompat dengan cakar siap menerkam dada Ye Chan.

Ye Chan tetap bergeming di tempatnya, menatap lurus ancaman di depan mata.

Tepat pada detik terakhir saat bayangan cakar hampir menyentuh wajah, ia menjatuhkan diri ke samping, berguling di tanah yang kasar.

Guncangan dari lompatan monster tersebut seketika memutus sisa akar pohon yang menahan beban di atas.

Batu besar di atas lereng itu meluncur turun dengan cepat bersama runtuhan tanah.

Suara gemuruh kecil memenuhi lembah saat longsoran itu menimbun setengah tubuh bagian belakang monster itu, menjepit kaki dan ekornya di bawah timbunan tanah dan batu.

Makhluk itu melolong kesakitan, meronta-ronta berusaha melepaskan diri dari himpitan yang berat.

Ye Chan tidak menoleh lagi untuk melihat hasil kerjanya. Ia sangat sadar jebakan itu tidak akan sanggup membunuh monster tingkat tersebut, melainkan hanya memperlambat gerakannya saja.

Tanpa membuang waktu, ia kembali menyeret langkahnya menjauh.

***

Reruntuhan batu di belakang Ye Chan berguncang keras. Sebuah cakar besar berdarah menerobos gundukan tanah, disusul oleh raungan kemarahan yang menggetarkan udara lembap lembah.

Ye Chan menyeret kakinya mundur. Punggungnya menyentuh dinding batu dingin. Napasnya terasa panas, membakar paru-parunya yang kekurangan energi spiritual.

'Sial, makhluk ini keras kepala sekali,' batin Ye Chan sembari mengusap darah di sudut bibirnya.

Makhluk itu melompat keluar dari runtuhan tebing. Kaki belakang sebelah kirinya tampak pincang, terseret dengan sudut yang aneh akibat tertimpa batu besar tadi. Namun, amarah mengalahkan rasa sakitnya. Predator itu langsung menerjang ke depan dengan cakar mengembang.

Ye Chan tidak menyambut serangan itu dengan tinju kosong. Tanpa energi spiritual, itu sama saja dengan bunuh diri. Ia berguling ke sisi kanan, memanfaatkan kemiringan tanah berlumpur untuk mempercepat gerakannya.

Cakar monster menghantam tempat Ye Chan berdiri tadi, menyisakan bekas robekan dalam di tanah.

Ye Chan bangkit dengan bertumpu pada lutut yang gemetar. Dari cincin ruangnya, ia mengeluarkan sisa bubuk obat penahan rasa sakit yang berbau menyengat, lalu melempar wadahnya ke arah tebing curam di sebelah kiri.

Aroma kuat itu sempat mendistraksi perhatian si monster selama sedetik.

Gerakan kepala makhluk itu membelok cepat, membuat seluruh berat tubuhnya bertumpu pada kaki kirinya yang cedera. Ye Chan mendengar bunyi berderak pelan dari arah sendi kaki hewan itu. Tubuh besarnya sedikit miring ke samping karena kehilangan keseimbangan.

'Benar. Fondasinya goyah,' pikir Ye Chan.

Ia sengaja berdiri di dekat area yang penuh dengan akar gantung dan tonjolan batu tajam. Ia melambaikan lengannya yang terluka, membiarkan bau darah segarnya kembali memancing insting berburu lawan.

Monster itu menggeram, kembali bersiap menerjang dengan seluruh sisa tenaganya.

Langkah kakinya yang pincang dipaksa berlari cepat. Begitu jarak mereka menyempit hingga tersisa beberapa langkah, Ye Chan tidak menghindar ke belakang. Ia justru melompat ke arah cekungan sempit di antara dua batu runcing yang sudah diincarnya sejak awal.

Predator itu meluncur bebas, berniat menerkam mangsanya yang tampak terpojok.

Namun, kaki kirinya yang cedera gagal menahan beban saat berputar. Tubuh besar monster itu tergelincir di atas tanah berlumpur yang miring, lalu terperosok masuk ke dalam celah batu tajam dengan posisi dada menghadap ke atas.

Jeritan kesakitan bergema saat beberapa batu runcing menusuk punggung dan perutnya.

Ye Chan bergerak secepat sisa energinya mengizinkan. Ia memegang pisau kecil di tangannya dengan kedua genggaman, lalu menjatuhkan seluruh berat badannya untuk menghujamkan pisau itu tepat ke tenggorokan monster yang terbuka lebar.

Besi dingin itu amblas sepenuhnya.

Tubuh monster itu menegang hebat, kejang selama beberapa detik, sebelum akhirnya perlahan melemas dan berhenti bergerak sama sekali.

Ye Chan melepaskan pegangan pisaunya, lalu ambruk di samping bangkai itu. Napasnya terengah-engah, dadanya naik turun dengan tidak beraturan.

'Hampir saja,' gumamnya dalam hati, menatap langit-langit lembah yang gelap.

Luka di bahunya kembali mengeluarkan darah, dan otot-otot di sekujur tubuhnya terasa seperti ditarik paksa. Tetapi ia masih hidup. Pertarungan ini membuktikan satu hal: tanpa kultivasi sekalipun, kalkulasi yang matang tetap bisa menundukkan monster.

***

Setelah beberapa saat mengumpulkan sisa kekuatan, Ye Chan menegakkan tubuhnya kembali. Rasa lapar yang menusuk perut mengingatkannya pada realitas bertahan hidup di dasar jurang ini.

Ia mendekati bangkai monster itu dan mulai bekerja.

Menggunakan pisau kecilnya, ia menguliti bagian dada yang lunak. Ia memotong beberapa bagian daging yang terlihat bersih, lalu menyimpannya ke dalam cincin ruang.

Sebelum memakan daging itu, Ye Chan mengoleskan sedikit cairannya ke ujung lidah. Tidak ada rasa terbakar atau pahit yang menandakan racun.

Ia memotong sepotong kecil daging mentah dan mengunyahnya dengan perlahan.

Rasa hambar langsung memenuhi mulutnya, tetapi tidak lama kemudian, ada kehangatan tipis yang menjalar dari perut ke dadanya. Energi spiritual yang terkandung di dalam daging makhluk lembah ini jauh lebih pekat daripada makanan biasa yang sering ia konsumsi di sekte dulu.

'Ini bukan sekadar bangkai,' pikirnya dengan binar mata yang kembali hidup. 'Ini adalah pil energi alami.'

Persediaannya kini bertambah. Peluangnya untuk bertahan hidup di tempat terkutuk ini meningkat satu tingkat lebih baik.

Ia mengusap sisa darah di wajahnya dengan lengan baju, lalu bersiap untuk segera meninggalkan tempat itu sebelum bau darah memancing predator lain.

Namun, saat ia berbalik untuk mencari jalan keluar dari celah batu, pandangannya terbentur pada dinding tebing di kejauhan.

Di balik rimbunnya tanaman merambat yang menjuntai dari atas tebing, ada sebuah siluet yang tidak biasa.

Sebuah bidang datar yang lurus sempurna.

Di alam liar seperti Lembah Kekacauan, hampir tidak ada formasi batu yang memiliki sudut siku-siku presisi seperti itu. Itu jelas merupakan buatan manusia.

Ye Chan menyipitkan mata, melangkah mendekat dengan sangat perlahan.

"Reruntuhan?" bisiknya lirih.

Langkah kakinya yang terseok kini mengarah langsung ke struktur batu kuno yang tersembunyi di balik kabut tebal itu.

1
Gunadi Hudaya
gaya penulisannya enak
Gunadi Hudaya: hahahaha.
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!