~DALAM TAHAP REVISI~
Raras hanya ingin pernikahannya berjalan tenang. Ia sembunyikan nama besar keluarganya, meninggalkan kemewahan di Yogyakarta, dan memilih hidup sederhana bersama Danang, pedagang yang sedang naik daun.
Hingga suatu malam Raras melihat pesan mesra di ponsel suaminya. Danang berselingkuh.
Yang lebih menyakitkan, keluarga Danang justru merendahkan Raras. Mereka menganggap Raras perempuan tanpa masa depan. Bagi mereka Danang pantas mendapat wanita lebih cantik, lebih bergengsi, dan menguntungkan.
Raras tidak menangis. Ia hanya berkemas dan pulang ke Yogyakarta.
Di balik pintu dalem keluarganya, kehidupan yang selama ini ia sembunyikan akhirnya terbuka. Ternyata tanah, sawah, kebun, gudang, dan jaringan perdagangan milik keluarga Raras selama ini yang diam diam menopang kesuksesan bisnis Danang dari belakang.
Raras tidak menghancurkan mantan suaminya. Ia hanya berhenti menopang. Satu per satu bisnis Danang runtuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23 — Hartono di Semarang (Revisi)
“Mbak, njenengan kuat (Mbak, Anda kuat)? Pak Surya sampun saking jam wolu wonten mobil (sudah sejak jam delapan di mobil).”
Pak Hadi berbisik dari kursi ruang tunggu kantor Pak Hartono. Topinya terletak di pangkuan, sementara matanya mengarah ke jendela kaca besar yang menghadap halaman parkir. Kamis, pukul sepuluh lewat lima belas, dan di bawah pohon trembesi sebuah sedan hitam berdiri diam dengan mesin menyala.
“Kuat, Pak. Kalau tidak, saya tidak akan naik kereta sepagi tadi.” Raras merapikan kebaya biru tuanya, lalu memandang amplop cokelat yang terlipat di dalam tasnya. Surat panggilan itu tiba di dalem pukul lima subuh, diantar kurir yang meminta tanda tangan. “Beliau boleh menunggu. Saya tidak melarang.”
“Mbak tidak ingin menyapa?”
“Tidak, Pak. Eyang bilang, orang yang belum minta maaf tidak perlu disapa dua kali.”
“Sampel sudah saya siapkan, Mbak. Lima puluh karung, siap dicap dengan cap tangan Mbak.”
“Itu kalau Mas Danang membeli sesuai aturan, Pak.”
“Kalau tidak?”
“Ya, tidak ada cap. Saya tidak akan menipu siapa pun, termasuk Pak Hartono.”
“Nggih, Mbak.”
Pak Hadi terkekeh pendek, lalu buru-buru diam ketika pintu kaca di ujung lorong terbuka. Danang keluar. Kemejanya putih bersih, dasinya lurus, tetapi wajahnya pucat dan matanya merah. Ia berhenti begitu melihat Raras duduk di kursi tunggu.
“Mas.”
“Ras.” Danang menelan ludah. Tangannya yang kosong mengepal, lalu terbuka lagi. “Aku sudah bilang yang sebenarnya.”
“Aku akan dengar langsung dari Pak Hartono nanti, Mas. Supaya tidak ada versi yang berbeda.”
“Kamu tidak mau tahu detailnya?”
“Aku mau tahu. Tapi aku ingin mendengarnya dari orang yang mengambil keputusan, bukan dari orang yang terkena keputusan itu.” Raras tersenyum kecil, tanpa nada dingin. “Itu bukan hukuman, Mas.”
“Sudah sarapan, Mas?” tanya Raras sebelum sempat menahan diri.
“Nasi jagung dari Bu Warsih. Dua bungkus.” Danang tersenyum miring, canggung. “Satu masih utuh, kalau kamu mau.”
“Habiskan sendiri, Mas.”
“Itu jawaban yang sudah kuduga.” Ia melirik tas Raras. “Surat panggilan itu juga datang ke rumahmu?”
“Subuh tadi.”
“Aku tidak tahu soal gugatan itu, Ras. Mas Dimas baru memberitahuku pagi ini. Aku benar-benar tidak tahu Bapak mendaftarkannya.”
“Aku percaya.”
“Kamu percaya?”
“Kalau Mas yang mendaftarkannya, Mas pasti sudah bilang waktu di Wates.” Raras mengangkat bahu kecil. “Mas tidak pandai berbohong kepada orang yang menunggu.”
Danang tertawa pendek dan serak. “Itu hinaan atau pujian?”
“Dua-duanya, Mas.”
