Rania tak sadarkan diri di tabrak pengendara motor, setelah mengejar penjambret yang membawa HP kesayangannya. Saat membuka mata, ia justru terbangun dalam tubuh Putri Wening Sasikirana dari Kerajaan Wanunggalih.
Belum sempat memahami keadaan, sebuah sistem memberinya misi: menikahi Pangeran Mukti Samudera, yang ternyata adalah sepupu Wening.
Rania menolak.
Ketika ia kebingungan karena tidak punya uang, sistem memberinya tantangan berjualan. Jika produknya viral, poinnya akan dikembalikan.
Di tengah usahanya mencari uang, Rania bertemu Raden Ji Aryasatya, pangeran dari kerajaan tetangga yang dikenal sebagai villain.
Sistem ingin Rania mengikuti takdir.
Rania justru memilih menolaknya.
Kalau harus memilih, kenapa tidak menikahi villain saja?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AraLum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 — Dua Wajah Pangeran
Bab 14 — Dua Wajah Pangeran
Tiga hari berlalu sejak kepergian Nyonya Ratih, dan istana Wanunggalih perlahan kembali ke ritme normalnya—setidaknya di permukaan.
Rania kembali berjualan cendol di pasar, meski kini selalu ditemani dua pengawal yang berjaga jarak beberapa meter, hasil kompromi dengan Permaisuri yang masih trauma dengan insiden racun. Namun di balik rutinitas itu, pikirannya tidak pernah benar-benar tenang.
"Sistem," bisiknya pelan sambil menuangkan santan ke gelas pelanggan, "ada perkembangan soal Prajurit Wirya?"
[Belum ditemukan. Kemungkinan besar sudah meninggalkan wilayah Wanunggalih.]
"Dan soal tulisan tangan itu?"
[Sistem tidak memiliki akses untuk analisis forensik tulisan tangan yang kompleks.]
Rania mendesah pelan. Tiga hari, dan ia belum juga menemukan cara untuk memastikan kecurigaannya terhadap Mukti tanpa terlihat mencurigakan sendiri.
Sepanjang hari itu, ia mengamati Mukti lebih dekat setiap kali pria itu berkunjung caranya bicara, caranya menghindar dari topik tertentu, hal-hal kecil yang mungkin selama ini terlewat karena Rania terlalu sibuk menganggapnya sekadar "misi menyebalkan".
Sore itu, Mukti datang lagi ke lapak cendolnya, seperti kebiasaan barunya belakangan ini.
"Wening." Ia duduk di bangku kecil dekat gerobak, wajahnya terlihat lelah. "Aku baru dari pertemuan dengan ayahanda. Soal pencarian Nyonya Ratih."
"Ada kabar?"
"Kapalnya terlacak sampai perairan Arkapura, lalu hilang jejak. Aryasatya bilang timnya masih mencari."
Rania mengangguk, menuangkan cendol untuknya tanpa diminta—kebiasaan yang sudah terbentuk otomatis sekarang.
"Mukti," katanya perlahan, mencoba nada sewajar mungkin, "boleh aku tanya sesuatu?"
"Tentu."
"Malam waktu kita ke Cilangkap dan Arkapura... sebelum aku ngajak kamu, gimana caranya kamu bisa langsung siap begitu cepat? Nggak pakai banyak tanya, nggak pakai ragu."
Mukti terdiam sejenak, sendok cendol berhenti di tangannya. "Kenapa tiba-tiba tanya itu?"
"Cuma penasaran."
Mukti menatapnya lama, seperti menimbang jawaban yang tepat. "Karena aku sudah lama menunggu kesempatan untuk menyelidiki ini sendiri. Sejak kejadian kapal hilang itu, aku selalu merasa ada yang tidak beres, tapi tidak pernah punya bukti atau keberanian untuk bertindak."
"Kenapa sekarang beda?"
"Karena kau berubah," jawabnya sederhana. "Wening yang dulu tidak akan pernah berani pergi diam-diam ke Cilangkap, apalagi ke Arkapura tengah malam. Kau membuatku ikut berani."
Jawaban itu terdengar tulus. Terlalu tulus, bahkan, sampai membuat Rania semakin bingung membedakan mana topeng dan mana wajah asli.
"Mukti," lanjutnya, memberanikan diri, "Sari sempat bilang, tulisan di surat yang kutemukan di rumah Prajurit Wirya... mirip tulisan kamu."
Ruang di antara mereka mendadak hening. Mukti menatapnya lama, ekspresinya berubah bukan marah, bukan panik, melainkan sesuatu yang lebih sulit diartikan. Kelelahan, mungkin. Atau kepasrahan.
"Aku menduga akan ada yang menyadarinya cepat atau lambat," katanya akhirnya, suaranya pelan.
Rania merasakan jantungnya berhenti sejenak. "Jadi itu bener?"
Mukti menghela napas panjang, meletakkan sendoknya di meja. "Surat itu memang tulisanku. Tapi bukan seperti yang kau kira."
"Jelasin."
