Ning sopiah
Aku adalah santri Alumni Pesantren Darunajjah yang sudah lulus S1 Ilmu Tafsir Hadis.
Dulu aku adalah santai yang aktif dan cerdas di pesantren, Kiayi Kholil Pendiri dan Pemilik Pesantren sering menyebut ku ini calon mantu... tapi aku selalu tidak menghiraukan beliau, aku anggap itu candaan.
Empat tahun sudah berlalu setelah aku selesai S1, tiba-tiba aku diminta untuk kembali ke Pesantren.
Aku kaget Kiayi Kholil telah meninggal 3 tahun yang lalu dan di teruskan oleh Anak nya Gus Azam yang aku pun tak pernah bertemu, karena sewaktu aku mondok gus azam kuliah di Kairo Mesir....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurelia Sadewa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panggilan Pulang
Namaku Sopiah.
Empat tahun lalu aku meninggalkan gerbang putih Pesantren Darunnajah dengan ijazah S1 Ilmu Tafsir Hadis di tangan dan tawa Kiai Kholil di telinga.
_"Sopiah, kamu itu calon mantu Abah. Jangan jauh-jauh ya, Nduk."_
Aku hanya tersenyum. Kukira itu candaan seorang Kiai yang menyayangi santrinya yang paling cerewet di kelas Bahsul Masail.
Sampai sore ini, sebuah pesan masuk dari Ustadzah Pondok.
_"Ning Sopiah, Abah Kholil sampun sedo 3 tahun lalu. Gus Azam putrane Abah sampun kondur saking Kairo. Beliau menunggu Ning di ndalem. Ada amanah terakhir dari Abah."_
Dunia ku runtuh.
Kiai yang kuanggap bapak sendiri telah tiada. Dan aku... bahkan tidak tau kapan beliau dimakamkan.
Dan Gus Azam? Nama yang hanya ku dengar dari cerita. Putra Kiai yang mondoknya di Kairo, Mesir, bukan di Darunnajah.
Aku tidak pernah bertemu dengannya. Ketika aku menjadi santri baru yang menangis karena tidak betah, Gus Azam sudah terbang ke Kairo untuk kuliah di Al-Azhar. Ketika aku menjadi pengurus putri yang galak, foto Gus Azam hanya terpajang di dinding ndalem, bersorban putih dengan senyum tipis.
Lelaki itu kini pulang. Menjadi pengasuh.
Tapi tidak sendirian.
Di perjalanan pulang malam itu, aku baru tau semuanya dari Ustadzah Rifah yang menjemputku di terminal.
Gus Azam menikah di Kairo. Bukan karena cinta.
Istrinya bernama Fatimah Zahra, yang kami panggil Ning Ummah. Usianya 8 tahun lebih tua dari Gus Azam. Perempuan Mesir berdarah Indonesia, hafidzah 30 juz, wajahnya teduh seperti ibu.
Pernikahannya adalah amanah kematian.
"Kakak angkatan Gus Azam di Kairo, namanya Gus Faiz, kecelakaan mobil sepulang talaqqi. Meninggal di tempat," cerita Ustadzah Rifah lirih di dalam angkot. "Gus Faiz itu sudah tunangan dengan Ning Ummah. Mereka mau menikah bulan depan. Tapi qadarullah, Gus Faiz wafat. Keluarga Ning Ummah di Kairo itu keluarga terhormat. Kalau pertunangan putus karena calon suami wafat, marwah Ning Ummah hancur. Orang akan menggunjing."
Aku terdiam.
"Gus Azam yang ada di lokasi kecelakaan. Pesan terakhir Gus Faiz sebelum syahadat terakhir itu... 'Jaga Ummah'. Akhirnya para masyayikh di Al-Azhar bermusyawarah. Jalan terbaik untuk menutupi marwah Ning Ummah, adalah Gus Azam menikahinya."
MasyaAllah.
