NovelToon NovelToon
Gadis Galak Milik Tuan Muda

Gadis Galak Milik Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Transmigrasi
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Yusriani Yusuf

Dikhianati dan dibunuh oleh rekan seperjuangannya sendiri, Dinda, Komandan Pertama Barat yang legendaris, justru mendapat kesempatan kedua setelah jiwanya berpindah ke tubuh Ana Pramudia, gadis lemah yang dibunuh oleh saudara tirinya sendiri.

Kini, dengan jiwa seorang jenderal tangguh dan kekuatan mistis yang masih tersisa, Ana siap membalas dendam, merebut kembali harga dirinya, dan mengguncang Kekaisaran. Namun, di tengah intrik dan musuh yang mengincarnya, kemunculan Tuan Muda Adrian yang terus mengikutinya justru menambah misteri.

Akankah Ana berhasil menaklukkan dunia barunya, dan apa sebenarnya tujuan Adrian mendekatinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yusriani Yusuf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Putaran terakhir

Ban mobil menjerit kasar saat rem diinjak dalam-dalam. Adrian tersentak ke depan, mencengkeram kemudi erat-erat sampai tangannya gemetar dan kaget. Matanya menembus kegelapan malam, mencoba melihat siluet seseorang yang nekat berdiri di tengah jalan dan menantang maut.

Pintu mobil digebrak terbuka. Adrian keluar dengan amarah yang siap meledak. Namun, begitu melihat siapa yang berdiri dengan santai di dekat pagar pembatas baja, makian yang sudah di ujung lidahnya mendadak tertahan. Perempuan itu berdiri di sana tanpa dosa, seolah dia tidak baru saja hampir mati tergilas.

"Gila ya?! Nyari mati kau?!" bentak Adrian, suaranya pecah memecah kesunyian malam.

Ana perlahan menoleh. Tatapannya kosong datar tanpa ekspresi. Sangat berbeda dengan Adrian yang sudah panas sampai diubun-ubun. "Mau meras," sahutnya pendek. Nadanya santai seperti sedang membicarakan cuaca.

Adrian tertawa hambar menggeleng tak percaya. "Baru kali ini aku ketemu pemeras senekat kau." Malas memperpanjang urusan di pinggir jalan sepi begini, Adrian merogoh saku menarik beberapa lembar uang ratusan ribu, lalu menjejalkannya ke dada Ana sebelum berbalik pergi.

Namun, langkah kakinya langsung terkunci oleh kalimat berikutnya.

"Kalau mau menang aku bisa bantu."

Adrian memutar tubuhnya perlahan, menatap Ana dari atas ke bawah dengan pandangan meremehkan. "Enggak usah ngaco ini enggak lucu."

"Ini baru babak pertama," ucap Ana tenang, melangkah mendekat sambil mengibas-ngibaskan uang di tangannya. "Mereka main di kecepatan dua ratusan. Jalur ini penuh tikungan buta dan kita udah ketinggalan jauh di belakang. Tapi di babak ketiga, aku bisa bikin kamu lewatin mereka semua. Uang ini taruhannya."

Adrian menyipitkan mata, perlahan menyembunyikan tangannya di saku celana.

"Syaratnya apa?"

"Anterin aku ke rumah sakit setelah ini. Dan uang ini resmi jadi milikku."

Satu helaan napas panjang lolos dari mulut Adrian. Rasanya konyol tapi entah kenapa sorot mata perempuan itu membuat Adrian goyah. Akhirnya, ia memberi isyarat dagu ke arah pintu penumpang. "Masuk."

Begitu pintu tertutup dan sabuk pengaman terpasang, lampu kabin menerangi wajah Ana. Adrian melirik sekilas ke arah leher perempuan itu. Ada noda merah pekat yang merembes ke bajunya. "Lehermu berdarah. Itu kenapa?"

"Enggak usah dipikirin. Masih bisa bertahan sampai babak terakhir," jawab Ana santai.

Tanpa aba-aba, tangannya langsung merebut lingkar kemudi dari sisi samping, dan kaki kirinya menginjak pedal gas habis-habisan.

Wush!

Mobil itu melesat bak peluru.