"Aku menulis surat itu untuk Prajurit Wirya, benar. Tapi isinya adalah perintah untuk mengawasi pergerakan Nyonya Ratih, bukan membantunya kabur." Mukti menatap Rania lurus-lurus. "Aku sudah curiga padanya sejak lama, Wening. Sejak melihat perubahan gaya hidupnya yang tidak masuk akal untuk penghasilan sebagai kerabat jauh istana. Aku menyuruh Wirya memata-matainya diam-diam."
"Kalau begitu kenapa Wirya malah bantu dia kabur?"
"Itu yang aku juga masih coba pahami," Mukti mengusap wajahnya, terlihat frustrasi. "Kemungkinan Nyonya Ratih menyadari dia diawasi, lalu membeli loyalitas Wirya dengan bayaran lebih besar dari yang bisa kutawarkan. Prajurit itu mengkhianatiku di detik-detik terakhir."
Rania menatapnya, mencoba membaca kejujuran di balik kata-kata itu. Semuanya terdengar masuk akal terlalu masuk akal, mungkin, seperti jawaban yang sudah dipersiapkan jauh-jauh hari untuk situasi seperti ini.
"Kenapa kamu nggak bilang dari awal soal ini? Soal kamu udah curiga sama Ratih dan nyuruh Wirya mengawasinya?"
"Karena aku tidak mau melibatkanmu dalam sesuatu yang belum pasti," jawab Mukti. "Dan karena" ia berhenti sejenak, " aku takut kalau aku salah, dan menuduh kerabat dekat keluarga kita tanpa bukti kuat, itu bisa merusak hubungan keluarga yang sudah rapuh."
Rania terdiam, mencoba mencerna semua penjelasan itu. Logis. Masuk akal. Namun entah kenapa, ada sesuatu yang masih mengganjal di dadanya sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata, hanya insting yang terus berbisik untuk tetap waspada.
"Wening," Mukti melanjutkan, suaranya melembut, "aku tahu kau mungkin masih curiga padaku. Dan aku tidak bisa memaksamu percaya begitu saja. Tapi aku janji, aku tidak ada hubungan dengan percobaan meracunimu."
Rania menatapnya lama, lalu mengangguk pelan meski dalam hati, kepercayaan penuh itu masih terlalu jauh untuk digapai.
"Aku... perlu waktu," katanya jujur.
Mukti mengangguk mengerti, tidak memaksa lebih jauh. "Aku akan tunggu."
Setelah Mukti pergi, Rania duduk sendirian di belakang gerobaknya, menatap cendol yang mulai mencair esnya, pikirannya masih berkecamuk.
"Sistem," bisiknya pelan.
[Ya, Host.]
"Menurutmu, dia jujur nggak?"
[Sistem tidak dapat mengukur kejujuran berdasarkan nada bicara atau ekspresi wajah semata.]
"Bantuan banget nggak sih kamu."
[Namun sistem dapat mencatat: penjelasan Pangeran Mukti konsisten secara logis dengan bukti yang ada sejauh ini.]
Rania menghela napas panjang. Konsisten secara logis bukan berarti benar. Tapi untuk sekarang, itu satu-satunya pegangan yang ia punya.
Malamnya, ketika Rania kembali ke kamarnya, ia menemukan sepucuk surat kecil terselip di bawah pintu tanpa nama pengirim, tulisan tangan yang rapi namun asing.
Ia membukanya perlahan, jantungnya berdegup kencang.
*Jangan terlalu cepat percaya pada orang yang paling ingin kau percayai.*
*Seseorang yang tahu kebenaran.*
Rania menatap surat itu lama, tangannya sedikit gemetar.
Ia segera membuka pintu, memeriksa koridor luar. Sepi. Tidak ada siapa-siapa, hanya cahaya lilin dari lentera dinding yang berkedip pelan ditiup angin malam.
Siapa pun yang mengirim surat ini, mereka tahu persis kapan harus muncul tepat setelah percakapannya dengan Mukti sore tadi, seolah mengawasi setiap gerak-geriknya dengan sangat dekat.
Rania menutup pintu kembali, menyandarkan punggungnya ke kayu pintu yang dingin, surat itu masih tergenggam erat di tangannya.
"Sistem," bisiknya, suaranya nyaris tak terdengar, "siapa lagi yang mengawasi aku selain Arkapura dan Cilangkap?"
[Data tidak mencukupi untuk menjawab pertanyaan tersebut.]
Rania menatap surat itu sekali lagi, kata-katanya terus terngiang di kepalanya.
*Jangan terlalu cepat percaya pada orang yang paling ingin kau percayai.*
Apakah itu peringatan tentang Mukti? Atau justru jebakan untuk membuatnya semakin curiga pada orang yang tidak bersalah, sementara dalang sebenarnya tersenyum puas dari kejauhan, menyaksikan kecurigaan itu memecah belah orang-orang yang seharusnya saling percaya?
Rania tidak tahu jawabannya.
Dan untuk pertama kalinya sejak tiba di dunia ini, ketidaktahuan itu terasa jauh lebih menakutkan daripada racun mana pun yang pernah mengancam nyawanya.