"Aku telah mati karena cinta, kali ini aku ingin hidup untuk diriku sendiri" atau begitulah yang diucapkan Evelyn awalnya sebelum dia mengenal kepribadian Matthew si Pangeran Kulkas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PhepipoOrevi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah Kaca di Tengah Hutan Pinus
Evelyn membeku. Napasnya tercekat di tenggorokan.
Di dalam ingatannya, titik ini adalah tanah berlumpur yang dingin dan gelap. Tempat di mana peluru panas Cedric menembus pundaknya, meninggalkannya sendirian berlumur darah, kesakitan dan kedinginan sebelum kesadarannya hilang dan Matthew memeluknya. Tapi sekarang...tempat ini begitu berbeda bahkan sangat indah.
"Matthew... ini..." suara Evelyn tertahan, matanya bergerak gelisah antara rumah kaca itu dan rahang tegas pria di sampingnya.
Matthew melangkah mendekat dari belakang. Ia merengkuh pinggang Evelyn, menyandarkan dagunya di bahu gadis itu hingga napas hangatnya menyapu leher Evelyn.
"Gimana, Eve? Apakah kamu suka?" bisik Matthew pelan. Evelyn masih mematung tidak percaya akan yang dilihatnya.
"Sejak kapan aku mulai menyukaimu ya,," gumannya pelan tapi karena keheningan suasana hutan pinus itu tapi cukup terdengar sehingga Evelyn pun menoleh dan menungggu kata-kata selanjutnya. Tapi Matthew terdiam dan mulai memandangi Evelyn sambil membelai lembut rambutnya.
"Bagaimana kalau aku bilang, aku menemukanmu mati bersimbah darah di hutan pinus ini Eve?" kata-kata Matthew membuat Evelyn tercekat tidak percaya, Jadi dia benar kembali! Dia ingat kenangan masa lalu! Evelyn mulai berjalan menjauh dari Matthew dengan masih memandangnya tidak percaya. Tapi Matthew berjalan maju semakin mendekati nya, setiap satu langkah Evelyn mundur. Hingga langkah Evelyn terhenti, terkunci oleh kokohnya batang pohon di belakangnya. Matthew masih berjalan mendekat, hingga cukup dekat. Mata keemasan Matthew memandangnya dengan lembut. Tangan Matthew meraih Evelyn dan memeluknya kemudian mencium bibirnya, hangat. Ada kehangatan di dalamnya, membuat Evelyn mulai terisak. Matthew kemudian memeluk erat Evelyn, menggenggam tangannya dan mengajaknya masuk ke dalam rumah kaca yang sudah lama dia siapkan sejak kembali lagi ke loop ini, beberapa bulan yang lalu.
Pintu kaca berukir indah itu terbuka pelan, menyambut mereka dengan aroma bunga yang menenangkan. Di dalam rumah kaca, cahaya keemasan menembus atap transparan, memantulkan kilau indah pada puluhan jenis tanaman dan bunga liar yang tertata rapi. Evelyn masih mengusap sisa air mata di pipinya saat Matthew membawanya duduk. Matthew berlutut di depannya, mengambil kedua tangan Evelyn yang dingin dan menggenggamnya erat, seolah takut gadis itu akan lenyap lagi seperti di masa lalu.
"Kenapa..." Evelyn bersuara lirik, suaranya bergetar. "Kenapa kamu nggak cerita dari awal kalau kamu juga ingat, Matthew?"
Evelyn masih mengusap sisa air mata di pipinya saat Matthew membawanya duduk di sebuah bangku besi tempa berukir yang dilapisi bantalan empuk. Matthew tidak ikut duduk di sampingnya. Pria dengan posisi Grand Duke yang begitu dihormati itu justru berlutut di depannya. Ia mengambil kedua tangan Evelyn yang dingin dan menggenggamnya erat, seolah takut gadis itu akan lenyap lagi seperti di masa lalu.
"Kenapa..." Evelyn bersuara lirik, suaranya bergetar menahan napas yang terasa berat. "Kenapa kamu nggak cerita dari awal kalau kamu juga ingat, Matthew?" Evelyn mengulang pertanyaan itu sambil menatap Matthew.
