Seorang pemuda yang memiliki rasa haus akan mimpi menjadi orang kaya, berangkat merantau penuh harapan tinggi.
Tapi, sesampainya dikota, tamparan keras menghantamnya.
Ternyata hidup dikota tidak semudah yang dia bayangkan.
Sampai pada akhirnya sistem datang seperti malaikat yang jatuh dari langit, memberi jalan baru baginya untuk melawan kerasnya hidup didunia orang dewasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gen-1, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24. Kesepakatan Yang Mulai Berubah Menjadi Nyata
[Ding!]
[Misi Penaklukan Aktif!]
Target: Risa Aprilia
Misi: Hibur Target
•Buat Risa melupakan kejadian yang membuatnya menyalahkan diri sendiri.
•Gantikan pengalaman pahit itu dengan pengalaman romantis yang membuatnya tidak bisa melupakannya.
[Hadiah bergantung pada seberapa baik Tuan Rumah membuat Risa merasa bahagia malam ini.]
Suara mekanis sistem terdengar seperti suara malaikat baginya di tengah kebingungannya.
Pada saat Yuda sedang mencerna misi sistem.
Risa masih berdiri di samping tumpukan setelan pakaian yang memenuhi gudang.
Raut wajahnya memang sudah tidak sesedih sebelumnya, tetapi masih ada sedikit rasa menyalahkan dirinya sendiri.
Kemudian ia mengangkat wajahnya dan tersenyum kepada Yuda.
"Untung ada kamu."
Yuda tersadar dari lamunan misi sistem, lalu menatapnya bingung.
"Kalau waktu itu kamu nggak membeli semua setelan ini, mungkin pesanan-pesanan lain yang sudah masuk bakal ikut bermasalah karena modalnya habis tertahan di sini."
Risa menghela napas pelan. "Parahnya lagi, aku mungkin sampai harus menjual mobil atau bahkan menggadaikan rumah buat nutupin modal."
Senyumnya masih terlihat, meski sorot matanya tetap menyimpan sedikit rasa mencela diri sendiri.
"Jadi... meskipun aku memang terlalu naif waktu itu, aku benar-benar bersyukur ada kamu."
Yuda terdiam sesaat.
Kemudian sudut bibirnya terangkat. "Jangan cuma bilang bersyukur."
Risa mengerutkan kening. "Hah?"
Yuda tiba-tiba melangkah mendekat.
Tubuhnya yang lebih tinggi membuatnya harus sedikit menundukkan wajahnya persis di hadapan Risa—begitu dekat hingga jarak di antara paras mereka hanya tersisa beberapa sentimeter saja.
Risa seketika membeku.
Di gudang yang terang, hanya ada mereka bedua.
Pikiran buruk terlintas di benaknya, bahkan ia merasa bingung apakah harus menanggapi atau menolak
Wajah cantiknya langsung merona merah padam, dadanya naik-turun menahan napas yang mendadak terasa sesak.
"Y-Yuda?"
Yuda tidak menjawab.
Ia justru menundukkan wajahnya lebih dekat ke telinga Risa.
"Bukannya kita sudah punya kesepakatan?"
Hembusan napas Yuda terasa samar di telinganya.
Wajah Risa semakin memerah.
"Kamu jadi pacar palsuku." Yuda mundur sedikit, kemudian tersenyum tipis.
"Jadi sebagai balasan karena aku sudah membantu kamu..." Ia sengaja berhenti sejenak. "Aku harap kamu bisa menjalankan peranmu dengan sebaik mungkin."
"Kamu..." Risa menatapnya dengan wajah memerah, sedikit menghela nafas lega, tapi juga sedikit merasa kecewa.
Yuda ternyata tidak melakukan sesuatu yang buruk padanya.
Memikirkan pikiran konyol dirinya, ia mendengus marah bercampur malu, tangannya langsung mencubit ringan lengan Yuda. "Hmph. Sikapmu sekarang makin terlihat seperti bajingan yang suka menggoda wanita."
Yuda meringis kecil. "Aduh-duh. Aku cuma mengingatkan kesepakatan kita."
"Masih saja mencari alasan, padahal dirimu yang dulu tidak seperti ini seingat ku." Risa kembali mencubit lengannya sebelum akhirnya melepaskan tangannya.
Meski mulutnya mengomel, sudut bibirnya justru sedikit terangkat.
Entah kenapa, ia tidak merasa terganggu.
Justru ada rasa nyaman yang perlahan memenuhi hatinya.
Dan tanpa disadarinya, suasana hatinya yang tadi sempat berat karena memikirkan kesalahannya mulai jauh lebih baik.
Yuda yang pura-pura meringis menyinggungkan mulutnya. "Bukankah sudah kubilang? Yuda yang dulu sudah nggak ada."
Risa terdiam sesaat.
Kalimat itu membuatnya kembali teringat pada percakapan mereka Beberapa waktu lalu.