Adrian tersentak ke belakang, refleks berpegangan erat pada pegangan di atas pintu. "Heh! Apa-apaan?!"

Ana tidak menjawab. Wajahnya kaku, menyetir dari posisi yang tidak ideal namun dengan kontrol yang luar biasa. Mobil meraung memasuki tikungan pertama dengan kecepatan yang di luar akal. Ban belakang berdecit memekakkan telinga, bodi mobil sempat membuang ke kanan, tetapi dengan satu sentakan tangan Ana yang presisi, kendaraan itu kembali stabil di jalurnya.

Adrian melongo. Rasa ngeri di dadanya perlahan terkikis oleh rasa takjub yang luar biasa. "Gila... kamu belajar nyetir di mana?"

"Dulu cuma tukang antar barang," sahut Ana singkat tanpa mengalihkan pandangan dari aspal.

"Antar barang macam apa yang bisa bawa mobil kayak pembalap pro begini?!" sergah Adrian, masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Di depan mereka, lampu-lampu belakang dari rombongan mobil Rehan dan Alex mulai terlihat.

"Lihat," gumam Adrian dengan mata berbinar,

"kita beneran bisa ngejar!" Lanjutnya lagi.

"Udah kubilang, kan? Babak ketiga kita ambil posisi pertama."

Asap tipis mengepul dari ban belakang saat Ana memotong jalur di sebuah tikungan tajam. Tepat di depan mereka mobil sport milik Rehan sedang melaju. Tanpa ragu, Ana mengambil celah sempit di sisi dalam tikungan yang mustahil lalu menyalipnya dalam satu gerakan bersih.

Di dalam kabinnya, Rehan terbelalak melihat mobil Adrian melesat melewatinya begitu saja. Ia menggebrak setir dengan frustrasi.

"Brengsek! Kok bisa?!"

Adrian spontan berteriak kesenangan di dalam kabin. "Yesss! Minimal aku enggak jadi yang paling terakhir!"

"Jangan senang dulu," potong Ana, suaranya langsung mematikan euforia Adrian. "Masih ada dua mobil lagi di depan."

Pandangan Adrian kembali lurus ke lintasan. Mobil Alex berada beberapa puluh meter di depan mereka, menempel ketat kendaraan di depannya tanpa menyisakan ruang sama sekali untuk disalip.

"Dua mobil itu enggak bakal bisa dikejar, jalurnya terlalu sempit," ujar Adrian ragu.

Ana tidak membalas. Ia justru memajukan posisi duduknya sedikit, mempererat cengkeraman pada kemudi hingga urat-urat tangannya menonjol. Wajahnya makin serius.

"Kalau mau menang, pilihannya cuma satu tabrak batasnya."

Gigi mobil diturunkan, dan pedal gas diinjak makin dalam. Mesin mobil menjerit di putaran tertinggi meraung-raung membelah malam.

Adrian panik, menoleh cepat ke arah Ana.

"Kau mau ngapain, Ana?!"

Mobil mereka melesat gila-gilaan, memangkas jarak dengan Alex hanya dalam hitungan detik. Dari kaca spionnya, wajah Alex mendadak pucat saat melihat sebuah bayangan mobil mendekat dengan kecepatan yang tidak masuk akal.

"Itu... mobil Adrian?!" bisik Alex tidak percaya.

Rehan yang tertinggal di belakang bahkan bisa melihat kegilaan itu dari jauh melalui radio komunikasi. "Kalau mau mati, mati sendiri aja brengsek! Jangan ngajak-ngajak!" makinya lewat radio.

Jalur kini mulai memasuki kawasan pegunungan yang mengerikan. Di sisi kanan berdiri tebing batu kokoh, sementara di sisi kiri terhampar jurang menganga yang hanya dibatasi pagar besi tipis—terlalu rapuh untuk menahan bobot mobil jika terjadi kesalahan sekecil apa pun.

Alex panik. Ia menekan pedal gasnya dalam-dalam, mencoba mempertahankan posisi di tengah jalan agar tidak bisa disalip. Namun mobil Adrian justru terus menempel di belakangnya tanpa ampun.

"Adrian! Kau gila ya?! Mau ngapain?!" teriak Alex, berharap suaranya menembus deru mesin.

