NovelToon NovelToon
Calon Istri Nomor 33

Calon Istri Nomor 33

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri
Popularitas:8.1k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

32 wanita menyerah. Vivi adalah calon istri nomor 33.

Menikah dengan duda beranak lima seharusnya menjadi solusi bagi dirinya yang divonis tak bisa punya anak sejak muda.

Namun tidak ada yang memberitahunya bahwa lima anak Pak Baskara telah bersekutu untuk mengusir setiap wanita yang mencoba menggantikan posisi ibu mereka. Akankah Vivi bertahan, atau menjadi nama berikutnya dalam daftar kegagalan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

29

Begitu Vivi keluar dari kamar bersama Baskara, suasana ruang keluarga langsung berubah. Sean sedang duduk dengan buku di pangkuannya. Yuan memegang modul yang sudah penuh coretan. Saka berdiri sambil membawa gunting yang entah sejak kapan berhasil disitanya. Ella memeluk boneka. Sedangkan Lili sedang duduk di atas meja belajar seperti ratu kecil yang mengawasi semuanya.

Melihat Vivi muncul, kelima anak itu langsung bersorak. "Tante Vivi!" teriak Saka.

"Alhamdulillah." gumam Yuan.

"Kita selamat." tambah Sean.

Baskara langsung mengernyit. "Maksudnya?"

Yuan menyeringai. "Ayah menyerah, ya? Mengurus kami."

Sean yang biasanya paling menjaga perasaan ayahnya kali ini ikut tersenyum. "Baru beberapa jam lho, Yah."

"Aku tidak menyerah." bantah Baskara.

"Tadi Ayah bilang butuh bantuan." sahut Yuan cepat.

"Itu beda."

"Beda bagaimana?"

Baskara mulai merasa sedang diinterogasi. Sementara Vivi berdiri di samping sambil menahan tawa. "Jadi sekarang..." Saka melipat tangan. "Kami tanggung jawab Tante Vivi?"

"Bukan begitu." jawab Baskara.

"Berarti kalau kami nakal, Ayah yang urus?"

"Kalau kami berantem?"

"Tante Vivi yang urus."

"Kalau Ella menangis?"

"Kalau Lili nggak mau tidur siang?"

"Kalau Yuan debat tiga jam soal pelajaran?" anak-anak bergantian mereview ayahnya

Baskara mulai ragu. Yuan tersenyum puas. "Nah."

Saka langsung tertawa terbahak-bahak. "Ayah takut sama Yuan."

"Aku tidak takut."

"Saka!"

Seluruh ruangan langsung tertawa. Bahkan Vivi sampai harus menutup mulutnya. Lalu Sean menatap ayahnya. Dengan senyum kecil yang jarang terlihat. "Jujur saja, Yah. Ayah sudah terbiasa ada Tante Vivi."

Baskara langsung terdiam. Karena kalimat itu tepat sasaran.

"Dulu Ayah harus jadi Ayah dan Ibu." Sean melanjutkan pelan. "Sekarang Ayah cuma perlu jadi Ayah." Mendadak suasana menjadi lebih hening. Karena tidak ada yang menyangka kalimat itu keluar dari Sean. Anak yang paling lama menolak Vivi. Anak yang paling takut kehilangan kenangan tentang ibunya. Kini justru menjadi orang pertama yang mengakui keberadaan Vivi di keluarga mereka.

Baskara menatap putra sulungnya cukup lama. Sean langsung salah tingkah. Baskara tersenyum. Senyum yang jarang sekali muncul. Lalu tanpa sadar pandangannya beralih kepada Vivi. Dan untuk pertama kalinya di depan anak-anak, ia berkata terus terang, "Memang benar." Semua langsung menoleh. Baskara menghela napas. "Rumah ini lebih mudah sejak Tante Vivi ada."

Vivi membeku. Sementara anak-anak justru tersenyum. Karena mereka tahu. Bagi Baskara, mengucapkan kalimat seperti itu jauh lebih sulit daripada mengurus bisnis, atau seratus rapat sekaligus. Dan saat itu Vivi menyadari sesuatu. Dulu ia datang ke rumah ini sebagai calon istri nomor tiga puluh tiga. Perempuan yang tidak diinginkan. Perempuan yang dianggap ancaman. Namun sekarang Bahkan anak-anak yang dulu bersekutu untuk mengusirnya mulai menganggap keberadaannya sebagai sesuatu yang tidak tergantikan.

***

Sudah hampir tiga bulan sejak Vivi menikah dengan Baskara. Dan selama itu pula, keluarga mereka tidak pernah benar-benar pergi berlibur bersama. Alasannya sederhana. Karena mengajak lima anak bepergian lebih mirip operasi militer daripada liburan.

Namun suatu pagi, Bu Mega datang membawa kabar. Atau lebih tepatnyabMembawa keputusan.b"Akhir pekan depan kosong, kan?" tanyanya saat sarapan. Baskara langsung curiga dan kecurigaan itu terbukti langsung. "Karena kalian akan liburan." Bu Mega meletakkan sebuah map di atas meja. "Villa sudah ibu pesan. Tidak ada penolakan. Mobil sudah disiapkan, kalau perlu ibu yang akan mengantar kalian sampai gerbang."

