NovelToon NovelToon
Salah Balas Dendam

Salah Balas Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Pengantin Pengganti
Popularitas:23.6k
Nilai: 5
Nama Author: CovieVy

Dea, alias Althea Twina Darmawan, tumbuh sebagai anak angkat yang kehilangan kasih sayang setelah ibu angkatnya melahirkan anak kandung. Terbiasa disalahkan, ia memilih mengabdikan hidupnya sebagai dokter.

Namun, hidupnya berubah ketika Linjaryani, calon istri Elden Zarreti, seorang tuan tanah kaya raya yang dingin dan berkuasa, meninggal secara misterius. Dea dijadikan kambing hitam, sementara Elden, dibutakan dendam, menghukumnya tanpa mencari kebenaran.

Pernikahan paksa dan perlakuan kejam Elden meninggalkan luka mendalam dalam diri Dea. Ketika bukti baru mengungkap pengkhianatan di balik kematian Linjaryani, Elden menyadari kesalahannya.

Mampukah ia menebus kehancuran yang diciptakannya, atau kebencian Dea telah menutup pintu maaf selamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 13. Tersangka

Petugas tersebut menggeser tampilan layar ke arah Dea.

“Rekaman dari kamera di ruang IGD untuk rentang waktu yang Mbak berikan, sudah tidak tersedia. Datanya sudah terhapus,” terang sang petugas.

Wajah Dea semakin mengernyit dan menggeleng tipis mengharapkan penjelasan lebih lanjut. “Terhapus? Kok bisa?”

“Iya, Mbak. Mohon maaf, saya tidak bisa memastikan penyebabnya, jika hanya dari tampilan seperti ini.”

Dea menatap layar tanpa berkedip. Untuk sesaat, ia merasa harapannya kembali runtuh.

'Mengapa rekaman itu bisa tidak menghilang?'

'Apakah memang sudah terhapus karena masa penyimpanan berakhir? Atau ada seseorang yang sengaja menghilangkannya?'

Dea hanya diam. Tetapi kepalanya sibuk dengan segala kemungkinan yang terjadi. Namun, ia bekum bisa menyimpulkan apa pun.

“Bagaimana dengan kamera di bagian lain, Pak?” tanyanya setelah berhasil menenangkan dirinya sendiri. “Misalnya, koridor menuju IGD atau pintu masuk?”

Petugas itu mengangguk.

“Mungkin rekaman dari kamera lain masih tersedia. Saya akan mencoba memeriksanya.”

Dea mengangguk. Harapan itu kembali muncul, meski hanya sekitar lima persen. “Mohon bantuannya, Pak. Kalau bisa, periksa semua lokasi sekitar pada rentang waktu yang sama.”

Pemeriksaan pun dilanjutkan.

Dea berdiri di samping petugas, memperhatikan layar dengan saksama. Rekaman pintu masuk, koridor, hingga area yang mengarah ke IGD diperiksa satu per satu.

Pada awalnya, ia tidak menemukan sesuatu yang mencolok.

Beberapa tenaga medis berlalu-lalang. Ada pasien yang didorong menggunakan ranjang, keluarga pasien yang menunggu, serta petugas yang sibuk menjalankan tugas masing-masing.

Sampai akhirnya, sebuah sosok muncul di layar.

Dea spontan mendekat lalu menunjuk bagian layar tertentu. “Pak, bisa menghentikan yang ini sebentar?”

Petugas menghentikan rekaman yang diminta Dea. Dea menunjuk sosok perempuan yang terlihat memasuki koridor menuju IGD.

“Tolong diperbesar.”

Petugas mengatur tampilan kamera. Gambarnya memang tidak terlalu tajam, tetapi sosok perempuan itu masih cukup terlihat.

Dea merasakan tengkuknya menegang. Ia bisa mengenali perempuan itu.

Tak lain dan tak bukan adalah Stella. Orang yang ia curigai.

Dalam rekaman itu, Stella terlihat berjalan sambil membawa sebuah kotak berukuran sedang. Ia menoleh ke kanan dan kiri sebelum memasuki area IGD.

Dea menahan napas.

“Bisa kita lihat beberapa menit sebelumnya?” tanyanya.

Petugas memundurkan rekaman, lalu memutarnya kembali.

Kali ini, Dea memperhatikan setiap gerakan Stella dengan lebih teliti.

Perempuan itu berjalan sendirian. Ia membawa kotak tersebut, berhenti sejenak di dekat pintu, lalu masuk setelah memastikan keadaan di sekitarnya yang mungkin aman menurutnya.

Beberapa menit kemudian, Stella terlihat keluar lagi. Kotak yang dibawanya tidak tampak jelas pada sudut kamera berikutnya.

Dea mengepalkan tangan. “Bisa diperbesar lagi, Pak? Saya ingin melihat kotak apa yang dibawanya.”

Petugas mencoba memperbesar gambar semampunya. Tampilan menjadi sedikit buram, tetapi sisi kotak yang menghadap kamera memperlihatkan sebuah label.