Matthew tersenyum dingin, tatapan matanya yang berwarna keemasan tampak begitu redup dan dipenuhi kesedihan yang mendalam. Bayangan akan tubuh Evelyn yang bersimbah darah, dingin, dan tak bernyawa di tanah ini terus terngiang di ingatan Matthew—sebuah penderitaan luar biasa yang tidak ingin pernah ia lihat lagi.
"Karena setiap kali aku melihat hutan pinus ini, Eve, aku akan selalu ingat bahwa kamu udah berkali-kali tergeletak di sini Eve. Di atas tanah yang lembab dan berlumpur ini. Aku cuma bisa melihatmu tergeletak tanpa nyawa, Eve... Karna aku selalu terlambat datang menyelamatkanmu meski aku sudah berusaha melakukannya, Eve." bisik Matthew dengan suara yang bergetar. Ia menundukkan kepala dan mengecup punggung tangan Evelyn perlahan. "Jadi, saat aku melihatmu untuk pertama kalinya sejak terbangun lagi, di coffee shop itu, apakah kamu ingat Eve? Di tanggal dan jam itu, bukan kebiasaanmu disana. Mungkin kali ini akan berbeda, atau itu yang kupikirkan. Jadi aku membangun rumah kaca untuk mengubur kenangan berdarah itu selamanya di bawah bangunan ini."
Melihat raut terluka dan kepedihan mendalam di wajah pria gagah di hadapannya, dada Evelyn berdenyut nyeri. Evelyn melepaskan genggaman tangannya dari genggaman Matthew, lalu menyentuh rahang tegas Matthew dengan kedua telapak tangannya. Ia mengusap kulit pipi Matthew yang hangat, memaksa pria itu untuk mendongak dan menatap dalam-dalam ke iris mata keemasannya yang selalu membuatnya merasa aman akhir-akhir ini.
"Lihat aku, Matthew..." bisik Evelyn lembut, air matanya menetes lagi namun kali ini bukan karena takut, melainkan karena rasa haru yang teramat sangat. "Jadi aku sudah berkali-kali mati di ingatanmu Matthew?"
Matthew memejamkan mata, menikmati sentuhan lembut jari-jari Evelyn di pipinya. Sentuhan itu adalah bukti nyata bahwa Evelyn tidak lagi menjadi jasad dingin di tengah hutan. Rasa hangat yang menjalar dari telapak tangan Evelyn seakan menghapus seluruh rasa lelah dan keputusasaan yang menggerogoti jiwanya selama bertahun-tahun.
"Sejujurnya, ini kehidupan mu yang ke sembilan, Eve. Dan aku sudah delapan kali melihatmu mati dengan berbagai cara yang tidak perlu kuutarakan. Aku terjebak di loop ini, Eve." Matthew memandang Evelyn dan mulai menyentuh pipi gadis itu. "Aku jadi tertarik dan terobsesi melindungimu sejak saat itu, dan setiap kali aku mendekat, kamu akan ketakutan dan menganggapku gila. Ujung-ujungnya kamu kembali ke pelukan Cedric, Eve. Jadi, entah gimana akhirnya cerita kehidupan ini berbeda dan .."
Matthew terdiam sejenak memandang gadis di depannya yang terisak menatapnya dan sesekali menunduk kemudian mengusap air matanya. Matthew tahu, Evelyn masih memproses setiap kata-katanya. Bahkan orang waras pun tidak akan percaya ada loop seperti film fiksi ilmiah.
"Jadi delapan kali huh?" bisik Evelyn kemudian memeluk Matthew dan menangis sejadi-jadinya.
Evelyn masih terdiam dengan mata yang masih sembab. Ia melingkarkan kedua tangannya di leher Matthew, merapatkan tubuhnya dan membiarkan Matthew menggendongnya kembali ke mansion.
Delapan kali, bukan sekali! Cedric mencintaiku atau apa? Kenapa dia membunuhku berkali-kali?
Mata Evelyn berat sekali rasanya. Matthew tidak berkata apa-apa dan tetap meraih Evelyn ke dalam pelukannya dan menemaninya tidur.