NovelToon NovelToon
NATIONAL PROTECTION

NATIONAL PROTECTION

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Reinkarnasi / Perperangan
Popularitas:411
Nilai: 5
Nama Author: Zapdos

seorang protagonis yang bereinkarnasi ketubuh anak muda bernama Andre, memiliki kekuatan ganda yang berbeda dari masa lalunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zapdos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MEJA PARA PENGUASA

​Malam beringsut turun menyelimuti Sektor Pusat, membawa udara dingin yang menusuk tulang. Namun, di dalam penthouse Keluarga Valerius, suasana terasa hangat meski diwarnai sedikit ketegangan. Marvin berdiri di dekat pintu lift pribadi, memperhatikan dua sosok yang akan melangkah menuju pusat badai politik kota ini.

​Bastian mengenakan zirah upacara Keluarga Valerius. Armor emas putih itu memancarkan aura perlindungan yang luar biasa kental, dihiasi ukiran singa perak di bagian dada. Jubah merah marun menjuntai dari bahunya, menegaskan statusnya sebagai pewaris tunggal konglomerat terbesar. Di sampingnya, Andre tampak sangat kontras. Sang mantan pahlawan dunia itu hanya mengenakan kemeja hitam berlengan panjang, celana taktis, dan sebuah jubah gelap yang menutupi bahunya. Di pinggangnya, tersarung Nocturne, pedang legendaris yang seolah menyerap cahaya lampu di sekitarnya hingga membuat bayangan Andre tampak lebih pekat daripada benda apa pun di ruangan itu.

​"Kau yakin tidak ingin ikut, Vin?" tanya Bastian sambil merapikan sarung tangan bajanya. "Makan malam Asosiasi biasanya menyajikan hidangan monster laut tingkat tinggi. Sangat bagus untuk meningkatkan kapasitas mana."

​Marvin menggeleng pelan, tersenyum canggung. "Aku akan jadi beban politik jika ikut ke sana. Kakak bilang orang-orang itu ahli mencari kelemahan. Lagipula, aku masih harus berlatih mengendalikan Plague Domain di ruang simulasi."

​Andre menepuk bahu adiknya. Matanya yang gelap memancarkan kelembutan yang langka. "Keputusan yang cerdas. Tetaplah di sini, aktifkan seluruh formasi pertahanan Valerius. Kami hanya akan pergi untuk mengambil apa yang menjadi hak kita, lalu segera pulang."

​"Berhati-hatilah, Kak Andre, Kak Bastian," pesan Marvin seraya mundur selangkah saat pintu lift mulai terbuka.

​Kendaraan udara VIP membawa Andre dan Bastian melesat membelah langit malam. Tujuan mereka adalah Menara Utama Asosiasi Pemburu, gedung tertinggi di Sektor Pusat yang malam ini dijaga ketat oleh ratusan kesatria elit. Sinar lampu sorot menari-nari di udara, menandakan status siaga tertinggi.

​Di lantai 120, di dalam Aula Utama Asosiasi, ketegangan bisa diiris dengan pisau.

​Ruangan melingkar raksasa itu diterangi oleh lampu kristal magis yang memancarkan cahaya keemasan. Di tengah ruangan, terdapat sebuah meja bundar raksasa yang terbuat dari kayu Pohon Dunia—material yang kebal terhadap serangan sihir. Tiga puluh kursi mengelilingi meja itu, diduduki oleh para ketua guild dari peringkat sepuluh besar hingga menengah.

​Di tiga kursi utama yang berhadapan langsung dengan singgasana Direktur Eksekutif, duduklah para penguasa lama kota ini: Goliath, Ketua Guild Titan yang memiliki tubuh raksasa setinggi dua meter berbalut zirah baja hitam; Seraphina, Wakil Ketua Phoenix yang anggun dengan gaun sutra merah yang menyembunyikan tongkat sihirnya; dan Silas, Ketua Shadowhand, pria berkacamata yang malam ini terlihat sangat pucat dan terus-menerus menyeka keringat di dahinya dengan sapu tangan.

​"Ini konyol," geram Goliath, suaranya yang berat bergema di aula. "Marcus memanggil kita semua di tengah malam seolah kita ini prajurit bawahannya. Kudengar radar mendeteksi hilangnya Nightmare Dungeon di Sektor 8. Jika Asosiasi diam-diam memonopoli material naga di sana, Titan tidak akan tinggal diam."

​Seraphina menyipitkan matanya. "Jangan gegabah, Goliath. Menghilangnya 'Puncak Keputusasaan' bukanlah hasil operasi militer Asosiasi. Intelijenku melaporkan tidak ada pergerakan pasukan dari Sektor Pusat selama seminggu terakhir."

​"Lalu siapa?!" bentak Goliath, meninju meja kayu keras-keras. "Hantu?! Atau iblis yang saling membunuh di sana?!"

​Silas tidak ikut berdebat. Tangannya bergetar di bawah meja. Pikirannya masih dihantui oleh pesan berdarah dan sepuluh emblem yang ia terima beberapa hari lalu. Firasatnya mengatakan bahwa pertemuan malam ini akan menjadi mimpi buruk yang jauh lebih nyata daripada naga mana pun.