Dea mencondongkan tubuhnya ke depan. Tulisan pada label itu tidak seluruhnya terbaca. Namun, ada satu bagian yang masih bisa ia lihat.

DIGOKSIN.

Dea terdiam, otaknya langsung mencerna apa yang berada dalam genggaman Stella.

Ia mengenali nama obat itu. Digoksin merupakan obat yang digunakan untuk kondisi jantung tertentu, tetapi penggunaannya harus diawasi dengan ketat karena kadar yang terlalu tinggi dapat menyebabkan keracunan dan gangguan irama jantung yang serius.

Namun, melihat nama obat pada sebuah kotak saja tidak membuktikan bahwa obat itu telah diberikan kepada Linjaryani, apalagi bahwa obat tersebut menyebabkan kematiannya.

Dea tahu ia membutuhkan lebih banyak bukti.

“Pak, apakah rekaman ini boleh saya simpan untuk pemeriksaan lebih lanjut?” tanyanya.

“Kalau diajukan melalui prosedur yang berlaku, rekaman yang masih tersedia bisa diamankan untuk keperluan pemeriksaan.”

“Kalau begitu, saya ingin mengajukan permohonan itu.”

Dea kembali menatap layar.

Stella masuk ke IGD membawa kotak berlabel obat yang berkaitan dengan masalah jantung. Beberapa saat kemudian, ia keluar lagi. Sementara itu, rekaman dari dalam ruang IGD justru tidak tersedia.

Semua itu bisa saja memiliki penjelasan yang tidak berkaitan satu sama lain. Namun, Dea tidak akan mengabaikan itu meskipun terlihat sepele.

Ia akan menjadikan bukti ini sebagai petunjuk pertama yang bisa ia tindaklanjuti.

Dan petunjuk itu masih mengarah kepada Stella. Dea menarik napas panjang.

“Meskipun kamu orang yang kucurigai, tapi aku pastikan tak akan menuduhmu sebelum semu bukti terkumpul,” gumamnya pelan.

“Bukan hanya itu, aku juga akan mencari tahu apa yang sebenarnya kamu lakukan dengan obat itu.”

.

.

Di kediaman keluarga Zarreti, masalah yang berbeda justru sedang terjadi.

Elden berdiri di dekat pintu dengan wajah yang masih terlihat pucat. Di sampingnya, Om Jeno, yang kini telah menjadi suami Nindy, sedang mempersiapkan mobil sesuai permintaan Elden..

“Om, ayo berangkat.”

Jeno menoleh. “Kamu yakin ingin pergi mencari rujak?”

*bersambung*

1
Mia Camelia
lanjut thor😁
MomyWa
udah aku kasih thor ttp smngay
Safira Aurora
ellea ttp lah membuat elden pusing 😂
Aku Rajin Membaca: karena kepusingan elden adalah hiburan buat kita 🤭
total 1 replies
Safira Aurora
oke, nanti aku tontonin
Safira Aurora
dipikir2 dulu yah
MomyWa
pusing kan elden, mau bersama dia aja terasa sulit
Aku Rajin Membaca
walah, syukurlaaah
Aku Rajin Membaca
hmmmm gimana ni aksi anak buah alvara
Sri Widiyarti
dah dkasih vote semangat up-nya...
Aku Rajin Membaca
nah loh, gak bisa mereka
Dini Anggraini
Kakak tolong jangan buat pembaca bingung dea bilang dea bila alvara bilang alvara jadi bisa di bedakan kenapa dea gak langsung di ajak alvara kembali ke rumahnya ya takutnya Stella nanti operasi plastik wajahnya semirip mungkin dea dan ngaku2 anak orang kaya kembaran alvara q gak suka kak kasihan dari kecil dea sudah menderita sejak ortu angkatnya punya anak kandung dea di telantarkan. 😡
SoVay: maksudnya kak? 🤣
total 1 replies
Esther
Ayo Elden selamatkan Dea.
Ingat Dea sedang mengandung anakmu
mery harwati
Alvara tidak menyediakan bodyguard bayangan bwt saudara kembarnya kah?
Aneh klo tidak dipantau & dilindungi bodyguard bayangan keluarga, ceroboh !!
Aku Rajin Membaca: harusnya biarin authornya dulu, kan suka2 author mau nulis
total 1 replies
Esther
Ternyata Stella keponakan Josep.
Dan Josep berusaha melindungi Stella.
Yang pasti...kali ini Dea tidak akan tinggal diam.
Esther
lho lho....mencurigakan nih direktur Josep.
Jangan2 ada main dia dengan Stella
MomyWa
kalau bagian ini kangen sama naga dan bonar eta teh 🤣
Safira Aurora
buruan up lg
Safira Aurora
berhasil marathon aku thor
Aidil Kenzie Zie
nggak sadar juga si jalang 😡😡😡😡
Haryanti10
dikit amat sih thor KLO up,☹️☹️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!