Pernikahan pertama tanpa cinta. Pernikahan karena menjaga kehormatan seorang perempuan sholihah.
Gus Azam memboyong Ning Ummah pulang ke Darunnajah, 6 bulan sebelum Kiai Kholil wafat. Kiai Kholil katanya menangis bahagia melihat putranya pulang membawa menantu hafidzah. Tapi bahagia itu hanya sebentar.
Kiai Kholil sakit keras. Wafat.
Sepeninggal Abah Kholil, Pesantren Darunnajah seperti kapal tanpa nahkoda.
Santri banyak yang boyong. Donatur mundur. Utang pembangunan gedung asrama putri yang dulu dibangun Kiai Kholil membengkak. 3 Miliar.
Di tengah kekacauan itu, hanya ada satu donatur yang masih bertahan. H. Mahmud, pemilik 12 toko bahan bangunan di Bandung. Ayah dari Ning Latifah.
Ning Latifah. Aku mengenalnya. Adik angkatanku dulu. Cantik, kaya raya, manja, dan... sejak dulu diam-diam mengagumi foto Gus Azam di dinding ndalem. Setiap ada tamu putri, dia yang paling semangat cerita tentang Gus yang di Kairo.
H. Mahmud memberi syarat. Bukan syarat jahat, tapi syarat seorang ayah yang ingin anaknya bahagia dan pesannya selamat.
"Gus, saya akan lunasi semua utang pesantren. Saya wakafkan tanah 2 hektar di belakang untuk perluasan. Tapi izinkan saya melihat pesantren ini dijaga keluarga. Nikahi anak saya, Latifah. Jadikan dia bagian dari pengabdian."
Gus Azam menolak di awal. Ning Ummah bahkan yang mendorong.
"Azam, ini maslahat pesantren. Ini amanah Abahmu. Abah bangun pesantren ini dari nol dengan air mata. Apa kita akan biarkan dijual untuk bayar utang?" kata Ning Ummah suatu malam, seperti yang diceritakan Ustadzah Rifah.
Maka menikahlah Gus Azam untuk kedua kalinya. Juga bukan karena cinta.
Ning Latifah, santri cantik putri tunggal H. Mahmud, resmi menjadi istri kedua.
Pesantren selamat. Utang lunas. Santri kembali ramai. Gedung baru berdiri megah dengan tulisan: _Wakaf Keluarga H. Mahmud._
Semua orang bahagia. Kecuali satu orang. Gus Azam sendiri.
Aku membayangkan lelaki itu. Pulang dari Kairo dengan gelar Lc., MA., dengan dua pernikahan di pundaknya yang sama-sama bukan karena cinta. Satu karena menjaga marwah perempuan lain, satu karena menjaga marwah pesantren peninggalan abahnya.
Lalu... untuk apa aku dipanggil?
Angkot berhenti di depan gerbang putih yang kini sudah tinggi dan bercat hijau. Gerbang yang sama, tapi terasa asing.
Di gerbang itu tertulis besar: PONDOK PESANTREN DARUNNAJAH - Pengasuh: KH. M. Azam Kholili, Lc., MA.
Di depan ndalem, sudah berdiri Ning Ummah dengan gamis hitam dan niqab yang hanya terlihat matanya yang teduh. Di sampingnya Ning Latifah dengan gamis pink mewah dan tas branded, menatapku dari atas ke bawah.
Dan di tengah mereka, seorang lelaki bersorban putih, jenggot tipis rapi, jubah abu-abu. Wajahnya lelah. Matanya dalam sekali. Itu pasti Gus Azam.
Tatapannya bertemu tatapanku.
Untuk pertama kalinya, setelah 4 tahun candaan Kiai Kholil.
"Akhirnya kamu pulang, Sopiah," suara Gus Azam itu pelan, tapi membuat jantungku berdegup tidak karuan. "Abah sudah lama menunggu kepulangan calon mantunya."
---Bersambun---