Tentang bagaimana Yuda tiba-tiba memintanya berpura-pura menjadi pacarnya.
Awalnya Risa menganggapnya hanya sebagai kesepakatan sementara.
Sebuah cara untuk membantu Yuda menghadapi keluarganya tanpa harus benar-benar melibatkan perasaan.
Namun sekarang...
Entah kenapa, saat Yuda mengingatkan soal hubungan palsu mereka, jantungnya justru berdetak sedikit lebih cepat.
Risa segera mengalihkan pandangan. "Memangnya kamu mau jadi seperti apa?"
Yuda tersenyum santai. "Kalau sudah memutuskan berubah, tentu aku harus menjadi versi yang lebih baik."
Risa meliriknya dari samping mencibir. "Termasuk semakin pandai menggoda wanita?"
"Kalau pacar palsuku sendiri sampai bisa tersipu seperti ini, sepertinya kemampuan itu cukup berguna."
Wajah Risa kembali memerah. "Kamu benar-benar..."
Ia mengangkat tangannya seolah ingin mencubit lagi, tetapi kali ini Yuda sudah lebih dulu mundur sambil tertawa kecil.
Risa hanya bisa menggelengkan kepala.
Namun di dalam hatinya, satu hal kembali terlintas.
Aku memang pacar palsunya.
Entah kenapa, setelah mengingat hal itu, perasaan Risa justru terasa sedikit berbeda sekarang.
Dan juga, mengingat kembali saat mengajaknya curhat beberapa hari yang lalu, ia sendiri pun tidak tahu mengapa memilihnya jadi teman curhat.
Mungkin saja itu karena pertemuan di Mall saat menemani Yuda belanja ratusan juta, jadi ia sedikit penasaran dengan latar belakangnya dan tanpa sadar mengundangnya.
Terutama setelah melihat langsung perubahan drastis Yuda.
Pria yang dulu ia kenal sebagai kurir biasa sekarang berdiri di hadapannya dengan penampilan yang jauh berbeda.
Tampan, tenang, kaya, dan yang paling membuatnya sulit mengabaikan perasaannya...
Yuda membantunya menyelesaikan masalah pesanan yang di batalkan, meski mereka berdua berteman akrab, tapi tidak sampai ke hubungan membantu temannya tanpa pikir panjang.
Risa sendiri memiliki beberapa teman yang sudah dikenalnya cukup lama.
Namun ketika dirinya benar-benar berada dalam masalah, beberapa dari mereka justru perlahan menjauh.
Yuda berbeda.
Saat dirinya berada dalam masalah, Yuda tidak menjauh.
Pria itu justru datang, mendengarkan keluhannya, lalu tanpa banyak pertimbangan membeli seluruh setelan yang membuat modalnya hampir terjebak.
Risa menatap Yuda yang masih berdiri di hadapannya.
Ada sesuatu yang terasa berbeda di dalam hatinya.
Perasaan yang awalnya hanya berupa rasa penasaran perlahan berubah menjadi sesuatu yang tidak lagi bisa ia anggap sepele.
Terlebih lagi sekarang, setelah Yuda berdiri begitu dekat dengannya dan menggodanya seperti tadi.
Jantungnya kembali berdetak lebih cepat.
Risa menggigit bibirnya pelan.
Jangan-jangan...
Ia segera menggelengkan kepala kecil, seolah ingin membuang pikiran itu.
Namun semakin berusaha mengabaikannya, semakin jelas satu pertanyaan muncul di benaknya.
Mengingat kembali candaan Yuda di restoran waktu itu, ia mulai bimbang
'Apa mungkin... aku benar-benar mulai nyaman dengannya dan jatuh cinta padanya?'
Pikiran itu membuat Risa terdiam.
Namun beberapa detik kemudian, ia buru-buru menggelengkan kepala. "Ah, nggak mungkin..."
Yuda yang sedari tadi memperhatikan ekspresi Risa yang berubah-ubah, sangat bingung.
Lalu ketika mendengar gumamannya mengangkat alis. "Kenapa?"
"Nggak ada apa-apa." Risa segera mengalihkan pandangan.
Ia tidak mungkin mengatakan apa yang baru saja terlintas di pikirannya.
Yuda menatapnya beberapa saat, tetapi tidak memaksanya untuk menjawab.
Sebaliknya, ia mengalihkan topik dan melirik tumpukan setelan yang memenuhi gudang.
"Ngomong-ngomong, urusan di sini sudah selesai, kan?"
Risa mengangguk. "Iya. Tinggal mengatur pengirimannya saja."
"Masalah pengiriman? kamu antar saja ke rumah ortuku di kampung, nanti aku kasih alamatnya lewat chat." Kata Yuda.
"Baiklah, besok aku akan menyuruh staf untuk mengurus pengiriman."
