Bagi keluarga Vardha, Arumi selalu bisa dikorbankan demi Aurelia, kakak angkatnya yang manipulatif. Puncaknya, cinta tiga tahun Arumi, Adrian, direbut Aurelia dengan restu orang tuanya sendiri. Arumi mengalah dan mengikhlaskan mereka.
Namun, mereka tak tahu siapa Arumi sebenarnya.
Saat mengenakan cadarnya di luar rumah, Arumi bertransformasi menjadi maestro biola kelas dunia, peretas jenius, sekaligus CEO rahasia dari imperium bisnis yang ia bangun sendiri.
Dunia Arumi berguncang saat Raja Zean Rothschild—penguasa dunia no 1, pemegang saham mayoritas global, dan pemilik aliansi militer tertinggi—hadir di hidupnya. Sang Raja yang dingin dan tak tersentuh mendadak bertekuk lutut, terobsesi, dan mengejarnya secara posesif setelah menemukan rahasia di balik cadarnya.
Situasi kian memanas saat Kazan, anak mafia psikopat berdarah dingin, juga mengklaim Arumi sebagai miliknya.
Adrian terbakar cemburu, Aurelia gila obsesi ingin merebut Sang Raja. Mampukah Sang Raja melindungi Arumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SIDANG KONSORSIUM DAN JALINAN SILAT SANG RATU
Matahari pagi di kota utama memancarkan pendaran keemasan yang menembus kaca jendela raksasa gedung Konsorsium Internasional. Di dalam ruang sidang utama yang megah berpanel kayu mahoni, puluhan raja, menteri perwakilan, dan anggota Dewan Tetua dari berbagai benua duduk melingkar dalam keheningan yang kaku. Di kursi kehormatan sidang, Putri Elena duduk dengan dagu terangkat dan senyuman penuh kemenangan, yakin bahwa dokumen dan gertakan politiknya akan berhasil meruntuhkan posisi Arumi.
Di seberang meja sidang, Raja Zean duduk tegap mengenakan setelan jas hitam formal berbalut lencana kekaisaran. Ekspresinya sangat dingin, memancarkan aura dominasi mutlak tanpa secuil pun rasa gentar.
"Yang Mulia Raja Zean," suara Duke Archibold menggema berat di dalam ruang sidang. Ia berdiri di hadapan dewan juri kehormatan, melambaikan berkas gugatan Konsorsium Barat. "Berdasarkan Traktat Darah Murni pasal tujuh, aliansi kami menuntut agar pernikahan Anda dibatalkan atau setidaknya gelar Ratu Utama dicabut dari Arumi Vardhana. Ia adalah wanita dari kalangan jelata yang tidak memiliki hak darah bangsawan untuk duduk di takhta tertinggi!"
Bisik-bisik riuh langsung terdengar di antara para perwakilan konsorsium. Putri Elena menatap Zean dengan binar penuh obsesi, menanti saat-saat Raja tunduk pada tekanan politik internasional.
Zean menyunggingkan senyuman dingin yang amat tajam. Dengan gerakan tenang, pria penguasa itu berdiri, merapikan jasnya, lalu mengangkat kotak kayu jati kuno berukir perak di atas meja sidang.
"Kalian terlalu sibuk menilai silsilah orang lain, Archibold... hingga kalian lupa memeriksa siapa yang sebenarnya sedang kalian injak," suara bass Zean menggelegar tenang namun menggetarkan dinding ruang sidang.
Zean membuka gulungan kain sutra emas kuno milik keluarga Vardhana, membentangkannya di hadapan seluruh anggota dewan, dan menunjukkan stempel segel permata zamrud murni berukir lambang Imperial Bloodline.
"Ini adalah stempel sah pemegang takhta tertinggi Dinasti Vardhana-Aethelgard kuno," tegas Zean dengan nada suara mutlak. "Garis keturunan istriku, Ratu Arumi, berada dua tingkat di atas garis darah murni Dinasti Aethelgard milik Putri Elena! Berdasarkan hukum tertulis Konsorsium Internasional, kedudukan kalian di hadapan garis darah keluarga Vardhana justru berada di bawah tingkat kepatuhan!"
DEG!
Wajah Duke Archibold seketika memucat pasi. Gulungan sutra emas dan stempel zamrud kuno itu memancarkan legitimasi hukum mutlak yang tidak bisa disangkal oleh undang-undang Konsorsium mana pun!
Putri Elena terperanjat dari kursinya, matanya melotot tak percaya menatap dokumen kuno tersebut. "I-itu tidak mungkin! Itu pasti dokumen palsu yang mereka buat!"
"Jaga mulutmu, Elena!" bentak Zean dengan aura membunuh yang langsung membekukan udara di dalam ruang sidang. "Satu kata tuduhan lagi terhadap keabsahan istriku, dan hari ini juga aku akan memutuskan seluruh jalur perdagangan maritim dan traktat militer dengan wilayah kalian!"
Ketua dewan juri Konsorsium segera mengetuk palu setelah memeriksa keaslian stempel tersebut. "Berdasarkan verifikasi hukum kuno, klaim Dewan Tetua ditolak sepenuhnya! Ratu Arumi Vardhana sah memegang hak Imperial Bloodline tertinggi!"
Kemenangan mutlak di meja sidang internasional membuat faksi Kerajaan Barat bungkam seribu bahasa dalam rasa malu yang teramat besar.
Namun, ribuan kilometer dari ruang sidang Konsorsium... suasana di dalam Palazzo justru menyimpan ancaman tersembunyi yang jauh lebih mematikan.