​Tiba-tiba, suara ketukan tongkat emas menghantam lantai marmer. Pintu ganda di ujung ruangan terbuka, dan Direktur Eksekutif Marcus melangkah masuk. Kehadiran pria tua dengan level mendekati batas 90 itu langsung membungkam seluruh aula. Tekanan mananya yang berat memaksa para ketua guild untuk menundukkan kepala sejenak sebagai tanda hormat.

​Marcus berjalan menuju singgasananya, namun ia tidak langsung duduk. Ia menatap ke sekeliling meja bundar, matanya tajam bagai rajawali.

​"Selamat malam, Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya," suara Marcus mengalun tenang, namun mengisyaratkan badai. "Aku tidak akan membuang waktu kalian. Alasan aku memanggil seluruh pemimpin faksi malam ini adalah untuk mengumumkan pergeseran peta kekuatan di Sektor Pusat. Mulai detik ini, hak eksplorasi untuk seluruh Dungeon tingkat Nightmare dan di atasnya, akan diserahkan secara eksklusif kepada satu faksi yang berada di bawah perlindungan langsung Asosiasi."

​Keheningan seketika pecah. Aula itu meledak dalam teriakan protes.

​"Apa maksudmu, Marcus?!" Goliath berdiri dari kursinya, urat-urat di lehernya menonjol. "Kau ingin memonopoli sumber daya tertinggi kota ini untuk faksi rahasiamu sendiri?! Faksi mana yang kau maksud?! Titan memiliki puluhan Third Job! Kapan kau berkonsultasi dengan kami?!"

​Marcus mengangkat tangannya, melepaskan sedikit Absolute Pressure yang membuat napas para pemrotes tercekat, memaksa mereka kembali duduk.

​"Faksi itu bukan milik Asosiasi," jawab Marcus dingin. "Mereka adalah entitas independen. Dan mereka yang membersihkan 'Puncak Keputusasaan' sendirian semalam."

​Tepat setelah kalimat itu diucapkan, pintu ganda raksasa kembali terbuka secara otomatis.

​Langkah kaki bergema di lantai marmer. Semua mata di ruangan itu menoleh secara serempak. Bastian melangkah masuk dengan senyum aristokrat yang sangat percaya diri, langkahnya berat dan berwibawa. Namun, bukan Bastian yang membuat suhu di dalam aula itu anjlok drastis.

​Di sebelah sang Tanker, Andre melangkah tanpa suara.

​Begitu pemuda berpakaian hitam itu memasuki ruangan, lampu kristal raksasa di langit-langit tiba-tiba meredup. Bukan karena sihir gelap, melainkan karena efek pasif dari pedang di pinggang Andre—Devour Light. Senjata itu seolah menghisap partikel cahaya di sekitarnya, membuat siluet Andre tampak seperti iblis kematian yang bangkit dari jurang penderitaan.

​Silas, Ketua Shadowhand, terkesiap. Kursinya berderit mundur. Wajahnya kehilangan seluruh warna darahnya.

​"I-itu mereka..." bisik Silas parau, matanya membelalak penuh teror. "Itu... bayangan itu..."

​Goliath menyipitkan matanya, mengamati level Bastian yang kini telah menyentuh angka 48. Namun, saat ia mencoba menggunakan skill Appraisal (Penilai) ke arah Andre, matanya terasa perih seperti ditusuk jarum. Sistem menolak memberikan informasi apa pun, seolah pemuda itu diblokir oleh otoritas dunia yang lebih tinggi.

​"Tuan Muda Valerius," geram Goliath, menatap rendah ke arah Bastian. "Dan seekor anjing liar tanpa nama. Inikah leluconmu, Marcus? Kau menyerahkan hak tingkat Nightmare pada dua bocah ini?!"

​"Anjing liar?" Bastian tertawa pelan, sama sekali tidak terintimidasi oleh raksasa Level 68 di depannya. Ia menarik sebuah kursi di bagian depan meja, tepat di samping kursi Goliath, lalu menatap raksasa itu. "Jaga ucapanmu, Pak Tua. Kau sedang berbicara dengan eksekutor Rishing Guild."

​Andre tidak mempedulikan Goliath. Ia berjalan dengan tenang dan menarik kursi di sebelah Bastian. Ia duduk santai, menyilangkan kaki, dan menatap lurus ke arah Marcus.

​Goliath merasa harga dirinya diinjak-injak. Sebagai penguasa faksi militer terbesar, diabaikan oleh seorang pemuda yang terlihat seperti kuli panggul rendahan adalah penghinaan mutlak.

​"Bocah sombong!" teriak Goliath. Tanpa memedulikan protokol Asosiasi, Goliath merapalkan aura kelas Berserker-nya. Tangannya yang sebesar batang pohon meraih kapak perang raksasa di punggungnya dan mengayunkannya dengan kecepatan mengerikan langsung ke arah kepala Andre. "Biar kuajari kau sopan santun meja makan!"

