NovelToon NovelToon
Berniat Menceraikan Suami, Malah Hamil Anak Dosenku

Berniat Menceraikan Suami, Malah Hamil Anak Dosenku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dosen / Nikah Kontrak
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: isd

Niat mau bercerai setelah selesai Kkn, eh pas Kkn mereka malah buat dede bayi. Apakah mereka akan jadi bercerai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon isd, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pindah Kamar

Rina yang duduk di sebelah Keira langsung melirik ke arahnya.

"Kalian cocok, ya?" bisiknya pelan.

Keira menahan senyum. "Masa?"

Di sisi lain, Arsen masih berdiri di tempatnya. Tatapannya tak pernah benar-benar lepas dari Keira.

Dari senyum kecil yang muncul di wajah gadis itu.

Dari caranya berbicara dengan Kevin. Bahkan dari tawa kecil yang sesekali terdengar. Entah kenapa, semua itu membuat Arsen merasa tidak nyaman.

Rahangnya mengeras. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha mengabaikan perasaan aneh yang sejak tadi mengusik pikirannya.

Namun, semakin lama ia memperhatikan Keira—

Semakin besar rasa tidak sukanya. Akhirnya, Arsen melangkah mendekat.

"Keira."

Suaranya terdengar datar, tetapi cukup untuk membuat Keira menghentikan obrolannya.

Keira menoleh. "Iya, Pak?"

Panggilan itu terdengar seperti sengaja ditekankan.

Arsen menatapnya beberapa detik. "Bantu saya sebentar."

Keira mengangkat alis. "Sekarang?"

"Iya. Sekarang."

Tanpa banyak pilihan, Keira akhirnya berdiri dan mengikuti Arsen menjauh dari kerumunan. Setelah berada cukup jauh dari yang lain, Keira menatapnya dengan santai.

"Kenapa?"

Arsen membalas tatapannya. "Kamu sengaja?"

Keira mengernyit, pura-pura tidak mengerti. "Sengaja apa?"

Arsen maju selangkah. Suaranya merendah. "Jangan main-main sama saya, Keira."

Keira menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Main apa? Aku cuma ngobrol."

Arsen terdiam. Ia sebenarnya tahu Keira memang hanya mengobrol. Tapi melihat Keira begitu dekat dan terlihat nyaman bersama Kevin membuatnya sulit menahan rasa kesal.

Beberapa detik kemudian, Arsen akhirnya berkata dengan suara pelan. "Kamu itu... istriku."

Keira langsung menatapnya. Suasana mendadak hening. Mereka saling berhadapan selama beberapa detik.

Kemudian sudut bibir Keira terangkat membentuk senyum tipis. Senyum yang justru terasa menantang.

"Tapi... otw jadi mantan, kan?"

Seketika ekspresi Arsen berubah. Tatapannya menjadi lebih tajam. Entah kenapa, mendengar Keira menyebut kata mantan membuat dadanya terasa semakin sesak.

...

Keira kembali ke tengah kerumunan dan duduk di samping Rina.

“Pak Arsen suruh kamu ngapain?” tanya Rina penasaran.

Keira mendengus pelan. “Biasa... dia memang suka cari gara-gara sama aku.”

Rina langsung menyipitkan mata. Senyum tipis muncul di wajahnya. “Keira... menurut kamu, dia sebenarnya dendam sama kamu atau jangan-jangan malah suka?”

Keira spontan menatap Rina. “Jangan ngawur. Mana mungkin dia suka sama aku? Aku ini mahasiswi yang paling tidak dia sukai.”

Rina hanya mengangkat bahu. Namun, dari ekspresinya terlihat jelas bahwa ia masih belum percaya.

Beberapa saat kemudian, Rina kembali membuka pembicaraan dengan santai.

“Eh, kira-kira siapa ya yang bakal jadi jodohnya Pak Arsen?”

Keira melirik sekilas. “Kenapa memangnya?”

Rina tersenyum jahil. “Bagaimana kalau aku kenalkan sama kakakku? Dia dokter. Kayaknya cocok banget sama Pak Arsen.”