Ana mengabaikan semuanya. Sepasang matanya mengunci tajam pada tikungan sempit yang menghadang di depan. Tikungan mati yang siap melempar siapa saja ke dalam jurang jika mereka salah perhitungan.

"Pegangan yang erat," bisik Ana, suaranya terdengar sangat dingin di tengah kekacauan itu.

Adrian langsung mencengkeram pegangan di atas pintu dengan kedua tangannya. Jantungnya berpacu liar. "Kau jangan nekat.."

Mobil mereka menghantam tikungan. Bukannya mengerem, Ana justru mengambil sudut ekstrim. Roda sebelah kiri mobil terangkat melindas pembatas jalan, sementara bodi mobil bagian kanan nyaris menggesek dinding tebing, memercikkan bunga api yang terang. Dalam satu sentakan kemudi yang sangat cepat dan terukur, Ana melempar mobil mereka memotong jalur tepat di sisi kendaraan Alex yang melambat karena panik.

"Sialan!" teriak Alex histeris, refleks membanting setir menghindari benturan.

Dari belakang, Rehan hanya bisa menyaksikan manuver gila itu dengan mulut ternganga. "Dia bener-bener sakit jiwa..." gumamnya lirih.

Brak!

Bodi mobil Adrian menghantam aspal kembali dengan keras, bergetar hebat sebelum akhirnya Ana berhasil meluruskan roda dan kembali memacu kendaraan itu ke depan. Untuk beberapa detik, kabin mobil mendadak hening. Hanya ada suara napas Adrian yang memburu beradu dengan deru mesin.

Detik berikutnya, tawa tidak percaya lolos dari mulut Adrian. "Gila... ini bener-bener gila! Kita lolos!"

"Belum selesai," potong Ana pendek. Wajahnya makin pucat, tetapi fokusnya belum pecah.

Di ujung jalan, garis finis akhirnya menyembul di balik kegelapan. Lampu sorot raksasa menyapu lintasan, diiringi sayup-sayup suara gemuruh penonton yang menanti di ujung sana. Ana mengerahkan sisa tenaga terakhirnya, menginjak pedal gas hingga menyentuh lantai mobil. Kendaraan mereka melesat membelah malam, melewati garis finis mengalahkan semua orang.

Adrian menang.

Rasa tidak percaya membanjiri dadanya. Ia menoleh cepat ke arah kursi pengemudi dengan mata berbinar-binar. "Kita berhasil! Kita beneran menang!"

Namun, tidak ada sahutan.

Napas Ana terdengar berat dan tersendat, jemarinya yang semula mencengkeram erat setir perlahan melorot, kehilangan tenaga. Adrian menyadari ada yang tidak beres, kegembiraannya langsung menguap begitu saja.

Ana menarik napas dalam-dalam, sebuah usaha keras yang tampak sangat menyakitkan. Wajahnya yang sejak tadi datar tanpa ekspresi kini berubah seputih kertas.

Adrian terpaku dalam diam, menatap perempuan di sampingnya dengan perasaan campur aduk.

Gadis asing ini beneran melakukannya, dia nekat menantang maut hanya demi mengantarnya menang.

Tiba-tiba pertahanan Ana runtuh, kepalanya terkulai lemas ke samping, menghantam sandaran kursi dan seluruh tubuhnya kehilangan daya, pingsan sepenuhnya di balik kemudi yang perlahan mulai melambat.

1
SRIANA
bagus ceritanya, semangat KK.
Syifaa
👍
Syifaa
🙏
Syifaa
👍
imran
Lanjut lagi
yuyusss: 🙏🙏😍😍😍😍
total 1 replies
imran
Makin penasaran
imran
Gregetnya
yuyusss: 😍baguss banget lanjut
total 1 replies
Syifaa
Jangan lupa like
Syifaa
Jangan lupa komen
yuyusss
greget
yuyusss
😍
yuyusss
uhuyy
yuyusss
lanjuttt
Syifaa
Makin seru nggak
imran
Lanjut kak
imran
Baguss banget
Syifaa
Lanjut nggak
Putri Sajak
kak yuk like punya kuh🤭
imran
Bagus
imran
Lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!