Di koridor sayap timur istana yang sepi, Adrian melangkah pelan mengenakan seragam pengamanan luar yang disamarkan. Memanfaatkan situasi di mana sebagian besar pasukan elit Baret Hitam dikerahkan untuk pengawalan jarak jauh Raja Zean di gedung sidang, Adrian menyelinap masuk melewati pos penjagaan luar dengan kode akses curian.
Di dalam kamar pribadinya, Arumi tengah duduk merapikan beberapa dokumen arsip amal yayasan pesantren ayahnya. Suasana istana yang mendadak senyap membuat indra kewaspadaan Arumi menajam. Sejak kecil, di samping mendalami ilmu agama, Arumi dididik langsung oleh Abi Vardhana untuk menguasai seni bela diri silat tradisional demi menjaga diri dari segala bentuk ancaman fisik.
Ceklek...
Pintu kamar utama terbuka perlahan tanpa suara.
Adrian melangkah masuk ke dalam ruangan. Senyuman penuh obsesi gila terukir jelas di wajahnya saat melihat Arumi duduk seorang diri di balik meja.
Arumi menoleh seketika. Iris mata cokelat jernihnya menatap tajam ke arah Adrian. Tidak ada kepanikan di wajah Arumi; yang ada hanyalah ketenangan dingin seorang wanita berdarah pendekar.
"Adrian..." panggil Arumi dengan suara tegas dan dingin. "Bagaimana kamu bisa masuk ke ruang privat istana tanpa izin pengawal?"
Adrian menutup pintu kamar, menguncinya dari dalam, lalu melangkah mendekat dengan tatapan mata yang berkilat oleh nafsu posesif.
"Pengawal suamimu sedang sibuk di sidang luar, Arumi..." bisik Adrian penuh nada manipulatif. "Dan aku datang ke sini bukan sebagai tamu. Aku datang untuk membawamu pergi dari istana ini. Zean tidak pantas memilikimu! Kamu adalah takdirku!"
Arumi bangkit berdiri dari kursinya. Ia merapikan lipatan kain gamis syar'i-nya, menarik napas dalam-dalam untuk menyatukan fokus tenaga dalam dan teknik silat yang dikuasainya.
"Kamu sudah kehilangan akal sehatmu, Adrian," ucap Arumi tajam. "Pengkhianatanmu di balik topeng sekutu tidak akan pernah berhasil."
Adrian tertawa kecil, melangkah maju dengan cepat hendak mencengkeram pergelangan tangan Arumi. "Kamu tidak bisa lari dariku, Arumi!"
WHOOSH!
Belum sempat tangan Adrian menyentuh kain bajunya, Arumi bergerak secepat kilat! Dengan kelincahan luar biasa, Arumi menepis tangan Adrian ke samping, memutar tubuhnya, dan melayangkan tendangan menyamping (sabit) yang telak menghantam rahang Adrian!
BAM!
"Ukh!" Adrian terpekik kaget, terhuyung mundur hingga menabrak lemari pajangan porselen akibat hantaman tendangan silat yang bertenaga dari Arumi.
Adrian memegang rahangnya yang terasa ngilu, menatap Arumi dengan rasa tidak percaya. "K-kamu... sejak kapan kamu bisa bela diri?!"
Arumi memasang kuda-kuda silat tradisional yang kokoh, kedua tangan terbuka di depan dada dengan pandangan mata menghujam tajam.
"Ayahku mendidikku bukan hanya untuk membaca kitab, Adrian... tapi juga untuk merobohkan pria-pria kotor sepertimu!" tantang Arumi dengan suara penuh wibawa.
Murka karena dipermalukan oleh seorang wanita, Adrian menerjang maju secara membabi buta, melayangkan pukulan keras ke arah wajah Arumi.
Namun, dengan gerakan silat tangkas dan fleksibel, Arumi meliukkan tubuhnya menghindari pukulan tersebut, menangkap lengan Adrian, menggunakan momentum tarikan tubuh lawan, dan membanting tubuh Adrian dengan telak ke atas lantai marmer!
BRAK!
"ARGHHH!" jerit Adrian kesakitan saat punggung dan tulangnya menghantam lantai keras istana, membuat napasnya seketika tersengat habis.
Belum sempat Adrian bangkit, ujung sepatu bot Arumi sudah menotol tepat di dada Adrian, mengunci pergerakan pria itu tanpa ampun.
Di saat yang sama...
CARRRASH!
Pintu kamar utama didobrak paksa dari luar! Raja Zean—yang telah mendeteksi pergerakan aneh pada sistem pelacak internal Palazzo melalui tablet taktisnya—berlari masuk dengan napas memburu dan mata abu-abu yang menyala oleh amarah iblis!
Di belakang Zean, Felix dan belasan prajurit Shadow-Black mengepung ruangan dengan senjata terkokang penuh.
Zean mengedarkan pandangannya sekilas. Ia melihat istrinya berdiri tegak dalam posisi kuda-kuda silat yang anggun, sementara Adrian terkapar tak berdaya di lantai dengan napas tersengat kesakitan di bawah kaki Arumi.
Aura membunuh yang luar biasa dahsyat terpancar dari tubuh Raja Zean. Pria penguasa dunia itu melangkah maju, mencengkeram kerah jas Adrian, dan mengangkat tubuh pria itu satu tangan dengan tenaga monster!
"Beraninya kamu... menyentuh istriku, bajingan!" geram Zean dengan suara bass paling mengerikan yang pernah didengar siapa pun.
kaburrrr...takut ad gempa lokal...
bikin pinisirin /Drool//Drool//Drool//Drool//Drool/