Sean langsung tertawa. Yuan berbisik, "Ayah kalah lagi." Dan memang benar. Tidak ada seorang pun yang pernah menang melawan Bu Mega.

"Kalian harus bersenang-senang, sejak menjadi keluarga baru, kalian benar-benar tidak pernah berlibur, hari-hari dihabiskan di rumah saja. Pasti kalian semua bosan kan, butuh hiburan, kan? Nah ini solusinya!" kata Bu Mega, diikuti teriakan anak-anak yang kegirangan. Sementara Vivi tersenyum, sedangkan Baskara yang hafal betul anak-anaknya akan sulit diatur saat liburan hanya bisa menarik napas panjang, membayangkan riwehnya akan menjadi tiga kali lipat!

Akhirnya hari keberangkatan tiba. Baru satu jam perjalanan, Vivi sudah mulai pusing. Bukan karena mabuk kendaraan. Melainkan karena kelakuan penumpangnya.

"Sean mengambil tempatku!" teriak Saka.

"Karena itu memang tempatku." jawba Sean.

Baru juga mau jalan, Sean dan Saka sudah membuat pusing kepala ayahnya. Mereka memperebutkan satu kursi. Setelah rebutan sampai hampir adu jotos, tiba-tiba mereka melepaskan kursi itu. Dua-duanya tidak ada yang mau duduk di sana. Belum selesai masalah kursi. Muncul masalah camilan. Ella menangis karena keripiknya dimakan Saka. Saka mengaku tidak bersalah. Yuan membuktikan kesalahan Saka menggunakan logika dan barang bukti. Sean bertindak seperti hakim. Dan Lili memakan sisa barang bukti. Kasus selesai.

Vivi memejamkan mata. "Mas, Aku paham sekarang kenapa dulu kamu terlihat selalu lelah."

Baskara tertawa. "Aku sudah memperingatkanmu."

Beberapa jam kemudian mereka akhirnya tiba. Villa itu berdiri di lereng bukit. Udara sejuk. Pemandangan pegunungan. Rumput hijau luas. Kolam renang pribadi. Anak-anak langsung berhamburan turun. "Waaah!"

"Ada kolam!"

"Aku pilih kamar ini!"

"Tidak! Aku duluan!"

Dalam hitungan detik seluruh villa berubah seperti taman bermain. Vivi baru saja meletakkan tas ketika mendengar suara Sean. "Saka! Jangan panjat pagar!"

"Aku cuma lihat pemandangan!"

"Turun!"

"Tidak!"

"Turun!"

"Tidak!" Sean akhirnya mengejar adiknya.

Baskara hanya menghela napas. "Bagaimana? Menarik bukan liburan ini? Jangan harap kamu bisa rileks, yang ada kepalamu makin pusing karena biasanya setiap liburan energi mereka yang biasanya seratus persen bisa bertambah seratus kali lipat!" celetuk Baskara pada istrinya. "Itulah kenapa aku malas mengajak liburan!" Baskara langsung lemas "Katanya untuk istirahat."

"Ini bukan liburan." jawab Vivi. "Ini pindah lokasi mengasuh anak." Mereka berdua tertawa.

Menjelang sore, anak-anak berenang. Dan seperti yang sudah bisa ditebak. Saka terpeleset. Ella menangis karena cipratan air. Yuan mengoreksi teknik berenang semua orang. Sean berubah menjadi penjaga keselamatan tidak resmi. Sedangkan Lili menolak keluar dari kolam.

Vivi dan Baskara sampai kehabisan tenaga hanya untuk mengawasi. Namun saat matahari mulai tenggelamnSemuanya berubah tenang. Anak-anak duduk di teras villa sambil menikmati jagung bakar. Wajah mereka merah karena lelah bermain.

Lili bahkan tertidur di pangkuan Sean. Pemandangan yang sangat langka. Karena biasanya Sean akan menyerahkan tugas itu kepada orang lain. Bu Mega yang ikut datang hanya sampai sore sebelum kembali ke rumahnya memperhatikan dari kejauhan. Matanya tampak berkaca-kaca.

"Kenapa, Bu?" tanya Vivi.

Bu Mega tersenyum. "Dulu saya takut rumah ini tidak akan pernah utuh lagi." Pandangan perempuan tua itu tertuju pada cucu-cucunya. Lalu kepada Baskara. Kemudian kepada Vivi. "Ternyata saya salah." Vivi terdiam. Bu Mega menggenggam tangannya. "Terima kasih karena bertahan. Aku benar-benar berhutang budi padamu. Sekarang aku bisa pergi dengan tenang."

"Bu," Vivi menggeleng, membalas genggaman tangan mantan atasannya yang sekarang jadi ibu mertuanya.

1
sryharty
aneh si bas ini
demi keluarga mantan mertua dia malah mengkhianati amanah ibu sendiri,,
bloon banget
Ulfa Iin
kasian vivi Thor
baskara sebagai suami tidak menjalankan amanah dgn baik
Cheer Pramudya
kereeeen kak... semangat Teruus ya
Ulfa Iin
bagus 👍
Anonim
Makasih y thor cerita nya menguras air mata sekali cerita nya 😍
Trie Broto
ceritanya enak dibaca...lanjut dan ttp semangat.
Rian Moontero
lanjuuutt👍👍😍
Pahtrool
bagus ceritanya semangat buat autornya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!