“Aku akan bicara dengan Bapak.”
“Itu urusan Mas.”
“Aku tahu.” Danang mundur satu langkah, lalu berhenti. “Ras, aku mau ke Yogya. Tapi bukan hari ini.”
“Kapan pun, Mas. Pintunya tidak dikunci.”
“Aku tidak akan masuk tanpa izin.”
“Itu sopan santun yang baik.”
Danang mengangguk, menggenggam tali tasnya, lalu berjalan ke arah tangga. Raras mendengar langkahnya menjauh sampai tak terdengar lagi.
“Mbak,” bisik Pak Hadi, “Mas Danang itu sudah berubah.”
“Perubahan itu butuh waktu, Pak. Jangan terlalu cepat percaya.”
“Nggih, Mbak.”
“Pak Hadi, kalau Mas Danang menelepon soal sampel, sampaikan apa adanya.”
“Syaratnya tunai, jaminan bank, atau harus antre seperti yang lain, Mbak?”
“Syaratnya sama untuk semua. Dan tolong, jangan lupa menawarinya minum.”
“Nggih, Mbak. Teh manis, tanpa perlu disuruh.”
“Dan nasi kalau dia belum makan.”
“Nggih, Mbak. Itu bukan menolong, itu sopan santun.”
“Bapak belajar cepat.”
“Mbak Raras?” Seorang perempuan muda berkemeja putih muncul di ambang pintu. “Pak Hartono sudah menunggu.”
Ruang kerja itu luas, berbau kopi dan kertas lama. Pak Hartono duduk di balik meja kayu besar, kacamata tergantung di dada, rambut peraknya disisir ke belakang. Ia tidak berdiri, tetapi mempersilakan mereka duduk dengan telapak tangan terbuka.
“Silakan, Mbak. Pak Hadi juga.”
“Terima kasih, Pak.”
“Saya tidak suka basa-basi.” Pak Hartono mengambil map dan membukanya. “Pak Danang baru saja keluar. Mbak melihatnya?”
“Saya melihat, Pak.”
“Bagaimana keadaan Mbak sendiri?” tanya Pak Hartono tiba-tiba. “Bolak-balik Yogya, mengurus gudang, sementara sidang sudah menunggu. Mbak tidak lelah?”
“Lelah, Pak. Tapi setidaknya saya lelah karena melakukan hal yang benar.”
“Itu lelah yang bisa dipikul.” Pak Hartono tersenyum tipis. “Beliau berani, Mbak.”
“Berani bagaimana, Pak?”
“Tiga kali pertemuan sebelumnya, setiap kali kiriman terlambat, beliau selalu menyebut soal waktu. ‘Truknya antre dua jam, Pak.’ ‘Gudangnya penuh sampai pukul empat, Pak.’” Pak Hartono menutup map. “Hari ini saya tanya, ‘Sampeyan berani menyebut jam. Sekarang, berani menyebut alasan sebenarnya?’”
“Apa jawab beliau?”
“Beliau diam, lalu bilang, ‘Alasannya saya, Pak.’” Pak Hartono mengulang kalimat itu dengan nada datar, tetapi matanya beralih ke Raras. “Beliau juga bilang, ‘Saya membeli dari pemasok yang tidak bercap karena saya tidak membaca Lampiran Dua dengan benar. Saya mengira cap itu cuma ongkos cetak, bukan tanda dari siapa pun.’”
Raras memejamkan mata sejenak, lalu membukanya kembali. “Beliau mengatakannya langsung?”
“Tanpa menyebut nama Mbak dan tanpa menyalahkan siapa pun.” Pak Hartono berdeham. “Saya tidak biasa mendengar pengakuan seperti itu dari orang muda. Biasanya mereka menyalahkan antrean.”
“Lalu bagaimana keputusan Bapak?”
“Kontrak enam bulan saya pangkas menjadi tiga bulan.”
Pak Hadi menarik napas. Raras tidak bergerak.
“Lalu soal sampel bercap itu, Pak?”
“Saya tunggu hari Selasa depan. Lima puluh karung, bukan lima. Kalau tersedia, kontrak tiga bulan berjalan dan bisa diperpanjang. Kalau tidak, kontraknya selesai.” Pak Hartono bersandar. “Menurut Mbak, itu adil?”
“Adil, Pak.”
“Mbak tidak keberatan?”
“Saya tidak punya alasan untuk keberatan, Pak. Kontrak itu milik Pak Danang.” Raras menegakkan punggung. “Saya hanya menyediakan barang yang memenuhi syarat. Kalau Pak Danang membeli sesuai aturan, sampel itu akan saya cap sendiri dan dikirim ke Semarang hari Senin.”