Keira mendadak diam. Senyum di wajahnya menghilang begitu saja. Entah kenapa, dadanya terasa sesak hanya karena membayangkan perkataan Rina.

“Dokter?” ulang Keira pelan.

“Iya. Dia cantik, pintar, dan sudah mapan. Cocok banget, kan, sama Pak Arsen yang dosen, dingin, dan selalu kelihatan rapi itu?” lanjut Rina tanpa menyadari perubahan ekspresi Keira.

Keira menundukkan wajahnya. Tanpa diminta, sebuah bayangan muncul di kepalanya.

Arsen... bersama perempuan lain. Bukan dirinya.

“Bagus sih...” jawab Keira akhirnya. Suaranya terdengar pelan. “Cocok.”

Namun, nada suaranya sama sekali tidak terdengar tulus..Rina tidak terlalu memperhatikannya karena masih sibuk membayangkan rencana tersebut.

Sementara Keira hanya diam. Tangannya tanpa sadar meremas ujung bajunya. Ada rasa tidak nyaman yang tiba-tiba memenuhi dadanya.

'Kenapa aku malah tidak suka membayangkannya?' gumam Keira dalam hati.

Tak jauh dari sana, Arsen masih berdiri bersama beberapa mahasiswa. Sesekali tatapannya mengarah kepada Keira dan Rina.

Tanpa mereka sadari, di antara keduanya mulai tumbuh perasaan yang sama.

Cemburu.

Hanya saja, belum ada satu pun dari mereka yang berani mengakuinya.

“Kapan-kapan aku atur pertemuan mereka,” ujar Rina santai.

“Hah?” Keira langsung menoleh dengan wajah terkejut.

Rina hanya terkekeh, sama sekali tidak merasa bersalah. Keira kembali terdiam.

'Rina tidak tahu kalau aku ini istrinya...' batinnya. 'Walaupun... sebentar lagi mungkin akan jadi mantan.'

.....

Matahari sudah berada tepat di atas kepala. Teriknya terasa menyengat, membuat suasana siang semakin panas.

Arsen berdiri di hadapan para mahasiswa.

“Sudah, sekarang istirahat dulu! Kalian kembali ke kamar masing-masing.”

“Siap, Pak!”

Satu per satu mahasiswa mulai membubarkan diri.

Namun, Keira masih berdiri di tempatnya. Tatapannya mengikuti Rina yang berjalan menjauh bersama mahasiswa lainnya.

Arsen kemudian menghampirinya. “Tidur siang. Biar kepalamu tidak pusing.”

Keira menoleh. Senyum tipis terbit di bibirnya, lebih mirip senyum menyindir.

“Tumben... biasanya kamu paling tidak suka aku tidur siang.”

Ia berhenti sebentar, lalu melanjutkan dengan nada mengejek.

“'Orang dewasa tidak perlu tidur siang. Tidur siang itu cuma buat anak-anak.' Itu kan kata kamu?”

Tanpa menunggu jawaban Arsen, Keira langsung berbalik dan berjalan pergi. Arsen menghela napas panjang, jelas merasa kesal.

“Tengil sekali...” gumamnya.

Meski begitu, tanpa sadar langkahnya tetap mengikuti Keira dari belakang.

Sesampainya di rumah Pak Salim, Keira berhenti sejenak di depan pintu.

“Permisi, Pak,” ujar Keira sambil tersenyum sopan.

Pak Salim yang sedang duduk langsung membalas senyumannya.

“Iya, silakan masuk.”

Keira pun melangkah masuk ke dalam kamar.

Tidak lama kemudian, Arsen menyusul.

“Pak Salim,” sapanya singkat.

Pak Salim terkekeh kecil. Entah kenapa, ekspresinya seolah sudah memahami sesuatu.

“Iya, masuk saja. Akan saya jaga,” katanya dengan senyum penuh arti.

Arsen hanya mengangguk sebelum ikut masuk ke kamar.

Pintu pun tertutup.

Di dalam, Keira sudah duduk di atas kasur dengan posisi membelakangi pintu. Suasana yang semula ramai kembali hening.