Yuda mengangguk, lalu melirik jarum jam di tangannya. '20:10'
Kemudian ia menoleh ke arah Risa, "Kamu sudah makan?"
Risa menggeleng. "Belum, soalnya habis ngurus pesananmu tadi yang baru sampai, jadi tidak sempat makan."
"Kebetulan aku juga belum, bagaimana kalau kita makan malam bareng?"
Risa sedikit terkejut. "Boleh, dimana?"
"Ke restoran tempat kita makan terakhir kali." Yuda tersenyum santai. "Aku yang traktir, anggap saja untuk merayakan masalahmu yang akhirnya selesai."
Risa terdiam.
Ia merasa, ajakan sederhana itu membuat hatinya terasa sedikit hangat.
Ia menatap Yuda beberapa saat sebelum akhirnya tersenyum.
"Ya sudah... ayo."
Mereka kemudian berjalan menuju BMW M 1000 RR yang terparkir di depan rumah.
Begitu melihat motor tersebut, Risa sedikit terdiam.
"Naik motor ini?"
Yuda mengangguk. "Iya."
Risa mendekat beberapa langkah, lalu memperhatikan jok belakangnya.
Jok penumpangnya terlihat cukup berbeda dari motor yang biasa ia gunakan untuk bepergian.
Posisi duduknya juga membuat Risa sedikit ragu.
Ia menatap motor itu beberapa detik.
Apa nyaman dibonceng pakai motor seperti ini?
Namun setelah berpikir sejenak, Risa akhirnya menghela napas kecil.
Yuda menyerahkan helm kepadanya.
"Ini pakai."
Risa menerima helm tersebut dan segera memakainya.
Setelah Yuda duduk di depan, Risa naik ke jok belakang dengan sedikit hati-hati.
Awalnya ia duduk tegak dengan kedua tangannya berada di sisi tubuh.
Yuda menoleh sedikit.
"Sudah? Pegang yang erat."
"Oke sudah."
Motor kemudian mulai bergerak.
Karena posisi jok belakang yang tidak terlalu lebar, Risa secara refleks meraih bagian belakang pakaian Yuda.
Tangannya menggenggam sudut baju di sekitar pinggang Yuda.
Namun ketika Yuda berganti gigi, entah sengaja atau tidak, motornya sedikit ngerem dan tubuh Risa seketika sedikit terdorong ke depan.
Tanpa sadar, kedua tangannya yang ramping melingkar erat di pinggang Yuda.
Risa langsung membeku ketika tubuhnya bersentuhan dengan punggung tegap Yuda.
Eh?
Ia baru menyadari bahwa sekarang tubuhnya menempel dengan punggung Yuda.
"Yuda!"
"Hm?"
"Kamu sengaja, ya?"
Yuda terdengar santai dari depan. "Sengaja apanya?"
"Kamu..."
Risa terdiam ketika Yuda mendengar bantahannya dengan nada datar.
Yuda dibalik helemnya menyunggingkan mulutnya "Kan tadi aku sudah bilang pegang yang erat."
Risa tidak langsung menjawab.
Ia curiga Yuda sengaja melakukan itu, tetapi tidak punya bukti.
Ia ingin membantah, tetapi perkataan Yuda memang masuk akal.
Akhirnya ia hanya mendengus kecil. "Hmph."
Tapi tangannya tidak dilepaskan.
Bahkan setelah beberapa saat, Risa sepertinya mulai terbiasa dengan posisi tersebut.
Angin malam berhembus melewati tubuhnya.
Lampu-lampu jalan berkelebat di sisi jalan, sementara suara mesin motor terdengar stabil di bawah mereka.
Entah sejak kapan, rasa canggung tadi perlahan menghilang.
Risa justru merasa cukup nyaman bersandar pada Yuda.
"Sudah nyaman?"
Pertanyaan Yuda membuat Risa tersadar dan wajahnya sedikit memerah. "Jangan banyak bicara."
"Berarti sudah nyaman."
Risa langsung mencubit ringan pinggang Yuda.
"Aw!" Yuda tertawa kecil. "Aku cuma bertanya."
"Masih sempat menggoda."
Risa kembali menyandarkan tubuhnya sedikit lebih dekat.
Kali ini ia tidak lagi merasa perlu menjaga jarak.
Tangannya tetap melingkar di pinggang Yuda, dan tanpa disadarinya, senyum kecil muncul di balik helm yang dikenakannya.
Sementara itu, Yuda hanya mengangkat sedikit sudut bibirnya ketika merasakan tubuh berisi Risa memeluknya makin erat.
Inilah momen yang ia tunggu, sengaja bawa motor sport, hanya untuk adegan seperti ini.
Sepertinya cara ini berhasil...
Motor terus melaju membelah jalan malam menuju restoran.
Tanpa Risa sadari, hubungan di antara keduanya perlahan menjadi semakin dekat.
Bab Berakhir.