Pak Hartono memandangnya lama. “Mbak, saya mau bertanya satu hal. Mbak boleh tersinggung kalau tidak berkenan menjawab.”
“Silakan, Pak.”
“Kalau saya ingin langsung berkontrak dengan Pramesti, tanpa melalui Pak Danang, apakah Mbak bersedia?”
Pak Hadi menunduk. Raras tersenyum.
“Tidak, Pak.”
“Kenapa?”
“Karena kontrak yang Bapak percayakan kepada Pak Danang adalah hasil kerja Pak Danang. Saya tidak akan mengambilnya.” Suaranya tenang, meski ada getar tipis di ujung kalimat. “Saya mungkin tidak lagi menjadi istrinya, Pak. Tapi saya tidak mau menjadi orang yang merebut apa yang dia bangun sendiri.”
“Mbak ini aneh.”
“Mungkin, Pak.”
“Aneh dalam arti yang baik.” Pak Hartono mengetuk meja dengan pulpennya. “Ayah saya dulu bercerita, daun sawo kecik di karung itu tanda bahwa barangnya tidak pernah ditawar. Saya kira itu cuma dongeng, Mbak. Ternyata orang yang menjaga kebiasaan itu duduk di depan saya.”
“Itu bukan dongeng, Pak. Hanya kebiasaan yang kami jaga.”
“Soal sidang, Mbak? Saya dengar dari Pak Danang.”
“Saya akan menjawab dengan kalimat yang benar, Pak. Hanya itu.”
“Tanpa dendam?”
“Tanpa dendam. Dendam itu berat dibawa, Pak. Beban saya sudah cukup banyak.”
“Orang tua juga sering berkata begitu.” Pak Hartono tersenyum. “Tapi hanya sedikit yang benar-benar melakukannya.”
“Saya akan menunggu sampai hari Selasa, Pak.”
“Terima kasih, Mbak.”
Mereka berdiri. Pak Hartono mengantar sampai ambang pintu, bersalaman dengan Pak Hadi, lalu dengan Raras. Genggamannya hangat dan kering.
“Satu lagi, Mbak,” katanya. “Pak Surya menelepon saya tadi malam dan meminta ikut dalam pertemuan ini. Saya menolak.”
“Terima kasih, Pak.”
“Saya bilang, ini kontrak Pak Danang, bukan kontrak keluarga.” Ia tersenyum tipis. “Beliau marah.”
Di lorong, Raras berhenti di depan jendela kaca besar. Di bawah, sedan hitam itu masih terparkir di bawah pohon trembesi. Danang berjalan keluar dari gedung dengan dasi sedikit longgar. Kaca jendela belakang sedan turun, lalu Surya menjulurkan kepalanya.
“Nang! Naik!”
Danang berhenti. Raras bisa mendengar suaranya dengan jelas meski terhalang kaca.
“Saya naik bus, Pak.”
“Naik bus?” Suara Surya meledak. “Jangan bikin malu! Masuk mobil!”
“Yang malu Bapak atau saya?”
“Nang!”
“Kalau Bapak mau bicara, Bapak tahu alamat rumah saya dan alamat dalem.” Suara Danang bergetar, tetapi ia tidak menurunkan nada bicaranya. “Saya naik bus, Pak. Saya mau memikirkan satu hal sendirian.”
“Hal apa?”
“Bagaimana caranya meminta maaf tanpa harus disuruh.”
“Terima kasih, Pak.” Danang menegakkan bahu, menyeberang jalan, lalu berdiri di halte bus kota dengan tas di tangan. “Saya pulang sendiri.”
Pak Hadi menahan napas. “Mbak...”
“Saya lihat, Pak.”
“Pak Surya sekarang sendirian, Mbak,” bisik Pak Hadi.
“Beliau tahu jalan pulang, Pak. Sama seperti Mas Danang.”
“Mbak tidak kasihan?”
“Saya kasihan.” Raras menurunkan pandangan ke amplop di tasnya. “Tapi kasihan tidak sama dengan menolong.”
“Mbak tadi menolak tawaran Pak Hartono.”
“Iya, Pak.”
“Itu bukan keputusan yang merugikan Mbak?”
“Itu kebanggaan kecil, Pak.” Raras tersenyum tipis. “Saya ingin Mas Danang tahu bahwa dia bisa berdiri sendiri, meskipun saya sebenarnya bisa membantunya.”
Bus biru berhenti di halte. Danang naik tanpa menoleh ke belakang.
lanjuut
🙏💪