Arsen bersandar sebentar di pintu, kemudian mengalihkan pandangannya kepada Keira.

“Kamu kenapa lagi?” tanyanya.

Keira tidak langsung menjawab. Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia bersuara pelan.

“Kamu cocok, ya... sama dokter.”

Arsen langsung mengernyit. “Apa?”

Keira menoleh sedikit, tetapi tidak sampai benar-benar menghadapnya.

“Gak apa-apa. Aku cuma kepikiran sesuatu.”

Arsen menatapnya lebih lekat. Ia bukan orang bodoh. Dari nada bicara Keira, ia sudah bisa menebak ke mana arah pembicaraan mereka.

“Aku jodohkan kamu dengan dokter itu. Mau?”

Keira langsung menoleh.

“Ngomong apa sih? Kita aja belum resmi cerai.”

“Kamu mau atau tidak?” Arsen bertanya balik.

“Dia dokter, cantik, tinggi, putih... Bukankah dia sesuai dengan kriteria wanita idamanmu?”

Arsen menghela napas. “Bahkan untuk sekarang, aku tidak sedang memikirkan perempuan lain.”

Keira mengangkat alis. “Nah, makanya sedia payung sebelum hujan. Kalau nanti kita sudah bercerai dan kamu mau mencari istri baru, kasih tahu aku.”

Dengan sikap tengil, Keira menaikkan sebelah alisnya. Tangannya bahkan sempat mencolek pinggang Arsen.

“Mau gak?”

“Apaan sih!” Arsen menatapnya tajam sebelum kembali diam.

Keira kemudian bangkit dari kasur dan mengambil selimutnya.

“Aku mau pindah ke kamar Rina dan yang lainnya.”

Melihat itu, Arsen langsung bergerak cepat. Tangannya menahan pergelangan tangan Keira sebelum perempuan itu sempat melangkah keluar.

“Jangan.”

Keira menoleh dengan wajah kesal. “Kenapa? Aku mau pindah.”

“Di sana tidak nyaman. Kamar mereka lembap dan ada jamurnya,” jawab Arsen cepat.

Keira mengerutkan kening.

“Aneh. Bukannya kamu sendiri yang selalu bilang aku jangan manja? Sekarang aku mau pindah malah dilarang.”

Arsen mengatupkan rahangnya.

“Keira—”

“Aku tetap mau pindah.”

“Keira!” suara Arsen meninggi sedikit. “Ini perintah dosen sekaligus suamimu!”

Keira langsung menatapnya tajam. “Bodo amat!”

Dalam gerakan refleks, Keira menggigit tangan Arsen yang masih menahan pergelangan tangannya.

“Aakh!”

Arsen spontan melepaskan pegangannya.

“Aku gak mau tidur sekamar sama kamu!” bentak Keira kesal.

Ia segera berbalik dan keluar sambil membawa selimutnya. Pintu terbuka, lalu tertutup cukup keras di belakangnya.

Arsen hanya mampu berdiri diam di tempat. Tangannya yang baru saja digigit diusap perlahan.

“Gila... sakit banget,” gumamnya.

Tatapannya kemudian terpaku pada pintu yang baru saja dilewati Keira. Biasanya, jika Keira pergi seperti itu, Arsen akan membiarkannya.

Bagaimanapun, mereka memang tidak pernah benar-benar akur.

Namun kali ini...

Entah kenapa, kakinya justru terasa ingin mengejar.

Arsen mengembuskan napas kasar, berusaha menahan keinginannya.

“Kenapa jadi begini...” gumamnya pelan.

Ia mengusap wajahnya frustrasi sebelum akhirnya duduk di tepi kasur. Kamar itu mendadak terasa jauh lebih sepi daripada sebelumnya.

Sementara itu, Keira sudah masuk ke kamar Rina dan mahasiswa lainnya.

1
Annisa
lanjut Thor!
isd: love you buanyak² buat yang udah dukung author ❤❤
total 1 replies
Chenyu Wang
critanya menggemaskan Thor jadi bapper hihi lanjut sampe tamat ya anda luar biasa
Chenyu Wang: 🙏😍 semangat author luar biasa
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!