​"Jangan!" jerit Silas dari seberang meja, mencoba memperingatkan.

​Namun, segalanya terjadi terlalu cepat.

​Andre tidak berdiri. Ia bahkan tidak menoleh ke arah Goliath. Tangan kanannya bergerak dengan kecepatan yang mematahkan hukum fisika, meraih gagang Nocturne. Ia tidak mencabut pedangnya sepenuhnya. Ia hanya mendorong pedang itu keluar dari sarungnya sejauh dua sentimeter.

​SRIIIING!

​Suara gesekan logam bernada sangat tinggi memekakkan telinga seluruh orang di ruangan. Saat Nocturne terekspos ke udara meski hanya sebatas dua sentimeter, cahaya di seluruh aula padam total selama sepersekian detik.

​Sebuah garis tebasan berwarna hitam pekat, setipis jaring laba-laba namun memendam tekanan sebesar gunung, meledak dari celah sarung pedang itu.

​Garis hitam itu tidak bersuara. Ia menabrak kapak perang Goliath—senjata tingkat tinggi yang diyakini tak bisa hancur—dan membelahnya menjadi dua bagian dengan kehalusan memotong sutra. Tapi garis itu tidak berhenti di sana. Tebasan aura pembunuh itu melesat membelah udara, memotong sebagian meja kayu Pohon Dunia, dan berhenti tepat setengah milimeter di depan leher Goliath.

​Angin berdesir kencang di dalam ruangan, menerbangkan dokumen-dokumen di atas meja. Cahaya lampu kembali menyala terang.

​Aula itu senyap seolah berubah menjadi kuburan.

​Goliath membeku di posisinya, tangannya masih memegang sisa gagang kapaknya yang telah terpotong rapi. Setetes darah merah perlahan mengalir dari kulit lehernya yang tergores oleh tekanan udara dari tebasan tersebut. Napas raksasa itu terhenti. Otot-ototnya yang sekokoh baja kini gemetar hebat. Ia tidak mengerti apa yang baru saja terjadi. Ia hanya tahu bahwa dalam sepersekian detik tadi, ia telah melangkah melewati pintu gerbang neraka.

​Andre perlahan mendorong kembali pedangnya masuk ke dalam sarung hingga berbunyi klik.

​"Meja ini terlalu berisik," ucap Andre dengan nada datar yang menggema di setiap sudut jiwa orang-orang yang mendengarnya. Matanya yang sedingin es menyapu seluruh ketua guild raksasa di ruangan itu. "Mulai malam ini, jika Rishing Guild menginginkan sebuah Dungeon, kalian harus menyingkir. Jika kalian merasa keberatan, silakan keluarkan senjata kalian sekarang juga, agar aku tidak perlu repot-repot mendatangi markas kalian satu per satu."

​Tidak ada satu pun dari tiga puluh pemimpin guild elit itu yang berani bernapas, apalagi mencabut senjata. Seraphina menelan ludah, matanya memancarkan ketakutan yang mendalam. Silas merosot di kursinya, hampir kehilangan kesadaran karena teror psikologis. Dan Goliath, sang raksasa yang arogan, perlahan menurunkan tangannya dan duduk kembali dengan wajah seputih kertas, tak berani menatap mata Andre lagi.

​Marcus, yang sejak tadi menonton dari singgasananya, tersenyum tipis. Ini adalah hasil yang ia harapkan. Seekor monster mutlak untuk menundukkan anjing-anjing liar.

​"Kurasa tidak ada lagi yang berkeberatan," ucap Marcus, memecah keheningan mematikan tersebut. Ia kembali mengetukkan tongkat emasnya. "Status Rishing Guild resmi ditetapkan. Namun, aku memanggil kalian malam ini bukan sekadar untuk membahas hal ini."

​Layar hologram raksasa di tengah meja bundar tiba-tiba menyala, menampilkan peta satelit Bumi. Peta itu bergeser ke sebuah wilayah tandus di luar Sektor Pusat yang dilabeli sebagai Gurun Kematian. Di tengah gurun tersebut, terdapat sebuah pusaran energi raksasa berwarna merah darah yang skalanya seratus kali lipat lebih besar dari celah dimensi di Sektor 3 beberapa hari yang lalu.

​"Tadi sore, stasiun pemantau antarplanet mendeteksi lonjakan mana yang tak tertandingi," suara Marcus berubah sangat serius, membawa aura keputusasaan yang nyata.

​"Ini bukan Dungeon Break. Ini adalah Gerbang Invasi Permanen. Pilar Iblis ke-8, Astaroth, sedang membangun jembatan spasial menuju Bumi," lanjut Marcus, menatap Andre dengan penuh arti. "Sistem menetapkan status ini sebagai Bencana Skala 1. Jika kita tidak menghancurkan jangkar portal itu dalam tiga hari ke depan, sang Pilar Iblis akan menginjakkan kakinya di planet ini. Dan umat manusia, Tuan-tuan, akan kembali menghadapi kiamat."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!